Mari Cegah Pneumonia Semampu Kita

Delima, Keponakan Saya yang Kemarin Diberi Vaksin Pneumokokus

Delima, Keponakan Saya yang Kemarin Diberi Vaksin Pneumokokus

Ini Delima (bukan nama sebenarnya), keponakan saya yang bulan ini genap berusia enam bulan sekian hari. Rabu, 11 September kemarin Nada, yang tidak lain adalah sabahat saya sewaktu kuliah menghadiahi Delima dengan Vaksin PCV (Pneumococcal Conjugate Vaccine) atau yang dikenal luas dengan sebutan Vaksin Pneumokokus. Jenis vaksin untuk melindungi tubuh dari inveksi bakteri pneumokokus.

“Kenapa divaksin?”, tanya saya iseng.

“Karena ada rejeki, hahaha”, jawabnya.

“Waduh, kok sombong, wkwk”, jawab saya segera lengkap dengan emotikon tertawa.

Sayangnya beberapa detik berikutnya, raut muka saya yang awalnya masih melepas tawa membaca pengakuan agak sombong dari kawan lama via WA mendadak berubah saat membaca:

“Dulu uang sumbangan Kakaknya Delima aku buat vaksin”, ungkap Nada sesaat kemudian.

Sebagai sesama alumni Biologi, kami berdua paham bahwa pembicaraan kali ini bukan terkait dengan pemberian vaksin wajib yang bisa diakses secara cuma-cuma Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) terdekat, melainkan tentang vaksin tambahan yang bagi sebagian orang biayanya tidak bisa dikeluarkan secara dadakan.

Vaksin PVC Atau Vaksin Pneumokokus

Vaksin PVC Atau Vaksin Pneumokokus

Meski sekilas terdengar tawa selayaknya orang bercanda pada umumnya, tapi saya sangat mengapresiasi apa yang dilakukan Nada. Apapun alasannya, ia sudah membekali si kecil dengan tambahan “pelindung” yang kuat untuk meminimalisir terjadinya infeksi bakteri Streptococcus pneumoniae, jenis bakteri yang dapat menyebabkan berbagai penyakit, salah satunya adalah radang paru yang dikenal luas dengan sebutan pneumonia. Menurut Dr. Nastiti Kaswandani, Sp.A (K), pemberian vaksin pneumokokus dan HiB akan menurunkan 50% angka kematian balita akibat pneumonia.

Pneumonia, Apakah Itu?

Baru-baru ini pneumonia kembali menjadi sorotan. Pasalnya penyakit yang menjadi penyebab kematian anak nomor 1 di dunia ini baru saja menyerang pelatih Juventus, klub sepak bola kenamaan dari Italia. Usai terkena flu selama seminggu, hasil tes kesehatan menunjukkan bahwa Maurizio Sarri terkena pneumonia, yakni kondisi radang akut yang menyerang jaringan paru dan sekitarnya yang bisa disebabkan oleh virus, bakteri ataupun organisme mikro lainnya.

Sebenarnya pneumonia dapat menyerang siapa saja, namun data menunjukkan bahwa angka tertinggi penderitanya menyerang anak usia kurang dari lima tahun atau mereka yang berusia di atas 50 tahun. Selain itu penyakit ini juga rentan menyerang orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah seperti anak dengan penyakit jantung bawaan, HIV thalassemia atau anak yang tengah menjalani kemoterapi.

Tahun 2015 World Health Organization (WHO) melaporkan bahwa 15% dari 6 juta anak kematian balita disebabkan oleh pneumonia. Di tahun yang sama, data United Nations Children’s Fund (UNICEF) menyebut sekitar 14% dari 147.000 anak balita Indonesia meninggal karena pneumonia. Dengan kata lain, setiap jamnya ada 2 hingga 3 anak balita yang meninggal karena pneumonia.

Data inilah yang menjadikan pneumonia disebut-sebut sebagai pembunuh balita nomor 1 di dunia, termasuk di Indonesia. Jika tidak dicegah, di tahun 2030 pneumonia dapat membunuh 11 juta anak. Waduh! Lantas, bagaimana cara kita mengenali gejala radang paru berbahaya ini?

Tanda-Tanda Pneumonia yang Wajib Diketahui!

Kabar buruknya, tanda-tanda bahwa balita mengalami pneumonia tergolong beragam mulai dari demam, batuk, pilek, terjadinya peningkatan frekuensi napas (takipneu) sehingga anak tampak menderita sesak napas. Selain itu, jika diamati pada daerah dada, setiap kali anak menarik napas akan tampak retraksi atau tarikan dinding dada bagian bawah. Dari semua tanda-tanda di atas, takipneu merupakan merupakan tanda pneumonia yang penting. Karena itulah frekuensi napas normal menjadi hal yang mutlak diketahui.

Batasan frekuensi napas cepat pada bayi kurang dari 2 bulan, 2-12 bulan dan 1-5 tahun adalah 60, 50 dan 40 kali per menit. Dalam kondisi yang parah, selain takipneu dan retraksi, pneumonia akan ditandai dengan gelisah, tidak mau makan/minum, kejang atau sianosis (kebiruan pada bibir) bahkan penurunan kesadaran. Karena itulah jika kawan-kawan melihat tanda peningkatan frekuensi napas pada anak, gejala tersebut patut diperiksa lebih lanjut. Apapun alasannya, mencegah lebih baik daripada mengobati.

Kalau Sudah Tahu Tanda dan Penyebabnya, Mari Kita Cegah Penularannya!

Kalau ditanya bagaimana upaya paling efektif dalam mencegah pneumonia, maka jawabannya tidak lain adalah mengupayakan perlindungan mulai dari anggota keluarga sendiri. Tentu saja upaya pencegahan yang dimaksud wajib disesuaikan dengan umur anggota keluarga kita.

Untuk bayi misalnya, tindakan pencegahan penularan pneumonia dapat dimulai dengan memberian ASI eksklusif. Selain menjadi sumber nutrisi terbaik, pemberian ASI pada bayi termasuk bagian dari imunisasi pasif yang bermanfaat untuk meningkatkan kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit, tidak terkecuali dengan pneumonia.

Ilustrasi Penyediaan Gizi Seimbang Untuk Anak-Anak

Ilustrasi Penyediaan Gizi Seimbang Untuk Anak-Anak

Selain itu perlu diperhatikan pula pemberian vaksin dasar yang dapat diakses melalui Puskesmas terdekat. Dalam hal pemberian vaksin dapat dikonsultasikan dengan dokter yang menangani si kecil. Selain itu, orang tua juga dapat mengontrol tumbuh dan kembang anak dengan mengikuti Posyandu yang digelar setiap bulan.

Oiya, di sekitar tempat saya, pemberian Vitamin A dilakukan di Posyandu. Ketika ada balita yang tidak hadir saat pembagian Vitamin A, vitamin ini akan diantar oleh Kader Posyandu terdekat. Saya mengetahui hal ini karena kebetulan ibu menjadi Kader Posyandu sejak puluhan tahun yang lalu. Menginjak 6 bulan, si kecil juga membutuhkan nutrisi yang seimbang yang porsinya dapat disesuaikan dengan tumbuh kembang anak.

Selanjutnya, orang tua beserta anggota keluarga lainnya dapat membantu mencegah infeksi pneumonia dengan menjaga kualitas lingkungan di sekitar rumah, termasuk mengontrol kualitas udara di sekitar rumah. Dilansir dari Save The Children, setengah dari kematian anak akibat pneumonia berkaitan dengan polusi udara. Karena itulah menghindarkan asap pada anak penting dilakukan sebagai upaya pencegahan terjadinya infeksi pneumonia.

Menjaga Kebersihan Di Sekitar Tempat Tinggal

Menjaga Kebersihan Di Sekitar Tempat Tinggal

Umumnya sumber asap rumah tangga diperoleh tiga hal, yakni bahan bakar kayu yang digunakan dalam proses memasak, pembakaran sampah dan asap rokok. Karena itulah pemanfaatan ketiganya patut untuk diminimalisir. Minimal mengusahakan agar asapnya tidak terhirup si kecil. Selain itu sirkulasi udara di rumah juga patut diperhatikan, mulai dari ruang kamar, ruang keluarga hingga dapur sekalipun. Karena itulah peletakan lubang ventilasi saat pembangunan rumah perlu diperhatikan dengan seksama.

Selain asap dari pembakaran, asap rokok juga penting untuk dihindari saat berinteraksi dengan si kecil, tidak terkecuali dengan asap rokok dari perokok pasif. Tanya kenapa? Karena asap rokok dapat menempel pada pakaian. Menurut Dokter spesialis respirasi anak dari Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung, Prof. dr. Cissy Kartasasmita, SpA (K), paparan zat beracun dari rokok yang terhirup anak secara tak sengaja dapat merusak keseimbangan daya tahan di pernapasan.

Awalnya merusak rambut halus (silia) yang berfungsi menyaring benda asing masuk ke tubuh. Jika sering terpapar asap rokok, fungsi silia tersebut bisa terganggu. Kalau sudah tidak berfungsi maka benda benda asing akan lebih mudah masuk, membuat batuk hingga memudahkan infeksi pneumonia. Karena itulah selain mengusahakan untuk tidak merokok, sebelum berinteraksi dengan bayi ataupun balita, pastikan kita terbebas dari asap yang menempel pada baju. Mudahnya usai masak, bepergian ataupun aktivitas lain yang mempertemukan kita dengan asap, ada baiknya untuk mandi dan berganti pakaian terlebih dahulu sebelum bertemu si kecil.

Masih ingat cerita pelatih dari klub sepak bola Juventus, Maurizio Sarri yang terkena pneumonia? Kabarnya setiap hari ia dapat menghabiskan 60 batang rokok. Menurut penelitian, jika dibandingkan dengan orang yang tidak merokok, perokok yang menghabiskan hingga 20 batang rokok setiap harinya memiliki peluang tiga kali lebih besar terkena pneumonia. Prof Cissy mengungkapkan bahwa ia sering menemui kasus anak terkena pneumonia yang ayahnya kerap merokok di dalam rumah. Kebayang bukan bagaimana dampaknya bagi kesehatan?

Peran Orang Tua Dalam Meminimalisir Terjadinya Pneumonia

Konsultasi Tumbuh Kembang Anak dengan Dokter

Konsultasi Tumbuh Kembang Anak dengan Dokter

Peran orang tua dalam meminimalisir terjadinya pneumonia tentu mutlak diperlukan. Kerjasama yang baik antar keduanya penting untuk mencegah terjadinya penuonia pada anak. Dalam hal ini, peran ibu tentu tidak sebatas pada penghasil ASI semata, melainkan juga sebagai pemerhati tumbuh kembang anak dari hari ke hari.  Karena gejala pneumonia pada anak bentuknya beragam mulai dari demam, batuk, pilek hingga peningkatan frekuensi napas anak pada anak.

Lain halnya dengan peran ayah. Apapun alasannya, ayah juga memiliki peranan yang tak kalah penting dalam meminimalisir terjadinya pneumonia. Dalam hal ini ayah tidak hanya berperan dalam mengusahakan tidak adanya transfer asap dari udara maupun pakaian kepada si kecil, melainkan juga berperan dalam menjaga kewarasan ibu dengan support dalam berbagai bentuk, mulai dari meringankan pekerjaan rumah, menjadi tempat curhat, bergantian menjaga buah hati hingga memberi perhatian-perhatian kecil seperti hadiah bunga, pijatan atau hal lain yang menjadi favorit istri.

Saling Support Antar Kawan

Saling Support Antar Kawan

Sebagai seorang kawan, sejatinya kita juga dapat berpartisipasi mencegah terjadinya pneumonia lho! Salah satunya dapat dilakukan dengan memberi support pada kawan kita yang baru saja memiliki buah hati. Ada kalanya mereka butuh kita meski sekedar menjadi tempat curhat semata. Di lingkungan terdekat saya, hal ini terbilang sering diagendakan. Seperti beberapa waktu yang lalu misalnya, kami menyempatkan diri untuk sekedar berbagi cerita bersama teman kuliah di Jogja. Sehari ketemu rasa plong habis curhatnya bisa tahan hingga berminggu-minggu, hehe.

Selanjutnya, usaha keluarga dalam mengurangi infeksi pneumonia dapat dilakukan dengan memberikan vaksin tambahan, dalam hal ini Vaksi Pneumokokus seperti yang dilakukan Nada pada Delima dan kakaknya. Jika ingin mengetahui lebih lanjut terkait penanggulangan pneumonia, kawan-kawan dapat mengakses informasi di website www.stoppneumonia.id atau di media sosial Save The Children di @savechildren_id

Semoga bermanfaat.

Salam hangat dari Jogja,

-Retno-

Sumber referensi:

http://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/sekilas-vaksin-pneumokokus

http://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/memperingati-hari-pneumonia-dunia

https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-4673058/hobi-merokok-seperti-pelatih-juventus-risiko-pneumonia-3-kali-lebih-tinggi

https://sains.kompas.com/read/2016/11/18/160900123/ayah.merokok.anak.berisiko.terserang.pneumonia

www.stoppneumonia.id

Retno Septyorini

Perkenalkan, nama saya Retno Septyorini, biasa dipanggil Retno. Saya seorang content creator dari Jogja. Suka cerita, makan & jalan-jalan. Kalau ke Jogja bisa kabar-kabar ya..

YOU MIGHT ALSO LIKE

No Comment

Leaver your comment

About Me

Wiloke

Retno Septyorini

Welcome to my creative blog │ Content creator @halomasin │Talk about figure, wastra, travel &culinary│ Happy living in Jogja

About Me