Menelisik Potensi Ekonomi Kreatif dari Helaian Batik Kasumedangan

Meski lebih dikenal sebagai produsen tahu dan ubi bercitarasa legit bak madu, ternyata Kabupaten Sumedang juga memiliki beragam motif batik yang begitu menarik untuk ditelisik. Selain menawarkan berbagai motif kenamaan seperti motif Kuda Renggong, Kereta Nagapaksi dan motif Mahkota Binokasih, kawasan “cantik” yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Indramayu, Garut, Majalengka, Bandung dan Subang ini juga memiliki motif bercorak dedaunan yang begitu khas seperti motif Hanjuang, Bunga Teratai hingga motif Daun Boled yang tidak lain merupakan daun dari ubi cilembu yang begitu tersohor itu. Hmm, adakah yang sudah tahu?

Motif Batik Boled Khas Sumedang (Sumber: batiksaca.blogspot.com)

Melihat signifikannya pertumbuhan sektor ekonomi kreatif (ekraf) dalam beberapa tahun terakhir membuat sektor ekonomi yang satu ini seringkali digadang-gadang sebagai salah satu pendukung sekaligus kekuatan baru perekonomian nasional kita. “Ekonomi kreatif adalah masa depan Indonesia”, begitu kira-kira ungkapan yang kerap diutarakan oleh banyak tokoh kenamaan dalam berbagai forum diskusi.

Sektor ekonomi yang bertumpu pada kreasi dan inovasi para entrepreneur ini dinilai mampu memberi nilai tambah pada berbagai lini produk ataupun layanan jasa karya anak bangsa, baik dari segi fungsi, nilai ekonomi hingga dampak positif bagi khalayak ramai. Menariknya, dari enam belas klasifikasi sub sektor ekonomi kreatif yang ada saat ini, sub sektor fashion berhasil menduduki peringkat pertama produk ekraf yang diekspor Indonesia dengan persentase mencapai 54,54%. Jadi jangan heran jika kawan-kawan mendapati banyak brand lokal kita yang wara-wiri di berbagai ajang fashion bergengsi di luar negeri.

Uniknya, dari sekian banyak produk fashion lokal yang gaungnya sudah “menggema” lintas benua tersebut, beberapa diantaranya ternyata fokus mengangkat eloknya pesona kain tradisional khas nusantara. Batik misalnya. Tentu ada banyak alasan mengapa warisan budaya yang motifnya banyak ditemukan di berbagai tembok candi ini masih menjadi komoditi ekonomi yang cukup ciamik sekaligus banyak dilirik oleh para pecintanya.

Meroketnya popularitas batik tentu tidak lepas dari penobatannya sebagai Masterpieces of Oral and Intangible Cultural Heritage of Humanity oleh UNESCO pada tahun 2009 lalu. Selain melambungkan namanya pada jajaran kain lokal bertaraf internasional, penghargaan UNESCO yang satu ini dirasa berhasil memantik kesadaran masyarakat luas untuk lebih menghargai sekaligus melestarikan keberadaan kain tradisional “bercitarasa” global ini.

Saking happeningnya, ragam produk fashion berbahan batik seringkali menghiasi berbagai event fashion bergengsi mulai dari Inacraft, Adiwastra, Jogja International Batik Binneale, Jakarta Fashion Week hingga ajang kenamaan Indonesia Fashion Week. Tidak mengherankan lagi bukan jika batik dinilai sebagai salah satu produk lokal yang begitu potensial untuk bersaing di kancah global? Selain menawarkan kualitas yang oke punya, lengkap dengan filosofi yang patut diceritakan pada dunia, negeri gemah ripah loh jinawi ini juga menawarkan ragam batik nusantara dengan corak pembeda yang beraneka rupa. Toraja dengan corak elegan pada Kain Saritanya, Jogja dengan filosofi apik pada Batik Hitam Putihnya, Cirebon dengan pesona indah Batik Mega Mendungnya, Lasem dengan keelokan Batik Tiga Nagarinya hingga Sumedang yang dikenal luas dengan corak Kuda Renggongnya.

Lebih Dekat dengan Motif Kuda Renggong, Inspirasi Motif Batik Dari Sebuah Atraksi Seni

Kuda Renggong merupakan salah satu seni pertunjukan khas Sumedang dengan melibatkan kuda-kuda terlatih untuk beratraksi di depan khalayak ramai. Pertunjukan yang diiringi alunan irama dari berbagai alat musik tradisional seperti dog-dog, kendang, angklung dan bedug ini umum dihelat sebagai bagian dari berbagai acara penting di Sumedang.

Dilansir dari CNN Indonesia, kata renggong berasal dari rereongan yang berarti gotong royong. Sesuai dengan namanya, penampilannya atraksi seni yang berawal dari Desa Cikurubuk, Kecamatan Buahdua, Sumedang ini memang memerlukan mekanisme gotong royong yang baik antar sesama pemain, mulai dari kuda sebagai aktor utama, penari atau pesilat yang nantinya akan berinteraksi dengan kuda hingga pemain musik yang akan menjadi pengiring nada di sepanjang berlangsungnya acara.  

Kolaborasi unik dalam atraksi kuda menari ini tentu membutuhkan effort yang terbilang tinggi. Bayangkan saja, latihan gerakan dasar untuk kuda penarinya saja dilakukan selama lima bulan lamanya. Pengenalan ini hanya mencakup pembiasaan kuda dengan ketukan musik pengiringnya. Selanjutnya, barulah kuda-kuda penari ini akan dikenalkan dengan filosofi saruas sabuku yang bertujuan untuk menciptakan harmonisasi kelenturan kaki, gerakan tubuh dan keseimbangan kepala.

Uniknya, saat pertunjukan ini berlangsung, baik kuda maupun penari akan diberi hiasan bak penari ronggeng. Konon selain berarti gotong-royong, kata renggong merupakan metatesis dari ronggeng yang tidak lain merujuk pada pertunjukan seni tradisional dengan penari utama wanita berkalung selendang. Karena itulah semua penari yang berkontribusi dalam atraksi ini akan didandani selayaknya aktor utama dalam sebuah pertunjukan.

Seiring berjalannya waktu, kesenian khas Sumedang yang awalnya hanya ditampilkan pada acara khitanan, penyambutan hingga perayaan berbagai moment membahagiakan ini akhirnya menyebar ke seantero Jawa Barat. Jadi jangan heran jika suatu saat nanti kawan-kawan bertemu atraksi Kuda Renggong di luar Kabupaten Sumedang.

Menariknya, selain menjadi bagian dari ekspresi seni, pertunjukan Kuda Renggong juga menunjukkan berbagai nilai positif yang patut diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari mulai dari memupuk sikap kerja keras, pantang menyerah, tekun, tertib hingga melatih kerjasama yang baik antar sesama pemain.

Motif Batik Kuda Renggong Khas Sumedang (Sumber: batiksaca.blogspot.com)

Filosofi baik inilah yang akhirnya “ditangkap” para local champion di Sumedang dalam menciptakan salah satu batik motif paling populer di seantero Sumedang. Apalagi kalau bukan batik motif Kuda Renggong. Guna memperoleh estetika produk yang lebih sedap saat dipandang orang, pengrajin Batik Kasumedangan (sebutan lain untuk Batik Sumedang) kerap mengkombinasikannya dengan berbagai corak khas Sumedang lainnya, seperti Daun Hanjuang, Bunga Wijayakusuma hingga Daun Boled yang tidak lain merupakan nama lain dari daun ubi cilembu yang begitu tersohor itu.

Uniknya, selain menjadi bagian dari warisan budaya lintas jaman, berbagai motif batik yang berhasil divisualisasikan secara estetis oleh para seniman batik ini selalu menyimpan relasi semiotik yang sungguh menarik untuk ditelisik. Motif teratai misalnya. Seperti kita ketahui bersama, bunga teratai merupakan tumbuhan berbunga cerah berdaun lebar yang hidup di permukaan air yang tenang. Motif yang dikenal luas sebagai salah satu motif batik pesisiran ini menggambarkan pandangan akan keindahan rupa perempuan yang tidak hanya bertumpu pada fisiknya saja, melainkan dinilai pula dari ketegaran dan kekuatannya dalam menopang kehidupan.

Selain itu motif teratai juga digunakan untuk menarasikan kehidupan perempuan pesisir yang kebanyakan merupakan betsuamikan seorang nelayan. Dalam hal ini teratai merupakan gambaran dari perempuan yang kuat, mandiri serta mampu menopang semua sendi kehidupan keluarganya. Menarik bukan mendalami berbagai makna yang tersirat dari motif Batik Kasumedangan?

Sayangnya, dibalik apiknya berbagai filosofi Batik Kasumedangan masih menyimpan beberapa catatan yang kiranya patut untuk diperhatikan. Pertama menyoal perihal coletan motif yang berukuran besar sehingga terbilang agak menyulitkan untuk dijadikan bahan dasar produk fashion selain baju ataupun rok. Dari beberapa referensi Batik Sumedang yang saya temukan via online, berbagai motif batik yang ada kurang estetis untuk dijadikan produk fashion berukuran kecil hingga sedang seperti aneka model gelang, anting, cluth, dompet, sandal ataupun sepatu.

Disadari ataupun tidak, pola coletan dengan motif berukuran besar dan rapat seringkali menyulitkan untuk dieksekusi menjadi oadu padan busana yang menarik untuk dilirik. Kalau menurut beberapa kawan desainer tekstil dan fashion yang pernah saya temui saat bertugas sebagai awak media di salah satu program pengembangan potensi ekonomi kreatif lokal di daerah sempat mengatakan bahwasanya semakin sederhana desain yang menempel pada suatu kain umumnya cenderung menimbulkan kesan yang lebih elegan, baik saat dikenakan sebagai helaian produk tanpa jahitan maupun saat “disulap” menjadi produk fashion kekinian.

Jika pengrajin batik Sumedang dapat mengkonsep motif batik yang sesuai dengan jenis produk fashion yang nantinya akan dibuat, niscaya kualitas produk fashion ataupu craft handmade asli dari Sumedang dapat lebih leluasa untuk masuk ke pasar yang lebih luas, baik dalam skala lokal, nasional maupun internasional. Misalnya jika batik akan dibuat menjadi dompet, cluth ataupun sepatu maka ukuran motif pada batik harus disesuaikan dengan potongan desain produk yang akan dibuat.

Begitu pula soal pewarnaan batiknya. Jika dilihat secara seksama, pewarnaan Batik Kasumedangan masih terkesan biasa-biasa saja. Padahal kalau ditelisik lebih jauh lagi, keanekaragaman hayati di negeri kita itu menempati posisi ke-2 terbesar di dunia lho! Artinya, ragam pewarna alam kita terbilang begitu melimpah sehingga kesempatan kita untuk mengeksplore pewarna alam seharusnya semakin mudah dan murah.

Jika biaya coba-coba dalam.metode pewarnaan menjadi hal yang dipersoalkan, ada salah satu alternatif termudah yang patut untuk dicoba. Apalagi kalau bukan memanfaatkan sisa kayu pengrajin senapan yang ada di Desa Cikereuh dan Desa Cipacing untuk dijadikan pewarna alam untuk Batik Kasumedangan. Dengan metode pewarnaan sederhana, limbah kayu sawo, mahoni ataupun sonokeling yang banyak digunakan sebagai bahan pembuatan senapan dapat dijadikan pewarna alami untuk pakaian. Selebihnya, tinggal disesuaikan saja dengan keanekaragaman hayati yang ada di Sumedang.

Jika didesain dengan benar, saya percaya nantinya Batik Sumedang dapat menjelma menjadi buah tangan andalan yang banyak dicari wisatawan sekaligus sebagai bagian dari sub sektor ekraf khas Sumedang yang patut diperhitungkan.

Salam hangat dari Jogja,

-Retno-

Note: 16 sub sektor ekonomi kreatif meliputi sub sektor arsitektur (1), desain interior (2), desain produk (3),desain komunikasi visual (4), fashion (5), kriya (6), kuliner (7), fotografi (8), musik (9), penerbitan (10) periklanan (11), seni pertunjukan (12), seni rupa (13), aplikasi dan pengembang permainan (14), televisi dan radio (15), film, animasi dan video (16).

Sumber Referensi:

Batik Saca Batik Sumedang; diakses dari http://batiksaca.blogspot.com/2012/06/batik-saca-batik-sumedang.html

BPNB Bandung; Kuda Renggong; diakses dari https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbjabar/kuda-renggong/

Buku OPUS Creatif Economy Outlook 2019 yang dikeluarkan oleh Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia

CNN Indonesia; 2018; Kuda Renggong Jadi Primadona di Sufi Music Festival 2018 ; diakses dari https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20181002194951-269-335139/kuda-renggong-jadi-primadona-di-sufi-music-festival-2018

Prawira, N. G; 2018; Budaya Batik Dermayon; PT. Sarana Tutorial Nurani Sejahtera; Bandung; halaman 270

Poster Lomba

Artikel ini diikutsertakan dalam Ajang Writingthon Jelajahi Sumedang 2020 yang diselenggarakan atas kerjasama Pemerintah Kabupaten Sumedang, Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Bitread

Retno Septyorini

Perkenalkan, nama saya Retno Septyorini, biasa dipanggil Retno. Saya seorang content creator dari Jogja. Suka cerita, makan & jalan-jalan. Kalau ke Jogja bisa kabar-kabar ya..

YOU MIGHT ALSO LIKE

No Comment

Leaver your comment