Menggaet Customer Baru dengan Branding Sustainable Value

Seingat saya, ini adalah kali pertama saya seantusias itu saat menunggu pesanan jamu. Semacam ada nostalgia 90-an yang hadir di era milenial karena ngingetin salah satu hobi saya di waktu kecil. Apalagi kalau bukan nungguin mbok jamu lewat di depan rumah. Rasa kunyit asamnya itu lho! Enaaak banget! Saking enaknya saya sering minta jatah tambahan dengan gelas sendiri untuk dinikmati di sore hari. Senang rasanya bisa jajan enak tanpa nyampah. Apalagi jika mengingat data KLHK yang menyebut kalau jumlah timbunan sampah nasional mencapai 5,6 juta ton/bulan bulan alias 86,8 juta ton/tahunnya. Duh!

Usai tiga windu berlalu, nggak disangka-sangka saya bisa nemu akun jamu dengan testimoni yang ciamik. Setelah browsing tipis-tipis ternyata saya sudah pernah membeli produk lain yang dijual oleh produsen jamu tersebut, yakni jahe merah bubuk. Karena merasa cocok dengan produk terdahulu, soal kualitas pun saya tak lagi ragu. Namanya Djamu Sriwedari. Sebuah brand jamu dari Agradaya yang menawarkan pengalaman jajan jamu seperti jaman dulu. Bisa pesan dengan gelas sendiri.

Senang rasanya nemu brand lokal yang mulai menerapkan praktik-praktik berkelanjutan (sustainable value) semacam ini. Bagi saya pribadi, kepedulian brand dalam meminimalisir timbulnya sampah produksi menjadi poin plus tersendiri. Akhirnya awal bulan ini beberapa botol bekas kue lebaran di tahun pertama pandemi yang saya beri label “Retno Madukismo 2 Liter” itu terisi dengan jamu terfavorit. Ternyata rasanya seenak jamu simbok-simbok jaman dulu. Bonus nggak nyampah pula. Senengnya jadi dobel-dobel.

Kalau sudah nemu brand yang seperti ini, biasanya sih susah untuk pindah ke lain “hati”. Apalagi semenjak menerapkan konsep mindfulness shopping. Saya jadi mikir agak panjang kalau mau belanja bulanan. Karena belinya sesuai kebutuhan, selain pengeluaran yang bisa ditekan, ujungnya jadi lebih tertarik pada produk lokal yang mulai menerapkan praktik-praktik berkelanjutan. Semacam ada keterikatan emosional dengan produk dalam negeri yang fokus mengolah bahan lokal jadi “naik kelas”. Sampai-sampai urusan penggosok punggung pun saya beralih ke bahan yang alami seperti gambas (loofah) kering ini.

Dari laman media sosial Agradaya diketahui bahwa salah satu mitra petani rempah mereka berasal dari Perbukitan Menoreh, khususnya di wilayah administrasi Kabupaten Kulon Progo, DIY. Bagi saya, penting untuk mengetahui hal-hal detail macam semacam ini. Bukankah semakin dekat asal-usul bahan dengan tempat produksi, makin sedikit pula jejak karbon yang dihasilkan dalam menyediakan produk pangan sampai di meja makan? Ditambah lagi mereka juga menawarkan pilihan kemasan yang lebih berpihak pada lingkungan seperti Djamu Sriwedari tadi.

Jangan salah ya teman-teman. Kini geliat ekonomi berkelanjutan seperti kepedulian dalam mengelola sampah produksi tidak hanya identik dengan brand besar atau luar saja. Pada kenyataannya pelaku UMKM kita sudah banyak yang memulainya. Di Jogja juga sudah banyak pelaku usaha yang tidak menyediakan kantong plastik sekali pakai. Jadi mau nggak mau konsumen harus membawa atau membeli tas belanja di sendiri. Toko roti langganan saya ini misalnya. Di Mediterranea Store, sourdough favorit saya dikemas dengan kantong roti berbahan kertas. Meski di awal perkenalan sempat beberapa kali lupa membawa kantong belanja, lama-kelamaan bawa kantong belanja sendiri jadi kebiasaan juga.

Saya sih “yes” dengan konsep toko yang tidak menyediakan kantong plastik sekali pakai. Selain menimbulkan efek jera secara ekonomi (karena kalau berulang kali lupa bawa tas belanja keluar uangnya lumayan juga), kebijakan bayar 300 rupiah per kantong plastik yang digunakan itu tidak sebanding dengan potensi kerusakan lingkungan yang mungkin terjadi akibat sampah dari kantong plastik itu sendiri.

Apalagi jika banyak orang berpikir “halah cuma 300 rupiah ini!”. Bisa-bisa akan timbul peradaban kantong plastik sekali pakai. Kan seram. Takutnya ada yang masih berfikiran kalau tanggung jawab kita (baik sebagai produsen ataupun konsumen) itu sebatas membayar iuran sampah saja, lalu selesai. Padahal mah enggak, ya? Masih panjang jalan kita untuk memiliki Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang ideal sehingga dapat berfungsi secara maksimal. Perlu energi dan sinergi yang baik untuk mewujudkannya, termasuk dari kita yang sebagian diantaranya merupakan penyetor sampah skala rumah tangga.

Tanggung Jawab Kita Tidak Sebatas Membayar Iuran Sampah

Sasirangan Warna Alam Karya Pak Redho (Dokpri)
Sasirangan Warna Alam Karya Pak Redho (Dokpri)

Lain Jogja, lain pula cerita dari Tanah Banua, sebutan lain untuk Kota Banjarmasin. Sewaktu ada keperluan kerja di sana, saya pernah bertemu dengan Pak Redho. Pelopor pembuatan sasirangan ramah lingkungan yang memilih memanfaatkan pewarna alam untuk mewarnai semua sasirangan yang dibuatnya. Ada yang diwarnai bubuk kunyit, secang, biji rambutan hutan, fermentasi tanaman indigo hingga berbagai limbah kayu yang mudah ditemui di Banjarmasin.

Meski di awal produksi kurang diterima di pasar lokal, namun kreasi Pak Redho malah dilirik di pasar yang lebih luas. Tidak heran jika sasirangan yang dibranding dengan nama Assalam itu kerap menghiasi pameran fashion bergengsi mulai dari Adiwastra, Inacraft hingga Indonesia Fashion Week. Selain soal selera, saya yakin sebagian pembeli Sasirangan Assalam merupakan konsumen yang tertarik pada brand yang mengedepankan praktik-praktik berkelanjutan, termasuk perihal dampak pengelolaan sampah pada lingkungan.

Apalagi jika mengingat data dari The Sustainable Forum yang menyebut pada 2030 nanti konsumsi pakaian dunia diperkirakan meningkat dari 62 juta menjadi 102 juta ton. Industri mode secara global juga menyumbang sekitar 10% dari total emisi karbon dunia, serta 20% dari limbah air dunia. Kebayang bukan besarnya potensi kerusakan lingkungan yang ditimbulkan dari sampah pakaian jika kita tidak menerapkan konsep mindfulness shopping mulai dari sekarang?

Kalau brand sudah bicara soal sustainable value, rasa-rasanya penerapan konsep fair trade semakin di depan mata. Saya meyakini fair trade merupakan salah satu alternatif dalam mengendalikan menjaga komoditi bumi, harga mentah dari petani (pengrajin), pola konsumsi hingga proses produksi dari brand itu sendiri. Tengok saja brand-brand lokal yang brandingnya sudah baik. Biasanya mereka sudah menggandeng jasa Pengelolaan Sampah professional seperti Waste4Change misalnya.

Waste4Change merupakansalah satu Waste Management Indonesia yangmelayani pengelolaan sampah mulai dari tingkat individu hingga brand besar. Untuk tingkat individu teman-teman dapat memilih layanan Personal Waste Management. Melalui program Recycle With Us, Waste4Change memastikan sampah anorganik dari teman-teman tidak lagi berakhir di TPA atau tempat lain yang bukan semestinya. Sedangkan untuk skala yang lebih besar seperti perusahaan, Waste4Change menawarkan layanan Extended Producer Responsibility Indonesia yang dirancang untuk meningkatkan daur ulang materi dari semua sampah yang dihasilkan dari perusahaan terkait. Menarik, bukan?

Akhir kata, sudahkah brand favorit teman-teman menunjukkan kepedulian pada praktik-praktik berkelanjutan seperti mengelola sampah hasil produksi? Semoga sebagian sudah ya. Dan ke depannya akan semakin bertambah.

Salam hangat dari Jogja,

-Retno-

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Blog Waste4Change Sebarkan Semangat Bijak kelola Sampah 2021

Nama Penulis: Retno Septyorini

Retno Septyorini

Perkenalkan, nama saya Retno Septyorini, biasa dipanggil Retno. Saya seorang content creator dari Jogja. Suka cerita, makan & jalan-jalan. Kalau ke Jogja bisa kabar-kabar ya..

YOU MIGHT ALSO LIKE

No Comment

Leaver your comment