Zakat, Kewajiban Ringan Berdampak Besar

Sungguh, belum pernah terpikirkan sebelumnya bahwa kewajiban ringan bernama zakat ternyata dapat bermanfaat bagi kemaslahatan umat, hingga pada pertengahan Mei tahun lalu saya menyaksikan sendiri cerita Ibu Sumarmi. Seorang  mustahiq dari Desa Katongan, Kecamatan Nglipar, yang mampu berdaya dengan bantuan dana zakat yang dihimpun dari masyarakat. Desa yang dulunya dikenal kering kerontang itu kini menjelma menjadi pelopor desa wisata lidah buaya di Jogja. Dengan persentase kewajiban yang tidak memberatkan, pemanfaatan dana zakat dapat menjadi tidak balik dalam memperbaiki ekonomi keluarga para penerima zakat (mustahik) di sana. Tidak heran jika zakat kerap diibaratkan sebagai kewajiban ringan yang berdampak besar.

Menengok Potensi Pengelolaan Zakat di Indonesia

Bagi umat muslim zakat tentu bukan menjadi istilah asing lagi. Zakat merupakan sejumlah harta yang wajib dikeluarkan oleh umat muslim yang wajib dikeluarkan jika memenuhi beberapa persyaratan, seperti dalam keadaan merdeka, berakal, baligh dan memiliki batas terendah kepemilikan harta tertentu (nisab). Zakat ini nantinya akan diberikan pada tujuh golongan yang berhak menerimanya, mulai dari fakir, miskin, amil, mu’allaf, hamba sahaya, gharimin, fisabililah dan ibnu sabil.

View this post on Instagram

#SahabatZawa, sebagai instrumen yang masuk dalam salah satu Rukun Islam, Zakat tentu saja memiliki aturan mengikat dari segi ilmu fiqihnya. ⁣ Mulai dari akan melakukan pembayaran zakat sampai berakhir pada penyalurannya, semua diatur dengan jelas di dalam aturan Islam yang mengikat.⁣ ⁣ Aturan ini serta merta bukan untuk memberatkan umat Islam, namun sebagai bentuk kasih sayang Allah agar kita tidak mendzhalimi seseorang.⁣ ⁣ Selama ini kita sudah sering mendengar wajibnya membayar zakat, lalu sudah tahukah kita dengan jelas dan rinci siapa saja golongan yang diperbolehkan menerima Zakat? ⁣ Simak ulasan mengenai 8 Asnaf yang menerima manfaat zakat berdasarkan surat At-Taubah ayat 60 di atas ya⁣ ⁣ #literasizakatwakaf #zakat #penerimazakat #wakaf #yukzakat #yukwakaf

A post shared by Literasi Zakat Wakaf (@literasizakatwakaf) on

Dalam Islam zakat terbagi menjadi dua jenis, yakni zakat fitrah dan zakat harta atau yang dikenal dengan sebutan zakat maal. Zakat fitrah merupakan zakat yang wajib dikeluarkan umat muslim menjelang Idul Fitri sebesar 3,5 liter (setara dengan 2,7 kilogram) makanan pokok yang dikonsumsi sehari-hari. Sedangkan zakat maal merupakan zakat kepemilikan harta dengan batas nominal tertentu, seperti zakat penghasilan, zakat emas ataupun perak, zakat tabungan, zakat ternak dan zakat pertanian,

Besaran zakat mal tidaklah memberatkan, hanya 2,5% dari masing-masing nisab zakat. Karena nisab setiap jenis zakat itu berbeda-beda, perhitungan zakatnya pun berbeda. Nisab zakat penghasilan misalnya. Nisab zakat ini sama dengan nisab hasil pertanian, sebesar 522 kilogram beras. Berbeda dengan zakat emas, perak, uang dan perdagangan yang nisabnya sebesar 85 gram emas.

Terlahir di keluarga muslim membuat saya mulai mengenal zakat di usia yang cukup belia. Karena tempat tinggal saya terbilang dekat dengan masjid, selain kerap mendengar pengumuman waktu pengumpulan zakat fitrah yang diumumkan melalui toa, sewaktu kecil saya suka ikut bapak saat mengantar zakat fitrah ke masjid. Dari sinilah saya mengetahui beberapa hal melalui zakat, juga pemanfaatannya dalam skala “dekat”. Nantinya zakat yang dikumpulkan di masjid akan dibagikan pada tetangga atau pihak lain yang berhak menerimanya.

Sebagai negara dengan jumlah muslim terbanyak di dunia, potensi zakat di Indonesia terbilang sangat besar. Indikator Pemetaan Potensi Zakat (IPPZ) yang dikeluarkan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) memaparkan bahwa potensi zakat di Indonesia mencapai Rp 233 triliun.

Dalam Laporan bertajuk “Outlook Zakat Indonesia 2019” ini diketahui bahwa potensi zakat di atas berasal dari lima objek meliputi zakat pertanian sebesar Rp  19,79 triliun, peternakan sebesar Rp 9,51 triliun, uang sebesar Rp 58,76 triliun, perusahaan sebesar Rp 6,71 triliun dan zakat penghasilan sebesar Rp 139,07 triliun.

Terbayang bukan manfaat yang bisa didapat jika penyerapan dan pengelolaan potensi zakat ini dapat dilakukan secara maksimal? Selain dapat menggerakkan pertumbuhan ekonomi di berbagai penjuru negeri, pengelolaan dana zakat dapat mengurangi angka kemiskinan Indonesia yang menurut data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) mencapai 9,41% atau sekitar 25,14 juta jiwa.

Sayangnya, besarnya potensi zakat di Indonesia yang mencapai Rp 233 triliun ini belum sebanding dengan jumlah dana zakat yang diserap oleh oleh adan ataupun lembaga amil dan zakat. Data tahun 2018 menyebut bahwa penyerapan dana zakat oleh BAZNAS baru menyentuh nominal Rp 8,1 triliun atau sekitar 3,4% dari total potensi yang ada. Meski persentasenya masih terbilang kecil namun pertumbuhan serapan dana zakat di Indonesia mengalami rerata pertumbuhan tahunan yang cukup signifikan, sebesar 26,64%.

Kabar baik ini mengindikasikan bahwa isiniatif menunaikan kewajiban zakat di Indonesia tengah tumbuh pesat. Inisiatif yang baik semacam ini perlu disambut dengan baik oleh perwakilan pemerintah maupun berbagai pihak terkait. Apalagi Indonesia merupakan negara dengan jumlah muslim terbesar di dunia. Dengan bonus demografi yang terbilang tinggi, literasi zakat di era digital dengan merangkul muzakki milenial mutlak diperlukan. Semakin besar serapan dana zakat yang berhasil dikumpulkan, niscaya akan semakin luas pula kebermanfaatannya bagi masyarakat luas yang berhak menerimanya.

“Merangkul” Muzakki Milenial di Era Digital

Ilustrasi Merangkul Muzaki Milenial di Era Digital (Sumber : www.pixabay.com)

Ilustrasi Merangkul Muzaki Milenial di Era Digital (Sumber : www.pixabay.com) 

Menanggapi himpunan dana zakat masyarakat yang masih nilainya masih jauh dari besarnya potensi zakat Indonesia, kini pemerintah tengah gencar-gencarnya melakukan literasi zakat pada masyarakat luas, tidak terkecuali pada generasi milenial yang lahir pada tahun 1980-an hingga tahun 1995. Dengan rentang usia 24 hingga 39 tahun, generasi milenial diperkirakan sudah mandiri secara finansial. Menariknya, generasi ini merupakan salah satu generasi yang berteman baik dengan perkembangan teknologi.

Data Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII) mengungkap bahwa pengguna terbesar (49,52%) dari 171,17 juta pengguna internet Indonesia tahun 2018 merupakan milenial (Generasi Y) dan Generasi Z (yang lahir pada tahun 1995 sampai tahun 2000). Melalui strategi komunikasi yang sesuai dengan perkembangan jaman, kedua generasi ini memiliki peran yang cukup signifikan dalam menyampaikan berbagai upaya edukasi yang dilakukan pemerintah, tidak terkecuali dalam mengenalkan pentingnya kesadaran berzakat lengkap dengan dampak baiknya minimal dalam lingkup terdekat.

View this post on Instagram

#SahabatZiswaf pada 2 Oktober 2019 lalu telah dilaksanakan event Zakat Wakaf Goes to Campus 2019 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.⁣ ⁣ Acara ini dihadiri oleh rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan juga Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis.⁣ ⁣ Selain itu, di acara ini ada presentasi finalis CALL FOR ESSAY dan juga Seminar Nasional yang diisi oleh Prof. Dr. M. Nuh (ketua BWI), Prof. Dr. M. Amin Suma, SH, MA, MM (Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), Prof. Dr. Amany Lubis (Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), Dr. Sutan Emir Hidayat SP, MBA (Direktur KNKS bidang Pendidikan dan Riset Keuangan Syariah), Dr. Euis Amalia, M.Ag⁣ Ketua Program Studi S3 Perbankan Syariah.⁣ ⁣ Harapannya acara ini dapat membuat mahasiswa sadar untuk berzakat dan wakaf. Karena mahasiswa merupakan penerus bangsa, sehingga perlu diberikan bekal sejak di bangku kuliah.⁣ @bimasislam @uinjktofficial @badanwakafindonesia ⁣ #literasizakatwakaf #wakaf #zakat #zakatwakafgoestocampus

A post shared by Literasi Zakat Wakaf (@literasizakatwakaf) on

Guna “merangkul” muzakki milenial di era digital, pemerintah melalui Direktorat Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kementerian Agama Republik Indonesia gencar melakukan edukasi kekinian terkait pentingnya zakat untuk kemaslahatan umat, seperti kegiatan Zakat Wakaf Goes to Campus, menginisiasi berbagai perlombaan kekinian melalui gerakan Literasi Zakat Wakaf hingga menyajikan komunikasi dua arah melalui berbagai laman media sosial kekinian seperti Instagram @literasizakatwakaf, Facebook @Literasizakatwakaf, Twitter @ZakatWakafToday dan website resmi di https://literasizakatwakaf.com.

Untuk merangkul muzakki milenial, inovasi menjadi garda terdepan pemerintah untuk mengoptimalkan proses penyerapan zakat agar seiring jalan dengan perkembangan jaman. Selain menyediakan platform zakat secara digital melalui website di laman https://baznas.go.id/zakatsekarang, BAZNAS sebagai lembaga pemerintah nonstruktural yang bertugas menghimpun dan menyalurkan zakat, infaq dan sedekah pada tingkat nasional juga menyediakan aplikasi kekinian Muzaki Corner yang dapat mudah melalui gawai.

Guna mengoptimalkan penyerapan dana zakat, tentu BAZNAS tidak bekerja sendiri. Tercatat ada 23 Lembaga Amal Zakat (LAZ) resmi yang direkomendasikan oleh BAZNAS meliputi:

View this post on Instagram

Kalau mau bayar zakat itu biasanya ke mana sih? Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Pusat mengimbau masyarakat menyalurkan zakat, infak, dan sedekah lewat Baznas dan Lembaga Amil Zakat (LAZ) resmi. Karena hal itu sesuai dengan UU No. 23 tahun 2011. Sampai saat ini Baznas masih terus melakukan verifikasi LAZ yang meminta rekomendasi untuk mendapatkan ijin operasional dari Kementerian Agama @kemenag_ri Daftar LAZ di atas telah memenuhi syarat dan izin beroperasi dari Kementrian Agama. Jadi kalau mau zakat bisa ke salah satu LAZ di atas ya. Agar penghimpunan zakat bisa lebih tertib dan juga penyalurannya bisa tepat sasaran. Yuk bayar zakat, Sahabat. #LiterasiZakatWakaf #zakat #Baznas

A post shared by Literasi Zakat Wakaf (@literasizakatwakaf) on

Selain bekerjasama dengan berbagai LAZ resmi, diigitalisasi zakat di era kekinian perlu sinergi dengan berbagai pihak. Kini selain melalui website dan aplikasi,  pembayaran zakat dapat pula dilakukan melalui kanal kolaborasi dengan crowdfunding platform seperti Kitabisa.com maupun layanan e-commerce seperti Bukalapak, Tokopedia, Lazada, Blibli, Shopee dan Elevania. Pilihan pembayarannya pun kian dimudahkan karena bisa dilakukan melalui melalui Anjungan Tunai Mandiri (ATM) maupun mobile banking.

Menariknya lagi, pembayaran zakat digital via BAZNAS juga dapat dilakukan melalui berbagai aplikasi kekinian seperti GOPA, OVO, Link Aja, Sobatku, Jenius, M-Cash dan masih banyak lagi. Untuk keterangan lebih lanjut dapat diakses via informasi di laman Instagram @baznasindonesia berikut ini:

View this post on Instagram

Berbagai layanan dihadirkan BAZNAS untuk memudahkan Anda menunaikan zakat. Mari tunaikan zakat dan infak melalui LAYANAN ZAKAT DIGITAL BAZNAS 1⃣ Website : baznas.go.id/bayarzakat 2⃣ Kitabisa : bit.ly/zakat-Kitabisa 3⃣ Bukalapak : bit.ly/zakat-Bukalapak 4⃣ Tokopedia : bit.ly/zakat-Tokopedia 5⃣ Lazada : bit.ly/zakat-Lazada 6⃣ Blibli : bit.ly/zakat-Blibli 7⃣ Elevenia : bit.ly/zakat-Elevenia Atau melalui Aplikasi : ▶ Shopee ▶ Link Aja ▶ OORTH ▶ Sobatku ▶ M-Cash ▶ Jenius ▶ Lenna ▶ Wisata Muslim ▶ OY Indonesia ▶ E-Salaam ▶ Ralali.com ▶ Invisee ▶ HP Sekuritas ▶ CIMB Niaga Syariah ▶ GOPAY ▶ OVO Contact Center BAZNAS +62 21- 3904555 bit.ly/Konfirmasizakatbaznas #zakat #BAZNAS #ZakatTumbuhBermanfaat Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) www.baznas.go.id

A post shared by Badan Amil Zakat Nasional (@baznasindonesia) on

Selain memudahkan penerimaan zakat digital, perkembangan teknologi juga mempermudah eksposure pemanfaatan dana zakat untuk kemaslahatan umat, baik sebagai salah satu bentuk transparansi laporan kinerja BAZNAS ataupun LAZ, maupun sebagai bentuk edukasi pentingnya menunaikan kewajiban zakat bagi pemberdayaan di bidang sosial, ekonomi, pendidikan maupun kesehatan.

Tak disangka, menyandang profesi sebagai narablog mendatangkan berbagai kesempatan tak terduga dalam hidup saya. Satu diantaranya berwujud kesempatan untuk melihat beberapa kegiatan pemberdayaan masyarakat seperti yang saya singgung di awal cerita.

Manfaat Zakat Untuk Kemashlahatan Umat

Saya dibuat tertegun tatkala membaca baliho bertuliskan “Saya berdaya berawal dari zakat Anda”. Siapa sangka berkat pemanfaatan dana zakat, Katongan, salah satu desa di Kecamatan Nglipar yang dulu dikenal kering kerontang itu kini berubah menjadi lahan hijau yang dipenuhi dengan lidah buaya yang ditanam hampir di sepanjang halaman warga. Sontak, pemandangan pagi itu sedikit mengubah cara pandang saya akan kegunaan zakat untuk kemaslahatan umat. Kewajiban yang terbilang ringan ini ternyata begitu berdampak dalam mengurai rantai kemiskinan  yang kini masih dirasakan oleh 25,14 juta jiwa rakyat Indonesia.

Contoh Riil Pemanfaatan Dana Zakat Oleh Lembaga Amil Zakat di Kawasan Nglipar, Yogyakarta (Dokumentasi Pribadi)

Contoh Riil Pemanfaatan Dana Zakat Oleh Lembaga Amil Zakat di Kawasan Nglipar, Yogyakarta (Dokumentasi Pribadi)

Dengan bantuan pendampingan dan bibit lidah buaya oleh beberapa pihak dimana salah satu diantaranya adalah salah Lembaga Amil Zakat yakni Dompet Dhuafa Jogja, perlahan usaha milik Ibu Sumarmi mulai berkembang begitu. Meski diawali dengan cerita kegagalan saat mencoba membudidayakan lidah buaya di area ladang, namun ibu paruh baya ini tidak patah arang. Sisa bibit yang masih hidup ia bawa pulang untuk ditanam di sekitar rumah. Dengan perawatan yang lebih terjaga, sisa bibit ini akhirnya dapat hidup maksimal.

Pelan-pelan hasil budidaya lidah buaya rumahan ini mulai diolah menjadi cendol. Karena dibuat tanpa bahan pengawet, cendol aloe vera ini hanya tahan sehari saja. Untuk menutupi biaya budidaya, Bu Sumarmi mulai membuat berbagai produk olahan seperti  nata de aloe vera, dodol, permen hingga aneka rupa makanan ringan dalam kemasan.

Kabar baiknya, bulan kemarin saya sempat bertemu berbagai olahan Bu Sumarmi di salah satu pameran UMKM yang digelar di Alun-Alun Sewandanan yang berlokasi di Area Pakualaman. Senang rasanya menjadi saksi pemanfaatan dana zakat untuk kemaslahatan umat. Kabar baiknya, kini hampir sebagian besar warga mulai melakukan budidaya lidah buaya. Pada akhirnya, warga sekitar pun terkena dampak baiknya. Mereka mendapatkan penghasilan tambahan dari budidaya lidah buaya yang diinisiasi oleh Ibu Sumarmi.

Kini salah satu desa di Kecamatan Nglipar ini tidak hanya dikenal sebagai produsen olahan lidah buaya saja, melainkan tengah menjelma pula sebagai Desa Wisata Aloe Vera. Sebuah desa wisata yang didedikasikan khusus untuk edukasi terkait budidaya lidah buaya. Siapa sangka bukan kawasan yang dulu dikenal kering kerontang ini kini menjelma sebagai desa berdaya dengan berbagai produk olahan berbahan aloe vera?

Salah Satu Pemanfaatan Dana Zakat untuk {emberdayaan Kelompok Batik Tulis Berkah Lestari di Imogiri (Dokumentasi Pribadi)

Salah Satu Pemanfaatan Dana Zakat untuk {emberdayaan Kelompok Batik Tulis Berkah Lestari di Imogiri (Dokumentasi Pribadi)

Selain itu, saya juga pernah berkesempatan berkunjung ke beberapa kawasan yang kini berdaya berkat zakat kawan-kawan semua, seperti Kelompok Batik Tulis Berkah Lestari di Imogiri hingga Kelompok Industri Payung Kreatif Payung Lukis Ngudi Rahayu di Klaten, Jawa Tengah. Saat berkunjung di Imogiri di acara Care Visit Dompet Dhuafa, saya mendapat banyak cerita pemberdayaan yang dilakukan usai bencana gempa hebat yang melanda Jogja puluhan tahun silam.

Selain gaung desa batik pewarna alam kembali bangkit, Kelompok Batik Tulis Berkah Lestari mulai mengembangkan sayapnya sebagai salah satu desa wisata di Jogja. Selain dapat mencicipi asyiknya proses membatik langsung, desa ini juga menyediakan berbagai masakan hingga permainan lokal. Menariknya, kini serapan dana zakat tidak hanya digunakan untuk membantu di mustahiq bidang kewirausahaan saja. Di lain sisi, dana zakat dari masyarakat juga dimanfaatkan untuk memfasilitasi berbagai kegiatan yang berkaitan dengan pendidikan, kesehatan hingga bantuan kemanusiaan akibat bencana alam.

Sebegitu banyaknya manfaat zakat bagi pemberdayaan masyarakat, semoga kita senantiasa amanah dalam menjalankan kewajiban ringan berdampak besar ini.

Salam hangat dari Jogja,

-Retno-

Artikel ini diikutsertakan dalam Kompetisi Blog Festival Literasi Zakat dan Wakaf 2019.

Sumber referensi:

Badan Pusat Statistik (2019): Persentase Penduduk Miskin Maret 2019 Sebesar 9,41%

Tekno Kompas (2018): Jumlah Pengguna Internet Indonesia

Pusat Studi Strategis BAZNAS (2018): Outlook Zakat Indonesia 2019

Pikiran Rakyat (2019): Potensi Zakat di Indonesia Belum Dimaksimalkan

Dompet Dhuafa (2018): Jenis-Jenis Zakat

Retno Septyorini

Perkenalkan, nama saya Retno Septyorini, biasa dipanggil Retno. Saya seorang content creator dari Jogja. Suka cerita, makan & jalan-jalan. Kalau ke Jogja bisa kabar-kabar ya..

YOU MIGHT ALSO LIKE

No Comment

Leaver your comment

About Me

Wiloke

Retno Septyorini

Welcome to my creative blog │ Content creator @halomasin │Talk about figure, wastra, travel &culinary│ Happy living in Jogja

About Me