Kusta dan Peluang Iklim Ekonomi Kreatif di Indonesia

Sejujurnya kalau ditanya hal apa yang pertama kali terlintas saat seseorang menyebut kusta, maka jawaban saya bukanlah deskripsi, penyebab ataupun cara penularan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycrobacterium leprae ini. Melainkan Sepatokimin. Sebuah inisiasi baik yang sempat viral di tahun 2019 yang bertujuan untuk membantu mengembangkan keterampilan Pak Tokimin. Seorang teknisi prostetik yang sudah bekerja di Rumah Sakit Kusta (RSK) Alverno di Singkawang Barat.

Waktu itu gerakan ini memerlukan sejumlah dana yang rencananya akan dihunakan untuk belajar Pak Tokimin di Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia (BPIPI) di Sidoarjo. Setelah belajar dengan dampingan instruktur ahli secara langsung di BPIPI tersebut, harapannya Pak Tokimin dapat menjadi guru bagi teman-teman penyintas kusta di Singkawang sana.

Maklum, karena terbatasnya akses informasi, ketiadaan biaya hingga ragunya pasien untuk berobat karena takut mendapat stigma buruk dari masyarakat sering berujung pada keterlambatan pengobatan. Bahkan kadang ada sebagian anggota tubuh pengidap kusta yang harus diamputasi karena penyakit ini. Karena itulah sebagian eks-pasien kusta ada yang membutuhkan bantuan alat prostetik seperti alat bantu jalan (kruk), lengan ataupun kaki palsu.

Gerakan baik yang pernah viral di tahun 2019 ini akhirnya berbuah manis. Selain dapat meningkatkan keterampilan Pak Tokimin dalam hal persepatuan, sekarang gerakan SepatoKimin sudah menjelma menjadi Sepatokimin Initiative. Yakni sebuah inisiatif pemberdayaan komunitas marginal di Indonesia yang sudah memiliki 5 kelompok binaan dengan 200 orang terdampak baik.

Dengan 6 kolaborator yang ada, kini Sepatokimin Initiative mampu menaikkan penghasilan per rumah tangga hingga 40%. Saya sendiri mengetahui campaign ini dari laman Instagram kawan saya, Nana. Salah satu seorang desainer yang turut menyumbang desain dalam pembuatan merchandise Sepatokimin dengan tema “Baik Apa Adanya”.

Saya mengenal Nana saat bertugas di program Inovatif dan Kreatif melalui Kolaborasi Nusantara (IKKON Bekraf) pada tahun 2017 silam. Saya bertugas di Banjarmasin, sedangkan Nana di Belu. IKKON sendiri merupakan program live in pelaku kreatif di daerah yang bertujuan untuk membantu mengembangkan potensi ekonomi kreatif lokal. Sebagai tambahan informasi, berikut saya lampirkan link Instagram Nana terkait Campaign Sepatokimin yang sama maksud.

Saya ingat betul teman-teman inisiator Gerakan Sepatokimin kala itu juga menyediakan ruang untuk kawan-kawan yang belum bisa membantu secara ekonomi (membeli merchandise) melalui campaign dengan memposting foto sepatu dengan posisi hutuf T. Bagi saya pribadi, aksi baik untuk Pak Tokimin dan kawan-kawannya ini sangatlah tepat. Mereka membuka akses ekonomi secara menyeluruh dengan menyentuh tiga akar permasalahan yang mendasar yakni peningkatan keterampilan, branding dan akses penjualan yang seirama dengan perkembangan jaman.

Hari gini menjual produk atas dasar belas kasihan sudah tidak jaman. Hanya dengan skill yang mumpuni, branding dan marketing yang tepat lah sebuah produk akan lebih mudah diterima oleh target konsumen yang dituju. Menarik rasanya berdiskusi terkait peluang kusta dalam memasuki iklim ekonomi kreatif (ekraf) di Indonesia. Apalagi jika melihat sektor ekraf kita yang meningkat secara signifikan dari tahun ke tahun.

Berdasarkan data yang dihimpun dalam Opus Creative Economy Outlook tahun 2019, sektor ekonomi kreatif memberikan kontribusi sebesar Rp 1.105 triliun terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Hal ini menjadikan Indonesia berada di urutan ketiga setelah Amerika Serikat dan Korea Selatan, dalam jumlah kontribusi sektor ekonomi kreatif terhadap PDB negara. Di tahun yang sama, sektor ekraf juga menyerap sekitar 17 juta tenaga kerja. Tidak heran jika sektor ini digadang-gadang sebagai masa depan ekonomi Indonesia.

Kusta dan Peluang Iklim Ekonomi Kreatif di Indonesia (Sumber: bpipi.kemenperin.go.id)
Kusta dan Peluang Iklim Ekonomi Kreatif di Indonesia (Sumber: bpipi.kemenperin.go.id)

Sektor yang bertumpu pada kreasi dan inovasi ini juga terbukti mampu memberi nilai tambah baik secara fungsi maupun nilai ekonomi pada berbagai produk ataupun layanan jasa karya anak bangsa, tidak terkecuali dengan produk yang dibuat oleh eks-pasien kusta. Karena itulah diperlukan sinergi yang baik antara eks-pasien kusta dengan berbagai pihak mulai dari pemerintah setempat, pelaku kreatif hingga lembaga pemerintah terkait dalam menciptakan peluang kolaborasi yang berkaitan dengan pengembangan keterampilan yang sesuai dengan kondisi dan keterampilan eks-pasien kusta itu sendiri.

Kembali lagi ke Singkawang. Viralnya Campaign Sepatokimin di media sosial kala itu juga membuka pintu kolaborasi eks-pasien kusta di Singkawang dengan berbegai pihak, diantaranya RSK Alverno, BPIPI, alumni IKKON Bekraf dan Pemerintahan Kota Singkawang. Selain meningkatkan keterampilan para eks-pasien kusta, kolaborasi apik ini juga menjadi bagian dalam rangka menghapus stigma dan diskriminasi eks-pasien kusta di Kota Singkawang.

Dalam hal ini RSK Alverno bekerja sebagai penyedia tempat eks-pasien kusta, BPIPI sebagai konsultan teknis yang membantu mengasah keterampilan eks-pasien kusta, Pemerintah Kota Singkawang sebagai pembuat kebijakan dan sebagai pasar utama untuk produk yang dihasilkan oleh eks-pasien kusta dan alumni IKKON Bekraf membantu perihal branding.

Hingga akhir Januari 2020, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat prevalensi kasus penyakit kusta di Indonesia hampir mencapai 20 ribu penderita. Jika kolaborasi di atas dapat dilakukan di berbagai “kantong kusta” di Indonesia, bisa dibayangkan bukan besarnya peluang ekonomi bagi eks-pasien kusta di negeri ini?

Berbicara soal jenis produk apa yang cocok diproduksi eks-pasien kusta, bisa dibilang sub sektor fashion dan kriya masih berpeluang besar untuk dikembangkan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Tahun 2019 menunjukkan bahwa kontribusi sub sektor fesyen dan kriya merupakan penyumbang PDB dan ekspor sebesar 17 persen dan 14,9 persen. Dengan peningkatan keterampilan pada pasien kusta diharapkan dapat menghasilkan produk yang mampu bersaing di era global.

Tantangan selanjutnya ada pada pundak kita. Apakah kita mau mendukung usaha mereka atau tidak. Bicara soal dukungan tidak melulu soal uang, kok. Selain membeli karya eks-pasien kusta, menyiarkan fakta terkait kusta juga merupakan dukungan yang nyata bagi mereka. Masih ingat bukan cerita campaign Sepatokimin dengan membentuk sepatu menjadi huruf T seperti yang saya ceritakan di awal tadi, bukan?

Lantas, apa saja sih fakta terkait kusta yang masih simpang siur di luaran sana, yang tidak jarang berakhir sebagai hoax? Pertama kusta bukanlah kutukan. Penyakit tertua di dunia yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium leprae, dengan gejala bercak-bercak berwarna kemarahan pada kulit, yang diikuti dengan mati rasa, dan lemas pada tangan dan kaki.

Sayangnya, penyakit kusta cenderung tidak mudah dideteksi. Penyebabnya tidak lain karena bakteri Mycobacterium leprae membutuhkan waktu sekitar 2 hingga 10 tahun untuk berkembang di dalam tubuh manusia. Akibatnya gejala visual kusta muncul amat sangat lambat. Dalam tubuh manusia, bakteri kusta banyak terdapat di mukosa hidung. Karena itulah cairan lendir dari hidung diyakini sebagai salah satu cara penularan penyakit kusta.

Jika ditelisik lebih lanjut, kusta merupakan salah satu penyakit yang unik. Penyakit yang dapat menyerang saraf, kulit, dan mukosa saluran pernafasan atas ini tidak diwariskan lewat genetik, pun tidak menyebar melalui hubungan seksual. Hanya orang yang memiliki kontak erat dalam intensitas waktu lama lah yang berisiko tertular kusta.

Kemunculannya pun sangat dipengaruhi oleh sistem imun seseorang. Karena itulah pencegahan terbaik penyakit ini dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan dan kesehatan tubuh dengan sebaik-baiknya.Meski merupakan jenis penyakit yang susah menular, jika tidak ditangani dengan baik kusta dapat membuat penderitanya menyandang disabilitas, seperti lumpuh, pemendekan jari-jari bahkan perubahan bentuk wajah karena lapisan kulit yang terinfeksi. Kondisi inilah yang membuat penyakit kusta kerap dijuluki dengan penyakit kutukan.

Padahal dengan pengobatan yang benar penyakit ini dapat disembuhkan. Dengan resep obat dari dokter, pengidap kusta bisa sembuh dalam waktu 6 bulan sampai 2 tahun. Untuk penderita kusta kering, obat harus dikosumsi selama 6 bulan. Sedangkan untuk kusta basah, pengobatan dilakukan selama 12 bulan. Kabar baiknya lagi, pengobatan kusta dapat diperoleh secara gratis di Puskesmas terdekat.

Jadi tidak perlu ragu untuk segera berkonsultasi dengan tenaga medis jika mengalami gejala kusta. Jika ada kerabat atau kawan yang memperlihatkan gejala serupa, seyogyanya kita beri edukasi dan dukungan yang baik agar mereka tidak minder untuk segera memeriksakan diri ke dokter.

Fakta kedua yang tidak kalah penting terkait dengan kusta yakni Orang yang Pernah Mengalami Kusta (OYPMK) tidak dapat menularkan kusta. Jadi jika teman-teman menemukan produk menarik ataupun gerakan baik yang melibatkan komunitas beranggotakan eks-pasien kusta, tidak perlu ragu untuk mendukung mereka. Pasalnya penularan kusta dapat dicegah dengan pola hidup yang sehat dan imunitas yang kuat.

Sebagai bangsa tangguh yang terus bertumbuh, sudah seyogyanya kita turut serta memberantas hoax terkait kusta di Indonesia. Karena pasien kusta punya hak untuk sembuh dan mereka pantas mendapat kesempatan untuk terus bertumbuh.

Salam hangat dari Jogja,

-Retno-

Sumber:

20 Ribu Orang Indonesia Menderita Kusta, diakses dari https://nasional.republika.co.id/berita/q4ypul368/20-ribu-orang-indonesia-menderita-kusta

Apakah Kusta Mudah Menular? diakses dari https://perdoski.id/article/detail/1032-apakah-kusta-mudah-menular

Kolaborasi BPIPI dalam Menghapus Stigma dan Diskriminasi Eks-Pasien Kusta di Kota Singkawang, diakses dari https://bpipi.kemenperin.go.id/kolaborasi-bpipi-dalam-menghapus-stigma-dan-diskriminasi-eks-pasien-kusta-di-kota-singkawang/

Penyakit Kusta Bukanlah Penyakit Kutukan, diakses dari https://tropmed.fk.ugm.ac.id/2020/08/28/penyakit-kusta-bukanlah-penyakit-kutukan/

Siaran Pers : Menparekraf Optimistis 2021 Jadi Tahun Pemulihan Ekonomi Kreatif Global, diakses dari https://kemenparekraf.go.id/berita/Siaran-Pers-:-Menparekraf-Optimistis-2021-Jadi-Tahun-Pemulihan-Ekonomi-Kreatif-Global

Website sepatokimin, diakses dari https://sepatokimin.com/id/

Retno Septyorini

Perkenalkan, nama saya Retno Septyorini, biasa dipanggil Retno. Saya seorang content creator dari Jogja. Suka cerita, makan & jalan-jalan. Kalau ke Jogja bisa kabar-kabar ya..

YOU MIGHT ALSO LIKE

No Comment

Leaver your comment