Jejak Tulisan yang Tak Terlupakan

Perjalanan Impian (Dokumentasi Pribadi)

Perjalanan Impian (Dokumentasi Pribadi)

“Terkadang tulisan menjelma layaknya sayap. Ia mampu menerbangkan seseorang menuju lubuk harapan” (Retno Septyorini, 2019)

Jika ditanya tentang pengalaman paling menarik yang didapat dari blog, bukan nominal rupiah yang terbayang, melainkan berbagai kesempatan, juga pengalaman menakjubkan yang bermula dari jejak tulisan yang dipajang di blog gratisan. Belum pernah terpikirkan sebelumnya jika bertahun kemudian berbagai postingan yang diawali dari kebiasaan curhat ini membuka jalan untuk mengenal eloknya peradaban di Tanah Banua. Sebutan lain untuk kota seribu sungai, Banjarmasin.

Perjalanan yang Mendebarkan

Jum’at, 05 Mei 2017 menjadi hari yang cukup menegangkan dalam fase kehidupan saya. Sekitar pukul 12.00 siang ada pesan singkat yang menyatakan bahwa saya lolos seleksi administrasi Program Inovatif dan Kreatif Melalui Kolaborasi Nusantara (IKKON) 2017 yang diinisiasi oleh Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf). Ini artinya saya akan melaju ke tahap wawancara. Alhamdulillah.

IKKON merupakan program live-in di pelosok negeri yang dapat diikuti oleh pelaku kreatif lintas profesi. Program ini diharapkan mampu menjembatani terciptanya ethical benefit sharing yang berkelanjutan antara desainer dengan local champion. Mudahnya sih biar pelaku ekonomi kreatif di daerah tidak hanya jadi “kuli” di ruang produksi, melainkan dapat mengubahnya menjadi produk branded yang mampu bersaing di kancah global sekaligus mempersiapkannya sebagai tulang punggung perekonomi nasional di masa yang akan datang. “Meleleh” sekali saya membaca lowongan pekerjaan yang satu ini.

IKKON 2017 (Dokumentasi Pribadi)

IKKON 2017 (Dokumentasi Pribadi)

Setidaknya ada beberapa alasan jika ditanya apa pentingnya mengikuti program pengabdian semacam ini. Selain ingin merasakan denyut kehidupan di luar Jawa yang kebetulan tiga diantaranya menjadi area penempatan IKKON 2017 yakni Belu, Toraja dan Banjarmasin, berkontribusi di pelosok negeri merupakan salah satu impian saya yang telah lama tertunda. Sebagai satu-satunya anak perempuan di rumah, ibu selalu khawatir kalau saya sampai bekerja di tempat yang jauh dari keluarga. Karena itulah niat untuk mendaftar sebagai pengajar di daerah pernah pupus karena alasan klasik ini.

Tidak disangka, beberapa tahun kemudian ternyata hati ibu luluh juga sehingga dua tahun lalu akhirnya saya diperbolehkan untuk mendaftar IKKON. Selain didampingi seorang mentor, kala itu satu Tim IKKON terdiri dari 12 orang dari latar belakang berbeda. Ada desainer produk, desainer tekstil, desainer fashion, desainer interior, desainer komunikasi visual, arsitek, antropolog, business advisor, spesialis media, fotografer, videografer dan manajer lapangan. Sampai di sini adakah yang bisa menebak posisi apa yang meloloskan saya untuk mengikuti sesi interview tahap pertama waktu itu? Ya, betul! Posisi spesialis media. Posisi yang saya kenal karena menjadi seorang narablog alias blogger.

Peradaban Sungai Khas Banjarmasin (Dokumentasi Pribadi)

Peradaban Sungai Khas Banjarmasin (Dokumentasi Pribadi)

Alasan lain yang melandasi saya untuk mendaftar salah satu program unggulan Bekraf ini tidak lain karena saya ingin membuktikan bahwa profesi narablog itu punya kesempatan sukses yang setara dengan berbagai profesi bergengsi lain di luar sana. Maklum saja, semenjak jadi bloger, ada saja yang mengecap saya sebagai pengangguran. Lebih tepatnya pengangguran yang hobi kelapayan, makan-makan dan banyak gaya karena seringkali mendapat paket kiriman. Padahal sebagian besar dari ketiga hal tersebut erat kaitannya dengan pekerjaan, seperti review produk atau kiriman hadiah karena menang lomba.

Sayangnya sampai saat ini profesi narablog kerap dipandang sebelah mata. Sampai-sampai pernah ada omongan, “Buat apa kuliah tinggi-tinggi kalau nantinya cuma jadi pengangguran seperti Mbak ..…, lalu disebutlah nama saya”. Waduh! Karena itulah sewaktu daftar IKKON, doa saya cuma satu, “Semoga diberi kesempatan untuk membuktikan bahwa bloger itu profesi membanggakan yang mampu berkontribusi bagi diri sendiri maupun dalam cakupan yang lebih luas lagi”.

Peradaban Sungai Khas Banjarmasin (Dokumentasi Pribadi)

Peradaban Sungai Khas Banjarmasin (Dokumentasi Pribadi)

Saya ingat betul, tes pertama jatuh di Hari Minggu, 07 Mei 2017 di Hotel Sari Pan Pasifik, Jakarta. Setelah menyelesaikan persyaratan yang harus dikumpulkan saat wawancara, barulah saya mencari tiket kereta menuju Jakarta. Dengan anggaran seadanya, kereta menjadi pilihan paling rasional untuk pergi ke ibu kota. Kalaupun tidak diterima, minimal modal yang dikeluarkan tidak mengganggu pos anggaran lainnya.

Meski jarak pengumuman dengan tanggal wawancara terbilang pendek, ditambah waktu tes di akhir pekan, akan tetapi Sabtu sorenya tiket keberangkatan sudah berada di tangan. “Semoga ada secercah harapan untuk mengabdi di pelosok negeri”, batin saya saat memasukkan bukti pembayaran tiket ke dalam dompet.

Walau disertai persiapan yang cukup gedubrakan, ternyata saya masih diberi kesempatan untuk sampai di gerbong kereta tepat beberapa detik sebelum peluit ditiup. Alhamdulillah, masih rejeki. Saat itu saya merasa semuanya serba dimudahkan, mulai dari perjalanan yang lancar, kemudahan di setiap tahapan tes hingga dipertemukan dengan kawan baru yang satu diantaranya menawarkan tempat menginap dengan cuma-cuma. Diluar dugaan, ternyata saya dinyatakan lolos sebagai salah satu peserta IKKON 2017 dengan lokasi penempatan di Banjarmasin. Dari sinilah perjalanan tak terlupakan itu dimulai.

Kerja-Kerja yang Tak Terlupakan

Launching IKKON BEKRAF 2017 (Dokumentasi Pribadi)

Launching IKKON BEKRAF 2017 (Dokumentasi Pribadi)

Jogja – Jakarta – Banjarmasin. Inilah rute perjalanan saya selama empat bulan berikutnya. Mimpi yang kerap terlintas sejak lulus kuliah itu akhirnya dikabulkan dengan cara yang tidak terduga. Selain dapat merasakan denyut kehidupan di luar Pulau Jawa, IKKON memberi kesempatan pada narablog pemula macam saya untuk dapat menceritakan potensi Tanah Banua pada dunia. Harapannya sederhana saja, agar dapat menularkan semangat perubahan dimanapun para pembaca berada.

Mungkin karena hobi bercerita inilah yang membuat profesi bloger menjadi pekerjaan yang paling sreg di hati. Apalagi kalau bisa membantu promosi produk lokal atau sekedar membagi berbagai konten baik itu rasa-rasanya senangnya bisa sampai berhari-hari. Dari profesi ini pula lah saya mendapat banyak teman, pengetahuan juga kesempatan untuk belajar banyak hal baru. Salah satunya saat mengikuti pembekalan IKKON 2017 selama 10 hari penuh di Jakarta.

Selain bertemu 59 kawan baru, eh, dikasih kesempatan pula untuk menyerap ilmu dari puluhan pembicara yang dihadirkan di sepanjang sesi pembekalan. Siapa sangka dari kebiasaan menulis di blog dapat membuka kesempatan untuk bisa mengenal trend fashion dari Tee Dina Midian, belajar inovasi dari desa bersama Singgih Kartono hingga tahu banyak informasi terkait trend pariwisata global dari Hiramsyah S. Taib dan masih banyak lagi. Bahkan nama-nama besar di dunia kreatif Indonesia seperti Sabar Situmorang, Ayip Budiman, Tita lrasati, Handoko Hendroyono, Mak Th, Silverius Oscar Unggul, Gories Mustaqim, Selly Riawanti, Sadikin Gani hingga Iwan Esjepe juga hadir untuk mengisi sesi pembekalan kami.

Tidak terbayang rasanya bisa belajar banyak dari mereka secara cuma-cuma. Semua kesempatan baik ini rasanya tidak mungkin ada jika saya tidak menekuni profesi sebagai seorang narablog. Tanya kenapa? Karena curriculum vitae yang saya sertakan saat mendaftar posisi spesialis media saat itu hanya berbekal dari pengalaman menjadi seorang bloger.

Pengetahuan terkait wastra nusantara kembali menggebu usai berkesempatan terbang ke Lampung karena memenangi sebuah lomba blog yang diadakan Panitia Lampung Krakatau Festival 2016. Beberapa bulan setelahnya, saat kamera saku tetiba saja rusak, saya dapat gantinya dari ajang Anugerah Pewarta Astra 2016. Semuanya berawal dari menulis. Sebuah kebiasaan yang kita lakukan bahkan sejak duduk di bangku sekolah dasar.

Pasar Terapung Siring tendean, Banjarmasin (Dokumentasi Pribadi)

Pasar Terapung Siring tendean, Banjarmasin (Dokumentasi Pribadi)

Akhirnya, hari yang ditunggu-tunggu itu pun tiba. Minggu, 16 Juli 2017, tepatnya usai konsinyering selama beberapa hari di Jakarta, saya dan tim pun terbang menuju Banjarmasin. Kota cantik yang masih menyimpan peradaban sungai yang begitu apik. Selama empat bulan berikutnya saya selalu wira-wiri dengan rute dua hari konsinyering di Jakarta, dua pekan selanjutnya melakukan tugas lapangan di Banjarmasin lalu sisa pekan berikutnya kembali ke Jogja untuk menyelesaikan sisa pekerjaan dari Kalimantan.

Selain membuka pintu sekaligus menjalin komunikasi dengan berbagai kolaborator di sana, tugas saya tidak jauh-jauh dari tugas seorang bloger, seperti melakukan rangkaian liputan berbagai produk kreatif khas Banjarmasin, mengisi konten di berbagai sosial media program kami di IKKON 2017, HALOMASIN dan website Tim IKKON Banjarmasin di www.kreativitas.id, menyebar press release kegiatan dan undangan peliputan kegiatan ke media hingga mengatur jadwal siaran tim.

Siaran di J Radio Banjarmasin (Dokumentasi Sandi)

Siaran di J Radio Banjarmasin (Dokumentasi Sandi)

Paling lega sih kalau jadwal siaran di berbagai media bisa lancar tanpa halangan suatu apapun. Karena semakin banyak media yang menyiarkan, semakin luas pula potensi ekonomi kreatif Banjarmasin akan dikenal dunia. Selain bekerjasama dengan media lokal seperti Banjarmasin Post, Duta TV, Smart FM Banjarmasin dan J-Radio, Halomasin juga sempat nongol di Harian Kompas, TVRI dan acara Pagi-Pagi di NET TV. Sebuah kesempatan kerja yang takkan terlupa sepanjang masa.

Selama dua bulan penuh di Banjarmasin, saya dan tim akhirnya jadi bisa menyusun service desain dimana salah satu diantaranya berupa thematic trip untuk mengenalkan keelokan peradaban sungai dengan rute baru yang belum pernah dilirik publik, mengedukasi pentingnya inovasi pada motif dan bahan dalam pembuatan sasirangan warna alam agar lebih dapat diterima di kancah global hingga menceritakan pada dunia tentang lezatnya kudapan khas Banjar seperti soto banjar, lontong orari, kupat kandangan, nasi kuning ikan patin hingga beragam wadai (kue) tradisional yang beberapa diantaranya cocok dijadikan buah tangan untuk para kesayangan.

View this post on Instagram

Rute wisata makna menguak peradaban sungai khas Banjarmasin ada di travel guide imut ini🏄 . Ceritanya awal bulan November kemarin kawan-kawan IKKON yang ditugaskan BEKRAF di Banjarmasin melakukan final trip rangkaian program IKKON di Tanah Banua🚣 . Selain memamerkan hasil kolaborasi dengan pelaku kreatif lokal di Banjarmasin, tim juga melakukan user testing wisata makna yang berisi highlight trip Wastra, Pedalaman, Landmark, Cinderamata, Kuliner dan Alam khas Banjarmasin yang berhasil dibuat oleh kawan-kawan IKKON💙 . Selain diikuti oleh Bapak dan Ibu Wali, trip ini juga diikuti oleh perwakilan dari Bekraf, Pemerintah Kota, media partner, wisatawan dan perwakilan dari komunitas kreatif di Banjarmasin🙌 . Kuy ikuti gimana keseruannya😉 . @ikkon_2017 @bekraf.go.id @ibnusina @wasilahs @triawanmunaf @rickypesik @savitri.poppy @hastjarjobw @sadikingani @annefreddy @khuzaimi_jimie @budparbjm @humprobaiman @pemprov @dekranasdakotabjm @galeribanjarmasin @banjarmasinbanget @turuntanganbjm @infobanjar @banjarinfo @wargabanua @penabloggerbanua @banjarmasinheritage @hellokalsel @kalimantaners @zetizensouthborneo @explorebanjar @lensaborneo @explore_bumiketupat @mampirbanjarmasin @banjarzone.id @zonakalsel @lensabanjar @wargabananua @ipki_kalsel @yotbanjarmasin . Media partner @smartfmbanjarmasin @dutatv_official @banjarmasinpost @kalselkreatif @pcc_banjarmasin @drone_borneo Dokumentasi oleh @vebriokusti, text @retnoseptyorini #halomasin #ikkon2017 #ikkonbekraf #ikkonbanjarmasin #pameranikkon2017 #pameranhalomasin #KSI3 #KSIbanjarmasin #kongressungaiindonesia3 #ekonomikreatif #ekraf #bekraf #ekonomikreatifBanjarmasin #ekrafBanjarmasin #ekonomikreatifbanjar #ekrafbanjar #produkkreatifBanjarmasin #produkkreatifBanjar

A post shared by Halo Masin (@halomasin) on

Di akhir program, tiba juga saatnya produk kolaborasi kawan-kawan Halomasin dengan local champion di Banjarmasin dipamerkan secara marathon di muka publik. Dimulai dari pameran di Kongres Sungai ke-3 dan Rumah Anno di Banjarmasin, Bekraf Festival 2018 di Bandung hingga ajang Jakarta Fashion Week 2018 dan Inacraft 2018 di Jakarta. Dari kesempatan baik yang saya alami tahun dua tahun lalu itu, juga kefleksibelan profesi bloger yang begitu luwes menyesuaikan diri seiring perkembangan jaman, saya meyakini bahwa profesi ini merupakan pilihan pekerjaan yang membanggakan sekaligus punya masa depan. Dengan alasan ini pula lah tahun 2019 ini saya begitu optimis untuk menjadi tukang cerita yang hobi menyebarkan berita baik yang bermanfaat untuk sesama penghuni bumi. Bagaimana dengan resolusi teman-teman semua?

Salam hangat dari Jogja,

-Retno-

Artikel ini diikutkan dalam Kompetisi Blog Nodi dengan Tema “Bangga Menjadi Narablog pada Era Digital”

Kompetisi Blog Nodi (Sumber: https://www.nodiharahap.com)

Kompetisi Blog Nodi (Sumber: https://www.nodiharahap.com)

Retno Septyorini

Perkenalkan, nama saya Retno Septyorini, biasa dipanggil Retno. Saya seorang content creator dari Jogja. Suka cerita, makan & jalan-jalan. Kalau ke Jogja bisa kabar-kabar ya..

YOU MIGHT ALSO LIKE

8 Comments

  • Agustina Purwantini
    January 25, 2019

    Kereeenn puol

  • Miss Riana
    January 26, 2019

    Mantab bener pengalamanmu dedek gemes. Semoga aku bisa menyusulmu bisa keliling Indonesia Krn ngeblog 🌹

    • Retno Septyorini
      January 27, 2019

      Aku juga pengen nyusul jejak bahagia Mbak Ri sepanjang jadi bloger lho! Terima kasih sudah berkunjung kakak cantik kesayangan kita semua. Emuah.

  • Maria Widjaja
    January 27, 2019

    Siapa berani bilang narablog itu pengangguran? Pada era revolusi industri 4.o, mendulang rupiah nggak melulu harus menyekap kita di kantor. Ya, nggak?

    • Retno Septyorini
      January 28, 2019

      Betul banget. Maklum masih tinggal di desa. Jadinya ya gitu deh. Belum banyak yang tahu dan mau tahu tentang peluang kerja selain di kantor. Terima kasih sudah mampir Kak.

  • Ira Filanisa
    January 28, 2019

    MasyaAllah Tabarakallah keren <3 jd termotivasi 🙂

Leaver your comment

About Me

Wiloke

Retno Septyorini

Welcome to my creative blog │ Content creator @halomasin │Talk about figure, wastra, travel &culinary│ Happy living in Jogja

About Me