Penjaga Stamina, Penghangat Keluarga

Saya terlahir sebagai sulung dari dua bersaudara. Sejak kecil sampai dewasa kami tinggal bersama di Jogja. Baru setelah selesai kuliah, pekerjaan membawa kami ke tempat yang berlainan. Saat saja di Jakarta, adik masih kuliah di Jogja. Saat saya di Banjarmasin, ia sedang menyelesaikan sebuah projek di Riau. Ternyata saat saya kembali ke Jogja, eh, dia keterima kerja di Jakarta. Jadilah per awal tahun ini kumpul keluarga menjadi hal yang terasa cukup mahal. Ibarat kata mau makan semeja bareng saja harus keluar ongkos berjuta-juta.

Piknik di Pantai Kawasan Gunungkidul

Piknik di Pantai Kawasan Gunungkidul

Untungnya beberapa tahun terakhir kami selalu mengagendakan piknik keluarga. Meski destinasinya baru yang dekat-dekat saja, minimal ada foto pengobat rindu kalau lagi kangen ortu (baca: orang tua). Usai jalan bersama, foto biasa dikirim via ponsel. Selain bisa jadi penawar rindu kalau harga tiket sedang tidak terjangkau kantong, stok foto  bisa digunakan untuk update di sosial media biar nggak terlihat kosong melompong^^

Kabar baiknya, setelah beberapa bulan terkendala untuk pulang ke rumah, pekan kemarin adik saya berkesempatan lagi untuk mudik ke Jogja. Sebenarnya sih dia mau pulang waktu ibu habis jatuh dari kamar mandi. Sayang waktu itu isi dompet baru mepet. Jadi bisanya pulang baru pekan kemarin.

Racikan Ibu, Penawar Rindu….

Inget banget, adik sampai di Jogja Rabu pagi, eh Kamis malamnya harus balik lagi ke ibu kota. Meski hanya semalam tidur di rumah, tapi lumayan lah bisa haha-hihi beberapa kali.

Tentu ada banyak hal mengapa pulang ke rumah selalu menjadi satu diantara sekian hal yang begitu dirindukan. Selain bisa melihat mereka yang tersayang, masakan racikan ibu selalu menjadi pengobat rindu yang sulit dimadu. Begitu pun dengan ibu. Apapun kondisinya, ia selalu berusaha menyediakan makanan enak setiap kali si anak pulang.

Seperti pekan lalu. ibu sengaja memasak ayam kampung rebus favorit adik. Dulu kalau habis gajian si bungsu itu seneng ngajak jajan ingkung. Ingkung sendiri merupakan olahan ayam jawa masak santan yang menjadi salah satu ikon kuliner khas Bantul. Karena orang rumah suka makan ayam dan kebetulan punya peliharaan di belakang rumah, ibu memutuskan untuk meracik ayam sendiri.

Bedanya, kali ini si jago dan babon tidak dibuat ingkung, tapi direbus saja. Kalau ayam jawa, diberi rempah lalu direbus juga sudah enak. Nanti makanannya dicolekin sama sambal tomat sudah terasa maknyus banget. Besoknya, kuah ayam rebus bisa “disulap” jadi kuah soto. Tinggal tambah nasi, bakwan, ayam, rebusan kecambah, kol dan sambal, dijamin nylekamin alias enak banget.

Salah satu kelebihan nyembelih ayam sendiri itu tuh nggak perlu repot kalau mau nyicip bagian ayam yang langka, salah satunya ya si urut-urut ini.

Urut-Urut Potong

Urut-Urut Potong

Urut-urut merupakan sebutan untuk tulang ayam mulai dari kepala sampai brutu. Konon bagian ayam yang satu ini enak sekali kalau disantap bersama soto. Tapi itu kembali soal selera ya. Kalau saya lebih suka makan soto pakai daging ayam. Terus minumnya Sari Temulawak hangat. Duh, enak banget!

Soto Buatan Ibu

Soto Buatan Ibu

Soto dan Sari Temulawak

Soto dan Sari Temulawak

Melihat saya minum Sari Temulawak, bertanyalah bapak pada saya: “Itu apa, Nduk?”.

Sebuah tanda tanya yang kemungkinan besar terselip juga rasa penasaran untuk mencicipinya. Seiring usia, sekarang bapak jadi mudah pinginan.

“Ini Sari Temulawak, Pak”.

“Enak?”, tanyanya kemudian.

Saya pun mengangguk tanda mengiyakan.

“Bapak dibuatin satu ya”.

Tanpa perlu diaba-aba lagi, saya pun membuatkan segelas Sari Temulawak hangat untuk bapak. Sebagai pecinta minuman tradisional, ternyata bapak suka.

Sari Temulawak untuk Bapak

Sari Temulawak untuk Bapak

“Ini apa to, nduk? Kok rasanya enak. Bapak mau nambah” begitu katanya.

Tanpa bertanya, bapak langsung nyelonong aja ke dapur nyari Sari Temulawak buatan saya.

Karena tidak menemukannya di panci tempat kami biasa bikin jamu, bapak pun kembali bertanya, “Sari Temulawakmu tadi sudah habis po? Padahal Bapak mau nambah”, tanya beliau dnegan nada agak kecewa.

Pagi itu saya pun hanya bisa senyam-senyum sembari menjawab, “Ini tuh Sari Temulawaknya Herbadrink, Pak. Temennya Sari Jahe sama Beras Kencur kesukaan Bapak itu lho”.

“Genduk punya stok banyak. Itu ditaruh di meja dekat kulkas”.

Nggak tahu kenapa, saya itu seneng banget kalau bisa nyetok apa-apa yang disukai sama bapak. Maklum saja, anak cewek kan kebanyakan dimanjanya sama bapak, jadi biasanya ya lebih dekatnya sama bapak. Pun dengan saya.

Tentang Bapak dan Si Anak Keritingnya….

Bagi saya pribadi, kedekatan bapak anak di keluarga kami tidak semudah biasanya. Maklum saja, dulu waktu masih kecil, saya dan ibu tinggal di asrama, sedangkan bapak sedang bertugas di Timor-Timur. Jadi ceritanya waktu umur empat bulan Bapak mulai bertugas di Tim-Tim dan baru pulang lagi empat belas bulan kemudian, saat saya sudah bisa berjalan.

Baru sebulan tinggal bersama, ternyata Bapak harus bertugas kembali ke Timor-Timur. Setahun kemudian pulang sebentar ke asrama, eh, harus tugas lagi di Bogor.

Selama ditinggal tugas, setiap pagi saya dan beberapa anak tetangga selalu ikut bapak tukang becak yang dimintai tolong untuk menjemput anak asrama di TK. Karena itulah saya begitu lulut dengan bapak becak. Sebaliknya, saya selalu takut bertemu dengan bapak. Ditambah bapak pulang dalam keadaan gondrong^^

Bukan gimana-gimana juga sih, tapi tinggal di asrama otomatis terbiasa lihat laki-laki berambut cepak. Jadi ya sekali lihat orang gondrong yang tiba-tiba pengen meluk kan gimana gitu ya^^

Agar bisa lulut dengan bapak, setiap pagi saya diajak jalan untuk beli serabi, yang notabene salah satu makanan favorit saja. Selama bapak pulang, kegiatan ini kami lakukan setiap hari. Nah, jajan bareng bapak ini ternyata kebawa sampai saya besar. Jadinya ya gitu deh, kalau merengek minta jajan ke ibu sudah mental, balik kanan dong minta ke bapak^^

Seiring waktu, sekarang bapak sudah sepuh. Sudah kepala enam lebih lah. Tak disangka, sekarang gantian bapak yang pinginan. Termasuk suka penasaran kalau saya beli makanan atau minuman tertentu, tidak terkecuali dengan produk Herbadrink yang enak dan kaya manfaat itu.

Penjaga Stamina, Penghangat Keluarga….

Selain kasih sayang, ekspresi penghangat hubungan keluarga sebenarnya dapat diwujudkan dalam hal-hal kecil seperti menyediakan apa-apa yang disukai orang tua dan anggota keluarga lainnya. Bagi saya, produk Herbadrink menjadi satu bagian diantaranya.

Sebenarnya sudah beberapa tahun ini saya langganan produk Herbadrink. Kalau tahun lalu favoritnya yang Beras Kencur, tahun ini nambah satu lagi, yakni Sari Temulawak. Khusus untuk ibu, saya belikan yang sugar free. Maklum saja, beberapa tahun terakhir ibu memang sedang diet gula. Kabar baiknya, Sari Temulawak juga yang sugar free itu pemanisnya dibuat dari sukralossa. Itu lho pemanis buatan tanpa kalori yang tidak memiliki efek jangka panjang pada tubuh sehingga aman dikonsumsi setiap hari.

Pertama kali nyeruput Sari Temulawak itu ada aroma menyenangkan dan menenangkan khas jamu pada umumnya. Bedanya, Sari Temulawak yang satu ini baunya tidak nyegrak. Dari aromaya saja sebenarnya saya penasaran untuk segera nyeruput sekaligus mencicipi minuman sehat yang tengah booming di media sosial ini.

Tak disangka-sangka, ternyata rasanya enak juga. Paduan manis dan asamnya pas. Enak tapi nggak bikin eneg. Selain itu, ternyata Sari Temulawak dari Herbadrink ini juga tidak bikin batuk. Maklum saja, memiliki tenggorokan yang sensitif pemanis buatan membuat saya selalu waspada tatkala ingin mengkonsumsi sesuatu. Tapi hal ini nggak begitu surprise juga sih, soalnya bertahun-tahun menikmati produk Herbadrink itu nggak sekalipun bikin batuk.

Sari Jahe dan Sari Temulawak untuk Suguhan Tamu

Sari Jahe dan Sari Temulawak untuk Suguhan Tamu

Kabar baiknya lagi nih, selain dibuat dari bahan alami yang dikemas secara praktis dan higienis, Sari Temulawak juga menawarkan beragam manfaat mulai dari meningkatkan daya tahan tubuh, memperbaiki fungsi pencernaan, memelihara fungsi hati hingga menjaga kadar kolesterol dalam darah.

Jadi tenang kalau sesekali ibu bapak makan gorengan, yang notebene menjadi salah satu camilan favorit mereka berdua. Waktu tahu Ria, sahabat saya mau mampir ke rumah, langsung dong dibikinin gorengan sama ibu. Untungnya ada Sari Temulawaknya Herbadrink. Jadi bisa membantu menjaga kadar kolesterol dalam darah saat sesekali menikmati gorengan.

Sari Temulawak untuk Suguhan Tamu

Sari Temulawak untuk Suguhan Tamu

Pas ditanya gimana rasa Sari Temulawaknya, eh surprise banget si Ria bilang gini: “Ternyata enak ya Ret, ada kecut-kecutnya gitu. Kirain rasanya pahit aja!”, katanya sembari tertawa.

“Enak kaaaaan? Nih, cicip juga yang Sari Jahe, tapi satu aja ya. Kalau cocok nyetok sendiri”, jawab saya sembari ketawa juga.

“Ini beneran enak kok say, bikin nggak gampang tumbang”, ucap saya sore itu.

Ibu Bapak Juga Suka Sari Temulawak

Ibu Bapak Juga Suka Sari Temulawak

Selain cocok buat nyuguh tamu, Sari Temulawak juga cocok untuk dinikmati di acara keluarga, arisan atau bekal kegiatan lainnya. Kemarin saya juga sempet ngasih amunisi ini ke adik. Kebetulan pas ada promo buy 1 get 1 free. Beli yang Kopi dengan Ginseng, dapat Sari Temulawak gratis. Lumayan kan?

Seperti minuman favorit pada umumnya, ibu dan bapak suka minum Sari Temulawak di pagi hari, tepatnya usai berolahraga. Kalau saya lebih suka menikmati buat me time di malam hari. Minumnya sambil gegoleran di kamar. Selain enak, semacam punya efek menenangkan yang bikin tidur jadi lebih nyenyak. Tapi kalau siang hari panasnya kebangetan, saya juga suka seduh Sari Temulawak dengan es dan chia seed. Selain menuntaskan dahaga, bisa jadi tambahan nutrisi saat hawanya ingin minum saja.

Workshop Membuat Kerajinan Gerabah

Workshop Membuat Kerajinan Gerabah

Senang rasanya bisa nyetok apa-apa yang disukai orang tua. Apalagi kalau produknya enak dan bermanfaat bagi kesehatan. Bagi saya, produk besutan PT. Konimex ini merupakan penjaga stamina sekaligus penghangat keluarga yang dapat dinikmati kapan saja. Harganya murah pula, hanya 12.000 sampai 15.000an/pack. Karena sudah merasakan manfaat Herbadrink Sari Jahe dan Sari Temulawak, jadi penasaran juga nih buat nyicip sama Herbadrink Lidah Buaya. So, tunggu review-an selanjutnya ya man-teman!

Salam hangat dari Jogja,

-Retno-

Retno Septyorini

Perkenalkan, nama saya Retno Septyorini, biasa dipanggil Retno. Saya seorang content creator dari Jogja. Suka cerita, makan & jalan-jalan. Kalau ke Jogja bisa kabar-kabar ya..

YOU MIGHT ALSO LIKE

2 Comments

  • Ayun
    November 1, 2018

    Salah fokus sama foto berdua. Hahaha… Kirain foto calon. Kan romantis gitu, minum Herbadrink segelas berdua, menghangatkan suasana.

Leaver your comment

About Me

Wiloke

Retno Septyorini

Welcome to my creative blog │ Content creator @halomasin │Talk about figure, wastra, travel &culinary│ Happy living in Jogja

About Me