Review Film Boncengan: Makna Kejujuran Dibalik Sebuah Penghargaan

Ada banyak alasan dibalik pentingnya sebuah penghargaan di tengah masyarakat kita. Selain sebagai indikator prestasi, gelar juara juga dapat menaikkan gengsi. Karena alasan inilah tidak jarang anak yang meraih gelar juara menjadi topik pembicaraan para orang tua. Meski tak ada yang bertanya, mereka tak bosan untuk mengulang cerita soal prestasi yang telah diraih anaknya.

Di sisi lain, ada pula anak yang ingin menang lomba murni karena ingin hadiahnya saja. Satu diantaranya karena faktor ekonomi yang menjadikan hadiah lomba belum terjangkau oleh pendapatan orang tua. Tidak heran rasanya jika sebagian masyarakat kita menjadi begitu berambisi untuk memenangkan sebuah kompetisi. Gambaran inilah yang berusaha diangkat dalam Film Boncengan.

Film berdurasi 16 menit karya sutradara Senoaji Julius ini bercerita tentang lomba lari berhadiah sepeda yang diadakan di sebuah sekolah di desa. Sepanjang cerita kita diperlihatkan jalur lari khas pedesaan. Persis seperti jalur berbagai trend event lari kenamaan yang kini banyak digemari. Rutenya bukan lewat jalanan beraspal saja, tapi melewati gang-gang kecil yang berhadapan langsung dengan rumah dan pekarangan warga desa.

Di kawasan pedesaan, lomba lari dengan hadiah utama berupa sepeda merupakan event yang besar. Hadiahnya bisa jadi alat transportasi yang mewah untuk dibawa ke sekolah. Hadiah ini pula lah yang menjadikan sebagian murid sekolah dasar ini terpikirkan untuk melakukan kecurangan. Menariknya, kecurangan yang dilakukan oleh salah satu peserta ada yang melibatkan orang tua. Sampai ada istilah “sogok-sogokan” alias suap segala.

Adalah Yua. Peserta pertama yang sebenarnya berpotensi memenangkan perlombaan karena berada di urutan pertama. Jauh meninggalkan posisi peserta lainnya. Sayangnya, ia kalah oleh bujuk rayu Ndut. Teman sekolah yang sama-sama berambisi untuk memenangkan hadiah sepeda. Semacam kalau menang, sepedanya buat berdua. Pakainya bergantian. Saking berambisi untuk menang, Ndut sampai mengubah plang lomba segala. Ada pula peserta bernama Supri. Teman Yua yang ikut lomba lari tanpa berpikir untuk berbuat curang. Jadi dia lari semampunya saja.

Di sisi lain ada Amin. Peserta lomba yang merupakan pemenang pertama lomba lari periode sebelumnya. Tak berbeda dengan Yuan dan Ndut, Amin juga mendapatkan paksaan bantuan untuk mbonceng motor bapaknya. Tujuannya apa lagi kalau bukan untuk memenangkan lomba. Sebuah penggambaran yang begitu sederhana namun cukup mewakili sebagian perilaku orang tua yang menghalalkan segala cara untuk memuaskan ambisi pribadi agar anaknya terlihat berprestasi. Sampai-sampai mereka lupa pentingnya karakter kejujuran pada anak usia belia. Tapi kalau ada pihak yang ketahuan korupsi, mangkelnya setengah mati.

Ada banyak hal menarik yang berhasil direkam pada Film Boncengan ini. Satu diantaranya saat Yua dan Amin akhirnya bertemu di dekat garis finish, yang pada akhirnya dimenangkan oleh Yua. Lucunya, saat penyerahan hadiah, semua kecurangan terbongkar sudah. Mulai dari Ndut yang tiba-tiba ingin menaiki hadiah sepeda karena merasa telah membantu Yua hingga kecurangan bapaknya Amin yang membagi-bagi uang untuk beli es sebagai uang tutup mulut pada para peserta agar tidak membocorkan rahasia kalau Amin sempat mbonceng bapaknya.

Pada akhirnya juara pertama lomba jatuh pada Supri. Peserta jujur yang larinya “lurus-lurus” saja. Film dengan alur yang tidak berbelit-belit ini cocok disajikan sebagai media edukasi untuk mengenalkan karakter kejujuran pada anak. Karena sepintar-pintarnya bangkai ditutupi, baunya tetap tercium juga.

Retno Septyorini

Perkenalkan, nama saya Retno Septyorini, biasa dipanggil Retno. Saya seorang content creator dari Jogja. Suka cerita, makan & jalan-jalan. Kalau ke Jogja bisa kabar-kabar ya..

YOU MIGHT ALSO LIKE

No Comment

Leaver your comment