Menuai Untung dari Menabung, Kompilasi Cerita Inspiratif dari Kebiasaan Menabung

Selama ini sebagian besar aktivitas menabung kerap dihubungkan dengan raihan impian pribadi seseorang yang mungkin hanya dinikmati oleh penabung dan atau keluarganya saja. Padahal, selain menjadi perantara dalam mencicil impian, aktivitas menabung juga dapat mendatangkan manfaat bagi sesama (Septyorini, 2018).

Cantika dan Tabungannya

Kebiasaan Menabung Sejak Kecil

Kebiasaan Menabung Sejak kecil

“Uangnya untuk apa ini, Cantik?”

“Buat ditabung”, jawab Cantika, keponakan saya yang baru berusia tiga tahun.

Meski belum mengenal besaran mata uang, namun Cantika sudah mengenal aktivitas menabung. Bahkan sebagian besar uang pemberian kerabat, termasuk pemberian nenek memang dialokasikan untuk ditabung melalui perantara ibu guru di play group tempatnya bermain sembari belajar.

Senang rasanya mengetahui akttivitas menabung tetap giat diperkenalkan pada generasi muda kita, bahkan sejak awal tahun 90-an dulu, saat saya duduk di taman kanak-kanak. Metodenya pun sama, menabung lewat buku tabungan sekolah yang dibuka di akhir tahun ajaran.

Jadi, selain membawa pulang pepaya yang dipetik dari halaman rumah, saat berkunjung ke rumah nenek, Cantika selalu ingat dengan aktivitas menabungnya. Karena jatah bulanan dari nenek selalu ditabung di sekolah.

Inspirasi Tabungan Emas di Era 90-an

Inspirasi menabung di lingkungan keluarga tidak hanya datang dari Cantika saja, namun datang pula dari Tante Tin. Saya ingat betul saat mulai berpenghasilan sendiri, nenek sempat menceritakan tabungan emas Tante Tin yang begitu menginspirasi saya.

“Sebelum jadi guru, tantemu itu bekerja paruh waktu sebagai penagih tagihan televisi. Pekerjaan ala kadarnya yang dilakukan sembari kuliah keguruan. Jaman dulu tagihan listrik memang berbeda dengan tagihan televisi. Lahir dari keluarga biasa saja, tante memilih untuk menjalani gaya hidup sederhana. Bisa dibilang sebagian besar penghasilannya selalu disisihkan untuk ditabung. Waktu itu bank masih cukup awam untuk orang desa. Jadi tante menitipkan uangnya pada nenek. Setelah dirasa cukup untuk membeli logam mulia, tabungan tante kemudian ditukar dengan emas kuning. Kebiasaan ini dilakukan tantemu selama puluhan tahun”, begitu kira-kira pembuka cerita dari nenek.

“Inspiratif!”, batin saya dalam hati.

Bagaimana tidak coba, di tahun 90-an lalu, tabungan emas rasa-rasanya belum terlalu hits. Uniknya, menabung emas ternyata merupakan pilihan menabung yang biasa dilakukan oleh banyak orang di desa, termasuk di keluarga besar saya.

Oiya, emas yang dimaksud di sini bukan emas untuk pamer yang dibeli saat lebaran lalu dijual kembali usai libur lebaran tiba lho ya! Tapi memang menabung emas yang biasa disimpan di dalam rumah.

“Bertahun menabung di masa lajang, simpanan emas tante waktu itu mencapai setengah ons lho! Kalau dikonversi dengan harga emas sebesar Rp 500.000/gram, berarti tabungan Tante Tin saat itu mencapai 25 juta rupiah. Jumlah yang cukup banyak untuk tabungan seorang penagih tagihan televisi bulanan. Di awal tahun 2000-an, tabungan sebanyak itu dirasa sangat membantu saat tante hendak membeli sepetak tanah di Gunungkidul, lokasi penempatan tante saat menjadi guru sekolah dasar”.

“Wah, mantap juga nih bisa rutin menyisihkan tabungan dari penghasilan”, batin saya kemudian. Di jaman konsumtif seperti saat ini, cerita tabungan Tante Tin menjadi hal yang cukup menginspirasi saya. Apapun pekerjaan kita saat ini, menabung sebaiknya menjadi prioritas utama sekaligus menjadi bagian dalam gaya hidup kita, baik kini maupun nanti. Dari Teante Tin saya belajar menambah tabungan dengan menyisihkan 35% penghasilan bulanan, bukan sebaliknya, menambah tabungan dari sisa biaya operasional bulanan, apalagi sisa uang jajan.

Mencicil Impian Melalui Tabungan

Bapak dan sepeda barunya. Rasa-rasanya belum genap sebulan bapak bisa beli sepeda impian, yang sebagian uangnya diperoleh dari hasil menabung. Kebetulan cerita saat membeli sepeda ini saya unggah ke instastory Instagram pada 5 Juli 2018 lalu.

Bapak dan Sepeda Barunya

Bapak dan Sepeda Barunya

Jadi, setelah saya dan adik lulus kuliah, kalau ada orang rumah yang mau beli barang impian seperti handphone, sepeda atau barang impian lainnya, kami berkomitmen untuk tidak berhutang. Jadi kalau berencana beli sesuatu ya harus nabung dulu. Jadi kalau suatu saat nanti barang impian sampai di tangan tidak akan membebani hati dengan rentetan cicilan yang memilukan. Istilahnya kami mencicil impian melalui tabungan. Kami percaya peribahasa “if there is a will, there is a way”, jika ada kemauan, pasti ada jalan.

Bapak dan Sepeda Barunya

Bapak dan Sepeda Barunya

Berbicara soal sepeda impian, saya jadi teringat dengan Lalu, sahabat lama yang menuai untung dengan cara menabung. Cerita bermula sekitar sembilan tahun yang lalu. Tak berapa lama usai wisuda, Lalu pun mendaftar di sebuah Perusahaan FMCG (Fast Moving Consumer Goods) terkemuka di Indonesia. Setelah menjalani serangkaian tes kerja, impian Lalu bekerja di perusahaan idaman harus tertunda karena tidak lolos tes kesehatan. Alasannya cukup klasik, karena tingginya kadar kolesterol. Sebuah gangguan kesehatan yang kerap dialami anak kos yang gemar mengkonsumsi gorengan.

Semenjak saat itu, dengan penuh kesadaran Lalu menyisihkan uang jajan gorengan favoritnya untuk ditabung di botol bekas air mineral berukuran 2 liter. Menariknya, beberapa bulan kemudian, dari hasil tabungan recehan yang tak seberapa itu Lalu berhasil membeli sepeda gunung idaman yang dipakai untuk perjalanan jarak dekat seperti dari kos menuju kampus.

Meski konsep menabungnya terlihat begitu sederhana, hal kecil semacam ini ternyata dapat menuai manfaat yang berlipat. Selain bisa berhemat sekaligus membeli sepeda impian, disadari atau tidak, kebiasaan mengurangi konsumsi gorengan plus bersepeda ke kampus menjadi jurus yang cukup ampuh untuk mengusir kolesterol jahat yang menempel di tubuh Lalu. Ibarat sekali menyelam, dua tiga pulau terlampaui. Beberapa bulan setelahnya, Lalu pun berhasil masuk kerja di tempat yang diidamkannya. Ini inspiratif sekali, Bro!

***

Tak berselang lama, kebiasaan menabung recehan yang dilakukan Lalu berhasil menginsipirasi saya untuk kembali melakukan hal serupa. Bedanya, Lalu menampung segala bentuk uang logam ke dalam botol bekas, sedangkan saya hanya menabung dua jenis pecahan uang logam saya. Satu celengan khusus untuk koin pecahan seribuan dan satu celengan lagi untuk koin lima ratusan. Keduanya saya tempatkan di dalam kardus bekas obat herbal. Jadi konsepnya menabung receh tanpa mengeluarkan biaya untuk membeli celengan.

Sekitar setahun kemudian, saat kardus pertama yang berisi koin seribuan hampir penuh, saya sempatkan untuk menghitung tabungan mini tersebut. Hasilnya lumayan, hampir lima ratus ribu rupiah. Sayangnya belum sempat ditabung di bank, celengan saya itu hilang. Tidak hanya satu, tapi hilang dua-duanya. Pupus sudah harapan saya waktu itu untuk membeli sepeda impian dari hasil menabung uang recehan.

Sebenarnya ini bukan kali pertama saya kehilangan uang tabungan di rumah. Dulu, saat gempa melanda Jogja, saya juga kehilangan celengan uang logam yang sengaja saya simpan di beberapa dompet koin yang berukuran cukup besar. Begitu pula dengan kakek dan om. Celengan uang receh keduanya juga hilang saat gempa. Lain halnya dengan nenek yang kehilangan simpanan cincin seberat 10 gram.

Hal ini pun kami ketahui beberapa hari setelah gempa melanda. Jadi usai kondisi dirasa aman, saya sekeluarga akhirnya menengok rumah yang beberapa hari kami tinggalkan begitu saja. Setelah mendirikan tenda darurat di kebun sebelah rumah, saya menemukan dua dompet yang saya gunakan untuk menabung receh. Dompetnya sih masih utuh, tapi sebagian besar isinya hilang. Kesal sekali kalau mengingat hal tersebut. Apalagi mengingat bencana yang baru saja terjadi. Tapi apa mau dikata, segala hal yang terjadi hanya bisa diambil baiknya saja, bukan?

Menuai Untung dari Menabung

Menuai Untung dari Menabung

Menuai Untung dari Menabung

Sejak dua kali kehilangan tabungan uang koin di rumah, kecuali tabungan kurban yang dilakukan secara manual di masjid, saya mulai aktif menabung di bank. Sebagai generasi kekinian, saya mulai mencari informasi terkait plus minus menabung di bank. Krisis tahun 1998 tentu mengajarkan banyak hal pada generasi selanjutnya, termasuk dalam memilih bank yang digunakan untuk menyimpan dana tabungan. Dari berbagai sumber yang terpercaya akhirnya saya mengetahui bahwa tempat menabung yang paling aman adalah menabung di bank yang dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Sayangnya saya nabung dulu, baru tahu tentang lembaga ini.

Sesuai dengan namanya, LPS merupakan suatu lembaga independen yang berfungsi menjamin simpanan nasabah penyimpan dan turut aktif dalam memelihara stabilitas sistem perbankan sesuai dengan kewenangannya. Lembaga ini lahir usai Indonesia dihantam krisis moneter dan perbankan pada tahun 1998. Berawal dari Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang perbankan yang mengamanatkan pembentukan suatu Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) sebagai pelaksana penjaminan dana masyarakat, akhirnya pada tanggal 22 September 2004, Presiden Republik Indonesia mengesahkan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 24 tentang Lembaga Penjamin Simpanan. Akhirnya Undang-undang tersebut berlaku efektif sejak tanggal 22 September 2005. Sejak itulah LPS resmi beroperasi. Setelah dicek lebih lanjut, ternyata bank tempat saya menabung masuk dalam daftar bank yang dijamin oleh LPS. Yes, nggak salah pilih bank!

Kabar baiknya, sejak 13 Oktober 2008, saldo maksimal yang dijamin LPS untuk setiap nasabah pada satu bank mencapai Rp 2 Milyar. Jadi jangan sungkan untuk menitipkan tabungan kita di bank. Menariknya lagi, selain tabungan, ada berbagai simpanan di bank yang dijamin oleh LPS meliputi giro, deposito, sertifikat deposito dan atau bentuk lain yang dipersamakan dengan itu.

Terkait hal ini, ada tiga kriteria khusus yang wajib diketahui masyarakat luas terkait simpanan layak bayar yang ditanggung LPS, yang meliputi:

a. Tercatat dalam pembukuan bank

Jadi kalau kawan-kawan sering titip transfer ke teman, jangan lupa untuk segera mencetak transaksi di buku tabungan ya! Karena simpanan di bank yang dijamin LPS adalah simpanan yang tercatat dalam buku tabungan.

b. Tingkat bunga tidak melebihi tingkat bunga penjaminan  

Saat menabung, perhatikan pula besaran bunga yang dijanjikan oleh pihak bank. Berdasarkan Siaran Pres Nomor PRESS-18/SEKL/VII/2018, Tingkat Bunga Penjaminan periode 18 Juli 2018 sampai dengan 17 September 2018 untuk simpanan dalam Rupiah dan valas di Bank Umum sebesar 6,25% dan 1,50%, sedangkan simpanan Rupiah di Bank Perkreditan Rakyat sebesar 8,75%.

Jadi, kalau ada yang menjajikan bunga lebih dari tingkat bunga penjaminan yang secara regular diinformasikan LPS, teman-teman wajib waspada. Untuk update informasi terkini terkait bunga penjaminan LPS dapat diakses melalui www.lps.go.id

c. Tidak melalukan tindakan yang merugikan bank

Selain itu, untuk penjaminan tabungan oleh LPS, kawan-kawan juga wajib menghindari tindakan yang merugikan bank. Karena sekecil apapun masalah kita pada bank dapat ditrack melalui Informasi Debitur (IDEB) dari System Layanan Informasi Keuangan (SLIK) yang dulu dikenal luas dengan istilah BI Checking.

Menariknya, keuntungan dari menabung di bank yang dijamin LPS tidak hanya dinikmati oleh si penabung saja, namun dapat bermanfaat pula bagi banyak pihak yang sedang membutuhkan.

Kita yang Menabung, Sesama Bisa Untung

Menuai Untung dari Menabung

Menuai Untung dari Menabung

Selain jaminan keamanan berlapis seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, uang yang disimpan di bank dapat diputar oleh bank, dimana salah satunya dapat dikelola menjadi dana segar yang dapat dipinjam oleh para wirausahawan untuk mengembangkan bisnisnya. Begitu pula dengan tabungan kurban. Berkat kemajuan di dunia perbankan, aplikasi tabungan kurban yang dilakukan secara onliner kini dapat dilakukan oleh banyak pihak. Ibarat kita yang menabung, sesama yang membutuhkan dapat mencicipi untung.

Terkait tabungan kurban, tahun ini saya menabung melalui panitia kurban di masjid yang berada tak jauh dari rumah. Dengan metode tabungan, hitungan biaya kurban yang ditaksir sekitar 3 juta rupiah dapat dicicil dalam kurun waktu satu tahun. Jadi, meski penghasilan bulanan saya tidak tetap, sebagai blogger saya tetap dapat berkurban tanpa beban. Selain besaran tabungan yang fleksibel, jika dipukul rata, setiap bulan saya hanya perlu menabung sebesar 300 ribu rupiah saja. Jumlah yang cukup ringan dibandingkan harus mengeluarkan 3 juta dalam sekali tempo, bukan?

Ah, menabung memang begitu. Biar sedikit demi sedikit, apapun impian kita menjadi lebih mudah untuk diwujudkan. Cicilan yang ringan juga tidak akan mengganggu alokasi dana bulanan yang sudah ditetapkan, termasuk alokasi tabungan bulanan yang disimpan di bank.

Selain itu, dengan menabung di bank otomatis kita memiliki kartu debit yang dapat digunakan untuk mempermudah pembayaran berbagai transaksi bulanan secara non tunai. Disadari atau tidak, mengurangi transaksi manual seperti ini merupakan wujud nyata dukungan kita pada kampanye Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT) yang beberapa tahun terakhir giat disosialisasikan oleh pemerintah.

Menariknya, aktivitas non tunai juga dapat meminimalisir terjadinya penyelewengan dana yang dilakukan para koruptor. Untuk menghindari pelacakan transaksi elektronik, bukan menjadi rahasia lagi bukan kalau saat ini transaksi suap-menyuap banyak dilakukan secara cash? Kalau peredaran uang cash begitu dibatasi, gerak-gerik koruptor saat menyuap atau disuap secara cash menjadi lebih mudah diawasi.

Itu baru manfaat secara global ya, belum merambah pada manfaat personal sebagai nasabah bank. Seperti yang kita ketahui bersama, seiring dengan berjalannya waktu, dunia perbankan Indonesia semakin menunjukkan kemajuan yang berpihak nasabah bank. Salah satunya adalah peluncuran kartu ATM atau debet berlogo Gerbang Pembayaran Nasional (GPN).

Sesuai dengan namanya, GPN merupakan sistem pembayaran nasional yang dilakukan secara elektronik melalui sistem yang lebih aman karena dilengkapi dengan chip khusus. Jadi, selain terkoneksi dengan berbagai transaksi elektronik, sistem GPN juga menawarkan biaya operasional yang lebih murah. Sudah aman, nyaman, lebih hemat pula. Kalau dihitung-hitung nih, banyak juga kan keuntungan menabung di bank?

Mengelola Keuangan Pribadi dengan Memisahkan Rekening Tabungan dan Uang Operasional Bulanan

Mengelola Keuangan Pribadi dengan Memisahkan Rekening Tabungan dan Uang Operasional Bulanan

Awal menabung di bank saya hanya memiliki satu rekening saja. Jadi segala bentuk penghasilan, tabungan untuk barang impian hingga jatah bulanan ada dalam rekening yang sama. Sayangnya seiring berjalannya waktu, arus keuangan saya menjadi kurang terkontrol karena dana tabungan, pembayaran tagihan serta uang bulanan berkumpul di satu rekening. Akhirnya di tahun 2016 saya membuka dua tabungan di bank yang berbeda. Satu rekening khusus untuk tabungan, sedangkan rekening yang lain khusus untuk biaya operasional bulanan hingga autodebet tagihan asuransi kesehatan. Meski terlihat sederhana, pembagian semacam ini sangat membantu dalam mengelola keuangan pribadi. Kini saldo tabungan, juga alokasi dana operasional bulanan dapat terpantau dengan begitu mudah.

Begitu banyaknya manfaat menabung bagi masa depan kita, masak sih mau ditunda-tunda juga?

Salam hangat dari Jogja,

-Retno Septyorini-

Artikel ini diikutkan dalam LPS Press & Blogger Awarding 2018 yang diselenggarakan oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Republik Indonesia.

Sumber:

Bank Indonesia Mencanangkan Gerakan Nasional Non Tunai, diakses dari https://www.bi.go.id/id/ruang-media/siaran-pers/Pages/sp_165814.aspx

LPS Naikkan Tingkat Bunga Penjamin Periode Juli 2018, diakses dari http://lps.go.id/siaran-pers/-/asset_publisher/1T0a/content/lps-naikkan-tingkat-bunga-penjamin

Oktavianus, B. 2018. SLIK OJK: Layanan Pengganti BI Checking. Bagaimanakah Cara Ceknya?, diakses dari https://www.cermati.com/artikel/slik-ojk-layanan-pengganti-bi-checking-bagaimanakah-cara-ceknya

Praditya, I. 2018. Yuk Segera Tukar Kartu ATM dengan Kartu Berlogo GPN, diakses dari https://www.liputan6.com/bisnis/read/3602546/yuk-segera-tukar-kartu-atm-dengan-kartu-berlogo-gpn

Sejarah Pendirian LPS, diakses dari http://www.lps.go.id/web/guest/sejarah

Setiawati, S. 2018. Menurut BCA, Ini Untungnya Pakai Kartu Debit Berlogo GPN, diakses dari https://ekonomi.kompas.com/read/2018/04/16/183700426/menurut-bca-ini-untungnya-pakai-kartu-debit-berlogo-gpn

Simpanan yang Dijamin, diakses dari http://lps.go.id/simpanan-yang-dijamin

Susanto, F. 2018. OJK Perkenalkan SLIK: Cara Melihat BI Checking Terbaru, diakses dari https://www.amalan.com/id/blog/ojk-perkenalkan-slik-cara-melihat-bi-checking-terbaru

Waktu Operasional Layanan SILK, diakses dari https://www.ojk.go.id/id/berita-dan-kegiatan/info-terkini/Pages/Waktu-Operasional-dan-Persyaratan-Layanan-Informasi-Debitur.aspx

Retno Septyorini

Perkenalkan, nama saya Retno Septyorini, biasa dipanggil Retno. Saya seorang content creator dari Jogja. Suka cerita, makan & jalan-jalan. Kalau ke Jogja bisa kabar-kabar ya..

YOU MIGHT ALSO LIKE

1 Comment

  • Amir Mahmud
    August 5, 2018

    Karena menabung, saya jadi bisa membangun impian saya, menabung memang sangat penting untuk masa depan

Leaver your comment

About Me

Wiloke

Retno Septyorini

Welcome to my creative blog │ Content creator @halomasin │Talk about figure, wastra, travel &culinary│ Happy living in Jogja

About Me