Melirik Potensi Ekonomi Kreatif Lokal di Yogyakarta

Berbicara tentang potensi ekonomi kreatif lokal yang berkelanjutan, mau tak mau kita harus melirik kembali apa saja produk lokal yang kita punya. Sebagai negara dengan keanekaragaman hayati terbesar ke-2 di dunia Indonesia jelas memiliki sumber daya alam yang begitu melimpah, termasuk di dalamnya potensi pangan berbahan lokal yang begitu besar.

 

Jika ingin menelisik dengan lebih teliti, niscaya kawan-kawan dapat menemukan beragam inovasi kuliner yang bertumpu pada bahan pangan lokal (yang sedihnya masih kerap disepelekan) di berbagai pameran yang kini banyak digelar secara kontinyu oleh berbagai pemangku kepentingan di daerah. Satu diantaranya adalah Gelar Produk Pelaku Makanan, Minuman, Craft dan Fashion Istimewa yang dihelat atas kerjasama oleh Dinas Koperasi UKM DI Yogyakarta dan Bisma (Bisnis Jasa Makanan) Universitas Ahmad Dahlan pada Hari Selasa, 30 April 2019 kemarin hingga sore ini.

Pagi ini misalnya, dimana saya mengawali hari dengan nyemil thiwul panggang, inovasi terbaru yang berhasil dilakukan oleh warga Mangunan. Itu lho, sebuah kawasan berjuluk dataran tingginya Jogja yang terletak di daerah Imogiri. Saya nemu cemilan tradisional kekinian yang baru saja saya sebutkan tadi, yakni Gelar Produk Pelaku Makanan, Minuman, Craft dan Fashion Istimewa yang dihelat pada Hari Selasa, 30 April 2019 kemarin hingga sore ini.

Tidak disangka-sangka, rasa thiwul panggang ini boleh juga lho! Paduan thiwul dengan gurihnya kelapa dan manisnya gula yang pas di lidah ini mampu memghasilkan inovasi produk yang renyah, empuk tapi tidak bikin eneg. Selain rasanya yang enak, kemasan produk khas Mangunan ini terbilang baik. Sudah ada sekatnya. Jadi kalau tidak habis tinggal “dikunci” kembali. Cocok dijadikan cemilan maupun buah tangan saat berkesempatan dolan lagi ke Jogja.

Maaf, ini baru permulaannya saja. Pada gelaran pameran yang dihelat di Kampus 4 Universitas Ahmad Dahlan kali ini saya mencatat banyak inovasi pelaku UKM Jogja yang sukses bikin saya jatuh hati. Saya rasa pendampingan UMKM yang dilakukan oleh Dinas Koperasi UKM DI Yogyakarta melalui PLUT-KUMKM DI Yogyakarta ini sudah cukup baik. Selain melakukan pendampingan melalui berbagai kegiatan pelatihan, pemerintah melengkapinya dengan gelaran pameran secara kontinyu di berbagai spot terbaik di Jogja. Pemerintah tahu betul bahwa mengembangkan potensi ekonomi kreatif lokal akan memperkuat pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa yang akan datang.

Karena sengaja datang ke pameran untuk makan siang di tengah cuaca Jogja sedang panas-panasnya, tentu saja selera saya tertuju pada aneka deret minuman segar yang berjajar di sepanjang stand pameran. Siang kemarin saya memilih untuk mencicipi Cao Kelor Pegagan sebagai pelepas dahaga di stand Bu Shita.

Sebagai penikmat sayur, saya dibuat kaget dengan citarasa cao seharga Rp 5.000 ini. Gimana enggak ya, lawong rasa langu khas daun kelor hilang tak berbekas di cao ini. Meski sedang naik daun, pun menawarkan segudang manfaat bagi kesehatan, tapi kalau ngolahnya salah sedikit saja biasanya anak kekinian enggan untuk mencicipinya.

“Karena di sepanjang pameran antrian pembeli Cao Kelor Pegagan lumayan banyak, pasti keren sekali ini formulatornya!”, batin saya dalam hati.

Ternyata tidak hanya rasanya saja yang enak, bisnis ini juga dibuat enak oleh pelakunya. Mengangkat kearifan lokal, yakni tanaman kelor yang banyak ditanam di daerah Pakem, Bu Fat berhasil membuat formulas cao yang pas. Selanjutnya bisnis ini dikembangkan dengan apik melalui marketing yang tersebar di beberapa spot di Jogja. Salah satunya yang dilakukan oleh Ibu Shita di acara Gelar Produk Pelaku Makanan, Minuman, Craft dan Fashion Istimewa ini.

“Jadi kami itu tergabung dalam sebuah forum komunikasi, Mbak. Selain jual di event, biasanya kami berjualan di “Pasar Sehat” yang sekarang banyak digelar secara kontinyu oleh berbagai komunitas di Jogja. Biasanya saya juga berjualan di Pasar Kamisan. Kalau pas ke sana, mampir ya, Mbak”, terang Bu Shita dengan ramah.

Karena perut sudah mulai “keroncongan”, usai nyeruput cao saya pun melipir ke sebelah untuk memesan olahan sotong di Kedai Suami Istri. Harganya 10.000 saja. Saat saya tanya kenapa harganya murah, eh, mbaknya langsung menjawab:

“Biar semua bisa beli Mbak. Soalnya dulu waktu saya kecil, saya kepengen banget makan seafood tapi nggak kesampaian karena harganya tidak terjangkau di kantong saya. Makanya sekarang saya jualnya porsi kecil saja. Biar semua bisa ngerasain sea food yang enak dengan harga yang terjangkau”.

Duh, baru kali ini saya jajan sambal trenyuh dengan cerita penjualnya”.

Di pameran kali ini saya juga mengajak ibu dan bapak. Setelah berkeliling, mereka berdua memutuskan untuk mencicipi es jeruk nipis dan kelapa muda di salah satu stand pameran. Lagi-lagi harga per cup sedangnya hanya Rp 5.000 saja. Karena saya termasuk golongan anak pinginan, saya pun memesan es kelapa muda, hehe.

Saat menunggu pesanan sotong matang, saya melipir ke salah satu stand makanan lain yang siang itu cukup ramai dikunjungi. Namanya Dimsum Yummy. Sesampainya di antrian saya, ternyata stand ini sudah habis-habisan. Saya hanya kebagian beberapa variannya saja, yakni hakaw udang, dimsum isi rumput laut dan kepiting. Tak berapa lama kemudian, kedua kudapan pesanan saya sudah nangkring di atas meja makan yang tersedia di sisi barat pameran.

Meski harganya murah, olahan sate sotongnya enak. Dagingnya empuk, saus lada hitamnya juga oke punya. Nggak kemanisan, nggak kepedesan juga. Dimsum Yummy-nya juga enak. Yang tebal isiannya,bukan lipatan tepungnya. Kabar baiknya lagi, ternyata dimsum ini bikinan sendiri lho! Bukan hasil franchaise dari orang lain. Owner Dimsum Yummy langsung mengolah bahan seafood di Jogja.

Karena masih merasa lapar, saya pun berkeliling kembali untuk memesan kudapan lainnya. Astaga, ternyata di sana ada stand mides khas Pundong. Itu lho, olahan mie kenyal yang terbuat dari singkong. Sebuah inovasi dari bahan lokal yang kini sudah menjadi kuliner khas Jogja yang banyak diidamkan oleh para wisatawan.

“Dimanapun lokasi kedai mides di Jogja, umumnya bahan baku mie ya di ambil dari Pundong, Mbak”, ujar Bu Linda. Penjual mides yang saya temui siang kemarin.

“Saya basicnya katering Mbak. Tapi kalau ada event, saya biasa jualan mie ini. Lumayan untuk kegiatan”, tambahnya sembari tersenyum.

Dari Bu Linda inilah saya baru tahu kalau membuat mie ini ada takarannya. Untuk mie goreng, mie yang digunakan sekitar 1,5 ons/porsi, sedangkan untuk mie rebus lebih sedikit, yakni 1 ons per porsi. “Saya tidak bawa timbangan sih mbak, tapi takarannya sudah saya kira-kira pakai mangkuk kecil ini”.

Karena sedang tidak mengantri, sekitar 10 menit kemudian, pesanan saya sudah siap santap. Seperti biasa, harganya sanhat terjangkau. Hanya Rp 10.000 saja. Saat ditanya mengapa harganya sangat murah, lagi-lagi saya mendengar jawaban yang menyentuh hati, “Saya nggak tega jual mahal, Mbak. Tidak apa-apa untungnya sedikit, yang penting laris”.

Saya pun tersenyum mendengarnya. Para penjaja kuliner tradisional ini sejatinya hanya butuh support dari kita, yang cara termudahnya dapat dilakukan dengan  menikmatinya, lalu menyebarluaskan di lini media sosial yang kita punya. Dengan demikian tidak hanya roda perekonomian saja yang dapat bergulir dengan baik, namun nama sentra pembuatannya pun akan naik seiring dengan naiknya pamor khas daerah tersebut. Bayangkan saja jika 30% bahan pangan lokal berhasil dibuat inovasi produk makanan khas nusantara, bisa dibayangkan bukan seberapa dampaknya untuk perkembangan ekonomi kreatif yang dapat dinikmati local champion kita?

Ini baru inovasi produk kulinernya saja. Belum pemanfaatan keanekaragaman hayati Indonesia yang dimanfaatkan sebagai produk kesehatan ataupun yang diaplikasikan untuk produk craft dan fashion karya anak bangsa. Ada yang memanfaatkan dedaunan sebagai pewarna kain yang menghasilkan produk ecoprint ramah lingkungan seperti Mulva Eco Print, ada pula yang berhasil memikat pelanggannya melalui jaminan ukuran seperti yang dilakukan oleh brand Soedrajad Batik.

Saya baru tahu, kalau ada produk Jogja yang menerapkan sistem demikian. “Jadi nanti kalau ada konsumen yang salah memilih ukuran saat membeli produk kami, maka kami akan memberikan garansi dengan mengganti produk serupa yang sesuai dengan ukuran pembeli. Semuanya free, Mbak”, terang Mas Raka, penjaga stand Soedrajad Batik yang kebetulan berprofesi sebagai fotografer sekaligus videografer ini.

“Selain menawarkan desain yang unik, kami juga memproduksi kain batik yang sangat eksklusif, Mbak. Kalau diperhatikan, semua kain batik buatan kami ada logo SD-nya, singkatan dari nama brand kami”.

Eh, iya ya, Mas! Ujar saya setengah tidak percaya melihat ada brand lokal dari Imogiri yang sudah mempola kain sedetail ini. Kalau pelaku usaha sudah berinovasi sejauh ini, kalau kita mampu, jangan lupa untuk ngralisi ya man-teman. Kita maju sama-sama. Kitanya bangga pakai produk Indonesia, pelaku usahanya bahagia karena karyanya diapresiasi oleh kita semua. Bukankah salah satu kunci bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai karya produksi negeri sendiri?”.

Salam hangat dari Jogja,

-Retno-

Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Blog “Gelar Produk UKM” yang Diselenggarakan Oleh Dinas Koperasi UKM DI Yogyakarta.

Tags:

Retno Septyorini

Perkenalkan, nama saya Retno Septyorini, biasa dipanggil Retno. Saya seorang content creator dari Jogja. Suka cerita, makan & jalan-jalan. Kalau ke Jogja bisa kabar-kabar ya..

YOU MIGHT ALSO LIKE

No Comment

Leaver your comment

About Me

Wiloke

Retno Septyorini

Welcome to my creative blog │ Content creator @halomasin │Talk about figure, wastra, travel &culinary│ Happy living in Jogja

About Me