Serunya Proses Pembuatan Gelato di Dapur Massimo

Rekomendasi Gelato di Jogja (Dokumentasi Retno Septyorini)

Rekomendasi Gelato di Jogja (Dokumentasi Retno Septyorini)

Saya kenal gelato di masa akhir perkuliahan, sekitar tahun 2011. Saat itu belum banyak kedai gelato yang ada di Jogja. Pun kalau ketemu saya pikir-pikir dulu buat nongkrong di situ. Soalnya harga beberapa scoop gelato sama dengan jatah makan siang saya (plus minumnya juga). Ehe.

Seiring perkembangan jaman, kini nyemil gelato rasa-rasanya tidak lagi semewah waktu jaman saya masih kuliah. Maklum saja, dulu jajannya masih minta orang tua, jadi ya gitu deh, anti foya-foya club (note: sengaja pakai kata foya-foya karena di masanya gelato memang jajanan mahal versi kantong saya).

Ngomong-ngomong soal gelato, belum lama ini saya nyicip kedai gelato baru yang rasanya boljug. Namanya Massimo Gelato. Kedai gelato ini dulunya ada di kawasan Prawirotaman. Namun baru-baru ini Massimo Gelato Jogja pindah lokasi ke tengah kota Jogja, tepatnya di Jl. Sunaryo No 10, Kotabaru, Gondokusuman.

Nggak jauh-jauh amat lah baik dari Stasiun Tugu maupun Stasiun Lempuyangan. Kalau jalanan lancar, paling 5-7 menit juga sudah sampai. Kalau teman-teman datang dari selatan, habis lewat Gereja Kotabaru ambil kiri lalu lurus saja sampai ketemu Masjid Syuhada di kiri jalan. Nah, jalan Sunaryo ini terletak di depan masjid. Nanti kedai gelato hits Jogja yang satu ini ada di sisi kanan (selatan) jalan.

Suasana Outdoor di Massimo Gelato Jogja (Dokumentasi Retno Septyorini)

Suasana Outdoor di Massimo Gelato Jogja (Dokumentasi Retno Septyorini)

Pokoknya kalau lihat tempat nongkrong bertabur bean bags warna-warni plus ada ayunan sama bangunan semacam foodtruck berwarna merah berarti teman-teman sudah sampai ke Massimo.

Kedai gelato Jogja Kotabaru yang satu ini terbilang dekat dengan Perpustakaan Kota. Tempat nongkrong saya kalau lagi pengen baca tapi budget beli buku masih dalam wacana, hehe… Jadi nggak bingung lagi mau ngadem kemana kalau lagi nyari bacaan gratisan. Yaowww!

Menu-Menu di Massimo Gelato Jogja

Sebagian Varian Gelato di Massimo Gelato Jogja (Dokumentasi Retno Septyorini)

Sebagian Varian Gelato di Massimo Gelato Jogja (Dokumentasi Retno Septyorini)

Meski pakai nama belakang gelato, namun kedai ini nggak cuma nyediain gelato gengs. Selain gelato ada banyak pilihan menu seperti aneka varian smoothies, squash, softdrink hingga kopi dan the juga ada. Asyiknya, kedai gelato yang satu ini juga nyediain cemilan seperti pizza, panini, waffle, pizz chock dan pittole. Kemarin sih saya nyicip orange squash, panini beef, waffle dan pitolle.

Squash dan Waffle Coklat Ala Massimo Gelato (Dokumentasi Retno Septyorini)

Squash dan Waffle Coklat Ala Massimo Gelato (Dokumentasi Retno Septyorini)

Squashnya terbilang murah (15K), seger dan ternyata nggak bikin batuk. Info yang terakhir sih penting banget buat yang punya tenggorokan sensitif.

Kalau citarasa waffle dan pitolle jadinya 11 12. Semacam dibuat dari bahan yang sama tapi diolah dengan cara yang beda gitu loh. Kalau aku lebih suka pitollenya. Selain tanpa aroma susu, manisnya pitolle itu pas aja di mulut. Dengan harga yang hampir sama dapatnya juga lebih banyak, wkwkwk. Kalau temen-temen lebih suka cemilan yang nggak manis buat nyemil gelato bisa pesan pizza atau panini.

Pitolle di Massimo Gelato Jogja (Dokumentasi Retno Septyorini)

Pitolle di Massimo Gelato Jogja (Dokumentasi Retno Septyorini)

Tak berselang lama, tiba-tiba saja kedai menjadi ramai karena kedatangan rombongan dari SD Tumbuh. Kedatangan tujuh belas adik-adik dari SD Tumbuh ini merupakan bagian dari Parents Participation yang biasa dilakukan di penghujung semester. Selain icip-icip gelato, mereka sengaja dateng buat nyobain bikin gelato di dapur Massimo. Wah, asyik juga nih kalau boleh ngintip tipis-tipis^^

Mengintip Cara Bikin Gelato di Dapur Massimo  

Keseruan Proses Pembuatan Gelato di Kedai Massimo Gelato Jogja (Dokumentasi Retno Septyorini)

Keseruan Proses Pembuatan Gelato di Kedai Massimo Gelato Jogja (Dokumentasi Retno Septyorini)

Dalam rangkaian acara kitchen tour kali ini, kelas sengaja dibagi dalam tiga sesi yang dimulai dari pengenalan sejarah kedai lalu berlanjut ke dapur untuk membuat gelato. Tentu saja segala bahan yang dibutuhkan dalam pembuatan gelato ini sudah dipersiapkan dengan baik. Jadi nanti tinggal plung, plung, plung, beres! Karena penasaran, saya ikutan nyempil di sesi pertama.

Kak Alan (Dokumentasi Retno Septyorini)

Kak Alan (Dokumentasi Retno Septyorini)

Kak Alan, pemandu kami di dapur menjelaskan bahwa bahan pembuatan gelato adalah susu, gula dan buah. Agar susu segar terhindar dari mikroorganisme berbahaya, susu harus dimasukkan dalam mesin pasteurisasi selama beberapa saat. Setelah steril, susu kemudian ditimbang sesuai kebutuhan.

Keseruan Proses Pembuatan Gelato di Kedai Massimo Gelato Jogja (Dokumentasi Retno Septyorini)

Keseruan Proses Pembuatan Gelato di Kedai Massimo Gelato Jogja (Dokumentasi Retno Septyorini)

Keseruan Proses Pembuatan Gelato di Kedai Massimo Gelato Jogja (Dokumentasi Retno Septyorini)

Keseruan Proses Pembuatan Gelato di Kedai Massimo Gelato Jogja (Dokumentasi Retno Septyorini)

Keseruan Proses Pembuatan Gelato di Kedai Massimo Gelato Jogja (Dokumentasi Retno Septyorini)

Keseruan Proses Pembuatan Gelato di Kedai Massimo Gelato Jogja (Dokumentasi Retno Septyorini)

Keseruan Proses Pembuatan Gelato di Kedai Massimo Gelato Jogja (Dokumentasi Retno Septyorini)

Keseruan Proses Pembuatan Gelato di Kedai Massimo Gelato Jogja (Dokumentasi Retno Septyorini)

Selanjutnya, tinggal tambah gula dan perasa alami yang sudah dihaluskan seperti buah, coklat ataupun kacang-kacangan. Siang itu tim pertama membuat gelato alpukat. Usai semua bahan dicampur hingga merata, adonan susu tersebut tinggal dimasukkan dalam mesin pendingin hingga suhu mencapai minus 20 hinggga 25 derajat celcius.

“Kalau sudah jadi nanti mesinnya akan berbunyi sebanyak dua kali”, terang Kak Alan kemudian.

Yang jelas, waktu yang dibutuhkan untuk proses pendinginan ini tergantung bahan yang digunakan. Tenang, bikin gelato nggak makan waktu lama kok. Sekitar beberapa menit kemudian ternyata gelato sudah siap untuk disajikan. Satu sesi pembuatan gelato hanya memakan waktu sekitar 15 menit saja.

Icip-Icip Gelato di Kedai Massimo

Gelato Rekomendasi Retno di Massimo (yang ada strawberry di sisi bawah kiri sunset paradise, yang ada pink strawberry yoghurt honey)

Gelato Rekomendasi Retno di Massimo (yang ada strawberry di sisi bawah kiri sunset paradise, yang ada pink strawberry yoghurt honey)

Selesai pekerjaan di dapur, kami dipersilahkan untuk mencicipi gelato yang tersedia di Kedai Massimo. Jadilah saya gercep untuk ikutan antri di belakang anak-anak. Hahaha

Rekomendasi Gelato di Jogja (Dokumentasi Retno Septyorini)

Rekomendasi Gelato di Jogja (Dokumentasi Retno Septyorini)

Karena aku suka yang asem-asem kemarin aku nyicip varian strawberry yoghurt honey, lemon sorbet yang dicampur sama sunset paradise. Tahu nggak, lemon sorbetnya seger bangeeeet! The best lah pokoknya. Eh, tapi seger di lidah aku ya. Gatau kalau di lidah temen-temen gimana. FYI aja ni ya, si lemon sorbet ini juga bisa jadi penyeimbang buat ngehabisin gelato yang rasanya  manis.

Di sini tersedia puluhan varian rasa gelato dengan beberapa pilihan harga ramah di kantong. Dengan harga 20K saja teman-teman bisa nyicip dua varian gelato yang disajikan dalam baby cup ataupun sugar cone. Bisa dibilang tempat ini merupakan kedai gelato Jogja paling murah tapi rasanya nggak murahan gitu gaes.

Saatnya Kuis!!! (Dokumentasi Retno Septyorini)

Saatnya Kuis!!! (Dokumentasi Retno Septyorini)

Habis icip-icip gelato, sesi touring di Massimo ternyata masih berlanjut. Ada kuis yang hadiahnya bikin adik-adik berseragam hijau muda ini begitu antusias. Ikutan seneng deh lihat mereka rebutan buat jawab pertanyaan. Jadi inget jaman masih SD^^

Konsep Go Green Ala Massimo Gelato

Kabar baiknya gelato asli Italia Jogja yang satu ini juga mengusung konsep go green yang cukup unik. Pokoknya di sini anti plastik-plastik cup. Sajian cemilan pakai bahan kertas, porsi baby cup untuk gelato pakai paper cup, squash pakai gelas dan yang terakhir, sedotannya pakai pasta! Iya, pasta yang sering kita masak itu.

Saya “ngeh” nya waktu liat sedotan di squash jadi pecah.

“Sedotan kok pecah ya”, batin saya dalam hati sembari melihatnya dengan lebih teliti.

Setelah saya amati sedotan ini ternyata bukan sedotan plastik, melainkan sedotan yang dibuat dari bahan pasta. Boleh juga nih idenya.

Satu lagi kabar baik yang aku notice dari tempat ini tuh nggak ketemu asap rokok!”.

Yaoowww!”, cocok banget buat aku yang anti asap-asap rokok club.

Segini dulu ya man-teman. Sampai ketemu di cerita-cerita seru lainnya.

Salam hangat dari Jogja,

-RetnoSeptyorini-

Retno Septyorini

Perkenalkan, nama saya Retno Septyorini, biasa dipanggil Retno. Saya seorang content creator dari Jogja. Suka cerita, makan & jalan-jalan. Kalau ke Jogja bisa kabar-kabar ya..

YOU MIGHT ALSO LIKE

No Comment

Leaver your comment

About Me

Wiloke

Retno Septyorini

Welcome to my creative blog │ Content creator @halomasin │Talk about figure, wastra, travel &culinary│ Happy living in Jogja

About Me