Rebranding Koperasi di Era Digital, Membangun Perekonomian Seiring Tuntutan Jaman

Dua pekan lalu saya dibuat cukup kaget saat melihat tampilan stand Dinas Koperasi dan UKM DIY yang berada di Yogyakarta International Airport (YIA). Saking menariknya, beberapa kawan saya yang baru saja mendarat di bandara akhirnya menyempatkan diri juga untuk menengok “mall”-nya puluhan produk kreatif dari local champion di Kota Gudeg.

Di stand ini saya bertemu lagi dengan salah satu camilan favorit saya. Namanya Abon dan Crispy Lele produksi Ema Food yang pernah saya beli di sebuah pameran. Kabar baik lainnya, ternyata artisan tea yang beberapa waktu ini rutin saya konsumsi juga ada di sini. Namanya Samigiri Artisan Tea. Salah satu brand teh premium asli Kulonprogo.

Samigiri Artisan Tea (Dokumentasi Retno Septyorini)

Samigiri Artisan Tea (Dokumentasi Retno Septyorini)

“Ini nih yang dinamakan puduk dicinta, ulam pun tiba”, batin saya dalam hati. Saat stok di rumah menipis, eh, tanpa sengaja bisa ketemu begitu saja usai landing di bandara.

Ingatan Lama Tentang Koperasi Kita

Sebelum bercerita lebih jauh, ada yang tahu tidak mengapa perasaan kaget saya (yang mungkin bagi orang lain tidak terlalu penting) melihat stand Dinas Koperasi dan UKM DIY di YIA sengaja ditulis di awal paragraf? Jawabannya begitu sederhana. Karena saya belum pernah melihat “kemasan” produk koperasi sebagus ini.

Maklum saja, sebagai bagian dari generasi millennial saya terbiasa melihat tampilan koperasi yang begitu apa adanya. Saat SMP, koperasi menjadi jujugan saya untuk jajan makanan ringan. Waktu SMA hal ini seolah terulang kembali. Koperasi hanya menjadi pilihan untuk beli peralatan tulis-menulis yang habis di tengah jam pelajaran.

Beranjak kuliah, koperasi mulai memiliki peranan tersendiri. Ia menjelma sebagai alternatif tempat jajan sekaligus lokasi fotokopian yang paling menyenangkan. Alasannya tidak jauh-jauh dari segi biaya dan kepraktisan saja. Selain murah, tentu tidak perlu biaya wira-wiri saat mau fotokopi.

Bagian Dalam KUD Tani Makmur (Dokumentasi Retno Septyorini)

Bagian Dalam KUD Tani Makmur yang Berada Tak Jauh dari Rumah (Dokumentasi Retno Septyorini)

Sayangnya saat sudah bekerja, saya baru menyadari kalau ada koperasi yang jaraknya satu kilometer saja dari rumah. Sayangnya saya jarang jajan di tempat ini. Salah satu alasannya karena produk yang dijual di sana bisa ditemui dengan mudah di warung tetangga. Kalau ada yang dekat tentu tidak ada alasan untuk membeli di tempat yang lebih jauh, bukan?

Rebranding Koperasi di Era Digital (Dokumentasi Retno Septyorini)

Ingatan saya akan koperasi di masa lampau inilah yang membuat saya cukup kaget melihat tampilan “rumah” baru bagi produk binaan Dinas Koperasi dan UKM DIY di YIA beberapa waktu lalu. Lantas, apakah tampilan offline saja cukup untuk bersaing di era digital? Jawabannya tentu tidak.

Meneropong Kebiasaan Generasi Milenial

Di era digital, salah satu pendekatan terbaik yang wajib dilakukan adalah meneropong kebiasaan generasi milenial. Tanya kenapa? Setidaknya ada tiga hal mendasar yang bisa menjelaskan hal ini.

Pertama, mari kita runut dari namanya terlebih dahulu. Generasi milenial (Generasi Y) merupakan sebuah untuk mereka yang lahir pada tahun 1980-an hingga tahun 1995. Dengan kata lain generasi milenial memiliki kisaran usia antara 24 hingga 39 tahun. Dalam rentang umur yang demikian, generasi milenial umumnya telah memiliki penghasilan sendiri.

Ini baru berbicara soal kemandirian finansial ya. Belum berbicara soal lain seperti  kebiasaan berbelanja online Generasi Y via smartphone yang jauh lebih besar jika dibandingkan dengan Generasi Z (generasi yang tahir si tahun 1995 sampai tahun 2000). Konon mereka yang masuk dalam generasi Z merasa lebih menyukai belanja via offline.

Menariknya lagi, Indonesia memiliki jumlah penduduk usia produktif yang cukup tinggi, yang dikenal luas dengan sebutan bonus demografi. Data BPS tahun 2018 menyebut bahwa 24% penduduk Indonesia (setara 63,4 juta jiwa dari 179,1 juta jiwa) merupakan generasi milenial. Bisa dibayangkan bukan potensi peningkatan ekonomi yang bisa diraih dari tingginya bonus demografi ini? Tidak terkecuali dengan peluang peningkatan pendapatan koperasi, baik melalui penjualan produk maupun layanan jasa dari para anggota.

Sebagai bagian dari generasi milenial, saya melihat ada pola yang cukup unik pada lingkaran pertemanan saya. Salah satunya begitu terlihat pada berbagai pilihan saat berbelanja. Ternyata banyak diantara teman saya yang memiilih membeli barang yang berkualitas. Harga lebih mahal bukan menjadi hal yang utama. Rasa-rasanya mereka sadar betul akan peribahasa “Ada harga ada rupa”. Bahwa harga menjadi hal yang cukup berpengaruh pada kualitas suatu produk.

Selain kualitas produk yang wah, mereka juga lebih suka memilih produk dengan tampilan yang terlihat mewah. Benar kiranya ungkapan “Menarik generasi milenial tidak bisa dengan cara yang biasa-biasa saja”. Maklum, di era digital, penampilan selalu berada di garis depan.

Meski terlihat sepele, dari interaksi semacam inilah sejatinya kita dapat mengukur kebutuhan konsumen yang sesungguhnya. Kebutuhan yang senantiasa berubah seiring perkembangan jaman. Termasuk di dalamnya produk ataupun layanan jasa yang umum ditawarkan oleh koperasi. Lantas bagaimana cara efektif untuk melakukan rebranding koperasi di era digital agar “sehati” dengan generasi milenial?

Rebranding Koperasi di Era Digital

Setidaknya ada beberapa pendekatan efektif yang dapat dilakukan untuk merebranding koperasi di era digital agar bisa “sehati” dengan generasi milenial.

Pertama, Pastikan Menawarkan Produk atau Layanan Jasa yang Berkualitas

Apapun jualannya, pada kualitas lah pembeli itu akan kembali. Begitu pula saat kita berbicara tentang market produk koperasi untuk generasi milenial. Disadari atau tidak, seiring terbukanya informasi dari berbagai lini, kini generasi milenial terbilang lebih terbuka dengan berbagai isu yang terkait dengan lingkungan dan kesehatan. Tidak jarang karena faktor penghasilan yang umumnya mengalami peningkatan turut menaikkan awareness seseorang seseorang akan gaya hidup yang dijalani, termasuk pada pola konsumsi yang lebih memperhatikan isu lingkungan maupun kesehatan.

Kedua, Redesain Logo yang Sesuai dengan Visi dan Misi Koperasi

Meski kadang masih dianggap sepele, namun logo sebuah brand merupakan perwakilan identitas brand yang diperkenalkan pada khalayak ramai. Sebagai sebuah identitas, logo brand merupakan salah satu perwujudan strategi marketing yang sesuai dengan visi dan misi yang tengah diusung. Redesain logo koperasi menjadi lebih sederhan, eye cathing dan mudah diingat diharapkan dapat membantu promosi koperasi di era digital.

Ketiga, Membangun “Mall Online” yang Mampu Mengikuti Perkembangan Jaman

Sebagai generasi yang menyukai kemudahan dan kepraktisan, membuka penjualan via online mutlak dilakukan. Meski demikian, beberapa estetika pembangunan “mall online” ini wajib diperhatikan mulai dari desain dan tampilan website yang responsif sehingga tidak memerlukan waktu lama saat diakses baik melalui smartphone maupun PC, pemilihan foto produk yang eye cathing, pilihan ekspedisi yang memadai hingga penawaran metode pembayaran yang mudah.

Keempat, Melakukan Promo dengan Cara Kekinian

Setelah bangunan dasar (poin pertama dan kedua) sukses dilakukan, target berikutnya adalah melakukan promosi dengan cara kekinian. Pada tahap ini diperlukan karyawan koperasi yang mumpuni secara pengetahuan sekaligus lihai merangkul engagement melalui media promo yang telah dianggarkan. Di era milenial seperti saat ini, kolaborasi menjadi salah satu “kunci” yang paling mumpuni.

Terkait hal ini, kolaborasi dapat dilakukan bersama tokoh ataupun micro influencer yang sepaham dengan visi misi koperasi. Kerjasama semacam ini terbukti dapat melebur modal menjadi berbagai ide kreatif yang saling menguntungkan satu sama lain.

Kelima, Jangan Lupakan Story Telling Behind Product

Terakhir, jangan lupakan story telling behind product. Apapun alasannya, cerita baik dibalik dibuatnya suatu produk terbukti sangat berpengaruh pada angka penjualan. Umumnya cerita baik akan melahirkan hal-hal baik pula, termasuk menambah daya tarik dari produk itu sendiri.

 

Salam hangat dari Jogja,

-Retno Septyorini-

#lombaDISKOPUKMDIY2019

Rebranding Koperasi di Era Digital (Dokumentasi Retno Septyorini)

Rebranding Koperasi di Era Digital (Dokumentasi Retno Septyorini)

Retno Septyorini

Perkenalkan, nama saya Retno Septyorini, biasa dipanggil Retno. Saya seorang content creator dari Jogja. Suka cerita, makan & jalan-jalan. Kalau ke Jogja bisa kabar-kabar ya..

YOU MIGHT ALSO LIKE

No Comment

Leaver your comment

About Me

Wiloke

Retno Septyorini

Welcome to my creative blog │ Content creator @halomasin │Talk about figure, wastra, travel &culinary│ Happy living in Jogja

About Me