Tak Perlu Menunggu Kaya untuk Jadi Manfaat Bagi Sesama

Dua tahun lalu ada seorang kakek berumur 79 tahun mampir di rumah kawan saya. Namanya Mbah Supri. Di awal kedatangannya, rekan saya (sebut saja dia Indah, bukan nama sebenarnya) mengira bahwa beliau hanya ingin meminta-minta saja.

Perkiraan Indah bukan tanpa sebab. Pasalnya kala itu sang kakek berucap sedang tidak punya uang untuk pulang ke rumah. Sebuah alasan yang kerap digunakan oknum tertentu untuk meminta belas kasihan orang.

Diluar dugaan, ternyata sikap simbah yang satu ini berbeda. Beliau tidak berniat untuk meminta-minta. Sebaliknya, Mbah Supri menawarkan jasa untuk bekerja serabutan di rumah Indah. Kakek berperawakan mungil ini bahkan bercerita bahwa pandemi ini pernah membawanya untuk beralih profesi sebagai penjual sapu. Hanya saja pekerjaan tersebut ternyata tidak bertahan lama.

Dengan alasan ikhtiar menjemput rizki inilah keluarga Indah menerima tawaran Mbah Supri. Apapun alasannya, bekerja jauh lebih mulia daripada meminta-minta, meski dengan alasan terdampak pandemi. Sesuai kesepakatan, setiap 2-3 bulan sekali Mbah Supri datang untuk bersih-bersih halaman.

Melihat keuletan Mbah Supri, suatu hari Indah mengunggah cerita perihal kakek penuh semangat dari Wonosari ini. Unggahan cerita Indah ternyata berbuah kebaikan. Lebih tepatnya kebaikan yang menular. Beberapa saat setelah posting tentang Mbah Supri, ada kawan jauh Indah yang menitipkan uang untuk beliau.

Alhamdulillahnya, beberapa hari kemudian Indah bertemu dengan Mbah Supri sehingga amanat kawannya dapat ditunaikan dengan segera. Sungguh di luar dugaan, keesokan paginya Mbah Supri mampir ke rumah kawan saya. Sebagai ungkapan terima kasih, beliau membawa tempe dari Wonosari untuk teman Indah.

Senyum Sumringah Mbah Supri (Dokumentasi Wening)
Senyum Sumringah Mbah Supri (Dokumentasi Wening)

Mengagetkannya, Mbah Supri lantas bercerita bahwasanya uang yang kemarin beliau terima sudah dibelikan beras 30 kg lalu disumbangkannya ke masjid. MasyaAllah. Trenyuh sekali rasanya membaca unggahan cerita tentang Mbah Supri.

Dari foto di atas, tampak sekali bukan ungkapan rasa bahagia beliau? Benar kiranya ungkapan, tak perlu menunggu kaya untuk jadi manfaat bagi sesama.

***

Saya sendiri sangat meyakini ungkapan “Tak perlu menunggu kaya untuk jadi manfaat bagi sesama” di atas. Selain terinspirasi dari kisah Mbah Supri, sesungguhnya jadi manfaat dapat dimulai dari hal-hal kecil nan mudah, yang berada di sekitar kita. Memberi jalan pada ambulans misalnya.

Sebuah pilihan kebaikan yang kadang terasa begitu ringan namun membawa dampak yang sangat besar. Berkali-kali sudah saya merasakan manfaat hal-hal baik semacam ini. Utamanya saat takdir menyeret saya untuk duduk diam di dalam ambulans.

Ambulans yang Saya Tumpangi Saat Mengantar SImbah Putri ke Rumah Sakit (Dokumentasi Pribadi)
Ambulans yang Saya Tumpangi Saat Mengantar SImbah Putri ke Rumah Sakit (Dokumentasi Pribadi)

Berkat kebaikan para pengguna jalan, perjalanan ambulans yang saya tumpangi menuju rumah sakit tidak mengalami kendala yang berarti. Karena itulah kaki nenek yang patah usai terjatuh di dapur dapat segera ditangani. Begitu pula saat menjalani kontrol bulanan paska operasi. Semua kemudahan ini berawal dari partisipasi kebaikan yang dilakukan oleh para pengguna jalan.

Selain perasaan haru melihat gerak cepat mereka yang mempermudah perjalanan kami, pengalaman ini bak cambuk bagi diri untuk memilih jadi bermanfaat bagi. Karena pilihan untuk bermanfaat sejatinya dapat dilakukan kapan saja, dimana saja. Bahkan ada kalanya kebermanfaatan tidak melulu bertumpu pada kepemilikan uang, melainkan niat sekaligus pilihan untuk bersikap.  

Pada akhirnya saya menerapkan sikap serupa untuk mencicil kebaikan dalam menjalani kehidupan, tidak terkecuali saat berniat untuk menunaikan sedekah. “Tidak perlu malu meski baru mampu berdonasi dengan nominal kecil”, begitu kira-kira prinsip yang saya jaga supaya terhindar dari perasaan tidak berguna yang berujung pada sikap malas bekerja.

Saya percaya bahwa setiap kebaikan akan menularkan kebaikan yang lain. Ibarat langkah kecil, ia akan berdampak besar.

***

Langkah Kecil Berdampak Besar

Adakah diantara teman-teman yang mengenal istilah uang jimpitan? Jenis iuran rutin harian yang biasanya berjumlah sangat kecil. Di tempat tinggal saya, minimal jimpitan hanya 500 rupiah saja. Boleh percaya, boleh tidak. Dari pengelolaan uang jimpitan sekecil itu dapat dimanfaatkan untuk membantu menyelenggarakan bakti sosial di Bulan Ramadhan.

Dengan analogi serupa, zakat yang besarannya tak seberapa itu jika dikelola dengan tepat dapat mendatangkan manfaat yang jauh berlipat. Saya pernah menyaksikan sendiri bagaimana pengelolaan zakat dapat mengangkat harkat dan martabat ibu-ibu berpenghasilan rendah di pelosok Jogja sana.

Produk Aloe Vera Cup Drink besutan Ibu Sumarmi ini misalnya. Berawal dari jualan cendol lidah buaya, kini kelompok Ibu Sumarmi menelurkan berbagai produk turunan berekonomi tinggi lainnya seperti permen, dodol hingga nata de aloe vera. Semuanya berawal dari kewajiban kecil bernama zakat.

Ya, dari zakat masyarakat yang dipercayakan pada pada Lembaga ZISWAF Dompet Dhuafa Jogja, saya menyaksikan sendiri bagaimana perkembangan produk Aloe Vera Cup Drink besutan Ibu Sumarmi mampu bertumbuh menjadi UMKM yang berdaya saing tinggi.

Beberapa kali berkesempatan mengikuti Program Care Visit Dompet Dhuafa Jogja semakin menambah semangat saya untuk berpartisipasi untuk membangun negeri. Lagi-lagi saya menggunakan jurus tidak perlu malu untuk berkolaborasi menyebarkan energi positif ini. Karena bekerja di ranah media, saya sering mempromosikan program-program Dompet Dhuafa di laman media sosial pribadi.

Transparansi Donasi di Dompet Dhuafa (Dokumentasi Pribadi)
Transparansi Donasi di Dompet Dhuafa (Dokumentasi Pribadi)

Dengan semangat serupa, saya juga mulai menyisihkan sebagian rizki untuk berdonasi melalui program wakaf via Dompet Dhuafa. Apalagi dukungan program wakaf di lembaga ZISWAF ini dapat dimulai dengan nominal 10 ribu rupiah saja. Lagi-lagi, nominal wakaf yang belum seberapa ini tidak sekalipun menyurutnya niat saya untuk mendukung tagline 30 hari jadi manfaat yang digaungkan Dompet Dhuafa selama bulan Ramadhan tahun ini.

Sebagai tambahan informasi, selama Bulan Ramadhan ini Dompet Dhuafa memiliki berbagai program kebaikan mulai dari penerimaan zakat maal, zakat penghasilan, zakat emas, wakaf sumur, wakaf sekolah, wakaf rumah sakit, wakaf pesantren hingga penerimaan donasi untuk para guru honorer dan masih banyak lagi.

Sedangkan di lingkup regional seperti di Dompet Dhuafa Jogja juga membuka berbagai program kebaikan seperti menjalin silaturahmi dengan mitra binaan dan mustahik, memberikan paket ramadhan untuk keluarga dhuafa, memuliakan anak yatim dengan memberikan paket lebaran, memberikan zakat fitrah bagi mereka yang membutuhkan hingga memberikan kemudahan kepada masyarakat untuk bersedekah Al-Qur’an sekaligus memberikan santunan kepada para pengajar Al-Qur’an.

Semuanya dapat disesuaikan dengan keinginan donasi teman-teman semua. Berbagai program di atas dapat menjembatani kawan-kawan yang mengalami kendala untuk menunaikan zakat, wakaf ataupun donasi secara offline. Untuk informasi selengkapnya, teman-teman dapat membuka dompetdhuafa.org Kabar baiknya, laman dompetdhuafa.org ini juga dilengkapi dengan fitur konsultasi, kalkulasi hingga gambaran berbagai program kemanusiaan yang selama ini telah dilakukan.

Akhir kata, mari turut berpartisipasi membangun negeri dalam program 30 hari jadi manfaat ini. Karena keberkahan Ramadhan selalu menanti bagi siapa saja yang peduli dan gemar berbagi.

Salam hangat dari Jogja,

-Retno-

 “Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Jadi Manfaat yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa”

Banner Lomba Blog 30 Hari Jadi Manfaat (Dokumentasi Dompet Dhuafa)
Banner Lomba Blog 30 Hari Jadi Manfaat (Dokumentasi Dompet Dhuafa)

Retno Septyorini

Perkenalkan, nama saya Retno Septyorini, biasa dipanggil Retno. Saya seorang content creator dari Jogja. Suka cerita, makan & jalan-jalan. Kalau ke Jogja bisa kabar-kabar ya..

YOU MIGHT ALSO LIKE

No Comment

Leaver your comment