Mari Menjadi Konsumen Cerdas di Era Digital

Si Koncer (Logo Konsumen Cerdas)

Si Koncer (Logo Konsumen Cerdas)  http://www.harkonas.id/

Di era digital seperti saat ini, membuka instastory media sosial sudah menjadi agenda harian yang sulit dilewatkan. Selain untuk melihat perkembangan berita, cek instastory biasa dilakukan untuk mencari inspirasi, melihat aktivitas terkini kawan-kawan atau sekedar kepo-kepo online shop langganan, hingga di suatu siang saya tertegun melihat update instastory seorang kawan yang kira-kira berbunyi demikian:

“Dikarenakan isi lemari gue sudah terlalu penuh, kalau ada info tentang komunitas yang bersedia menyalurkan baju pantas pakai atau ada pihak yang membutuhkan baju pantas pakai please DM gue ya! Gue merasa bersalah banget ini melihat isi lemari yang tumpah ruah karena kebanyakan belanja. Terima kasih!”, begitu kira-kira isi instastory salah satu kawan saya di awal tahun ini. Sebuah cerita penyesalan yang datang belakangan akibat kurang bijak dalam membelanjakan penghasilan.

Bisa jadi kita pernah menjadi satu diantaranya. Sering membeli barang yang kurang begitu dibutuhkan karena merasa sayang kalau sampai melewatkan promo yang dirasa begitu menggiurkan. Belanja online memang menarik. Selain tidak perlu antri dan tidak perlu keluar uang transportasi, kini berbagai brand seolah berlomba memberikan pelayanan terbaik melalui berbagai promo menarik hingga layanan after sales yang begitu ciamik.

Pesatnya perkembangan teknologi yang terjadi saat ini memang menciptakan berbagai kemudahan bagi masyarakat untuk berbelanja secara online. Selain banyak promo, kini belanja sambil tiduran pun bisa. Tinggal klik barang yang ingin diinginkan, transfer, beres. Namun dibalik semua kemudahan berbelanja yang tersedia di era digital, terbersit sebuah pertanyaan mendasar yang mungkin sesekali waktu pernah mengetuk nurani kita sebagai anak manusia:

“Apakah benar kemudahan berbelanja di era digital kali dapat sebanding dengan kesadaran kita untuk mengambil bagian sebagai konsumen cerdas yang berperan positif bagi kemajuan ekonomi kreatif bangsa kita tercinta?”.

Mari Menjadi Konsumen Cerdas di Era Digital

Mari Menjadi Konsumen Cerdas di Era Digital (Retno Septyorini)

Karena Konsumen Cerdas di Era Digital Tidak Sekedar Terbebas Dari Penipuan Online Shop Abal-Abal

“Konsumen yang cerdas tentunya hanya membeli produk-produk yang sesuai ketentuan dan mengutamakan penggunaan produk dalam negeri. Penggunaan produk dalam negeri yang sesuai ketentuan akan meningkatkan daya saing dan perekonomian bangsa, yang pada gilirannya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat”, Menteri Perdagangan Republik Indonesia, Enggartiasto Lukita.

Ada ruang kemungkinan dimana kita pernah merasa menjadi bagian konsumen cerdas di era digital karena berhasil membeli barang dambaan dengan harga lebih murah, meski di akhir cerita banyak diantaranya yang dipakai satu dua kali saja. Bisa jadi pula kita pernah merasa menjadi bagian konsumen cerdas di era digital karena berhasil mengikuti mode terkini dengan penawaran harga terbaik, meski banyak diantaranya teronggok begitu saja di suatu sudut rak ataupun lemari.

Hasilnya cukup bisa ditebak. Tumpukan barang berhasil menggunung tetapi porsi tabungan ataupun investasi masa depan berangsur menipis. Belum lagi timbunan sampah yang mungkin dihasilkan dari barang hasil belanjaan kita. Padahal yang dimaksud dengan konsep konsumen cerdas tidak melulu bertumpu pada murahnya harga saat mengantongi barang idaman. Karena selain memahami hak dan menuntaskan kewajiban yang telah disepakati bersama, konsumen cerdas di era digital tidak akan malu untuk mengambil bagian sebagai agen of change agar produk lokal kian mengglobal.

Bangga Menggunakan Produk Lokal

Bangga Menggunakan Produk Lokal (Dokumentasi Retno Septyorini)

Meski belanja masuk dalam ranah pribadi, namun disadari atau tidak, pada kenyataannya perilaku konsumen ini sangat berperan dalam meningkatkan potensi ekonomi kreatif lokal yang berujung pada percepatan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Bukan rahasia umum lagi bukan kalau geliat produk kreatif yang diproduksi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di Indonesia kini mulai dilirik kawula muda? Dan bukan menjadi rahasia lagi bukan bahwasanya berbagai brand lokal tersebut kini dapat dengan mudah ditemukan melalui media sosial, termasuk di berbagai platform marketplace digital?

Selain diunggah melalui beragam digital market, pemerintah juga bersinergi dalam meningkatkan kualitas produk unggulan daerah melalui berbagai program terkait seperti KEMKOMINFO dengan program 1 juta domain gratis untuk pelaku UMKM di seluruh wilayah Indonesia, BEKRAF dengan program Inovatif dan Kreatif melalui Kolaborasi Nusantara (IKKON), KEMENDAG dengan Designers Dispatch Service (DDS) dan berbagai program ataupun regulasi lain yang mendukung percepatan perkembangan ekonomi kreatif berbasis lokal. Dari berbagai kreasi terbaru karya anak bangsa inilah kejelian kita sebagai konsumen cerdas mutlak dibutuhkan.

Parameter Konsumen Cerdas

Parameter Konsumen Cerdas (Sumber:  http://harkonas.id/sosialisasi.php  )

Bagi saya pribadi konsumen cerdas di era digital bukan hanya mereka yang terbebas dari jerat penipuan online shop abal-abal. Lebih dari itu, konsumen cerdas wajib melakukan double cek sebelum membeli, memastikan produk berlogo Standar Nasional Indonesia (SNI) yang memberikan kepastian kesehatan, keamanan dan keselamatan konsumen bahkan lingkungan (K3L) hingga jeli melihat label dan manual garansi berbahasa Indonesia. Selain itu konsumen cerdas sudah seharusnya membeli barang atau layanan jasa sesuai kebutuhan, bukan keinginan. Satu lagi, konsumen cerdas hendaknya juga mencintai karya anak bangsa. Meski terkesan sepele, ternyata menggunakan produk dalam negeri mendatangkan banyak manfaat seperti yang terlihat pada infografik berikut ini:

Manfaat Mengunakan Produk Dalam Negeri

Manfaat Mengunakan Produk Dalam Negeri

Khusus untuk pembelian bahan pangan, perhatikan pula komposisi bahan makanan dan tanggal kadaluarsa produk. Apalagi jika Anda membeli secara online. Pastikan pula makanan atau minuman yang akan dibeli memiliki ijin kesehatan yang benar, seperti ijin edar dari BPOM. Untuk konsumen muslim, pastikan pula produk bahan pangan yang dibeli memiliki label halal. Intinya pastikan Anda tahu kualitas bahan makanan yang akan dikonsumsi. Selain itu konsumen cerdas juga harus paham mengenai hak dan kewajiban konsumen yang diatur salam Undang-Undang No 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen sebagai berikut:

Hak konsumen:

  1. Mendapatkan kenyamanan, keamanan dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang dan atau jasa.
  2. Memilih barang dan jasa serta mendapatkan barang dan jasa sesuai nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan.
  3. Memperoleh informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barnag dan jasa.
  4. Didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan jasa yang digunakan.
  5. Mendapatkan advokasi, perlindungan dan upaya penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut.
  6. Mendapatkan pembinaan dan pendidikan konsumen.
  7. Diperlakukan dan dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif.
  8. Mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan penggantian apabila barang dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian.

Kewajiban konsumen:

  1. Membaca atau mengikuti petunjuk informasi dan prosedur pemakaian barang dan jasa.
  2. Beritikad baik dalam melakukan transaksi pembelian barang dan jasa.
  3. Membayar sesuai dengan nilai tukar yang disepakati.
  4. Mengikuti upaya penyelesaian hukum sengketa secara patut.

Konsumen Cerdas di Era Digital Bangga Menggunakan Produk Dalam Negeri

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saya sendiri lebih tertarik untuk membeli produk lokal. Beberapa produk yang sering saya beli melalui platform digital meliputi bahan pakaian seperti tenun dan batik, tas dan beberapa produk kosmetik. Salah satu kemudahan di era digital memang saya manfaatkan mengulik referensi terkait produk lokal. Saya senang jika dapat membeli produk lokal. Saya percaya bahwa sekecil apapun nominal rupiah saya dalam mensupport artisan lokal,  hal ini akan menuai dampak positif, baik untuk keberlangsungan usaha mereka maupun perbaikan ekonomi di negeri ini.

Seperti yang terjadi pada Jum’at, 13 April 2018 lalu misalnya dimana saya kembali memesan sabun muka via media sosial. Ini kali ketiga saya memesan sabun muka yang terbuat dari susu kambing etawa para peternak lokal di sekitaran Jogja. Usut punya usut, ternyata sang “pembuat resep” merupakan alumni Fakultas Farmasi yang sejak lulus kuliah sengaja berjuang mati-matian untuk memberdayakan potensi lokal dengan membuat produk kosmetik yang alami dan bebas dari bahan pengawet. Selain sabun muka, dari online shop ini pula saya menemukan masker, toner, serum muka hingga deodorant yang alami dengan harga yang tidak bikin sakit hati.

Memang ya, salah satu kemudahan di era digital adalah berbelanja hemat tenaga. Cukup kirim pesan via sosial media, transfer, beres. Karena sama-sama di Jogja, saya transfer Jum’at sore sekitar pukul 14.30 WIB, eh Sabtu sekitar pukul 10 pagi pesanan saya sudah sampai di rumah. Ini nih yang membuat saya betah belanja dengan artisan lokal. Selain respon yang cepat, harga yang ditawarkan juga sangat bersahabat. Sudah begitu, khasiatnya pun tak kalah hebat. Jadi bangga menggunakan produk lokal karya anak bangsa!

Kiat Belanja di Online Shop

Hasil Belanja di Online Shop Terpercaya (Dokumentasi Retno Septyoorini)

Lantas bagaimana caranya agar kita terhindar dari penipuan online shop abal-abal? Selain memperhatikan parameter konsumen cerdas yang telah dipaparkan sebelumnya, saya juga mengecek akun media sosial dari brand yang akan saya beli. Saya selalu lihat-lihat dulu materi postingan di media sosial seperti apa. Selain itu saya perhatikan pula testimoni yang diupload pelanggan, juga mengikuti instastory yang diupload sehari-hari. Meski terlihat sepele, namun instastory ternyata dapat memudahkan penilaian pada sebuah brand lho!

Kiat Belanja di Online Shop

Manfaat Kepo Instastory Brand Lokal yang Tengah Diincar (credit from @kefir_cipan)

Dari berbagai postingan di media sosial ini sebenarnya kita dapat menilai mana online shop terpercaya mana yang bukan. Hal berlaku kalau kita langsung membeli pada produsennya ya. Lain halnya kalau kita membeli melalui reseller atau market place. Kalau membeli produk melalui platform digital bersama seperti market place, saya pastikan dulu ketersediaan rekening bersama yang resmi dari market place terkait. Hal ini penting untuk mengurangi resiko penyalahgunaan dana oleh pihak lain. Dengan beberapa cara sederhana inilah saya terhindar dari online shop abal-abal yang sering berakhir dengan kasus penipuan.

Lantas, bagaimana solusinya konsumen mengalami penipuan atau dirugikan hak nya saat bertansaksi ekonomi via media digital? Tenang saja, Indonesia sudah punya perlindungan hukum untuk konsumen kok. Hanya saja tidak semua konsumen mengetahui atau mencari tahu akan hal ini.

Perlindungan Hukum untuk Konsumen Indonesia

Guna menyebarluaskan konsep konsumen cerdas, juga hal-hal yang berkaitan dengan perlindungan hukum konsumen di Indonesia yang diatur dalam Undang-Undang No. 8 Tahun 1999, sejak tahun 2012 yang lalu pemerintah menetapkan Hari Konsumen Nasional (Harkonas) yang dirayakan setiap tanggal 20 April. Pencanangan yang awalnya diselenggarakan oleh Badan Perlindungan Konsumen Nasional pada tanggal 20 April 2012 ini kini dilaksanakan secara serentak dengan bersinergi  bersama Direktorat Pemberdayaan Konsumen, Direktorat Jenderal Standardisasi dan Perlindungan Konsumen, Kementerian Perdagangan. Tujuannya hanya satu, agar konsumen Indonesia semakin cerdas sehingga paham betul apa-apa yang menjadi hak maupun kewajiban yang harus dilakukan sebagai konsumen.

Penetapan peringatan Harkonas juga dilakukan untuk mengurangi penipuan yang dilakukan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Berdasarkan data yang ada, Gubernur Bank Indonesia, Agus Martowardoyo menyebutkan pengguna internet di Indonesia yang melakukan pembelanjaan secara online tahun 2016 mencapai 24,7 juta orang,  dengan nominal pembelanjaan mencapai 75 triliun rupiah. Bisa dibayangkan potensi kerugian yang ditimbulkan jika kasus penipuan online tidak segera ditanggulangi bukan?

Selain merusak citra Indonesia, penipuan di era digital berpotensi menurunkan tingkat kepercayaan masyarakat akan produk yang beredar di pasar nasional, tidak terkecuali pada berbagai produk karya anak bangsa. Kalau sudah begini, tentu dapat berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi, baik bagi pembeli, penjual maupun berbagai pihak yang terlibat dalam rantai produksi dan distribusi suatu barang ataupun layanan jasa. Apalagi hasil pemetaan Indeks Keberdayaan Konsumen (IKK) Indonesia tahun 2015 yang dilakukan Kementerian Perdagangan masih menunjukkan nilai yang begitu rendah, yakni sebesar 34,17 dari nilai maksimal 100.

Angka IKK sebesar 34,17 menunjukkan bahwa keberdayaan konsumen Indonesia baru berada pada level paham, yakni mengenali dan memahami hak dan kewajibannya sebagai konsumen, namun belum sepenuhnya mampu menerapkan dan memperjuangkannya haknya sebagai konsumen. Hal inilah yang menyebabkan konsumen  Indonesia menjadi sangat rentan untuk dirugikan. Belum lagi indeks pegaduan konsumen bermasalah di Indonesia yang berada di angka 4,2% per 1 juta konsumen. Karena itulah di samping menyebarluaskan hak, kewajiban hingga tips menjadi konsumen cerdas di era digital menjadi hal yang penting untuk dilakukan.

Selain itu, menjelang Hari Konsumen Nasional tahun ini  mari kita bantu pemerintah menyebarkan konten positif terkait Strategi Nasional Perlindungan Konsumen yang diusung pemerintah melalui Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Strategi yang disusun sejak tahun 2016 ini meliputi peningkatan efektivitas peran pemerintah, peningkatan pemberdayaan konsumen dan peningkatan kepatuhan pelaku usaha, termasuk di dalamnya penguatan IKK Indonesia menjadi 50.0.

Jika suatu hari nanti kawan-kawan mengalami kerugian saat bertransaksi online, jangan takut untuk angkat bicara. Mungkin bisa dimulai dengan itikad penyelesaian masalah secara kekeluargaan dengan menanyakannya langsung kepada penyedia produk atau jasa terkait. Jika cara-cara kekeluargaan tidak berhasil, jangan takut untuk menempuh jakur hukum. Selain dilindungi melalui Undang-Undang No. 8 Tahun 1999, kawan-kawan dapat mengadukan hal ini melalui berbagai lembaga perlindungan konsumen yang ada seperti Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat (LPKSM) setempat, Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) terdekat, Dinas yang menangani perlindungan konsumen di Kabupaten/Kota hingga Pos layanan informasi dan pengaduan konsumen dengan alamat:
Hotline : (021)3441839
Website : http://siswaspk.kemendag.go.id
E-mail : pengaduan.konsumen@kemendag.go.id
Whatsapp : 0853 1111 1010
Google Play Store : Pengaduan Konsumen

Karena konsumen yang cerdas di era digital termasuk mereka yang berani mempertahankan hak, usai melakukan kewajiban yang telah disepakati.

Salam hangat dari Jogja,

-Retno Septyorini-

 

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Harkonas 2018 dengan tema “Konsumen Cerdas di Era Digital”.

Retno Septyorini

Perkenalkan, nama saya Retno Septyorini, biasa dipanggil Retno. Saya seorang content creator dari Jogja. Suka cerita, makan & jalan-jalan. Kalau ke Jogja bisa kabar-kabar ya..

YOU MIGHT ALSO LIKE

No Comment

Leaver your comment

About Me

Wiloke

Retno Septyorini

Welcome to my creative blog │ Content creator @halomasin │Talk about figure, wastra, travel &culinary│ Happy living in Jogja

About Me