Pentingnya Perlindungan Imunisasi Untuk Kesehatan Generasi Muda Indonesia

“Sori aku nggak bisa datang karena nemenin operasi kateterisasi jantung si kecil”.

Begitu kira-kira jawaban singkat dari Bunga saat saya menanyakan mengapa saya tidak bertemu dengannya saat sahabat kami Melati merayakan resepsi pernikahan.

Deg!!! Lho, keponakanku kenapa ini? Kenapa harus menjalani kateterisasi jantung di usia yang begitu belia?”.

Bukankah kateterisasi jantung merupakan tindakan medis yang dirancang untuk mengetahui kondisi kesehatan jantung seseorang? Selain untuk mendeteksi apakah terdapat masalah pada jantung, bukankah prosedur ini juga berguna untuk mengobati beberapa masalah jantung? Tapi kenapa keponakanku yang baru berusia dua tahun itu harus menjalani prosedur pengobatan yang terbilang rumit ini?

Semua pertanyaan ini akhirnya terjawab saat Bunga membagikan tautan pemesanan kalender sebagai bentuk dukungan pada komunitas Rumah Ramah Rubella. Sebuah komunitas yang diperuntukkan khususnya bagi para orangtua dengan anak yang anak-anaknya mengalami infeksi TORCH kongenital (bawaan), dimana ia menjadi salah satu anggotanya.

TORCH sendiri merupakan kependekan dari Toksoplasmosis, Rubella, Cytomegalovirus (CMV) dan Herpes. Jika infeksi TORCH menyerang ibu hamil maka hal ini dapat berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan bawaan pada janin yang dikandung seperti kebocoran jantung,  gangguan pendengaran, katarak hingga mikrosefali.

Ilustrasi Campak

liustrasi Campak (sumber: www.sehatnegeriku.kemkes.go.id)

Dua tahun setelah Bunga melahirkan, barulah saya mengetahui bahwa puteri kecil sahabat saya semasa kuliah itu terinfeksi virus rubella, yang dikenal luas dengan sebutan canmpak jerman. Virus yang kala itu datang karena Bunga mendadak bentol-bentol seperti terkena campak sewaktu hamil. Infeksi yang tidak menimbulkan gejala sakit yang berarti pada orang dewasa tersebut ternyata begitu fatal akibatnya bagi janin yang tengah dikandungnya.

Ibu hamil yang terinfeksi virus rubella dapat menularkan virus tersebut melalui plasenta. Karena itulah selain menjaga asupan nutrisi guna menunjang 1000 hari pertama kelahiran yang dihitung sejak janin berada dalam kandungan (9 bulan = 270 hari) hingga bayi berusia 2 tahun (365 hari x 2 = 730 hari, sehingga totalnya 270 + 730 = 1000 hari), ibu hamil juga wajib menjaga diri dari paparan infeksi berbagai penyakit. Rubella salah satunya.

Meski rubella merupakan penyakit tidak berbahaya dan bisa sembuh dengan sendirinya, namun jika penyakit ini menyerang ibu hamil, virus rubella dapat menyebabkan Congenital Rubella Syndrome, yakni penyakit bawaan lahir yang terjadi karena infeksi virus rubella.

Janin yang terinfeksi rubella berpotensi lahir dengan kelainan bawaan seperti kebocoran jantung, tuli berat karena kerusakan syaraf pendengaran, buta karena katarak pada mata, kondisi otak mengecil sehingga IQ-nya menjadi rendah hingga gangguan tumbuh kembang pada anak.

Karena puteri kecil Bunga terinfeksi Congenital Rubella Syndrome, ia harus menjalani serangkaian terapi hingga kateterisasi jantung saat menginjak usia dua tahun. Kini ia juga harus mempersiapkan diri untuk menjalani cochlea implant. Terbayang bukan dampak buruk rubella bagi kesehatan generasi muda Indonesia, juga biaya yang dibutuhkan untuk menanggulangi berbagai penyakit berbahaya dan mematikan lainnya, yang alur penularannya sebenarnya dapat diputus dengan pemberian vaksin?

Aku Mau Imunisasi Campak Rubella

Aku Mau Imunisasi Campak Rubella (sumber: www.sehatnegeriku.kemkes.go.id)

Kabar baiknya, untuk memberantas campak dan rubella di Indonesia, sejak 2017 lalu pemerintah telah mencanangkan imunisasi measless rubella (MR) gratis untuk anak-anak dengan rentang usia 9 bulan sampai 15 tahun di enam provinsi di pulau Jawa, meliputi Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, DKI Jakarta, Banten dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Guna mencapai target sasaran imunisasi sebanyak 31.963.154 di 28 provinsi di luar Jawa, program imunisasi MR yang semula serentak pada 1 Agustus-September 2018 kini diperpanjang sampai 31 Oktober lho! Layanan imunisasi ini dapat daikses di puskesmas, posyandu atau secara kolektif di sekolah. Jadi yang punya buah hati dengan rentang usia 9 bulan hingga 15 tahun jangan sampai ketinggalan ya! Mari kita dukung program pemerintah untuk memberantas campak dan rubella di Indonesia.

***

Sayangnya meski imunisasi dasar dapat diakses secara cuma-cuma sesuai dengan peruntukannya, ada saja oknum yang dengan sengaja menyebarkan hoax seputar vaksin sehingga menimbulkan keengganan bagi sebagian orang tua untuk menjalani imunisasi. Alasannya pun beragam mulai dari takut anak sakit setelah imunisasi, meyakini imunisasi tidak ada manfaatnya bagi si kecil hingga isu bahan baku yang mengandung berbagai komponen menjijikkan yang dapat membahayakan kesehatan buah hati.

Sebagian diantaranya juga hanya meyakini air susu ibu (ASI) sebagai pelindung terbaik untuk menunjang kesehatan anak. Manfaat ASI memang tidak tergantikan, juga tidak bisa dikesampingkan. Karena itulah ASI masuk sebagai bagian dari imunisasi pasif. Meski demikian perlu dipahami pentingnya imunisasi, baik bagi anak maupun wanita yang akan menikah, yang umumnya juga akan merencanakan kehamilan. Untuk meminimalisir infeksi TORCH misalnya. Selain melakukan imunisasi sebelum menikah, jangan lupa pula untuk melakukan tes TORCH sebelum merencanakan kehamilan. Hal ini sangat penting untuk sebagai upaya pencegahan penularan TORCH melalui plasenta ibu hamil ke janin.

Apalagi berdasarkan data yang dipublikasi Badan Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2015, Indonesia termasuk 10 negara dengan jumlah kasus campak terbesar di dunia. Dalam kurun lima tahun terakhir (2014 s.d Juli 2018) Kementerian Kesehatan RI mencatat jumlah suspek kasus Campak dan Rubella dalam jumlah fantastis yakni  57.056 kasus, dimana 8.964 diantaranya positif Campak dan 5.737 positif Rubella.

Karena itulah selain menjadi bagian dari ikhtiar untuk menjaga kesehatan, imunisasi merupakan upaya nyata untuk meningkatkan kekebalan tubuh secara aktif terhadap suatu penyakit. Jadi selain menjalani imunisasi pasif yang dapat diperoleh melalui pembesian ASI, diperlukan pula imunisasi aktif yang hanya diperoleh melalui vaksinasi, yakni proses memasukkan vaksin (bakteri dan virus yang telah dilemahkan) ke tubuh manusia untuk mendapatkan efek kekebalan terhadap suatu penyakit tertentu. Vaksin MR (measless rubella) misalnya. Sesuai dengan namanya, vaksin ini bermanfaat untuk memperoleh kekebalan tubuh terhadap dua penyakit sekaligus yakni measless (campak) dan rubella (campak jerman).

Selain vaksin MR ada empat jenis imunisasi dasar lainnya yang diakses secara cuma-cuma meliputi vaksin Hepatitis B, vaksin BCG (Bacille Calmett Guerin), vaksin Polio dan vaksin DPT-HB-Hib. Sesuai dengan namanya, vaksin Hepatitis B merupakan vaksin yang berguna untuk mencegah penularan penyakit Hepatitis B dari ibu yang baru saja melahirkan ke anak. Karena itulah vaksin ini diberikan usai 12 jam kelahiran, yang dilanjutkan dengan pemberian ke-2, ke-3 dan ke-4 dengan jarak pemberian masing-masing minimal satu bulan.

Ada pula pemberian vaksin BCG yang berguna untuk mencegah penyakit tuberkolusis (TB) yang diberikan saat bayi berusia 1 bulan. Untuk melindungi buah hati dari infeksi virus polio yang dapat menyebabkan kelumpuhan diperlukan vaksin polio yang dilakukan saat bayi berusia 2,3 dan 4 bulan, kemudian di ulang kembali saat bayi berusia 18 bulan.

Terakhir ada vaksin DPT-HB-Hib yang berguna untuk mencegah penyakit difteri, pertussis, tetanus, hepatitis dan haemophilus influenzae type B pada bayi berusia 2,3 dan 4 bulan. Sedangkan untuk vaksin MR dapat diberikan pada buah hati dengan rentang usia 9 bulan hingga 15 tahun.

***

Meski berlapis manfaat, pemberian vaksin inilah yang kerap dipermasalahkan dan digaungkan hoaxnya oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Padahal melalui perlindungan vaksin inilah tubuh dapat dengan cepat mengenali sekaligus menanggulangi masuknya infeksi bakteri ataupun virus yang membahayakan kesehatan.

Fatwa Mubah MUI untuk Imunisasi Campak dan Rubella

Fatwa Mubah MUI untuk Imunisasi Campak dan Rubella ( sumber: www.sehatnegeriku.kemkes.go.id )

Umumnya mereka mempermasalahkan bahan, manfaat hingga cara pembuatan vaksin itu sendiri. Padahal Indonesia sendiri memiliki Biofarma, yang tidak lain merupakan produsen vaksin terbesar di Asia yang disegani dunia. Vaksin MR misalnya. Melihat pentingnya manfaat pemberian vaksin MR pada anak, Majelis Ulama Indonesia akhirnya mengeluarkan Fatwa Nomor 33 tahun 2018 yang menyatakan bahwa para ulama bersepakat untuk membolehkan (mubah) penggunaan vaksin Measles Rubella (MR) yang merupakan produk dari Serum Institute of India (SII) untuk program imunisasi saat ini.

Keputusan ini tentu dibuat bukan tanpa alasan yang jelas. Kondisi dlarurat syar’iyyah, ditambah keterangan dari ahli yang kompeten dan dipercaya yang menyatakan bahwa terdapat bahaya yang bisa timbul bila tidak diimunisasi hingga belum ditemukan adanya vaksin MR yang halal dan suci hingga saat ini akhirnya bersepakat untuk mendukung program pemberantasan penyakit measless dan rubella melalui program Imunisasi MR yang tahun ini diperpanjang hingga 31 Oktober 2018 nanti.

Illustrasi Capaian Imunisasi MR

Ilustrasi Capaian Imunisasi MR (sumber: www.sehatnegeriku.kemkes.go.id)

Guna melindungi generasi muda Indonesia dari berbagai infeksi penyakit berbahaya yang dapat dicegah dengan vaksin, pemerintah bersinergi dengan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menargetkan capaian imunisasi dasar lengkap dan imunisasi DPT-HB-Hib Baduta tahun 2017 sebesar 92% dan 45%. Kabar baiknya, capaian imunisasi tahun lalu berhasil melebihi target, dimana capaian imunisasi dasar lengkap mencapai 92,04% dan dan imunisasi DPT-HB-Hib Baduta mencapai 63,7%. .

Memasuki tahun 2018, target cakupan imunisasi dasar lengkap 2018 ditingkatkan menjadi 92,5% dan imunisasi DPT-HB-Hib Baduta sebesar 70%. Dalam rangka mencapai cakupan imunisasi yang tinggi dan merata di setiap wilayah, Menteri Kesehatan mengimbau agar seluruh Kepala Daerah untuk mengatasi dengan cermat hambatan utama di masing-masing daerah dalam pelaksanaan program imunisasi, menggerakkan sumber daya semua sektor terkait termasuk swasta dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya imunisasi rutin lengkap sehingga mau dan mampu mendatangi tempat pelayanan imunisasi.

Menteri Kesehatan juga menghimbau agar masyarakat agar tidak mudah terpengaruh isu-isu negatif yang tidak tepat mengenai imunisasi sehingga tidak berkeberatan lagi untuk membawa buah hatinya ke tempat pelayanan kesehatan agar dapat mengakses layanan imunisasi gratis yang diberikan pemerintah.

Selain bertujuan untuk menyukseskan program Indonesia Sehat, imunisasi merupakan wujud nyata negara baik dalam upaya pencegahan stunting sekaligus sebagai garda terdepan untuk menangkal infeksi berbagai penyakit berbahaya yang dapat mengancam kesehatan generasi penerus bangsa sehingga kita mampu digdaya untuk bersaing secara global, baik kini ataupun nanti.

Jadi, sudahkah buah hati Anda mendapatkan layanan imunisasi dasar sesuai dengan umurnya saat ini? Semoga sudah ya ayah bunda sekalian.

Salam hangat dari Jogja,

-Retno Septyorini-

Note: Meski Bunga dan Melati bukan nama sebenarnya, namun cerita yang saya tulis ini berdasarkan kisah nyata yang dialami sahabat saya. Semoga bisa menjadi tambahan pengetahuan tentang manfaat vaksin bagi anak cucu kita nanti.

Artikel ini diikutkan dalam Kompetisi Media Massa & Media Sosial 2018 Kategori Blog yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Sumber:

Apa Itu Kateterisasi Jantung?, sumber: https://www.alodokter.com/apa-itu-kateterisasi-jantung.html

Beda Vaksinasi dan Imunisasi, sumber: https://www.klikdokter.com/info-sehat/read/2697958/beda-vaksinasi-dan-imunisasi

Berikan Anak Imunisasi Rutin Lengkap, Ini Rinciannya, sumber: http://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/rilis-media/20180428/5625737/berikan-anak-imunisasi-rutin-lengkap-rinciannya/

Fatwa MUI Bolehkan Imunisasi Campak dan Rubella, Kemenkes Fokus Turunkan Beban dan Dampak Penyakit Tersebut, diakses dari http://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/rilis-media/20180823/0727524/imunisasi-campak-dan-rubella-dibolehkan-mui-kemenkes-fokus-pada-beban-dan-dampak-penyakit-tersebut/

Jalan Panjang Terbitnya Fatwa MUI Nomor 33 Tahun 2018 Dalam Rangka Mendukung Imunisasi, diakses dari http://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/rilis-media/20180907/5927834/jalan-panjang-terbitnya-fatwa-mui-nomor-33-tahun-2018-rangka-mendukung-imunisasi/

Soal Kehalalan, dr. Piprim: Tak Ada Bukti Vaksin MR Haram, diakses dari https://tirto.id/soal-kehalalan-dr-piprim-tak-ada-bukti-vaksin-mr-haram-cQpH

Vaksin MR Negatifkah dari Zat Babi, Menurut Laporan Hasil Uji Dinkes & Menunggu Proses Halal dari MUI, diakses dari https://www.youtube.com/watch?v=mM8Qm0o_A7Y

Retno Septyorini

Perkenalkan, nama saya Retno Septyorini, biasa dipanggil Retno. Saya seorang content creator dari Jogja. Suka cerita, makan & jalan-jalan. Kalau ke Jogja bisa kabar-kabar ya..

YOU MIGHT ALSO LIKE

No Comment

Leaver your comment

About Me

Wiloke

Retno Septyorini

Welcome to my creative blog │ Content creator @halomasin │Talk about figure, wastra, travel &culinary│ Happy living in Jogja

About Me