Menyelamatkan Mangrove, Menyelamatkan Masa Depan Dunia

Sesampainya di Siring Tendean, klotok pesanan kami sudah tertambat di tepian dermaga. Tak ingin mengulur waktu, saya dan rombongan pun bergegas memasuki kapal mesin beratap kayu itu. Pagi ini, kami berencana menikmati wisata susur sungai di sekitar Banjarmasin, dengan Pulau Kembang sebagai salah satu tujuannya. Tepat pukul setengah sembilan pagi, klotok berwarna biru muda itu akhirnya membawa kami menyusuri indahnya kawasan berjuluk “Kota Seribu Sungai”.

Sungguh, lawatan kali ini terasa begitu berbeda. Maklum saja, ini merupakan pengalaman pertama. Belum pernah kami menikmati wisata susur sungai sepanjang dan sebesar ini. Selain disambut uniknya bangunan kayu khas Pulau Kalimantan, hijaunya pepohonan di sepanjang perjalanan semakin menambah indah pemandangan. Ditambah lagi tak ada rombongan lain yang menemani. Jadilah susur sungai kali ini serasa jelajah pulau milik sendiri.

Satu setengah jam kemudian, sampailah kami di Hutan Wisata Alam Pulau Kembang. Sebuah hutan mangrove yang berada di tepian Sungai Barito, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan. Lokasinya yang tidak begitu jauh dari ibu kota propinsi membuat salah satu habitat kera ekor panjang ini menjelma sebagai primadona wisata alam yang banyak dikunjungi pelancong dari Tanah Banua.  Sebutan lain untuk Banjarmasin.

Jalur Trekking di Pulau Kembang (Dokumentasi Pribadi)
Jalur Trekking di Pulau Kembang (Dokumentasi Pribadi)

Seperti hutan wisata pada umumnya, Kawasan Hutan Konservasi yang satu ini sudah dilengkapi dengan jalur trekking yang nyaman. Tidak disangka-sangka, usai membeli tiket, rombongan kami diikuti oleh beberapa penjual makanan ringan dalam kemasan yang cukup gencar menawarkan dagangannya. Sadar tak ada satupun yang tertarik dengan tawaran tersebut, salah satu pedagang akhirnya berucap “Tidak kasihan apa dengan kera-kera yang sudah menunggu di sana?”.

Sejujurnya saya tidak kaget mendengar pertanyaan klise semacam itu. Yang menjadi pertanyaan saya malah: “Seberapa seringnya makanan ringan itu sampai ke tangan kera-kera penghuni Pulau Panjang?” dan “Bagaimana dampak yang ditimbulkan dari sampah-sampah makanan ringan dalam kemasan yang setiap hari mereka perdagangkan itu?”.

Mangrove Habitat Kera Ekor Panjang (Dokumentasi Pribadi)
Mangrove Habitat Kera Ekor Panjang (Dokumentasi Pribadi)

Usai melewati bangunan semacam kuil, kami disambut dengan puluhan ekor kera yang satu diantaranya terlihat tengah duduk santai di atas akar mangrove yang sekilas pandang berbentuk menyerupai lutut. Mangrove memang menawarkan banyak manfaat bagi keseimbangan alam. Namun baru kali ini saya melihat dengan secara langsung peranan mangrove sebagai habitat kera ekor panjang. Diantara mereka ada yang bergelantungan di pohon. Ada pula yang duduk manis pojok dahan. Menggemaskan sekali.

***

Umumnya kita mengenal mangrove sebagai pemecah ombak sekaligus pencegah abrasi pantai karena kemampuannya bertahan di perairan dengan kandungan garam yang tinggi. Tidak heran jika pelestarian mangrove banyak dilakukan di kawasan pesisir, yang tidak lain merupakan batas antara daratan dengan lautan. Kabar baiknya, mangrove juga berperan sebagai kawasan perlindungan dari bahaya bencana alam seperti tsunami dan angin topan. 

Menyelamatkan Mangrove, Menyelamatkan Masa Depan Dunia (Dokumentasi Pribadi)
Menyelamatkan Mangrove, Menyelamatkan Masa Depan Dunia (Dokumentasi Pribadi)

Di sisi lain, mangrove juga dikenal sebagai habitat aneka rupa biota perairan seperti ikan, udang, kepiting hingga kerang-kerangan. Sistem perakaran mangrove, khususnya dari jenis Sonneratia sp., Avicennia sp., dan Rhizophora sp., juga akan memberikan suatu kondisi untuk melindungi dan menahan dari gerakan arus pasang-surut terhadap telur ikan yang sudah dibuahi. Selain itu, kondisi yang unik dari sistem perakaran mangrove tersebut juga dimanfaatkan larva ikan untuk berlindung dari serangan predator [1].

Dengan kata lain derajat kesehatan populasi mangrove umumnya berbanding lurus kesehatan populasi biota di perairan setempat. Mengejutkannya lagi, ternyata kemampuan mangrove dalam menyerap karbon terbilang besar. Berdasarkan penelitian Center for International Forestry (CIFOR), hutan mangrove Indonesia mampu menyimpan karbon lima kali lebih banyak jika dibandingkan dengan hutan hujan tropis dataran tinggi [2].

Seiring dengan perkembangan teknologi, kini mangrove sudah berhasil diolah menjadi minuman, kue, steak, tempe, sabun hingga pembersih lantai. Limbah olahannya pun dapat dibuat menjadi pewarna batik dan briket [3]. Dengan segudang manfaat tersebut, tidak heran jika berbagai pihak kini mulai bersinergi dalam melestarikan populasi mangrove, tidak terkecuali dengan Indonesia.

Juli ini misalnya. WRI Indonesia bekerjasama dengan Yayasan Lahan Basah Indonesia dan AJI JAKARTA mengadakan empat kali Forum Group Discussion (FGD) “Bincang Mangrove” yang membahas kebijakan dan regulasi (1), pemetaan, monitoring dan degradasi (2), rehabilitasi (3) hingga mengusung suara lintas generasi (4) terkait seluk-beluk pelestarian mangrove. Tidak perlu khawatir jika teman-teman ketinggalan acara apik yang satu ini. Karena berjalannya FGD Bincang Mangrove dapat diakses melalui Channel Youtube WRI Indonesia.

Sebagai rumah dari 20% populasi mangrove dunia yang tengah dihadapkan pada kerusakan parah akibat ulah oknum yang tidak bertanggung jawab, kegiatan Bincang Mangrove dapat menjembantani komunikasi generasi muda dengan berbagai narasumber ahli yang di bidangnya. Selain menjadi ajang edukasi sekaligus kegiatan bermanfaat di tengah situasi pandemi, harapannya dapat melambungkan sebaran informasi pada masyarakat luas akan pentingnya peran mangrove bagi masa depan kita.

Jika ada rejeki yang lebih, kita juga dapat mendonasikan sejumlah rupiah untuk turut serta dalam pengadaan bibit mangrove. Karena menyelamatkan mangrove, menyelamatkan masa depan dunia dan anak cucu kita.

Salam hangat dari Jogja,

-Retno-

Referensi:

[1] http://lipi.go.id/publikasi/mangrove-di-indonesia-/27339

[2] http://pojokiklim.menlhk.go.id/read/potensi-bakau-sebagai-penyerap-emisi-karbondioksida

[3] https://www.voaindonesia.com/amp/selamatkan-mangrove-peroleh-manfaat-ekonomi/2451222.html

Tags:

Retno Septyorini

Perkenalkan, nama saya Retno Septyorini, biasa dipanggil Retno. Saya seorang content creator dari Jogja. Suka cerita, makan & jalan-jalan. Kalau ke Jogja bisa kabar-kabar ya..

YOU MIGHT ALSO LIKE

No Comment

Leaver your comment