Merangkul Generasi Milenial Dalam Memviralkan Budaya Lokal

Flash Mob Beksan Wanaran (Sumber: jogja.idntimes.com)

Flash Mob Beksan Wanaran (Sumber: jogja.idntimes.com)

Kalau ditanya “Apa yang pertama kali diingat saat disebutkan kata Jogja?”. Bisa jadi flash mob dengan menarikan Beksan Wanaran menggunakan ragam gerak kapi (kera) yang dihelat pada saat uji coba pedestrian Malioboro (Selasa sore, 18 Juni 2019) menjadi jawaban yang cukup signifikan. Tentu bukan tanpa alasan mengapa saya berpendapat demikian. Pasalnya, sesaat setelah dihelat, Tari Kethekan yang dibawakan Mataya Flash Mob (MFM) dari Kawedanan Hageng Punakawan (KHP) Kridhamardawa Keraton Yogyakarta ini mendadak viral di berbagai media sosial.

Diluar dugaan, sajian salah satu Tari Klasik Kraton Yogyakarta yang dikemas kekinian ini ternyata mampu menjadi pemantik yang baik dalam memperkuat akar budaya lokal. Yang sebelumnya tidak tahu jadi sesuka itu, yang tidak pernah mendengar jadi ingin belajar dan yang pernah tahu ternyata bisa jadi penawar rindu.

View this post on Instagram

Para Mataya (penari) dari Kawedanan Hageng Punakawan (KHP) Kridhamardawa Keraton Yogyakarta turut menyemarakkan uji coba semi pedestrian Malioboro pada Selasa (18/6) sore. Para penari tersebut melakukan flashmob dengan menarikan Beksan Wanaran, yang menggunakan ragam gerak Kapi (kera). Persembahan ini dalam rangka menyambut event tahunan Catur Sagatra yang akan digelar pada Sabtu, 13 Juli 2019 di Pagelaran Keraton Yogyakarta. Dalam pentas yang diikuti oleh para penerus Dinasti Mataram tersebut, Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat akan mementaskan wayang wong dengan lakon Subali Lena. Catat tanggal mainnya! Event ini terbuka untuk umum tanpa tiket masuk. Nantikan kelanjutannya! … The Mataya (dancers) from Kawedanan Hageng Punakawan (KHP) Kridhamardawa Keraton Yogyakarta were very delighted to support the trial of semi-pedestrian zone at Malioboro on Tuesday (6/18) afternoon. The dancers do flashmob by performing Beksan Wanaran, which uses Kapi (apes) dancing types. This is to welcome the annual Catur Sagatra event which will be held on Saturday, July 13, 2019 at the Pagelaran Keraton Yogyakarta. In the festival that will be participated by the successors of the Mataram Dynasty, the Royal Court of Yogyakarta would perform a drama dance (wayang wong) entitled Subali Lena. Save the date! This event is open to the public with no entrance ticket. Stay tuned! __________ Video: Tepas Tanda Yekti #flashmob #flashmobkraton #karaton #kratonjogja #infokraton #jogja #Yogyakarta #WisataBudaya #wisatajogjakarta #Kraton #Ngayogyakarta #mataram #budayajogja #jogja #jogjakarta #yogyakarta #wisatajogja #wisatajogjakarta #jogjaku #budaya #budayaindonesia #sultan #khoul #eventjogja

A post shared by Kraton Jogja (@kratonjogja) on

Meski baru berkesempatan menikmati via layar gawai, rasanya ada setitik kerinduan yang terobati usai menyaksikan video ini. Irama gamelan yang mengiringi sepanjang tarian mengingatkan saya pada almarhum simbah kakung yang hobi menikmati Langgam Jawa melalui channel televisi maupun radio kesayangannya. Tak hanya itu. Tarian yang diawali oleh gerakan apik penari cilik Mohan Kalandara ini tetiba mengingatkan saya akan ekstrakulikuler menari yang sewaktu kecil sempat saya ikuti.

Uniknya, sebagai bagian dari generasi milenial, saya merasa irama gamelan yang mengiringi Tari Kethekan ini terbilang menyenangkan sekaligus jauh dari kesan membosankan. Jadi jangan kaget jika kawan-kawan menemukan ada rekan yang menikmati video ini hingga berkali-kali. Bagi saya pribadi, flash mob kali ini adalah moment yang mempersatukan kita sebagai warga dari sebuah negara dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika yang begitu melekat di dada.

Saya ingat betul, moment apik ini tidak hanya dibagikan teman-teman yang berasal atau tengah tinggal di Jogja saja, namun dibagikan pula oleh mereka yang pernah singgah, rindu atau jatuh cinta pada kawasan menawan berjuluk Kota Bakpia ini. Tanpa perlu diaba, puluhan kawan turut membagikannya pada jejaring media yang mereka punya. Sebuah wujud nyata pemanfaatan teknologi informasi dalam melestarikan warisan budaya bangsa dengan cara semudah-mudahnya sekaligus secepat-cepatnya.

Ah, jadi rindu Jogja!”, “Harus ke Jogja lagi nih!”, “Oh, Tuhan, rindu Jogja beneran!”, “Mau nabung buat ke Jogja!” merupakan contoh komentar yang bersliweran sesaat setelah Flash Mob Tarian Beksan Wanaran ini tersebar luas di berbagai media. Ibarat pepatah, sekali menyelam, dua tiga pulau terlampaui, selain memperkokoh citra Jogja sebagai kota budaya, moment ini tentu menjadi ajang yang baik dalam menaikkan pamor Mataya (penari) sebagai sebuah profesi, Malioboro sebagai destinasi pedestrian yang kekinian hingga Tarian Beksan Wanaran sebagai bagian dari arak budaya lokal yang patut diangkat di kancah global.

Di era revolusi industri 4.0 seperti saat ini, kolaborasi menjadi kunci suksesnya berbagai program kerja, termasuk dalam hal memperkuat akar budaya lokal melalui pemanfaatan teknologi informasi terkini. Dalam hal ini kreativitas saja tentu tidak cukup. Diperlukan berbagai komponen pendukung seperti strategi komunikasi, kolaborator, pemilihan plafform media hingga moment yang tepat untuk mengenalkan akar budaya lokal pada generasi muda kita.

Suksesnya Flash Mob Beksan Wanaran misalnya. Selain dihelat saat mata dunia tengah berkumpul untuk menyaksikan uji coba pedestrian di kawasan Malioboro, helatan Flash Mob Beksan Wanaran ini ternyata merupakan sambutan event tahunan bertajuk Catur Sagatra. Sebuah gelar budaya untuk menjalin ikatan persaudaraan dan persahabatan melalui seni dan budaya dengan melibatkan empat Kraton di Yogyakarta dan Surakarta.

Sebagai pusat kebudayaan sejak masa lampau, Kraton merupakan bagian dari kekayaan bangsa yang wajib dilestarikan. Melalui kemajuan teknologi informasi, pelestarian budaya lokal akan lebih mudah dilakukan dengan menggandeng generasi milenial. Bukan rahasia lagi rasanya jika generasi milenial menjadi salah satu generasi yang berteman baik dengan teknologi informasi. Hal ini diperkuat dengan data terbaru dari Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII) yang mengungkap jumlah pengguna internet tahun 2018 di Indonesia mencapai  64,8% yang setara dengan 171,17 juta jiwa.

Data APJII juga menunjukkan bahwa pengguna internet terbesar (49,52%) berada di rentang usia 19 hingga 34 tahun, yang tidak lain merupakan Generasi Milenial alias Generasi Y (yang lahir pada tahun 1980-an hingga tahun 1994) dan Generasi Z (yang tahir di tahun 1995 sampai tahun 2000). Tidak heran jika penggiat sosial media banyak didominasi dari oleh dua generasi ini. Melalui strategi komunikasi yang disesuaikan dengan selera anak masa kini, keduanya memiliki peran yang cukup signifikan dalam menyampaikan berbagai upaya edukasi, tidak terkecuali dalam mengenalkan konten budaya lokal yang ingin diangkat ke kancah global.

Disadari atau tidak, mereka begitu dekat untuk “menaikkan” berita di berita media sosial. Viral istilah kekiniannya. Karena itulah kolaborasi dengan generasi milenial untuk mengangkat konten budaya lokal perlu dilakukan. Dalam hal ini, tentu kolaborasi menjadi kunci.

Aplikasi Jogja Istimewa di Gawai Saya

Aplikasi Jogja Istimewa di Gawai Saya

Kondisi ini rupa-rupanya “ditangkap” dengan baik oleh Pemerintah Provinsi DIY. Sinergi antar pihak, termasuk dengan Dinas Komunikasi dan Informatika DIY berhasil membuahkan teknologi informasi yang seirama dengan perkembangan jaman yang ada. Aplikasi Jogja Istimewa misalnya. Selain menawarkan informasi budaya dari masa lampau hingga seni masa kini, teknologi ini mampu mendeteksi berbagai kebutuhan yang mungkin diperlukan oleh siapa saja yang tengah membutuhkan informasi yang berkaitan dengan Jogja, mulai dari pilihan transportasi, tempat kulineran, destinasi wisata yang recommended untuk dikunjungi, layanan publik yang tersedia di Jogja hingga event wisata yang akan digelar di Kota Bakpia.

Terkait hal ini saya sangat mengapresiasi upaya Pemprov Jogja dalam mengenalkan akar budaya Jogja dengan menyelipkan ikon Tugu Pal Putih dan Gunung Merapi di halaman muka salah satu aplikasi kebanggaan warga Jogja ini. Selain teringat akan Sumbu Imajiner Jogja, entah mengapa ikon ini juga mengingatkan saya akan makna dari Sumbu Filosofi Jogja.

Sumbu Filosofi Jogja merupakan sebuah konsep penataan ruang Kraton Yogyakarta oleh Sutan Hamengku Buwana I yang merupakan perwujudan simbol daur hidup manusia, meliputi kelahiran (sangkan), pernikahan (kedewasaan) hingga kembali kepada Sang Pencipta (paran).

Konsep ini diwujudkan dalam bentuk warisan budaya arsitektur, meliputi Panggung Krapyak, Kraton Yogyakarta dan Tugu Pal Tugu Putih Yogyakarta. Pemprov DIY benar-benar menyadari bahwa edukasi dalam menguatkan akar budaya lokal harus dilakukan sesuai perkembangan jaman, salah satunya tidak dilakukan dengan “menyelipkannya” pada berbagai aplikasi kekinian yang berpotensi diakses oleh generasi masa kini. Ibarat lari maraton, mereka adalah calon pemengang tongkat estafet yang meneruskan “tugas” di kemudian hari.

Selain memberi kemudahan melalui aplikasi Jogja Istimewa, hadir pula aplikasi CCTV On-line Jogja yang dapat digunakan untuk memantau keadaan di berbagai lokasi tujuan. Dalam hitungan detik, gambaran kepadatan tempat wisata hingga lalu lintas di berbagai titik di kota gudeg dapat diakses semudah menggerakkan jari. Kabar baiknya, cita-cita Kraton dan Pemprov Jogja dalam memperkokoh akar budaya lokal juga didukung oleh warga sekitar melalui berbagai komunitas pecinta sejarah seperti Komunitas Kandang Kebo, Komunitas Malam Museum dan Komunitas Jagongan Naskah.

Mengikuti Blusukan Ke Tempat Bersejarah Bersama Komunitas Kandang Kebo (Dokumentasi Pribadi)

Mengikuti Blusukan Ke Tempat Bersejarah Bersama Komunitas Kandang Kebo (Dokumentasi Pribadi)

Melalui aneka rupa kolaborasi, berbagai komunitas ini turut memanfaatkan teknologi informasi, utamanya media sosial kekinian dengan merangkul sekaligus menfasilitasi generasi milenial untuk lebih mengenal akar budaya lokal. Menariknya, kegiatan yang dilakukan pun terbilang beragam. Komunitas Kandang kebo menawarkan blusukan ke berbagai peninggalan sejarah bersama nara sumber yang mumpuni, sedangkan Komunitas Malam Museum konsisten mengenalkan peninggalan sejarah utamanya yang ada di berbagai museum pada masyarakat umum melalui berbagai pilihan acara yang tak biasa seperti jelejah museum di malam hari, Jogja Walking Tour dan Kelas Heritage. Lain halnya dengan Komunitas Jagongan Naskah. Komunitas ini yang setia menyajikan cerita naskah kuna nusantara hingga mengajarkan cara membaca aksara jawa pada siapa saja yang tertarik untuk mengenalnya.

Di sisi lain, tumbuh pula berbagai komunitas bloger yang acap kali mampu menarik perhatian publik dengan uggahan cerita yang lebih lunak saat dibaca. Dua diantaranya adalah Komunitas Kompasianer Jogja dan Komunitas Narasi Genpi Jogja, dimana saya menjadi anggotanya. Kolaborasi antar elemen ini tentu mutlak diperlukan untuk memperkuat akar budaya lokal, tidak terkecuali dalam menceritakan hal-hal baik terkait warisan budaya khas nusantara. Saya percaya jika suatu negeri mampu mempertahankan kearifan lokal di era milenial, maka ia dapat berjaya di era global. Kabar baiknya, melalui teknologi informasi, rasa-rasanya berpartisipasi menyebarluaskan kearifan budaya negeri sendiri dapat dilakukan semudah menggerakkan jari.

Disadari atau tidak, viralnya Flash Mob Tarian Beksan Wanaran memperlihatkan sebuah kenyataan bahwasanya setiap orang dapat berperan sebagai agen pemberitaan. Pertanyaan selanjutnya, bersediakah kita untuk ikut menjaga warisan budaya Indonesia melalui konten-konten baik yang “ditanam” di berbagai linimasa media sosial pribadi kita? Kalau saya sih bersedia. Bagaimana dengan kawan-kawan semua? Semoga iya menjadi jawabnya^^

Salam hangat dari Jogja,

-Retno-

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Kompetisi Pagelaran TIK yang Diselenggarakan Oleh Dinas Komunikasi dan Informatika DIY 2019”

Sumber referensi:

Akun Instagram resmi Kraton Yogyakarta Hadiningrat (@kratonjogja)

https://www.bernas.id/64174-tahukah-anda-sumbu-filosofi-jogja-diajukan-sebagai-warisan-dunia.html

https://tekno.kompas.com/read/2018/02/22/16453177/berapa-jumlah-pengguna-internet-indonesia?page=all

Retno Septyorini

Perkenalkan, nama saya Retno Septyorini, biasa dipanggil Retno. Saya seorang content creator dari Jogja. Suka cerita, makan & jalan-jalan. Kalau ke Jogja bisa kabar-kabar ya..

YOU MIGHT ALSO LIKE

4 Comments

  • Arinta Setia Sari
    September 4, 2019

    Ini yang waktu itu sempat viral yah. Aku terkesan banget yo. Jadi pengen ikutan nari. Suka banget klo ada anak muda yg serius belajar kearifan lokal, kayak para penari ini 🙂

    • Retno Septyorini
      September 21, 2019

      Iyak betulll. Mana gerakannya gampang diinget pula. Seneng deh kalau viralnya model gini ya Arinta👌

  • Niken Nawang Sari
    September 8, 2019

    Habis ada flashmob di Selasa Wage Malioboro itu kan jadi banyak banget yang ikutan bikin flashmob di tempat lain ya mbak. Soalnya sekarang cepet banget menyebarkan informasi ke publik. 😁 Terus tak liat-liat juga banyak generasi milenial yang tidak lagi memandang sebelah mata warisan budaya lokal.

    • Retno Septyorini
      September 21, 2019

      He’em. Sayange aku belum pernah Selasa Wagean di Malioboro. Kapan ke sana mbok kabar-kabar to🤗

Leaver your comment

About Me

Wiloke

Retno Septyorini

Welcome to my creative blog │ Content creator @halomasin │Talk about figure, wastra, travel &culinary│ Happy living in Jogja

About Me