Tentang Makna Berbagi yang Membahagiakan Hati

Jika mendengar tagline “Jangan Takut Berbagi”, entah mengapa hal pertama yang mendarat di ingatan adalah  jejak kebaikan yang saya temui saat mengalami dampak gempa dahsyat di Jogja, 13 tahun silam. Ternyata dibalik bencana besar ini, saya menjadi salah satu saksi yang merekam rangkaian kebaikan yang mungkin takkan terlupa hingga tua nanti.

Saya ingat betul, saat gempa besar tetiba melanda, saya dan keluarga hanya berfikir untuk keluar dari rumah. Maklum saja, waktu itu edukasi bencana belum segencar sekarang. Jadi waktu terjadi gempa pikiran kami hanya sebatas menyelamatkan diri dengan cara keluar dari rumah. Sayangnya sesudah berhasil menuju halaman, mau lari ke arah mana pun ternyata mustahil dilakukan. Tanya kenapa? Karena dalam waktu sekejap bangunan di sekeliling rumah kami runtuh secara bergantian. Setelah gempa berakhir barulah kami lari tunggang-langgang menuju area yang kala itu kami rasa lebih aman.

Karena banyak yang mengira gempa pagi itu terjadi akibat aktivitas Gunung Merapi, hampir semua orang di sekitar tempat tinggal saya berlarian ke arah selatan. Tanpa disengaja, di tengah perjalanan terlihat kerumunan orang di tengah sawah yang beberapa saat kemudian baru saya ketahui kalau kerumunan itu merupakan sedekah bubur dadakan yang dilakukan oleh tetangga seberang jalan. Tetangga yang menghidupi dirinya dengan berjualan bubur setiap pagi. Dalam keadaan sekacau itu, rasa sesak di dada karena bencana seolah sirna sesaat oleh kebaikan orang-orang yang terpanggil jiwa kemanusiaannya untuk berbagi dengan sesama.

Sayangnya, tak berapa lama kemudian rombongan kami bertemu dengan orang-orang yang berlarian dari arah selatan. Ternyata warga desa sebelah mendapat informasi tentang tsunami di Pantai Selatan. Hal ini diperkuat dengan meluapnya parit di sepanjang area persawahan. Tanpa berfikir panjang, saat mereka berlari ke arah kami, seketika itu juga kami berganti haluan dengan berbalik arah lari menuju ke utara. Kebetulan di ujung utara dusun kami ada dataran tinggi yang dikenal luas dengan sebutan Mojopait.

Pagi itu bapak dan adik sudah lari duluan. Selama proses pelarian, saya bergandengan tangan dengan ibu dan simbah puteri. Karena simbah terlihat kelelahan akhirnya kami memutuskan untuk beristirahat sejenak, hingga akhirnya saya menyadari tidak ada satu orang pun yang ada di belakang kami. Di tengah rasa pasrah saat berjalan menuju Mojopait, kami menemukan kendi yang masih berisi air. Akhirnya dahaga yang terasa sejak gempa melanda sedikit terobati oleh segarnya air kendi. Pada siapa saja yang meletakkan kendi, saya ucapkan terima kasih. Semoga kebaikan ini menjadi tabungan kebaikan di hari kemudian.

Sesampainya di Mojopait, saya mendengar berbagai berita duka yang datang silih berganti. Sedih, marah, bingung, gatal, panas, lapar campur menjadi satu. Siang harinya, korban gempa yang berada di Mojopait mulai kembali ke rumah masing-masing. Saya dan keluarga pun melakukan hal serupa. Selain melihat kondisi rumah, kami membawa benda berharga yang masih tersisa seperti uang dan perhiasan, yang sebagian diantaranya hilang tanpa jejak. Meski dompetnya masih ada, lengkap dengan rits yang masih tertutup, namun isinya hilang entah kemana.

Karena gempa susulan masih sering terasa, hampir sebagian besar korban gempa di sekitar tempat tinggal saya memutuskan untuk bertahan di posko selama beberapa hari. Seminggu kemudian, saat keadaan dirasa aman, para pengungsi memilih pulang lalu membuat tenda seadanya di dekat reruntuhan rumah. Begitu pula dengan keluarga saya. Hingga enam bulan kemudian, kami masih tinggal beratapkan tenda. Moment ini menjadi salah satu cobaan hidup terberat yang saya rasakan selama duduk di bangku perkuliahan.

Tak disangka, usai gempa banyak kawan yang datang menengok. Kala itu berbagai kebaikan seolah datang silih berganti. Ada yang membawa bahan makanan, ada yang membawakan selimut, ada pula yang membawakan paralatan mandi. Sebagian diantara mereka bahkan tidak saya kenal. Saat mereka datang, kami didoakan, dikuatkan dan dipeluk layaknya saudara sendiri. Di titik inilah saya percaya bahwa saudara bisa datang tanpa pertalian darah. Mereka ada atas nama kemanusiaan. Mereka datang atas dasar kebaikan.

Sejak saat itu saya berjanji pada diri sendiri untuk lebih peduli pada sekitar. Pada mereka yang kiranya membutuhkan. Peduli di sini tidak semata-mata bertumpu pada materi, namun termasuk pula pada berbagai hal baik yang berpotensi mendatangkan manfaat bagi orang lain, seperti ikut menyebarkan campaign positif yang sarat manfaat, mawas diri agar tidak terjumus dalam lingkaran penyebar berita bohong, membangun kebiasaan bersedekah (berapapun penghasilan yang sedang diterima) atau sekedar membeli dagangan orang meski sejatinya sedang tidak membutuhkan.

Contoh Kecil Berbagi Informasi, Berbagi Kebaikan

Contoh Kecil Berbagi Informasi, Berbagi Kebaikan

Persis seperti foto ini. Foto yang saya unggah tiga tahun yang lalu. Foto ini sengaja saya unggah ke media sosial dengan harapan agar siapa saja yang bertemu Pak Parjan dapat tergerak untuk membeli dagangannya. Saya rasa beliau akan bahagia jika kita mengapresiasi dagangan yang digendong menggunakan box putih itu. Syukur-syukur kalau ada rejeki, bisa memberi uang lebih saat membeli.

Contoh Kecil Mudahnya Menularkan Kebaikan melalui Media Sosial

Contoh Kecil Mudahnya Menularkan Kebaikan melalui Media Sosial

Di luar dugaan, ternyata rotinya enak lho! Waktu itu postingan ini dishare oleh beberapa kawan, dimana satu diantaranya meminta alamat dan kontak Pak Parjan yang kebetulan sempat saya tanyakan. Berkaca pada contoh-contoh kecil semacam ini, saya percaya bahwasanya kebaikan merupakan satu hal cukup mudah untuk menular ataupun ditularkan.

Di era revolusi teknologi tinggi seperti saat ini, tentu modal kuota dan sentuhan jemari dapat dimanfaatkan untuk menyebarkan kebaikan melalui campaign kebaikan. Salah satu contoh yang kerap dilakukan adalah penggalangan dana untuk membantu pihak-pihak yang tengah membutuhkan.

Contoh Mudah Berbagi Kebaikan Melalui Media Sosial

Contoh Mudah Berbagi Kebaikan Melalui Media Sosial

Saat menulis artikel ini, ternyata saya mendapat notifikasi yang mengingatkan saya pada postingan yang saya bagikan beberapa tahun yang lalu. Meski momentnya sudah lewat, namun kebaikan kecil semacam ini ternyata mampu menyuntikkan energi positif pada diri saya, termasuk rasa bahagia yang seolah datang tanpa perlu diundang. Semacam mendapatkan kebahagiaan yang nilainya jauh dari sekedar nominal dalam lembaran mata uang.

Sebenarnya disadari atau tidak, sejatinya kita dapat berpartisipasi dalam menyebarkan kebaikan sesuai dengan kapasitas ataupun profesi yang kita geluti. Bloger seperti saya bisa mereview produk usaha kecil menengah agar terindeks Google dengan harapan untuk membantu agar informasinya dapat muncul saat produk terkait sedang dicari oleh calon pembeli (1), kawan-kawan desainer bisa membantu agar campaign kebaikan agar lebih mengena saat “dilempar” ke publik (2) hingga berbagai projek tak terduga yang datang dari mereka yang secara ekonomi kadang terlihat biasa saja seperti abang penjual soto yang sengaja menggratiskan minuman di hari tertentu atau abang penjual bakso yang menyediakan porsi gratisan untuk kaum papa yang lewat di depan mereka (3) dan masih banyak lagi.

Geliat Gerakan Berbagi Kebaikan di Indonesia

Launching Gerakan Jangan Takut Berbagi di Jogja

Launching Gerakan Jangan Takut Berbagi di Jogja

Ada kabar menggembirakan jika kita berbicara terkait geliat gerakan berbagi kebaikan di negeri ini. Kemajuan teknologi yang ada ternyata mampu dimanfaatkan untuk menggalang kebaikan dari berbagai lini. Beberapa diantaranya saya lihat langsung melalui perantara Dompet Dhuafa. Sebuah lembaga nirlaba milik masyarakat Indonesia yang didirikan untuk mengangkat harkat kaum dhuafa melalui dana zakat, infaq, shadaqah, wakaf atau dana lainnya yang halal dan legal dari para donatur, baik yang berasal dari perorangan, kelompok, perusahaan maupun lembaga.

Melalui lembaga nirlaba ini pula, pada hari Senin, 25 Maret 2019 lalu, saya bersama rekan-rekan bloger dan perwakilan media berkesempatan mengikuti launching gerakan Jangan Takut Berbagi yang sengaja digelar untuk membumikan gerakan berbagi agar semakin dikenal oleh masyarakat luas. Saya percaya bahwa hal terpenting dalam konsep berbagi bukan hanya bertumpu pada seberapa banyak materi yang dapat diberikan, namun jauh lebih baik jika dapat membentuk kebiasaan berbagi dengan menularkan kebiasaan baik ini pada lintas generasi.

Dimulai dari diri sendiri, lalu mulai berusaha menularkannya lingkungan terdekat di sekitar kita. Jika kian hari gerakan ini kian membesar, terbayang bukan potensi kebaikan yang dapat dilakukan oleh bangsa sebesar Indonesia, termasuk dampak baiknya bagi peningkatan kesejahteraan kaum dhuafa? Iya betul! Kumpulan kebaikan-kebaikan kecil ini akan meningkatkan kepedulian kita pada sesama, utamanya mereka yang tengah membutuhkan bantuan kita.

Pemaparan Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa DIY, Bapak Bambang Edi Prasetyo di Acara Launching Gerakan Jangan Takut Berbagi

Pemaparan Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa DIY, Bapak Bambang Edi Prasetyo di Acara Launching Gerakan Jangan Takut Berbagi

Hal ini sejalan dengan pemaparan Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa DIY, Bapak Bambang Edi Prasetyo yang menyebutkan bahwa potensi zakat yang terhimpun di Indonesia baru mencapai 6-8 Triliun Rupiah /tahun, jauh dari potensi zakat yang mencapai 217 Triliun Rupiah/tahun. Dengan kata lain persentase zakat yang terhimpun masih terlampau kecil jika dibandingkan dengan potensi zakat yang ada.

Lebih lanjut lagi, Pak Bambang juga mewartakan bahwasanya potensi zakat di Jogja per tahunnya mencapai angka 150 Miliar Rupiah. Di tahun yang sama ternyata dana zakat, jumlah infaq dan zakat yang terhimpun di Jogja baru 10% dari potensi yang ada, yakni sekitar 4,9 Miliar Rupiah. Terbayang bukan besarnya potensi kebaikan yang dapat dilakukan jika himpunan dana zakat, infaq maupun shadaqah bisa terus ditingkatkan?

Jika menilik pada tingginya keinginan untuk berbuat baik yang diperlihatkan masyarakat Indonesia saat terjadi bencana atau campaign donasi untuk membantu sesama, termasuk yang saya alami sewaktu Gempa Jogja melanda, rasa-rasanya tagline #JanganTakutBerbagi memang patut digaungkan. Dengan sumber daya manusia yang berlimpah, ditambah kreatifnya kaum milenial dalam memanfaatkan teknologi untuk berbagi kebaikan, bukan isapan jempol rasanya jika sejatinya kita mampu berkontribusi melalui apa yang kita miliki saat ini.

Bahkan jika kita tidak memiliki waktu luang untuk menyalurkan bantuan, banyak lembaga nirlaba yang berdedikasi tinggi dalam memfasilitasi penyaluran donasi kita. Dompet Dhuafa salah satunya. Kabar baiknya lembaga nirlaba yang berdiri tahun 1993 ini tidak hanya menghimpun kebaikan melalui donatur saja, namun sudah memiliki program penyaluran yang matang, lengkap dengan laporan keuangan yang transparan.

Brand Activation Manager Dompet Dhuafa, Ibu Suci Nuzleni Qadarsih di Acara Launching gerakan Jangan Takut Berbagi

Brand Activation Manager Dompet Dhuafa, Ibu Suci Nuzleni Qadarsih di Acara Launching gerakan Jangan Takut Berbagi

Siang itu acara launching Gerakan Jangan Takut berbagi juga dihadiri oleh Brand Activation Manager Dompet Dhuafa, Ibu Suci Nuzleni Qadarsih. “Setelah melakukan membumikan campaign #BerawalDariZakat, tahun ini kami ingin menggelorakan tagline #JanganTakutBerbagi. Harapan kami kegiatan ini dapat menyasar kaum milenial sehingga stigma berbagi tidak hanya menyasar pada orang-orang tertentu (yang dipandang “lebih” secara ekonomi) saja, tapi bisa dilakukan oleh masyarakat luas sehingga potensi kebaikan yang dihimpun akan lebih besar. Karena sejatinya, berbagi tidak harus menunggu saat kita merasa “lebih” secara finansial”.

“Selain menggelorakan tagline Jangan Takut Berbagi, Dompet Dhuafa juga ingin mengenalkan program Mustahik Move to Muzakki. Sebuah gerakan pemberdayaan sekaligus pendampingan yang dilakukan Dompet Dhuafa untuk para penerima manfaat zakat (mustahik) dengan harapan mampu meningkatkan keterampilan sekaligus kesejahteraan mereka. Di ujung program ini kami berharap nantinya para mustahik ini dapat “naik kelas” menjadi muzakki, sebutan untuk para pemberi manfaat melalui zakat”,  papar Ibu Suci di sesi kedua acara Jangan Takut Berbagi.

Alan Efendi, Perwakilan Penerima Program Pendampingan dari Dompet Dhuafa

Alan Efendi, Perwakilan Penerima Program Pendampingan dari Dompet Dhuafa

Selain menghadirkan perwakilan dari Dompet Dhuafa, acara ini juga diisi oleh Alan Effendi, salah satu penerima program pendampingan yang dilakukan Dompet Dhuafa. Di sesi ini Mas Alan bercerita tentang gerakan #JanganTakutBerbagi yang dilakukannya di Nglipar sejak tahun 2014 silam. Setelah pulang kampung, ia berinisiatif membangun desa dengan modal 500 bibit tanaman lidah buaya yang dibagikannya pada tetangga di sekitar rumahnya.

“Waktu itu setiap keluarga mendapat 50 bibit lidah buaya. Harapan awalnya sederhana saja. Agar bisa menciptakan lapangan pekerjaan untuk ibu rumah tangga di sekitar tempat tinggal saya. Di awal progam, kami membuat mengolah daging lidah buaya menjadi dua produk utama, yakni nata de aloe vera dan cendol lidah buaya. Alhamdulillah, tahun 2017 kami mendapatkan bantuan 5000 bibit lidah buaya dari Dompet Dhuafa”, terangnya kemudian.

Salah Satu Produk Berbahan Lidah Buaya Besutan Mas Alan dan Tim

Salah Satu Produk Berbahan Lidah Buaya Besutan Mas Alan dan Tim

Tidak disangka, mimpi kecil kami perlahan tercapai. Yang dulunya cuma bisa bikin nata de aloe vera dan cendol saja, kini kami kulitnya sudah mulai dikembangkan menjadi berbagai jenis keripik. Saya ingat betul, tahun kemarin rasa keripik lidah buayanya masih kurang enak karena hanya dibuat dengan cara menggoreng kulit lidah buaya dengan bumbu seadanya.Dari segi kualitas bisa dibilang biasa saja. Namun siang itu keripik yang saya jumpai, baik rasa maupun packagingnya terbilang oke punya.

“Pasokan daging lidah buaya pun sudah melebar ke desa tetangga. Bahkan kini kami sedang bekerja sama dengan LIPI untuk memperoleh formula awetan alami yang cocok untuk produk kami. Selain itu, kami juga mulai membranding desa sebagai desa wisata edukasi khusus pertanian lidah buaya”, tambahnya sesaat kemudian.

Souvenir Bibit Lidah Buaya dari Kelompok Tani Besutan Mas Alan

Souvenir Bibit Lidah Buaya dari Kelompok Tani Besutan Mas Alan

Kini, warga di sana tidak hanya tahu tentang hulu hingga hilir budidaya lidah buaya, melainkan sudah diajari tata kelola wisata seperti bagaimana cara menyambut sekaligus menjamu tamu yang baik.  Ikut bahagia rasanya melihat Nglipar yang dulunya dikenal gersang, kini mulai berdaya berkat lidah buaya. Ini baru satu dari sekian banyak program pemberdayaan yang dilakukan oleh Dompet Dhuafa.

Belajar di Salah Satu Penerima Program Mustahik Move to Muzaki dampingan Dompet Duafa yang berada di kawasan Plosorejo, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman

Belajar di Salah Satu Penerima Program Mustahik Move to Muzakki dampingan Dompet Duafa yang berada di kawasan Plosorejo, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman

Usai acara launching gerakan Jangan Takut Berbagi di Mezzanine, ternyata kami diajak untuk melihat salah satu penerima program Mustahik Move to Muzakki dampingan Dompet Dhuafa yang berada di kawasan Plosorejo, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman. Di sana kami bertemu dengan Mas Dani, perwakilan penerima program Mustahik Move to Muzakki tahun 2012 lalu.

Belajar di Salah Satu Penerima Program Mustahik Move to Muzaki dampingan Dompet Duafa yang berada di kawasan Plosorejo, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman

Belajar di Salah Satu Penerima Program Mustahik Move to Muzakki dampingan Dompet Duafa yang berada di kawasan Plosorejo, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman

Cerita di kawasan ini bermula pada 2010 yang lalu, tepatnya saat kawasan ini masuk di zona kuning yang diakibatkan oleh erupsi Gunung Merap, dimana dimana bangunan fisik milik warga terlihat utuh, namun kegiatan ekonomi warganya terbilang lumpuh. Mendengar cerita ini, ingatan saya langsung melayang pada kejadian gempa yang melanda Jogja belasan tahun silam.

Salah Satu Program Pendampingan Dompet Dhuafa di Plosorejo, Cangkringan, Sleman

Salah Satu Program Pendampingan Dompet Dhuafa di Plosorejo, Cangkringan, Sleman

Menariknya, hasil riset Dompet Dhuafa menunjukkan bahwa iklim di kawasan Ploserejo cocok untuk budidaya sapi perah. Sebuah hasil riset yang kala itu jauh dengan kebiasaan warga yang sudah sejak lama memelihara sapi potong. Dengan keyakinan yang kuat akan hasil riset tersebut, pada tahun 2012 Dompet Dhuafa memberikan bantuan 10 ekor sapi perah. Meski diberi makan, di awal program ini berjalan, warga sempat enggan untuk memerah susu sapi. Saat melihat dampak ekonomi dari program ini, barulah warga mulai terbuka, menerima sekaligus mau diajak kerja sama untuk membesarkan bisnis sapi perah ini.

Bak peribahasa “If there is a will, there is a way”, tiga tahun kemudian, sapi perah di Plosorejo meningkat menjadi 30 ekor. Keberhasilan program ini mendatangkan bantuan kedua dari Dompet Dhuafa berupa 70 ekor sapi. Kabar baiknya, di tahun 2015 lalu saja produksi susu sapi di kawasan ini hampir menyentuh angka 1000 liter/hari. Sebuah kabar menggembirakan yang bisa jadi berawal dari zakat, infak ataupun shadaqah teman-teman yang disalurkan melalui Dompet Duafa. Terbayang bukan besarnya potensi kebaikan yang bersumber dari hal-hal kecil seperti zakat, infak dan shadaqah kita sehari-hari?

Penggunaan Peralatan Teknologi Tinggi Demi Menjamin Kualitas Susu yang digunakan di Kandang Sapi Perah Plosorejo

Penggunaan Peralatan Teknologi Tinggi Demi Menjamin Kualitas Susu yang digunakan di Kandang Sapi Perah Plosorejo

“Kini di Plosorejo ada lebih dari 200 sapi perah yang dikelola secara bersama-sama, dengan rata-rata kepemilikan sapi mencapai 13 ekor/orang. Target kami tahun ini adalah memperoleh ijin resmi sehingga dapat mendistribusikan susu kami dengan merk dagang sendiri”, terang Mas Dani sembari tersenyum malu-malu.

Memang benar, zakat tidak hanya mensucikan tapi juga mampu menumbuhkan perekonomian bagi mereka yang membutuhkan. Begitu pula dengan donasi teman-teman yang dikelola dengan baik. Dengan perencanaan program yang matang, lengkap dengan laporan keuangan yang transparan, program pengurangan kemiskinan secara signifikan melalui pendampingan dan pemberdayaan potensi yang dimiliki kaum dhuafa rasa-rasanya bukan isapan jempol semata.

Oiya, jika kawan-kawan tidak memiliki waktu luang untuk menyalurkan zakat, infak atau shadaqah secara langsung, Dompet Dhuafa memberikan kemudahan dengan berbagai fasilitas yang bisa diakses kapan saja, dimana saja melalui kanal donasi online di donasi.dompetdhuafa.org. Asal ada sinyal, insyaallah niat baik kawan-kawan untuk berdonasi bisa dilakukan semudah menggerakkan jari. Istilahnya, tinggal transfer, beres.

Jika masih kebingungan saat melakukan donasi, Dompet Dhuafa menyediakan fitur konsultasi, kalkulasi zakat laporan donasi hingga acara care visit. Sebutan untuk kegiatan rutin yang dilakukan untuk meninjau, mengeksplore, serta mewartakan berbagai program pemberdayaan yang telah dilakukan oleh Dompet Dhuafa. Bagaimana teman-teman, sudah terbayang bukan besarnya potensi kebaikan yang dapat dilakukan melalui gerakan Jangan Takut Berbagi ini?

Betul kiranya ungkapan saya berbagi saya bahagia. Karena sejatinya ketika kita berbagi, kita pula yang akan menuai letupan bahagia.

Salam hangat dari Jogja.

-Retno-

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Jangan Takut Berbagi yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa”

Banner Lomba Blog Jangan Takut Berbagi yang Diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa

Banner Lomba Blog Jangan Takut Berbagi yang Diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa

Retno Septyorini

Perkenalkan, nama saya Retno Septyorini, biasa dipanggil Retno. Saya seorang content creator dari Jogja. Suka cerita, makan & jalan-jalan. Kalau ke Jogja bisa kabar-kabar ya..

YOU MIGHT ALSO LIKE

No Comment

Leaver your comment

About Me

Wiloke

Retno Septyorini

Welcome to my creative blog │ Content creator @halomasin │Talk about figure, wastra, travel &culinary│ Happy living in Jogja

About Me