Menjaga Alam Dari Hal-Hal Mudah di Sekitar Kita, Mewariskan Kebiasaan Baik Bagi Generasi Penerus Indonesia

Foto Saat Bertugas di Banjarmasin

Foto Saat Bertugas di Banjarmasin

“Dari sekian banyak pekerjaan di luar kota yang saya lakukan hingga saat ini, Banjarmasin menjadi kota yang paling mengesankan. Dimulai dari pengalaman belanja bak bedol desa saat kali pertama belanja di sana, dibawakan makanan tradisional yang masih dibungkus dengan dedaunan hingga diberi kesempatan untuk belajar membaca tanda alam yang begitu menakjubkan.” Sebuah kenangan baik dari kota kecil bernama Banjarmasin.

Sebuah Cerita Dari Tanah Banua

Cerita ini bermula dari pekerjaan saya sebagai spesialis media yang wajib live in di Banjarmasin selama delapan minggu. Dengan durasi live in yang cukup panjang, yakni dua minggu per bulan, menjadikan makan dan belanja menjadi prioritas utama yang wajib dibereskan saat pertama sampai Tanah Banua, sebutan lain untuk Kota Banjarmasin. Karena ingin lebih menikmati suasana kota, saya dan 12 rekan kerja lainnya memutuskan untuk keluar asrama dengan jalan kaki saja.

Sayangnya, setelah kenyang mencicipi mie habang, barulah saya dan kawan-kawan tersadar bahwasanya kami pergi tanpa seorang pun membawa tas belanja. Dengan tim berjumlah 13 orang, kebayang bukan banyaknya belanjaan pertama kami waktu itu? Berbagai keperluan pribadi maupun tim untuk dua pekan ke depan berujung pada hasil belanja bak bedol desa.

Sebenarnya setiap kali bertugas ke luar kota saya selalu membawa tas belanja berukuran raksasa. Sayangnya sesampainya di Banjarmasin, hawanya kok ingin langsung makan dan jalan saja. Istilahnya belum sempat buka koper sudah langsung muter-muter.

Jadilah perjalanan pulang sore kami waktu itu kami lalui dengan raut muka malu-malu kucing. Bagaimana tidak, orang bawaan kami banyak sekali. Mana ada yang beli pembalut lagi. Untung saja ada kardus-kardus bekas yang dapat digunakan untuk membantu membawa barang belanjaan.

Bisa dibayangkan bukan suasana seperti apa yang terjadi di sepanjang perjalanan pulang menuju asrama? Satu kilometer pertama waktu itu mungkin saja dipenuhi banyak tanda tanya dari orang-orang di jalan yang melihat penampakan kami. Semacam pertanyaan “Mengapa tetiba saja ada gerombolan anak muda yang “bedol desa” dari minimarket?”.

Duh, jadi auto ketawa saya kalau ingat pengalaman lucu yang ini.

Usut punya usut, sejak 29 Maret tahun 2016 yang lalu Pemerintah Kota Banjarmasin sudah memberlakukan pelarangan penggunaan kantong plastik sekali pakai di semua pusat belanja modern. Aturan ini tercantum dalam Peraturan Walikota (Perwali) Nomor 18 Tahun 2016.

Entah mengapa saat mengetahui hal ini saya jadi makin sayang dengan Banjarmasin. Selain menjadi rumah kedua, kota ini juga menjelma jadi tempat belajar yang terlampau menyenangkan, termasuk saat saya diperkenalkan kain tradisional bernama sasirangan.

Bergaungnya Kembali Pewarna Alam Pada Motif Indah Kain Sasirangan

Sasirangan Warna Alam

Sasirangan Warna Alam

Belum ke Banjarmasin kalau belum membawa pulang kain sasirangan. Begitu kira-kira jawaban Erna, kawan saya yang pernah kerja di Kalimantan saat ditanya “Enaknya bawa oleh-oleh apa saat pulang ke Jogja?”. Kabar baiknya, tugas sebagai anak media mempertemukan saya pada Pak Redho, salah satu pengrajin sasirangan warna alam kenamaan di Banjarmasin.

Bagi kawan-kawan yang belum mengetahui, sasirangan merupakan kain tradisonal khas Banjarmasin. Nama sasirangan berasal dari kata sirang yang berarti menjelujur. Karena itulah jika diperhatikan lebih lanjut, kawan-kawan akan menemukan bekas tusukan jarum di sepanjang motif sasirangan.

Beberapa sumber yang saya temui saat itu menyebut bahwa di awal kemunculannya, sasirangan dikenal sebagai kain pamintan alias kain permintaan, yakni jenis kain tradisional yang dipercaya mampu mengobati berbagai macam penyakit. Dalam proses pembuatannya, seluruh komponen kain mulai dari motif, doa hingga hingga pemilihan warna akan disesuaikan dengan permintaan dari konsumen. Selain dibuat dengan ritual khusus, kain pamintan harus dibuat oleh keturunan Kerajaan Banjar yang dikenal dengan sebutan orang Candi Agung Amuntai.

Jaman dahulu kain pamintan akan digunakan sebagai ikat kepala atau kerudung. Namun ada pula yang digunakan bersamaan dengan tenun sarigading. Kain pengobatan ini akan dikenakan saat matahari akan tenggelam dengan waktu penggunaannya yang terbilang sebentar, yakni sebanding dengan waktu yang dihabiskan untuk sekali menginang atau menghisap sebatang rokok.

Sebagai sarana pengobatan, dulu semua pewarna untuk kain pamintan diambil dari alam. Konon ada tiga warna dasar yang umum terdapat pada sasirangan. Ada warna kuning dari kunyit dan temulawak (1), warna hijau dari daun pundak atau daun pandan (2) dan warna merah mengkudu, gambir ataupun kesumba (3). Ketiga warna ini memiliki khasiat masing masing dimana warna kuning dipercaya dapat mengobati penyakit kuning, warna hijau dipercaya untuk mengobati kelumpuhan, sedangkan warna merah dipercaya dapat mengobati obat sakit kepala hingga insomnia.

Seiring berjalannya waktu, meski masih dijumpai pembuat sasirangan untuk keperluan pengobatan, namun saat ini lebih banyak sasirangan yang digunakan untuk keperluan sandang. Sayangnya untuk mengejar target produksi, kini sebagian besar pembuatan sasirangan menggunakan pewarna kimia. Selain untuk menekan biaya pembuatan, penggunaan pewarna kimia juga dapat mempersingkat waktu pengerjaan. Karena alasan inilah mengenal Pak Redho merupakan kesempatan yang baik untuk menceritakan pada dunia tentang keajaiban pewarna alam dari pelosok nusantara.

Pak Redho memang berbeda. Sejak pertama membuka usaha, pemilik Sasirangan Warna Alam (Assalam) ini memiliki ketertarikan khusus untuk memanfaatkan pewarna alam sebagai ciri khas sasirangan miliknya. Meskipun beliau tahu kalau kalau sasirangan pewarna alam tidak begitu diminati di Banjarmasin, namun beliau tetap fokus mengedukasi pasar akan pentingnya kembali pada berbagai hal yang alami, dalam hal ini penggunaan bahan pewarna alami, mulai sampah kayu ulin, fermentasi tanaman indigo, secang, kunyit hingga tanaman yang sekilas mirip dengan buah rambutan, yakni Bixa Orellana.

Kabar baiknya, meski terbilang kurang laku di daerah sendiri, sasirangan warna alam karya Pak Redho malah diminati di kancah nasional maupun global. Selain sering pameran di luar kota, ada saja turis asing wara-wiri di media sosial Assalam. Selain membeli karya Pak Redho, mereka sengaja meluangkan waktu untuk belajar mengaplikasikan pewarna alam pada sasirangan.

Tak heran jika banyak pihak menawarkan kolaborasi dengan pengrajin sasirangan yang satu ini, tidak terkecuali dengan tim kami yang akhirnya berkolaborasi membuat rancangan pakaian untuk diperagakan di berbagai ajang fashion bergengsi di Indonesia, seperti Bekraf Festival, Pameran Adiwastra hingga Indonesia Fashion Week. Melalui pameran kreatif semacam ini, harapannya penggunaan dan kecintaan akan pewarna alam dapat bergaung kembali.

Menariknya lagi, Pak Redho selalu membatasi kapasitas produksi sasirangan miliknya. Saat mengetahui hal ini, bagi saya level beliau bukan lagi pengrajin, melainkan sudah naik tingkat menjadi seniman. Lebih tepatnya seniman yang visioner. Istilah mudahnya ia tahu batas, dalam hal ini tentu bukan hanya sekedar batas produksi saja. Setahu saya, Pak Redho merupakan pengajar di salah satu SMK di Banjarmasin.

Jadi selain memproduksi sasirangan, ia juga aktif dalam menyebar luaskan pengetahuan tentang kebaikan pemanfaatan pewarna alam untuk keberlangsungan produksi sasirangan yang lebih bersahabat dengan alam.

Menjaga Alam Dari Hal-Hal Mudah di Sekitar Kita

Apa yang dilakukan Pak Redho menginspirasi saya untuk lebih bijak dalam berpakaian. Meski belum bisa dikatakan sebagai pengikut aliran slow fashion, tetapi dua tahun ke belakang saya memang membatasi pengeluaran untuk membeli pakaian. Istilahnya beli pakaian kalau memang perlu, bukan semata-mata ingin ikut trend yang dalam waktu dekat akan segera diganti dengan koleksi season yang baru. Apapun alasannya, sampah pakaian masih menjadi masalah yang sulit untuk diurai.

Tas Purun Serbaguna

Tas Purun Serbaguna

Selain dibuat jatuh hati dengan sasirangan, saat di Banjarmasin, saya juga jatuh cinta pada tas lokal yang terbuat dari anyaman purun. Selain ringan dan kuat, tas ini terlihat nyeni sekali saat dipakai untuk aktivitas sehari-hari. Sayangnya saat dibawa jalan, saya menangkap banyak mata yang terheran-heran dengan kebiasaan saya ini.

Semacam kurang adanya rasa bangga produk lokal yang banyak dijual di pasar tradisional. Persis seperti popularitas topi purun dan tanggui yang kian lama kian meredup. Padahal pemanfaatan keanekaragaman produk alam khas nusantara seperti purun yang dijadikan topi ataupun tas dapat menjadi alternatif pengganti tas plastik sekali pakai yang ramah lingkungan.

Pilihan Tumbler dari Berbagai Souvenir Acara

Pilihan Tumbler dari Berbagai Souvenir Acara

Setahun ke belakang saya mulai rutin membawa tempat minum dan makan sendiri, termasuk sendok, garpu dan sedotan berbahan logam yang bisa digunakan hingga berulang kali. Prinsip saya sederhana saja, “Minimal dapat mengurangi konsumsi plastik atau produk berbahan plastik sekali pakai”.

Pemanfaatan Sampah Menjadi Pot Tanaman Pangan

Pemanfaatan Sampah Menjadi Pot Tanaman Pangan

Lebih dari itu, saya selalu berusaha untuk membuang sampah pada tempatnya. Biar lebih mudah untuk dipisah, dijual ataupun diolah kembali menjadi produk recycle yang lebih bermanfaat. Dalam skala rumah tangga, saya kerap menggunakan botol minuman untuk pot tanaman pangan. Pot untuk mint ini misalnya. Tinggal dipotong, dibersihkan, diisi tanah lalu diisi dengan mint kesayangan. Tak berapa lama usai dirawat, hasilnya bisa langsung didapat.

Disadari atau tidak, kebiasaan-kebiasaan baik yang cukup mudah semacam ini sejatinya merupakan wujud cinta kita pada bumi yang  selama ini kita tinggali. Hidup minimalis misalnya. Meski terkesan sederhana, namun gaya hidup seperti ini tentu dapat meminimalisir potensi sampah di kemudian hari. Bagi saya, Kita Jaga Alam, Alam Jaga Kita bukan slogan belaka. Saya percaya kalau kita menjaga alam, alam akan balik menjaga kita dengan cara yang mungkin tidak kita duga sebelumnya.

Mengenalkan Budaya Sadar Bencana pada Generasi yang Siap Untuk Selamat

Simulasi Rumah Tahan Gempa di Stand BPBD DIY

Simulasi Rumah Tahan Gempa di Stand BPBD DIY

Selain memiliki sumber daya alam yang berlimpah, perlu kita sadari bahwa bermukim di negeri cincin api memiliki konsekuensi potensi bencana alam yang wajib diwaspadai. Gempa bumi, tsunami, angin topan, erupsi gunung merapi, kebakaran hutan, banjir hingga tanah longsor bisa terjadi sewaktu-waktu tanpa memberi tahu kita terlebih dahulu.

Karena alasan inilah Budaya Sadar Bencana patut diajarkan sedini mungkin, minimal pada anggota keluarga kita. Kalau ditanya bagaimana cara termudah mengenalkan budaya sadar bencana maka saya akan menjawab dengan mengenali bahaya bencana terlebih dahulu. Apapun alasannya, mengenal bahaya suatu bencana dapat mengurangi resiko kerugian yang timbul karenanya. Persis seperti kampanye Kenali Bahayanya, Kurangi Resikonya yang dikeluarkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Edukasi Bencana Melalui Permainan

Edukasi Bencana Melalui Permainan

Kampanye BNPB yang satu ini juga mengingatkan saya untuk selalu belajar bencana gempa yang pernah melanda Jogja tahun 2006 silam. Kabar baiknya, kini sudah ada teknologi untuk membuat rumah yang lebih tahan gempa. Hal ini saya ketahui saat menemukan stand Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY di Pagelaran Bantul EXPO 2019. Bahkan saya sempat melihat ada permainan ular tangga yang disesain khusus sebagai wahana edukasi tanggap bencana bagi anak-anak. Menarik sekali!

Selain mengenalkan pondasi rumah yang lebih tahan gempa, gempa Jogja yang kebetulan melanda tempat tinggal saya tersebut ternyata juga mengenalkan cara penyelamatan diri paling efektif pada seluruh anggota keluarga saya. Tidak terkecuali pada nenek. Meski sudah sepuh (80 tahun), kini nenek tahu dimana tempat terbaik untuk berlindung semisal gempa kembali melanda.

“Kalau ada gempa, aku sembunyi di sini”, jawab nenek sembari memberi tahu sebuah ruangan kecil beratap porselen yang ada di dapur kesayangannya.

Ini baru bicara soal gempa ya, belum bencana lainnya. Kalau bicara soal proses penyelamatan diri dari bencana, mungkin cerita dari Liyangan ini patut untuk kembali didiskusikan.

Saat berwisata sejarah di area yang diduga sebagai salah satu perkampungan Jaman Mataram Kuno tersebut, pemandu saya sempat bercerita bahwa di lahan yang tertimbun material vulkanik Gunung Sindoro ini tidak satupun ditemukan tulang belulang manusia.

Yang ada hanya tulang kuda pertanda adanya peternakan di Jaman Mataran Kuno. Menarik bukan mendengar cerita tentang kemampuan nenek moyang kita dalam membaca tanda-tanda yang diberikan oleh alam? Sebuah kecakapan yang sesungguhnya patut kita pelajari dan lestarikan lebih lanjut.

Oiya, satu lagi! Saat berbicara tentang kampanye Kenali Bahayanya, Kurangi Resikonya besutan BNPB, ada satu benang merah yang kembali mengingatkan saya dengan Banjarmasin. Selain pernah mendapat kiriman makanan tradisional yang masih dibungkus dedaunan, saat survai potensi dua tahun silam, tim kami sempat menemukan sekolah dasar yang terletak di tepian sungai. SD Negeri Basirih 10 namanya.

Jukung Untuk Sekolah

Jukung Untuk Sekolah

Sebelum dibangun jalan darat, kegiatan belajar mengajar di SD Negeri Basirih 10 ditentukan oleh pasang surutnya air sungai. Tanya mengapa? Karena sungai menjadi satu-satunya jalan untuk mengakses sekolah dasar beralamatkan di Jalan Sungai Jelai RT 57 ini. Menariknya, tidak semua murid diantar orang tua atau naik kapal bermesin bersama bapak dan ibu guru.

Sebagian anak yang dirasa sudah mampu mendayung dibekali orang tuanya dengan jukung pribadi. Mereka sendiri yang mengayuh jukung dari rumah menuju sekolah, pun sebaliknya. Dengan mengenali jadwal pasang surutnya air sungai, baik guru maupun murid di SD Negeri Basirih 10 dapat meminimalisir resiko kecelakaan yang terjadi saat berangkat maupun pulang sekolah.

Benar kiranya, sudah saatnya kita perlu mengenal lebih dalam karakter alam di sekitar kita. Alasannya sederhana saja. Karena kita adalah bagian dari generasi yang Siap Untuk Selamat. Bukankah demikian, kawan-kawan semua?

Salam hangat dari Jogja,

-Retno-

Retno Septyorini

Perkenalkan, nama saya Retno Septyorini, biasa dipanggil Retno. Saya seorang content creator dari Jogja. Suka cerita, makan & jalan-jalan. Kalau ke Jogja bisa kabar-kabar ya..

YOU MIGHT ALSO LIKE

2 Comments

  • Arief
    September 21, 2019

    Optimis Indonesia tangguh 💪💪💪

    • Retno Septyorini
      September 21, 2019

      Siap mantap….💪💪💪💪 Terima kasih sudah berkunjung, Kak🙏

Leaver your comment

About Me

Wiloke

Retno Septyorini

Welcome to my creative blog │ Content creator @halomasin │Talk about figure, wastra, travel &culinary│ Happy living in Jogja

About Me