Menyelamatkan Sungai, Menyelamatkan Peradaban

Berkesempatan menyusuri eloknya peradaban sungai di Banjarmasin sontak mengingatkan saya pada gambaran sungai ideal di pertengahan tahun 90-an. Slogan lawas yang berbunyi “Yen Kaline Resik, Uripe Becik” adalah gambaran sungai yang membersamai saya sewaktu kecil. Waktu luang menemani ibu mencuci baju saya gunakan untuk belajar renang sembari sesekali mencari udang. Ada kalanya saya hanya mendapat beberapa ekor saja. Namun pernah pula saya mendapat satu mangkok penuh.

Puluhan tahun kemudian baru saya ketahui bahwa keberadaan udang air tawar ternyata dapat menjadi salah satu indikator kebersihan air. Pasalnya udang hanya dapat hidup di kawasan dengan tingkat kualitas air yang baik. Tidak disangka, tiga tahun silam, saat saya bertugas di Tanah Banua (sebutan lain untuk Kota Banjarmasin) ternyata bertepatan dengan peringatan Kongres Sungai ke-3, yang kala itu mengambil tema “sungai sebagai pusat peradaban bagi kelangsungan hidup dan kesejahteraan bersama”.

Sungai Sebagai Pilihan Transportasi di Kalimantan Selatan (Dokpri)
Sungai Sebagai Pilihan Transportasi di Kalimantan Selatan (Dokpri)

Bersamaan dengan perhelatan akbar ini pula lah, saya melihat sinergi yang baik antar berbagai pihak dalam mengembalikan fitrah sungai sebagai sumber kehidupan. Sungai tidak hanya menjadi sumber irigasi dan jalur transportasi semata, namun menjelma pula menjadi alternatif wisata unggulan di daerah.

Di tepian Sungai Martapura, teman-teman dapat menikmati keindahan landmark Taman Patung Bekantan dan Menara Kembar yang di bawahnya terdapat dermaga utama menuju berbagai destinasi kenamaan di sekitar Banjarmasin seperti Pasar Terapung Lok Baintan, Pulau Kembang, Museum Wasaka hingga Masjid Sultan Suriansyah. Sebagai pusat wisata di ibu kota propinsi, Menara Kembar yang dikenal dengan sebutan Siring Tendean juga dipilih sebagai tempat digelarnya berbagai event tahunan, seperti Festival Sungai dan Festival Jukung Bungas.

Bendungan Kamijoro, Kulon Progo, Yogyakarta (Dokpri)
Bendungan Kamijoro, Kulon Progo, Yogyakarta (Dokpri)

Kini pembangunan bendungan di pelosok nusantara pun banyak yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas layaknya tempat wisata. Bendungan Kamijoro di Desa Tuksono, Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulon Progo misalnya. Pembangunan bendungan seluas 2370 hektar ini juga dilengkapi dengan taman dan arena bermain anak yang luas, juga fasilitas MCK hingga mushola yang memadai. Tidak heran jika bendungan yang resmi dibuka tahun 2019 ini sempat viral hingga menjelma menjadi salah satu destinasi wisata lokal yang cukup diperhitungkan di Kota Gudeg.

Selain menjadi alternatif penghubung antara Kabupaten Bantul dan Kulon Progo, bendungan yang dibangun dengan harapan dapat meningkatkan intensitas tanam dari 205% menjadi 270% ternyata mampu menggerakkan roda ekonomi warga sekitar. Hal ini terlihat dari antusiasme warga dalam mengelola lahan parkir, membuka fasilitas MCK dari rumah masing-masing hingga membuka warung tenda di sekitar lokasi bendungan.

Dukungan dalam mewujudkan sungai sebagai pusat kehidupan bersama juga diperlihatkan oleh pemangku kepentingan di daerah. Satu diantaranya adalah pemberlakukan Peraturan Walikota (PERWALI) Kota Banjarmasin No. 18 Tahun 2016 yang berisi tentang larangan penggunaan kantong plastik sekali pakai di seluruh pusat perbelanjaan. Aturan yang mulai berlaku sejak 1 Juni 2016 ini disinyalir mampu mengurangi peredaran tahunan kantong plastik sekali pakai hingga 52 juta lembar.

Perlahan penggunaan kantong plastik sekali pakai di Banjarmasin mulai disubtitusi dengan memanfaatkan tas anyaman yang dibuat dari purun. Salah satu tanaman tumbuh subur di daerah pinggir sungai. Menyusul Banjarmasin, kini Balikpapan, Badung dan Bogor juga menerapkan aturan serupa. Belanja tanpa kantong plastik sekali pakai. Sedangkan di tempat tinggal saya yakni Daerah Istimewa Yogyakarta, selain menggalakkan penggunaan kantong belanja, kini penggunaan plastik sekali pakai saat belanja dikenai biaya tambahan sebesar tiga ratus rupiah/plastik.

Sasirangan Warna Alam Karya Pak Redho (Dokpri)
Sasirangan Warna Alam Karya Pak Redho (Dokpri)

Menariknya, dukungan mengembalikan fungsi sungai sebagai sumber kehidupan juga datang dari pelaku usaha, yang mulai disambut baik oleh masyarakat luas. Di Banjarmasin saya menemukan pengrajin sasirangan warna alam yang kini mulai dilirik para konsumen setianya. Berawal dari keprihatinan akan penggunaan warna sintetis sebagai pewarna sasirangan, Pak Redho berinovasi dengan memproduksi kain sirang dengan memanfaatkan warna alam yang banyak terdapat di Banjarmasin. Salah satunya adalah limbah kayu yang dapat menghasilkan warna coklat pastel.

Untuk berbagai warna lainnya, Pak Redho memilih untuk memanfaatkan pewarna alami seperti kunyit, secang, biji rambutan hutan hingga tanaman indigofera. Kabar baiknya, sasirangan warna alam karya Pak Redho mendapat sambutan yang begitu baik. Jadi jangan heran jika suatu saat nanti teman-teman melihat hasil karya Pak Redho tampil di berbagai acara fashion bergengsi seperti Adiwastra, Jakarta Fashion Week hingga Indonesia Fashion Week.

Pada akhirnya perencanaan matang pemangku kepentingan selalu membutuhkan dukungan dari masyarakat luas. Saya percaya sikap #SigapMembangunNegeri berawal dari pilihan baik kita dalam #MengelolaAirUntukNegeri. Perilaku bijak teman-teman semua tentu akan berpengaruh pada keduanya. Tidak perlu muluk-muluk. Cukup dengan menggunakan air secara bijak, mengelola lingkungan dengan baik, meminimalisir produksi sampah, memilih busana tanpa pewarna kimia atau sekedar menerapkan slow fashion dapat menjadi wujud nyata kita dalam mendukung perayaan #HariAirDuniaXXIX2021 kali ini.

Salam hangat dari Jogja,

-Retno-

Referensi:

Andi Muhammad, H. 2019. Wali Kota: Banjarmasin, Kota Pertama di Asia Pasifik yang Larang Kantong Plastik. Diakses dari https://regional.kompas.com/read/2019/08/28/20372001/wali-kota-banjarmasin-kota-pertama-di-asia-pasifik-yang-larang-kantong?page=all

Liputan dan pemotretan di Banjarmasin pada tahun 2017

Liputan dan pemotretan di Kawasan Bendungan Kamijoro pada tahun 2021

Maulandy Rizky, B. K. 2019. Bendung Kamijoro Bantul Bakal Dongkrak Intensitas Tanam Jadi 270 Persen. Diakses dari https://www.liputan6.com/bisnis/read/3890083/bendung-kamijoro-bantul-bakal-dongkrak-intensitas-tanam-jadi-270-persen

Retno Septyorini

Perkenalkan, nama saya Retno Septyorini, biasa dipanggil Retno. Saya seorang content creator dari Jogja. Suka cerita, makan & jalan-jalan. Kalau ke Jogja bisa kabar-kabar ya..

YOU MIGHT ALSO LIKE

No Comment

Leaver your comment