Migrasi TV Digital, Wujud Nyata Pemerintah Memajukan Industri Kreatif Nasional di Kancah Global

“Kok TV-nya kresek-kresek terus sih, Bu? Mana layarnya banyak “semutnya” pula?”, tanya saya keheranan pada ibu yang masih saja setia menonton sinetron favoritnya meski harus berjibaku dengan visual seadanya itu. Lebih mengagetkannya lagi, waktu saya pindah channel kok tiba-tiba saja volume siaran di stasiun TV tersebut meningkat hampir dua kali lipat dari kanal TV sebelumnya. Meski sudah bertahun-tahun mengalami situasi semacam ini, tetap saja saya dibuat kaget olehnya.

Potret pertelevisian yang demikian cukup menurunkan minat saya untuk menjelajah berbagai program yang tayang di televisi. Padahal sewaktu kecil, menonton TV menjadi salah satu agenda yang wajib lalukan setiap hari. Bahkan ibu sempat cerita kalau dulu saya selalu merengek agar diantar ke rumah tetangga tepat waktu. Tujuannya terbilang sederhana. Agar bisa melihat pemutaran lagu Garuda Pancasila yang disiarkan TVRI usai program dunia dalam berita.

Maklum, di akhir tahun 80-an, keluarga kami belum memiliki dana untuk membeli TV tabung. Jenis TV yang populer di Indonesia hingga dua dekade kemudian. Bagi anak desa macam saya, kenangan masa kecil bersama stasiun TV selalu menjadi cerita tersendiri. Bahkan saya ingat betul beberapa program TV favorit yang dulu selalu saya tunggu-tunggu. Ada serial Keluarga Cemara, Kuis Kata Berkait, cerita Mbangun Desa yang disiarkan di TVRI Jogja hingga kisah Misteri Gunung Merapi yang rutin tayang setiap pekan.

Sayangnya semakin ke sini, minat saya menonton TV malah semakin menurun. Alasannya beragam, mulai dari visual dari layar kaca terganggu karena kehadiran “semut”, sebutan untuk titik-titik yang kerap kali muncul meski posisi parabola sudah diotak-atik sedemikian rupa (1), volume yang berbeda antar stasiun TV seperti yang sempat saya ceritakan di awal (2) hingga perihal kreasi acara yang kurang sesuai dengan selera saya. Tidak heran jika kini hanya ada beberapa program yang masih mencuri perhatian saya, dimana satu diantaranya adalah siaran berita.

Maklum, selama pandemi, sliweran berita bohong datang silih berganti. Parahnya lagi, maraknya hoax yang masuk di layar gawai sempat menimbulkan sentimen negatif bagi sebagian masyarakat, utamanya terkait kehadiran sekaligus penanganan pandemi Covid-19. Bapak saya pun hampir jadi korbannya. Beliau sempat ragu mengikuti untuk divaksin. Di sinilah peran berita aktual di televisi menjadi salah satu kunci dalam memberi edukasi sekaligus memberantas hoax terkait pandemi.

Dengan pengawasan Komisi Penyiaran Indonesia, ada sistem kontrol khusus yang menjamin kelayakan tayangan pada setiap program TV. Termasuk siaran berita televisi yang informasinya wajib dihimpun dari narasumber kredibel di bidangnya. Pada akhirnya penjelasan dari pakar kesehatan di berbagai stasiun televisi mengantarkan bapak pada pemahaman benar terkait pentingnya program vaksinasi sebagai upaya pencegahan, perlindungan sekaligus penanganan terkait pandemi Covid-19. Selain sebagai sumber informasi yang terpercaya, berbagai program TV juga menemani keluarga Indonesia selama berkegiatan dari rumah saja.

Saya ingat betul ada berbagai program menarik yang diluncurkan pemerintah selama pandemi mulai dari Program Kesenian dari berbagai penjuru nusantara, Program Belajar dari Rumah untuk pelajar sekolah jenjang SD hingga SMA hingga Program Pemutaran Film karya anak bangsa  yang dilakukan sebagai wujud nyata pemerintah dalam mengembangkan industri perfilman tanah air sekaligus mengenalkan produksi film lokal di era global.  Berkat program ini pula lah berbagai film produksi lokal seperti Tilik, Lemantun hingga Elegi Melodi menjadi begitu viral.

Besarnya peluang digitalisasi siaran televisi dalam memajukan negeri membuat saya begitu antusias dalam mendukung program migrasi TV analog ke digital. Dalam hal ini, Kementerian Kominfo akan melalukan migrasi secara bertahap hingga tahun 2022 nanti. Satu yang perlu dipahami, migrasi TV analog ke digital bukan berarti harus membeli televisi baru lengkap dengan biaya berlangganan yang akan ditagih setiap bulan. Intinya pakai TV analog pun bisa. Kalaupun belum dilengkapi dengan penerima siaran televisi digital DVBT2, maka hanya perlukan bantuan berupa Set Top Box (STB) saja.

STB inilah yang akan menjadi media perantara dalam menangkap sinyal siaran digital pada TV analog. Pun tidak memerlukan jaringan internet dan biaya bulanan. Kabar baiknya, harga STB relatif terjangkau kok, mulai 200 ribuan saja. Migrasi TV digital juga mengantarkan kita untuk menikmati kualitas siaran televisi yang lebih stabil. Selain gambar yang terlihat lebih bersih, suara yang dihasilkan pun terdengar lebih jernih. Canggihnya teknologi yang digunakan untuk migrasi menuju TV digital diharapkan dapat memajukan iklim kreatif di Indonesia, utamanya di sektor penyiaran nasional kita.

Kalau suara sama-sama jernih, visual pun terlihat sama bersih, maka kualitas konten lah yang akan menjadi tumpuan penilaian pemirsa dalam menilai sebuah acara. Situasi yang demikian tentu menjadi iklim yang ideal bagi insan kreatif untuk menggarap beragam potensi lokal. Saya tidak hanya membayangkan televisi nasional memberi porsi yang lebih banyak konten TV lokal, namun lebih pada tumbuhnya channel-channel lokal yang berani bersaing dengan program pada stasiun TV nasional.

Pada titik ini, migrasi TV digital menjadi awal yang baik dalam meratakan jangkauan siaran hingga ke pelosok negeri. Selain dapat memperkecil kesenjangan edukasi dan literasi lintas sektor, melebarnya akses penerimaan siaran digital diharapkan dapat memantik ragam kreasi insan kreatif dalam memetakan sekaligus mengembangkan potensi di daerah. Kalau hal ini bisa dilakukan, tidak menutup kemungkinan sub sektor penyiaran menjelma sebagai raksasa penopang masa depan ekonomi kreatif nasional kita.

Menariknya, migrasi siaran analog menuju TV digital dapat menjembantani itu semua. Jadi mari kita sukseskan bersama. Demi Indonesia tangguh yang terus bertumbuh.

Salam hangat dari Jogja,

-Retno-

Artikel ini diikutsertakan dalam Kompetisi Karya Tulis Siaran Digital Kategori Umum dengan Mengambil Tema Peluang Program Migrasi Televisi Digital Bagi Industri Penyiaran &Kreatif yang Diselenggarakan Atas Kerjasama Kementerian KOMINFO, Siaran Digital Indonesia dan Good News From Indonesia.

Retno Septyorini

Perkenalkan, nama saya Retno Septyorini, biasa dipanggil Retno. Saya seorang content creator dari Jogja. Suka cerita, makan & jalan-jalan. Kalau ke Jogja bisa kabar-kabar ya..

YOU MIGHT ALSO LIKE

No Comment

Leaver your comment