Pesona Wisata Sejarah Dieng, “Negeri Kayangan” yang Selalu Dirindukan

Saya tidak menyangka narasi yang disampaikan Kang Rendra terkait sejarah Dieng dimulai dari runtuhnya Kerajaan Taruma Negara, lalu bersambung ke catatan I”Tsing tentang keberadaan Kerajaan Holing hingga masuknya kawasan sejarah berjuluk “Negeri Kayangan” itu dalam dua buku monumental bertajuk History of Java, juga Centhini.

Kang Rendra merupakan founder Sraddha Institute. Sebuah komunitas pecinta kesusastraan Jawa Kuna dan Klasik Mataram yang berbasis di Surakarta. Dua tahun silam, saya berkesempatan mengikuti Kelas Lapangan Sraddha ke-5 dengan tujuan Kompleks Candi di Kawasan Dieng dan Situs Liyangan.

Bagi anak yang minim pengetahuan sejarah macam saya, “benang merah” di atas terbilang sulit untuk dirangkai seorang diri. Tambahan pengetahuan yang ada paling mentok berasal dari brosur yang biasa dibagi saat membeli tiket masuk candi atau museum. Itu pun kalau tidak kehabisan.

Kelas Lapangan Bersama Komunitas Sraddha (Dokpri)

Lain ceritanya jika di sepanjang perjalanan wisata, saya dibersamai oleh kawan-kawan dengan pengetahuan sejarah yang mumpuni seperti yang sempat saya singgung di awal tadi. Benefit inilah yang mendasari saya untuk mencari pemandu wisata di setiap wisata sejarah yang saya jalani.

Kalau ditanya perihal tips termudah menemukan wisata sejarah dengan guide yang terpercaya, jawaban gampangnya tidak lain dengan mengikuti kelas sejarah di kota terdekat teman-teman semua. Kini banyak lho pilihan wisata sejarah yang diinisiasi oleh komunitas pecinta sejarah.

Di Jogja ada Komunitas Malam Museum, di Solo ada Komunitas Solo Societeit, di Semarang ada Bersukaria Walk dan masih banyak lagi. Jika berniat untuk berkenalan lebih lanjut, kawan-kawan dapat mengikuti official media sosial mereka masing-masing.

Sego Megono (Dokpri)

Lelahnya perjalanan malam dengan rute Jogja, Solo, Wonosobo akhirnya terbayar lunas usai beristirahat sejenak, yang dilanjut dengan menyantap menu sarapan berupa sego megono bertopping baceman dan tempe kemul. Sego Megono merupakan makanan tradisional khas Wonosobo berupa nasi campur bercita rasa manis. Kudapan sedap ini dibuat dari campuran nasi dengan sayur nangka.

Citarasa manis dari Nasi Megono beradu apik dengan gurihnya tempe kemul yang disantap hangat-hangat. Usai sarapan saya langsung bersiap menuju bus yang telah disediakan panitia. Seingat saya perjalanan dari tempat menginap kami menuju Dieng tidak memerlukan waktu yang lama. Sekitar satu jam saja.

Potret Perjalanan Menuju Dieng (Dokpri)

Sesampainya di kawasan wisata Dieng, saya dan peserta Kelas Lapangan langsung diarahkan menuju Museum Dieng Kailasa. Dari sini keseruan pun dimulai.

“Teman-teman ada yang ingat ada kerajaan apa di Jakarta?”, tanya Kang Rendra yang kala itu menjadi pemantik diskusi.

“Iya, Taruma Negara. Dahulu, Jakarta itu ada di bawah Kerajaan Taruma Negara. Di atasnya ada Kerajaan Salakanagara, Dwipantara dan lain-lain. Setelah Taruma Negara ini hancur, konon ada kerajaan yang disebut I’Tsing dengan nama Holing. Kerajaan tersebut berada di Dwipantara.

Kala itu Jawa tidak pernah disebut. Beliau masih menyebut tanah ini dengan nama Dwipantara. “Dwipa” artinya pulau, sedangkan “tara” berarti lautan. Dengan kata lain Dwipantara merujuk pada sebuah pulau yang berada di tengah laut”, tambah rendra kemudian.

Gambaran Kompleks Candi di Dieng (Dokpri)

Saya tidak bergeming sedikit pun saat mendengar paparan kawan-kawan dari Komunitas Sraddha. Kegiatan saya selama setengah jam kemudian hanya menyalakan kamera untuk mengambil video dan foto di seputaran museum.

Konon yang sejaman dengan Dieng adalah Candi Gedong Songo di Semarang, Situs Cangkuang di Garut dan Situs Batu Jaya di perbatasan Bekasi Tangerang. Jika ditelisik lebih lanjut, Dieng termasuk peninggalan sejarah yang unik karena memiliki layer jaman yang panjang. Mencapai 500 tahun.

Kawasan bersejarah yang berada diantara Gunung Prau, Gunung Sindoro dan Gunung Sumbingini pertama kali ditemukan tahun 1814 oleh H.C. Cornelius, yang tidak lain merupakan ajudannya Tan Jin Sing, Bupati Yogyakarta kala itu. Dalam tataran kepemimpinan, Tan Jin Sing sendiri berada di bawah kepemimpinan Thomas Stamford Raffles.

Raffles kemudian melakukan ekspedisi di seluruh Jawa, lalu bersama-sama membuat buku monumental berjudul History of Java. Di tahun yang sama, Raden Mas Sugandi (sebelum menjabat sebagai Pakubuwono V) membuat buku yang sama monumentalnya bertajuk Centhini. Keduanya sama-sama mencatat tentang Jawa, sama-sama mencatat pula tentang Dieng.

Berfoto di Candi (Dokpri)

Bagi saya pribadi, benang merah semacam ini harganya mahal sekali. Karena itulah sebelum pandemi melanda, saya cukup sering mengikuti kelas lapangan maupun kegiatan walking tour yang banyak diadakan oleh berbagai komunitas pemerhati sejarah. Selain banderol harga yang ramah di kantong, pengetahuan sejarah yang saya dapatkan terbilang tumpah ruah.

“Saat pertama kali ditemukan, kompleks candi di kawasan Dieng ditemukan dalam kondisi tenggelam. Kala itu Cornelius mencatat ada sekitar 400 tempat pemujaan yang umum dikenal dengan nama pedharman. Sekitar empat puluh tahun kemudian, air yang terdapat pada kompleks bersejarah ini akhirnya mulai dikeringkan. Usai dibersihkan dan didata, ketemulah berbagai candi seperti yang nanti akan kita lihat bersama-sama”, papar Kang Rendra kemudian.

Kompleks candi terbesar di Dieng bernama Kompleks Candi Arjuna. Letaknya hanya berseberangan dengan Museum Kailasa. Dua tahun lalu, harga tiket masuk di sini hanya dibanderol dengan harga lima belas ribu rupiah untuk wisatawan domestik dan tiga puluh ribu rupiah untuk wisatawan asing. Harga yang terbilang murah untuk pengalaman wisata yang tiada duanya.

Pemandangan Menuju Kompleks Candi di Kawasan Dieng (Dokpri)

Begitu melewati tempat penukaran tiket, teman-teman akan disuguhi hawa dan pemandangan khas pegunungan. Selain suhu udara yang sejuk (cenderung dingin untuk beberapa orang), juntaian berbagai tanaman di sepanjang jalan menuju kompleks candi memberi kesan tersendiri. Apalagi waktu saya ke sana bunga terompetnya sedang bermekaran. Auto bikin mood jalan dan hasil jepretan jadi lebih “enakan”.

Bukti Candi di Dieng Merupakan Candi Tua dengan Gaya India Awal (Dokpri)

Candi-candi di Dieng dikelompokkan menjadi empat kelompok berbeda, yakni Kompleks Arjuna, Kompleks Gatotkaca, Kompleks Dwarawati dan satu candi yang berdiri sendiri bernama Candi Bima. Nama-nama candi yang cukup familiar ini konon diadopsi dari nama tokoh wayang yang terdapat pada Kitab Mahabarata. Candi di Kompleks Arjuna dipercayai sebagai salah satu peninggalan sejarah tertua yang mengusung gaya India awal. Hal ini dibuktikan dengan adanya celah (relung) yang terdapat di bagian kemuncak, sebutan untuk puncak atap candi. Berbeda dengan candi-candi akhir di era Majapahit yang bagian kemuncaknya tidak bercelah.

Dharmasala di Dieng (Dokpri)

Usai menjelajah Kompleks Candi Gatotkaca dan Arjuna, saya menjumpai sebuah bangunan mirip tempat peristirahatan yang dikenal dengan sebutan dharmasala. Konon bangunan ini dulunya merupakan tempat tinggal para pemuja, sebutan untuk merujuk pada mereka yang melakukan pemujaan di pedharman. Selain di Dieng, konsep dharmasala semacam ini bisa kita temukan di Situs Liyangan dan Tibet. Dua tahun lalu, saya masih bisa melihat sisa abu yang ditengarai sebagai bekas dharmasala. Menarik sekali!

“Seperti agama gunung yang lain, patronnya pasti mengacu pada gunung. Dieng sendiri mengacu pada beberapa gunung, salah satunya adalah Gunung Prau, juga bebebapa gunung lain mengelilingi kawasan elok ini. Kosmologi seperti ini juga ditemukan di beberapa tempat di Jawa seperti Bromo, Penanggungan di Mojokerto dan kawasan Genilangit yang berada di Desa Jeblog, Magetan”, ungkap Kang Rendra di sela-sela kelas lapangan yang saya ikuti kala itu.

***

Perjalanan kelas lapangan hari pertama diakhiri dengan kunjungan ke Kompleks Candi Dwarawati. Rasa-rasanya tempat ini merupakan bagian Dieng yang takkan pernah terlupa. Pasalnya kepala saya pernah kejatuhan “rejeki” berupa tendangan seorang anak yang bermain di sekitar kompleks candi. Meski bikin puyeng, tapi saya selalu tertawa kalau mengingat moment “nano-nano” yang satu ini.

Olahan Carica Papaya. Buah Tangan Khas Dieng (Dokpri)

Dalam perjalanan menuju tempat penginapan, peserta diberi kesempatan untuk membeli buah tangan. Karena ada pepatah yang mengatakan “Belum ke Dieng” kalau belum mencoba olahan Carica papaya, maka dengan segera saya memasukkan beberapa pack manisan berwarna kuning ke dalam keranjang belanja.

Usai dicicipi, ternyata rasa manisnya pas dan tidak membuat batuk. Sebagai wisatawan dengan tenggorokan yang sensitif dengan zat aditif, mendapati produk lokal yang berkualitas semacam ini cukup meyakinkan saya bahwa buah tangan khas Dieng ini tetap mampu bersaing di tengah gempuran produk impor yang harganya terkadang terasa kurang logis.

Bagi saya celah produk semacam ini hanya terletak pada model kemasan yang masih menggunakan plastik sekali pakai. Jika dapat diganti dengan kemasan yang lebih eco friendly, bisa jadi manisan Carica papaya tidak hanya diposisikan sebagai buah tangan semata, namun dapat dialih fungsikan sebagai bingkisan dalam berbagai keperluan.

Bagaimana dengan pengalaman teman-teman semua? Jangan malu untuk tukar cerita ya!

Salam hangat dari Jogja,

-Retno-

Artikel ini diikutsertakan dalam Writing Challenge Bertajuk Meneropong “Negeri Kayangan” Dieng yang Diselenggarakan Atas Kerjasama Komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis dengan Direktorat Perlindungan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Poster Writing Challenge Meneropong “Negeri Kayangan” Dieng (Dokumentasi Komunitas IIDN)

Retno Septyorini

Perkenalkan, nama saya Retno Septyorini, biasa dipanggil Retno. Saya seorang content creator dari Jogja. Suka cerita, makan & jalan-jalan. Kalau ke Jogja bisa kabar-kabar ya..

YOU MIGHT ALSO LIKE

1 Comment

  • Peggy
    October 6, 2020

    Dieng …aq suka suasana alamnya.sejuk ..kalau bicara ttg makanan khasnya taunya makanan Carica..tp kalau makanan segomegono krna saat itu suami beli makanan ini aq ikut icip.cocok utk vegetarian apalagi dimakan bareng sama kripik tempe (kalau di Dieng dinamai tempe kemul)..jadi pgn menikmati hari tua di sana

Leaver your comment