Niat Baik Dibalik Ajakan #AyoHijrah Bank Muamalat Indonesia

Ilustrasi Hijrah (Dokumentasi Pribadi)

Setiap mendengar kata hijrah, ada kemungkinan kita mengingat hal yang sama, yakni hijrahnya (berpindahnya) Rasulullah dari Makkah ke Madinah karena kondisi Makkah sudah tidak kondusif lagi untuk berdakwah. Pada waktu itu penolakan ajaran Rasulullah sudah semakin luas.

Selain untuk menghindarkan budak dan “kaum bawah” dari siksaan, ancaman serta tekanan dari Kaum Quraisy, hijrah Rasullulah juga dilakukan untuk berbagai kebaikan yang sifatnya “vertikal” maupun “horizontal”.

“Vertikal” dalam konteks syiar agama dan “horizontal” dalam konteks hubungan dengan sesama, yakni untuk menjaga tali persaudaraan antara Kaum Muhajirin dan Kaum Anshar. Dalam konteks sekarang, hijrah merujuk pada makna serupa, yakni gerakan untuk sentiasa mengusahakan agar seseorang mampu menjadi lebih baik dari waktu ke waktu.

Karena arahnya merujuk pada perbaikan diri dalam jangka waktu yang lama, saya kerap menyebut istilah hijrah dengan perjuangan yang tiada akhir. Karena proses menjadi baik tidak akan pernah berhenti pada suatu titik tertentu.

Fase Awal Hijrah: Dikenalkan pada Konsep Keuangan Berbasis Syariah

Kalau berbicara soal hijrah dalam konteks pribadi, rasa-rasanya kejadian tahun 2012 lalu menjadi bagian yang sukar untuk dilupakan. Tepat bulan ini, tujuh tahun silam ada sebuah SMS yang masuk ke gawai saya berbunyi:

Pengumuman Saat Mendaftar Program MOPD

Pengumuman Saat Mendaftar Program MOPD

“Assalamualaikum, Alhamdulillah Anda lolos tahap tes EPT dan berhak mengikuti tes ke tahap Interview Divisi Head / Area Manager. Info lengkap cek e-mail Anda. Wassalam. HCD BMI”.

Sebuah pemberitahuan menggembirakan dikala saya tengah pusing mencari pekerjaan. Pagi itu rangkaian tahapan tes sebuah program bernama Muamalat Officer Development Program memasuki fase akhir tes di tingkat propinsi. Kalau lolos tahapan ini tinggal menyisakan dua tahapan lagi, yakni interview akhir dan tes kesehatan. Alhamdulillah.

Esok harinya, dengan semangat 45 lengkap dengan hati yang berbunga-bunga, datanglah saya sesuai jadwal yang tertera dalam e-mail. Sayangnya perjuangan saya siang itu berakhir di fase ini. Di kala kawan lain mendapat kabar gembira, ternyata saya tidak lolos untuk menjejaki tahapan tes selanjutnya. Ini artinya kesempatan memperoleh pekerjaan impian yang tesnya sudah setengah jalan harus terhenti di fase ini. Kalau ditanya bagaimana suasana hati saat  itu rasa-rasanya seperti kombinasi antara sedih, marah dan kecewa yang tumplek blek jadi satu.

Meski demikian, saya selalu percaya akan adanya hikmah dibalik peristiwa yang mungkin kita masukkan dalam sebuah kolom bernama “kegagalan”. Jadi meski gagal tes di tengah jalan, disadari atau tidak, fase inilah yang membuka wawasan saya akan konsep perbankan syariah. Karena rangkaian tes ini pula lah rasa-rasanya saya hampir menghafal berbagai jenis akad yang ditawarkan oleh lembaga perbankan berbasis syariah. Dari sinilah awal mula perkenalan saya dengan Bank Muamalat Indonesia.

Pertama Kali Mendaftar Sebagai Nasabah Bank Muamalat Indonesia

Pertama Kali Mendaftar Sebagai Nasabah Bank Muamalat Indonesia

Bak peribahasa “pucuk dicinta, ulam pun tiba’, tak lama kemudian saya pun mendapatkan pekerjaan yang saya senangi. Setelah merasa cocok dengan pekerjaan tersebut, setahun kemudian, Juli tahun 2013 saya memutuskan untuk melepaskan diri dari jeratan riba dengan menutup semua rekening bank konvensional yang sama miliki.

Sewaktu ada “panggilan” untuk membuka rekening di lembaga perbankan berbasis syariah, kok ya kebetulan saya dapat kabar kalau ada kawan yang baru saja diterima di bank berjargon Pertama Murni Syariah ini.

“Jeng, ada kantor cabang baru lho di dekat rumahmu. KCP Yogyakarta – Bantul”, terang kawan saya via chat di salah satu media sosial.

Saat berniat mendaftar, tidak disangka-sangka kawan saya tersebut menawari fasilitas “jemput bola”. Jadi saya tidak perlu repot untuk datang ke cabang saat akan membuka tabungan. Alhamdulillah, sejak awal mau hijrah dengan pindah rekening ke bank syariah saja rasanya sudah begitu dimudahkan. Meski hingga saat ini nominal tabungan saya belum seberapa, namun tidak dapat dipungkiri bahwa rasa nyaman lepas riba itu nyata adanya.

Mengapa Pada Akhirnya Menjatuhkan Pilihan Pada Bank Muamalat

Ada banyak alasan mengapa saya memilih Bank Muamalat. Selain merasa nyaman saat mengikuti tes (meski berakhir dengan kegagalan), waktu itu Bank Muamalat merupakan bank syariah pertama di Indonesia yang tidak menginduk bank lain. Ini artinya kemurnian dari hulu hingga hilir, baik dana himpunan hingga pemanfaatannya senantiasa terjaga.

Alasan kedua sederhana saja. Waktu itu kalau saya mau tarik tunai via ATM juga tidak terlalu sulit. Pertama karena ada ATM khusus yang terdapat di area Masjid Kampus UGM, yang notabene tidak jauh dari tempat kuliah saya. Kedua, Kantor Cabang Bank Muamalat lokasinya tidak terlalu jauh dari rumah. Kebetulan jalur berangkat dan pulang saya saat kuliah melewati dua cabang Bank Muamalat yang berbeda. Berangkatnya lewat KCP Yogyakarta -Wirobrajan, pulangnya lewat Kantor Cabang Yogyakarta yang berlokasi di Jalan Mangkubumi. Bahkan kalau mau jalan ke arah selatan, sudah ada KCP Yogyakarta – Bantul yang masih berdiri kokoh hingga saat ini.

Di umurnya yang menginjak usia 27 tahun ini, Bank Muamalat terbilang cukup agresif dalam menawarkan berbagai fasilitas berbasis teknologi, mulai dari internet banking, mobile banking hingga ATM dan kantor cabang yang tersebar hingga ke luar negeri. Palugada istilahnya. Jadi jangan heran jika lembaga keuangan berbasis syariah ini sering dilirik oleh konsumen lintas agama sekalipun. Dengan prinsip bagi hasil yang adil, beberapa kawan non muslim saya pun mantap mendaftarkan diri sebagai nasabah lembaga perbankan berbasis syariah.

Potret Saat Tugas di Banjarmasin

Potret Saat Tugas di Banjarmasin

Entah mengapa setelah berhijrah, rasa-rasanya saya selalu merasa didekatkan dengan kawan yang sepemahaman. Bahkan saat bertugas di luar Pulau Jawa, saya kebagian tugas di Banjarmasin. Sebuah kota yang kental dengan nuansa Islami. Selain menawarkan beragam kuliner halal, pilihan masjid dan wisata religinya terbilang melimpah.

Saya ingat betul, mess di Kayutangi waktu itu bersebelahan dengan masjid. Jadi kalau mau sholat berjamaah tinggal jalan kaki beberapa langkah saja. Satu lagi, mess saya waktu itu letaknya juga berdekatan dengan Bank Muamalat KCP Banjarmasin – Kayutangi. Pernah suatu hari saya nggembol uang bulanan yang dibagi dadakan tepat di malam sebelum berangkat ke Banjarmasin. Karena cukup dekat dengan mess, saat sampai di Banjarmasin ya tinggal jalan sebentar ke bank, setor, beres.

***

Dalam setiap perjalanan, seringkali kita dipertemukan dengan berbagai hal yang kadang sedikit mengusik hati. Persis rasanya ketika saya diberondong pertanyaan semacam, “Yakin bank syariah bebas riba?”.

Karena sudah mantap berhijrah, biasanya saya menjawab dengan kalem saja. “Insyaallah, saya yakin. Ada Dewan Pengawas Syariah yang notabene berisi orang-orang dengan pengetahuan yang jauh di atas saya. Jadi sebenarnya saya juga tidak percaya bongkok’an begitu saja. Insyaallah halal dan berkah”.

Lain lagi tatkala saya menerima candaan kawan semacam, “Ret, bank pilihanmu itu bank syariah to? Nggak sayang setiap ditransfer kena biaya administrasi karena beda bank?”.

Karena niat hijrah sudah bulat, biasanya saya jawab dengan enteng saja. “Iya nggak papa, sudah mantep pakai yang ini”, balas saya tentu sembari tersenyum.

Moment Mendebarkan Selama Enam Tahun Bersama Bank Muamalat

Selama enam tahun bersama Bank Muamalat, seingat saya ada dua peristiwa mendebarkan yang niscaya tidak akan terlupa sampai kapan pun juga. Pertama saat saya menarima telepon dadakan dari nomor yang tidak saya kenal. Ternyata penelpon tersebut merupakan salah satu karyawan Bank Muamalat KCP Yogyakarta – Wirobrajan. Karena useringkali menerima panggilan dari nomor tidak dikenal, saya sempat mengira kalau ini hanya modus penipuan seperti biasanya.

Prasangka buruk di awal membuat saya menjawab berbagai pertanyaan yang dilontarkan via telepon dengan nada datar yang sedatar-datarnya. Di penghujung telepon, barulah Masnya bertanya, “Ibu, coba cek dulu, kartu ATM-nya ada di dompet atau tidak”, ucapnya ramah.

Astaga, ternyata Masnya mengifokan kalau kartu ATM saya tertinggal di bank. Terbayang bukan rasa malu saya waktu itu. Sejak kejadian tersebut, saya berusaha untuk menerima semua panggilan telepon dengan baik. Kalau pun menolak, saya akan berusaha menolak dengan bahasa yang apik. Terima kasih Muamalat untuk pembelajarannya!

***

Sedangkan moment kedua, kejadian di Bank Muamalat KCP Yogyakarta – Bantul. Siang itu saat saya berniat mengambil uang via mesin ATM, entah mengapa kartu saya ditolak berkali-kali. Meski memencet kombinasi Personal Identification Number (PIN) yang benar, kartu tetap ditolak oleh mesin.

Awalnya saya sempat merasa panik. Setelah bertanya pada petugas jaga baru saya ketahui kalau ternyata ada kebijakan baru dimana semua kartu ATM yang lama sengaja diblokir pihak bank. Alasannya demi keamanan nasabah. Nantinya semua kartu ATM lama para nasabah akan diganti dengan kartu ATM baru yang sudah dilengkapi dengan teknologi NSICCS. Kabar baiknya, proses penggantian ini dapat dilakukan secara cuma-cuma. Nasabah tinggal menghubungi petugas bank terdekat.

Melalui teknologi ini, kartu ATM/Debit akan dilengkapi dengan teknologi chip yang diletakan di bagian depan sisi kartu. Dalam chip ini juga ditambahkan berbagai aplikasi yang dapat mengenkripsi data sehingga data yang ada menjadi lebih aman. Selain itu verifikasi transaksi pada kartu chip juga membutuhkan kombinasi PIN sehingga akan sulit untuk dipalsukan. Dengan demikian keamanan kartu ATM/Kartu Debit nasabah akan lebih terjaga. Setelah proses verifikasi data selesai dilakukan, akhirnya kartu ATM lama saya diganti dengan ATM baru dengan teknologi NSICCS.

Sebenarnya bukan moment ganti karti ATM yang membuat saya deg-degan waktu itu, namun lebih kepada pertanyaan mbak customer service usai bertanya tentang saldo terakhir tabungan guna pengecekan data sebelum kartu ATM baru saya kembali diterbitkan.

“Mbak, apakah sudah tergerak untuk membuka tabungan haji?”, tanyanya pelan sembari tersenyum.

Deg! Selain kaget, saya terlihat begitu terbata-bata untuk menjawabnya”.

Selama ini niat ke sana memang ada. Tapi sebagai freelancer yang penghasilannya tidak tetap, masih ada sedikit keraguan apakah setiap bulannya saya dapat menyisihkan tabungan khusus untuk persiapan beribadah ke tanah suci.

Meski saya belum bisa memberi kepastian, namun tanpa diminta, mbak customer service yang sayangnya saya lupa siapa namanya itu tetap menjelaskan secara detail berbagai syarat untuk membuka tabungan haji. Setelah mendengarkan dengan seksama, saya putuskan untuk menundanya dulu.

“Ya Allah, semoga tahun ini semakin dimudahkan. Dimudahkan rejekinya. Dimudahkan kesempatannya. Aamiin”.

Memulai Hijrah, Memulai Sebuah Perjuangan

Tentu saja hijrah dalam konteks keuangan tidak berhenti sampai di sini. Saya ingat betul, setelah punya rekening di bank ini, saya memutuskan untuk melakukan pola hidup sederhana. Waktu itu tujuannya sederhana saja, agar saya tidak tergoda dengan jeratan duniawi bernama hutang. Maklum saja, beberapa sahabat saya jadi menderita akibat dihutangi oleh kawan sendiri. Mirisnya lagi, saat yang dihutangi mengharap uang segera kembali, dengan santainya pihak yang berhutang bisa jalan santai ke luar negeri. Semoga kita semua terhindar dari perihal hutang semacam ini.

Di luar ibadah yang tentunya menjadi rahasia saya dengan sang pencipta, selain memilih perbankan syariah, hijrah dalam konteks “vertikal’ saya lakukan dengan berusaha agar tidak melanggar aturan-aturan yang ditentukan dalam keyakinan saya. “Halal is my lifestyle”, begitu kira-kira ungkapan yang mewakili cerita saya kali ini. Selebihnya, dalam konteks hijrah secara “horisontal”, saya mulai dengan hal-hal sederhana seperti berbagi porsi pada mereka yang membutuhkan di setiap kali saya kebagian rejeki.

Menikmati Wisata Edukasi di Magelang

Menikmati Wisata Edukasi di Magelang

Saya sepakat jika hijrah terkait finansial tidak hanya bertumpu pada pembebasan diri dari jeratan riba semata. Alhamdulillah, sejak menjatuhkan pilihan pada bank syariah, saya jadi lebih berhati-hati dalam mengelola keuangan dengan harapan agar tidak terjerembab dalam hutang karena gaya hidup yang salah. Contoh sederhananya semacam pantang beli gawai baru yang goalnya sekedar untuk “ninggiin” gengsi hingga wajib “ikat pinggang” kalau berencana untuk liburan dengan keluarga. Bagi saya, pantang rasanya liburan dengan dana hasil hutangan.

Bahkan saat masih kerja kantoran, saya tidak malu untuk bawa bekal sendiri. Sebagai anak kos, tidak jarang lauk saya hanya berputar pada telur asin atau abon. Sampai-sampai waktu itu saya kerap diledek dengan sebutan “anak bebek”. Maklum saja, setiap pulang ke Jogja, biasanya saya dibekali 10 hingga 15 butir telur asin. Karena saya masuk dalam golongan anti ribet-ribet club dalam hal makan siang di kantor, alhasil lauk saya pasti ada telur asinnya. Mau diledek seperti apa juga tinggal gelengin kepala saja.

Merasa mantap dengan prinsip halal lifestyle yang saya yakini, perlahan saya mulai tertarik untuk menelisik gaya hidup halal dari berbagai hal sederhana lainnya. Satu diantaranya dengan memperhatikan titik kritis halal haram pada makanan.

Mulai Memperhatikan Titik Kritis Halam Haramnya Kuliner yang Dikonsumsi Sehari-Hari

Prinsip saya makan tidak harus mahal, tapi wajib halal. Jadi hal kulineran, saya selalu mencermati titik kritis halal dan haram produk kuliner yang akan dikonsumsi. Kalau tidak tahu hukumnya wajib bertanya, kalau sudah tahu tidak halal jangan sekali-kali tergoda untuk mencicipinya.

Khusus untuk produk makanan sehari-hari yang saya ketahui bahan dan cara pengolahannya seperti mie ayam, tempe goreng ataupun sate, tentu saya tidak mewajibkan ada logo halal di kedai yang saya pilih. Namun jika saya mengkonsumsi makanan yang diproduksi oleh pabrik besar, saya harus memastikan adanya logo halal di setiap kemasan produk yang saya masukkan dalam keranjang belanja.

Kabar baiknya, beberapa tahun terakhir trend gaya hidup halal bisa dibilang sedang naik daun. Hal ini bukan semata-mata karena meningkatnya populasi muslim di berbagai negara saja, melainkan bisa dgaya hidup halal oleh banyak pihak, bahkan lintas agama sekalipun. Jadi jangan heran jika ada berbagai helatan akbar yang berkaitan dengan halal lifestyle yang digelar di berbagai kota besar di dunia, termasuk di Indonesia.

Cerfoto di Ajang Jogja Halal Expo Festival 2019

Cerfoto di Ajang Jogja Halal Expo Festival 2019

Februari lalu misalnya, Jogja mempersembahkan acara khusus bertajuk “Jogja Halal Food Expo 2019” yang digelar selama empat hari bertutur-turut. Sesuai dengan namanya, acara yang dihelat di Jogja Expo Center (JEC) sejak hari Rabu, 20 Februari hingga hari Minggu, 24 Februari ini menghadirkan puluhan stand pelaku local champion yang berfokus pada kuliner halal khas nusantara.

Selain dapat tambahan referensi brand makanan halal produksi lokal, jajan di acara seperti ini sejatinya merupakan wujud support nyata kita dalam meningkatkan pendapatan negara dari sektor ekonomi kreatif, khususnya dari sub sektor kuliner. Senang rasanya melihat geliat hijrah di Indonesia dari berbagai lini.

Niat Baik Dibalik Ajakan #AyoHijrah Bank Muamalat Indonesia

Sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbanyak di dunia, kini halal lifestyle menjadi suatu gaya hidup yang kerap digelorakan banyak pihak, tidak terkecuali terkait campaign layanan perbankan yang mengusung konsep syariah, dimana satu diantaranya dilakukan oleh Bank Muamalat Indonesia.

Sejak bulan Oktober tahun 2018 lalu, Bank Muamalat menggelorakan gerakan #AyoHijrah. Sebuah gerakan yang mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk bersama-sama meningkatkan diri ke arah yang lebih baik dalam segala hal, termasuk dalam memilih layanan perbankan yang mengedepankan keadilan sesuai dengan konsep syariah.

Buku Tabungan yang Menemani Hijrah Saya dalam Hal Keuangan

Buku Tabungan yang Menemani Hijrah Saya dalam Hal Keuangan

Dalam hal ini, gerakan #AyoHijrah ini dilakukan dengan menggelar seminar (edukasi) tentang perbankan syariah, melakukan open booth di pusat kegiatan masyarakat, melakukan kajian Islami dengan narasumber dari kalangan ulama hingga pemberdayaan masjid sebagai salah satu agen perbankan syariah.

Dalam mendukung gerakan ini, Bank Muamalat juga memberikan layanan pada nasabah dengan berbagai pilihan menarik seperti: Tabungan iB Hijrah, Tabungan iB Hijrah Haji dan Umrah, Tabungan iB Hijrah Rencana, Tabungan iB Hijrah Prima, Tabungan iB Hijrah Prima Berhadiah, Deposito iB Hijrah hingga Giro iB Hijrah. Konsumen dapat memilih sesuai dengan kebutuhannya masing-masing. Penasaran apa perbedaannya? Kawan-kawan bisa langsung klik saja.Di sana ada penjelasan detail terkait produk #AyoHijrah besutan Bank Muamalat.

Bank syariah yang berdiri sejak tahun 1992 ini tidak main-main dalam mengupayakan bercita-citanya dalam meningkatkan kualitas hidup nasabah bank syariah di Indonesia. Dengan prinsip bagi hasil yang adil, sektor usaha yang dibiayai oleh lembaga perbankan syariah diharapkan mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi para local champion kita, utamanya yang bersegak di sektor berbasis syariah. Istilahnya biar investor maupun pelaku usaha sama-sama untung. Jadi kalau ada kerugian bisa ditanggung bersama. Pun jika ada keuntungan dibagi sama rata.

***

Kabar baiknya, selain menerapkan sistem bagi hasil yang adil, Bank Muamalat juga dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan. Itu lho, lembaga independen yang berfungsi menjamin simpanan nasabah penyimpan dan turut aktif dalam memelihara stabilitas sistem perbankan sesuai dengan kewenangannya. Lembaga ini lahir usai Indonesia dihantam krisis moneter dan perbankan pada tahun 1998.

Berawal dari Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang perbankan yang mengamanatkan pembentukan suatu Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) sebagai pelaksana penjaminan dana masyarakat, akhirnya pada tanggal 22 September 2004, Presiden Republik Indonesia mengesahkan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 24 tentang Lembaga Penjamin Simpanan. Akhirnya Undang-undang tersebut berlaku efektif sejak tanggal 22 September 2005. Sejak itulah LPS resmi beroperasi.

Tenang, Bank Muamalat masuk dalam daftar bank yang dijamin oleh LPS kok. Kabar baiknya, sejak 13 Oktober 2008 yang lalu, saldo maksimal nasabah yang disimpan di bank yang dijamin LPS mencapai Rp 2 Milyar. Jadi jangan sungkan untuk menitipkan dana yang kita miliki kita di Bank Muamalat. Selain tabungan dan giro dengan akad wadiah, jenis tabungan dan deposito dengan akad mudharabah yang risiko nya ditanggun oleh pihak bank, serta jenis simpanan lain yang diizinkan oleh Lembaga Pengawas Perbankan juga dijamin oleh LPS sesuai dengan ketentuan yang berlaku, dalam hal ini adalah Pasal 3 Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 39 Tahun 2005. Jadi menempatkan dana di Bank Muamalat juga aman secara hukum.

Yakin tidak tertarik ikutan gerakan #AyoHijrah yang digaungkan oleh bank berslogan Pertama Murni Syariah ini? Selain dapat melepaskan diri dari jerat riba, simpanan kawan-kawan di Bank Muamalat dapat membantu geliat pertumbuhan ekonomi berbasis syariah di Indonesia.

Salam hangat dari Jogja,

-Retno-

Artikel ini diikutsertakan dalam Blog Competition #AyoHijrah yang diselenggarakan atas kerjasama Bank Muamalat Indonesia dengan Blogger Perempuan Network.

Catatan tambahan:

Berdasarkan Pasal 3 Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 39 Tahun 2005, diatur simpanan di perbankan syariah yang dijamin LPS meliputi: giro berdasarkan prinsip wadiah (1), tabungan berdasarkan prinsip wadiah (2), tabungan berdasarkan prinsip mudharabah muthlaqah atau prinsip mudharabah muqqayadah yang risikonya ditanggung oleh bank (3), deposito berdasarkan prinsip mudharabah muthlaqah atau prinsip mudharabah muqqayadah yang risikonya ditanggung oleh bank (4), dan atau simpanan berdasarkan prinsip syariah lainnya yang ditetapkan LPS setelah mendapat pertimbangan pengawas perbankan.

Retno Septyorini

Perkenalkan, nama saya Retno Septyorini, biasa dipanggil Retno. Saya seorang content creator dari Jogja. Suka cerita, makan & jalan-jalan. Kalau ke Jogja bisa kabar-kabar ya..

YOU MIGHT ALSO LIKE

6 Comments

  • Amir
    May 4, 2019

    Penasaran juga dengan bank syariah karena dalam pengelolaannya menggunakan akad-akad yang sesuai syariah. Btw kameranya kayaknya sama dengan punyaku dah hihihi

    • Retno Septyorini
      May 4, 2019

      Bebas dari riba rasanya lebih nyaman Mas. Wah, sama beneran? Toss ^^

  • Shinta Kusuma
    May 8, 2019

    Aku pun akhirnya baru beralih dari bank konvensional ke syariah.. semoga bisa istiqomah dalam menghindari riba.. Selamat hijrah ya mbaaa

    • Retno Septyorini
      May 10, 2019

      Aamiin, terima kasih sudah mampir Shinta. Selamat berhijrah juga. Salam hangat dari Jogja.

  • vika
    May 8, 2019

    Nah ini bank yang memenuhi kriteria yang kita bicarakan saat ke solo? Selamat

    • Retno Septyorini
      May 10, 2019

      Oh ya? Wah, surprise banget dengernya! Kamsia cik sudah mampir.

      Anway, kok aku ga diajak ke Solo sih? Huhuhu.

Leaver your comment

About Me

Wiloke

Retno Septyorini

Welcome to my creative blog │ Content creator @halomasin │Talk about figure, wastra, travel &culinary│ Happy living in Jogja

About Me