Transportasi Unggul, Perantara Kemajuan Sektor Parekraf Indonesia

“Pariwisata dan ekonomi kreatif (parekraf) merupakan masa depan Indonesia”, begitu kira-kira prediksi yang banyak bermunculan di berbagai media tatkala melihat pesatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia pada dua sektor ekonomi yang saling berkaitan ini. Naiknya pamor berbagai destinasi wisata kenamaan di berbagai daerah hingga boomingnya produk kreatif berbahan kreasi lokal seperti kain tradisional khas nusantara menjadi dua dari sekian banyak penanda meningkatnya geliat ekonomi di pelosok negeri.

Tahun 2018 pertumbuhan ekonomi dari sektor pariwisata mampu menyentuh angka 12,58%, jauh melebihi rata-rata pertumbuhan sektor pariwisata dunia dan ASEAN yang berada di angka 5,6% dan 7% saja. Sedangkan dari sektor ekonomi kreatif (ekraf), sejak tahun 2016 lalu sektor ini berkontribusi sebesar 7,44% terhadap PDB. Kabar baik ini tentu tidak lepas dari peran pemerintah dalam membangun infrastruktur transportasi unggul di berbagai pelosok negeri.

Kreasi Binder dan Dompet Etnik Karya Local Champion

Kreasi Binder dan Dompet Etnik Karya Local Champion

Melalui pendekatan Indonesia Sentris, dalam kurun waktu lima tahun terakhir Kementerian Perhubungan (Kemenhub) berhasil membuka keterisolasian Daerah Terluar, Terdepan dan Perbatasan melalui penyediaan 18 rute tol laut, 891 trayek angkutan perintis hingga pembangunan dan pengembangan 131 bandara di daerah rawan bencana, perbatasan dan terisolir. Tidak heran kiranya jika ada pernyataan bahwa potret transportasi kita saat ini merupakan perantara melesatnya pertumbuhan sektor parekraf Indonesia. Selain berpotensi meningkatkan geliat wisata suatu daerah, kemajuan infrastruktur transportasi berpotensi pula sebagai pembuka jalan bagi langgengnya berbagai usaha yang bergerak di sektor ekonomi kreatif.

Dua produk etnik favorit saya di atas misalnya. Tak jarang keduanya menjadi pilihan buah tangan yang dibawa pulang para wisatawan. Di sisi kiri ada binder yang dibuat dengan memanfaatkan sasirangan, jenis kain tradisional khas Banjarmasin. Sedangkan di sisi kanan merupakan penampakan dompet baru saya. Dompet kulit yang dibuat dengan kombinasi Tenun dari Nusa Tenggara Barat. Bertahannya berbagai kreasi dari local champion dari gempuran produk impor perlahan mulai terjawab. Semuanya ini tidak lepas dari perbaikan infrastruktur dalam negeri yang mulai memperhatikan daerah terisolir.

Terbukanya akses di berbagai daerah terluar, terdepan juga kawasan perbatasan tentu mempengaruhi stabilitas harga berbagai komoditi di sana, tidak terkecuali dengan hasil kerajinan khasnya seperti tenun, batik hingga produk anyam. Jadi jangan heran mengapa kini wastra dari pelosok nusantara mulai terdengar gaungnya baik dalam lingkup lokal, nasional maupun global. Perbaikan infrastruktur transportasi tidak hanya memudahkan pemerintah dalam memberikan bimbingan teknis kepada para pengrajin saja. Lebih dari itu, akses jalan yang baik tentu akan memperlancar proses distribusi produk sehingga dapat meminimalisir biaya kirim. Di sisi lain kemajuan infrastrukur transportasi juga dapat menarik menarik wisatawan untuk berkunjung ke sana. Saat sektor pariwisata mulai terbuka, niscaya berbagai kreasi local champion setempat mulai kena imbas baiknya.

Perbaikan Instrastruktur Transportasi Kita

Manakala di Bandara Soekarno Hatta, 22 Agustus 2019

Manakala di Bandara Soekarno Hatta, 22 Agustus 2019

Tiga tahun terakhir frekuensi saya dalam menggunakan transportasi umum mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Cerita ini dimulai pada tahun 2017, tepatnya saat saya terlibat dalam sebuah program pengembangan potensi ekonomi kreatif lokal di daerah. Sebuah pekerjaan yang mengharuskan saya untuk bolak-balik Jogja-Jakarta-Banjarmasin selama empat bulan berurut-turut. Pekerjaan ini pula lah yang membuat saya kerap melewati rutinitas “dari bandara ke bandara”. Cerita ini seolah bersambung tatkala Agustus lalu saya berkesempatan menghadiri dua acara berbeda di ibukota. Seperti mengulang kisah di tahun sebelumnya, kedua perjalanan menuju Jakarta kali ini saya tempuh melalui dua bandara berbeda, yakni Bandara Halim Perdana Kusuma dan Bandara Soekarno Hatta.

Dari pengalaman inilah saya dapat menilai keseriusan pemerintah dalam membangun infrastrukur transportasi Indonesia. Saat pertama kali melihat wajah terminal baru di Bandara Internasional Soekarno Hatta, jujur saya merasa bangga memiliki bandara internasional semegah ini. Selain terintegrasi dengan moda transportasi kekinian seperti kereta bandara, terminal baru ini juga menyediakan berbagai fasilitas menarik mulai dari tersedianya ATM di pintu masuk, luasnya antrian untuk check in, pilihan ruang tunggu, kamar mandi hingga ruang menyusui yang lebih nyaman, adanya puluhan tenant produk lokal dapat kita beli sembari menunggu jadwal penerbangan tiba hingga terdapatnya lokasi penjemputan yang kini terbuka bagi pengguna ojek online.

Bagian Dalam Yoyakarta International Airport

Bagian Dalam Yoyakarta International Airport

Hanya saja ketika sampai di Bandara Adi Sucipto Jogja, saya terganjal dengan pengalaman menunggu antrian landing yang berulang kali saya alami. Untungnya keluhan ini ditindaklanjuti dengan baik oleh pemerintah dengan membangun Yogyakarta International Airport (YIA). Meski baru jadi sebagian, namun rute penerbangan menuju dan keluar Jogja sudah mulai dijalankan. Selain menjadi solusi dalam memecah kemacetan di Bandara Adi Sucipto, pembangunan YIA merupakan wujud nyata pemerintah dalam mendukung Program 10 Bali Baru yang dicanangkan tahun 2017 silam. Kabar baiknya, Candi Borobudur masuk dalam program pengembangan sektor wisata Indonesia yang satu ini.

Sebagai respon atas terpilihnya Candi Borobudur sebagai bagian 10 Bali Baru, Badan Otorita Borobudur mulai membangun ekosistem yang baik di sekitar candi kenamaan ini. Salah diantaranya dilakukan dengan membuka  D’Loano Glamping yang tidak lain merupakan destinasi glamping pertama yang dibangun di perbatasan Purworejo dan Kulon Progo. Karena itulah meski berlokasi di Kulon Progo, YIA menjadi bandara terdekat bagi wisatawan yang berencana untuk berlibur ke D’Loano Glamping. Demi mengurai potensi kemacetan di sekitar YIA, selain akan dibangun underpass dan beberapa jalur bus baru, bandara baru ini nantinya akan terkoneksi dengan berbagai layanan transportasi seperti kereta api, bus Damri maupun taksi. Dengan demikian penumpang dapat memilih transportasi terbaik untuk menuju YIA.

Serunya Wisata Jip di DeLoano Glamping

Serunya Wisata Jip di DeLoano Glamping

Keseriusan pemerintah sampai di sini saja. Hal ini begitu terasa manakala membandingkan layanan PT. Kereta Api Indonesia dalam satu dekade ini. Cerita ini berawal saat saya mulai tertarik mengikuti berbagai kelas heritage yang diadakan oleh beberapa komunitas pecinta sejarah yang dihelat di Solo, Mojokerto, Semarang, Dieng hingga Temanggung. Berbeda dengan tahun sebelumnya, perjalanan melanglang buana saya kali banyak menggunakan moda transportasi bus dan kereta api. Berbekal berbagai perjalanan di atas, saya merasakan betul perbedaan infrastrukur transportasi 10 tahun terakhir.

Saya ingat betul perjumpaan pertama saya dengan ibukota puluhan tahun silam yang diperantarai oleh kereta api ekonomi dengan tiket seharga Rp 50.000,. Karena tidak kebagian tempat duduk, selama perjalanan saya duduk selonjor di lantai bersama puluhan penumpang bernasib sama lainnya. Saat jeda menunggu penumpang di stasiun selanjutnya, kereta tambah sesak oleh pedagang berjualan di dalam gerbong penumpang hingga pengamen yang hilir mudik mencari dari satu gerbong ke gerbong lainnya.

Seiring berjalannya waktu, kini PT KAI mulai melakukan perbaikan layanan secara berkala mulai dari pemberlakuan pembatasan akses masuk ke stasiun, tidak adanya tiket berdiri untuk perjalanan panjang, pembukaan reservasi kereta via aplikasi hingga penyediaan tempat duduk yang lebih nyaman untuk penumpang lengkap dengan berbagai fasilitas seperti air conditioner dan stop kontak. Tidak heran jika perjalanan dengan kereta api kini menjadi salah satu alternatif perjalanan darat yang menyenangkan.

Respon Warga Pada Kemajuan Transportasi Kita

CCTV MRT diambil Dari Stasiun Dukuh Atas

CCTV MRT diambil Dari Stasiun Dukuh Atas

Kabar baiknya, kemajuan infrastruktur transportasi tidak berhenti sampai di sini. Di ibukota, pembangunan berbagai sarana transportasi publik unggul mulai dari Bus Trans Jakarta, KRL hingga MRT direspon begitu baik oleh khalayak ramai. Menariknya, layanan fasilitas transportasi yang memadai ini tidak hanya dimanfaatkan masyarakat sebagai sarana transportasi semata, melainkan dimanfaatkan pula untuk mendukung geliat usaha warga di sekitar Jakarta. Satu diantaranya terpantau dari akun media sosial @darihalte_kehalte yang kebetulan saya ikuti sejak pertengahan tahun ini.

Disadari atau tidak, besarnya antusias warganet pada akun media sosial yang memberikan rekomendasi kulineran di sekitar Halte Trans Jakarta, Stasiun MRT dan KRL ini merupakan bukti nyata suksesnya bonding moda transportasi publik dengan masyarakat luas. Tak jarang beberapa pelaku usaha yang awalnya kurang laku kini mulai menolak pesanan akibat kebanyakan ataupun ketidakmampuan memenuhi orderan yang datang dari pengikut akun berfollower lebih dari 50K ini.

Bonding yang baik semacam ini tentu menawarkan benefit yang berkelanjutan bagi banyak pihak. Di satu sisi pemerintah berhasil mengurangi ketergantungan masyarakat pada penggunaaan kendaraan pribadi yang dituding sebagai salah satu penyumbang terjadinya kemacetan ibukota. Di sisi yang lain masyarakat diuntungkan berkali lipat, mulai dari efisiensi waktu tempuh, keamanan dan kenyamanan saat berada di jalan hingga experience baru dalam mencicipi berbagai rekomendasi kuliner yang berujung pada peningkatan geliat ekonomi warga.

Berbagai kemajuan yang dilakukan Kemenhub ini tentu patut untuk diapresiasi. Sebagai warga yang baik kita wajib menjaga kebersihan juga ketertiban sesuai aturan yang telah dikenakan. Akhir kata, selamat menikmati perjalanan yang menyenangkan dimana pun destinasi wisata tujuan teman-teman semua. Jangan lupa pakai moda transportasi publik ya!

Salam hangat dari Jogja,

-Retno-

Artikel ini diikut sertakan pada Lomba Blog Kemenhub bertema “Transportasi Unggul, Indonesia Maju” .

Retno Septyorini

Perkenalkan, nama saya Retno Septyorini, biasa dipanggil Retno. Saya seorang content creator dari Jogja. Suka cerita, makan & jalan-jalan. Kalau ke Jogja bisa kabar-kabar ya..

YOU MIGHT ALSO LIKE

No Comment

Leaver your comment

About Me

Wiloke

Retno Septyorini

Welcome to my creative blog │ Content creator @halomasin │Talk about figure, wastra, travel &culinary│ Happy living in Jogja

About Me