Jejak Peradaban dari Situs Liyangan, Sebuah Cerita Liburan Bersama Laptop Asus Kesayangan

Ada sebuah area di daerah Temanggung yang kini menjadi jujukan banyak penikmat sejarah karena menawarkan narasi yang begitu menarik dari kehidupan masa lampau nenek moyang kita. Tempat itu bernama Liyangan. Sebuah kawasan kenamaan yang dipenuhi jejak sejarah sebuah peradaban.

Liburan di Situs Liyangan Bersama Laptop Asus Kesayangan (Dokumentasi Pribadi)

Liburan di Situs Liyangan Bersama Laptop Asus Kesayangan (Dokumentasi Pribadi)

Sudah sejak lama saya menyukai wisata apa adanya. Jenis wisata yang jauh dari hingar bingar aneka spot selfie yang dibuat dadakan, namun seringkali memberi pengetahuan yang begitu mengagumkam. Dari sekian banyak pilihan yang ada, pada wisata sejarah-lah saya jatuh cinta. Karena cagar budaya selalu menyuguhkan aneka rupa cerita yang tak pernah terbayang sebelumnya. Ditambah lagi saya tinggal di Jogja. Kota sejuta rindu yang menawarkan untaian jejak sejarah yang begitu melimpah. Tak heran kiranya jika Jogja acap kali dibanjiri pengunjung dari awal hingga penghujung tahun.

Setelah beberapa pekan vakum jalan-jalan karena batuk, akhirnya saya terceletuk untuk liburan ke Dieng. Tempat sejuk untuk menenangkan diri yang kebetulan dikelilingi banyak candi. Ibarat sekali dayung, dua tiga pulau terlampai. Menepi untuk merencanakan resolusi ke depannya dapat, destinasi wisata sejarahnya juga mantap.

Waktu itu saya sempat rasan-rasan ke Mida, teman baru yang ketemu sewaktu mengikuti Ekspedisi Majapahit di Trowulan, Mojokerto. Selain sama-sama menggemari wisata sejarah, kebetulan kami berdua belum pernah ke Dieng. Tapi liburan kali ini tentu baru sebatas angan belaka. Maklum, menjelang akhir tahun biasanya harga paket wisata sedang mahal-mahalnya.

“Bisa diagendakan untuk next trip, Mbak”, jawabnya kala itu.

Penemuan Beras di Sekitar Situs Liyangan (Dokumentasi Pribadi)

Penemuan Beras Kuno di Sekitar Situs Liyangan (Dokumentasi Pribadi)

Eh, baru dibatin beberapa hari yang lalu, kok ya ndilalah saya melihat poster bertajuk Kelas Lapangan Sraddha Hermitage ke-5 yang diunggah ke laman Instagram. Kelas Lapangan merupakan kegiatan rutin yang diinisiasi oleh teman-teman dari Sraddha Institute. Sebuah komunitas pecinta Sastra Jawa Kuno, Tengahan dan Klasik.

Wah, menarik ini!”, batin saya dalam hati.

Tanpa perlu diaba, saya pun langsung menghubungi Mida. Teman jalan saya setengah tahun belakangan ini. Tak lama kemudian, kami sepakat untuk segera mendaftar ke contact person yang tersedia di poster. Asyiknya lagi, Kelas Lapangan kali ini ternyata akan mengunjungi dua tempat sekaligus. Hari pertama jelajah candi di kawasan Dieng, lalu keesokan harinya dilanjutkan menuju Situs Liyangan. Sebuah kawasan kenamaan yang dipenuhi jejak sejarah sebuah peradaban kenamaan di jamannya. Jaman Mataram Kuno.

Mungkin ini yang dinamakan rejeki. Pas butuh liburan, eh pas ada kelas lapangan. Jadi meski anggaran sedang pas-pasan, ternyata masih bisa mencukupi untuk dipakai jalan-jalan. Akhirnya, di penghujung lalu saya menghabiskan beberapa malam dengan rute Jogja-Wonosobo-Temanggung-Solo baru kembali pulang ke Jogja. Rute yang beberapa kali mengundang tanya mengapa dari Temanggung tidak langsung ke Jogja. “Karena rute jalan diluar kebiasaan terkadang malah mengasyikkan”.

Bagi saya jelajah heritage bersama komunitas selalu menarik. Di luar harga paket wisata yang seringkali begitu ramah di kantong, jalan bersama orang dengan ketertarikan serupa biasanya jadi lebih seru. Selain dapat berdiskusi dan saling tukar informasi, komunitas selalu punya rekanan terpercaya yang mampu menarasikan jejak sejarah dengan benar.

Sudah dapat teman baru, eh bisa bawa pulang aneka bahan tulisan baru untuk “diramu”. Harapannya sih sederhana saja. Agar sejarah masa lalu bisa dinikmati sampai anak cucu nanti. Meski baru bisa bercerita melalui blog, namun saya percaya bahwa setiap niat baik pasti diberi “jalan” tersendiri.

Refleksi Perjalanan Akhir Tahun Dimulai Dari Sini

Sego Megono

Sego Megono

Dinginnya perjalanan kereta malam ke Solo, dilanjut enam jam perjalanan via bus menuju Wonosobo terbayar tuntas dengan segelas teh panas dan sepincuk sego megono. Itu lho kudapan khas daerah Jawa Tengah yang dibuat dari campuran nasi, sayur daun ketela, bumbu kelapa dan ikan teri. Meski dikenal luas sebagai kuliner dari Pekalongan, ternyata waktu menginap di Wonosobo, eh rejekinya kami dimasakin sego megono.

Sarapan pagi itu terasa semakin nikmat dengan tambahan lauk berupa baceman dan tempe mendoan. Dominan manis pada nasi megono ternetralisir dengan gurihnya mendoan, juga topping bercitarasa asin dari ikan teri. Saking enaknya, saya dan beberapa teman sampai nambah, hehehe.

Bersama Laptop Asus Kesayangan

Bersama Laptop Asus Kesayangan

Usai sarapan, saya, Mida dan teman-teman sekamar langsung turun untuk bersiap-siap menuju Dieng. Agar tidak keberatan saat menjelajah, saya putuskan untuk menitipkan laptop ke panitia. Dan seperti biasa, ada saja yang bertanya mengapa sewaktu liburan kok malah bawa laptop segala? “Nggak mberat-mberatin aja tuh , Mbak?”

Duh, kalau sampai ditanya-tanya begini tuh sebenarnya malah bikin saya makin happy. Karena setiap kali ditanya saya selalu berfikir bahwa ini merupakan kesempatan yang baik untuk mengenalkan profesi narablog pada khalayak ramai. Itung-itung sekalian ngomporin orang biar mau nulis kesan dan pesan usai liburan. Meski diawali dari postingan yang ringan-ringan semacam update-an Instagram rasanya pun tak akan jadi masalah.

Bukankah semakin banyak reviewnya akan semakin banyak pula potensi Indonesia yang dikenalkan pada dunia? Tsaaah, gayamu Ret! ^^

Menyapa Dieng: Tentang Candi-Candi Bersejarah di Kompleks Pegunungan yang Indah

Foto Bersama di Depan Candi Setyaki (Dokumentasi Komunitas Sraddha)

Selain menawarkan indahnya panorama alam, Dieng juga menyimpan jejak sejarah yang menakjubkan. Konon nama Dieng berasal dari kata “Di” yang berarti tempat atau gunung dan “Hyang” yang bermakna dewa. Dari asal nama inilah destinasi andalan Kabupaten Banjarnegara ini dulunya merupakan gunung tempat bersemayamnya para dewa. Hal ini saya ketahui saat memasuki Museum Kailasa. Sebuah museum menawan yang menampilkan deskripsi sejarah, jejak peninggalan hingga perjalanan Dieng dari masa ke masa yang dikemas menjadi sebuah film pendek berdurasi sekitar 15 menit.

Yoni dan Lingga, Peninggalan Kuno di Museum Kaliyasa (Dokumentasi Pribadi)

Yoni dan Lingga, Peninggalan Kuno di Museum Kaliyasa (Dokumentasi Pribadi)

Setelah diajak berkeliling untuk melihat dan mendengarkan berbagai cerita peninggalan sejarah mulai dari artefak candi seperti aneka rupa arca, lingga hingga yoni, kami juga dipersilahkan untuk menonton sejarah Dieng di masa lampau yang tersaji di ruang bioskop museum. Semua fasilitas di museum yang buka mulai pukul 07.30 hingga 16.00 WIB ini dapat dinikmati dengan tiket masuk sebesar Rp 5.000 saja.

Dari sekian banyak artefak yang ada di dalam museum, penjelasan terkait yoni menjadi salah satu topik yang menarik perhatian. Deskripsi yang terdapat di Museum Kailasa menyebutkan bahwa yoni merupakan lambang wanita pada konsep penciptaan dan kesuburan. Yoni ini akan selalu berpasangan dengan lingga, yang tidak lain merupakan simbol jantan. Berdasarkan literatur yang ada, yoni merupakan penanda kesuburan suatu tempat. Kalau ada penanda kesuburan di suatu kawasan, bisa jadi tempat tersebut dulunya terdapat pemukiman kuno dari sebuah peradaban.

Kompleks Candi Arjuna (Dokumentasi Pribadi)

Deskripsi dari museum juga menjelaskan bahwasanya berbagai candi yang berada di sekitar Dieng merupakan candi yang dibangun sekitar abad ke-VII Masehi. Sayangnya, ada banyak prasasti yang informasinya sudah tidak terbaca sehingga mau tak mau telaah tentang Dieng dilihat dari aspek peninggalan lainnya. Satu diantaranya berkiblat pada arsitektur candi.

Berdasarkan arsitekturnya, candi di Dieng termasuk dalam golongan candi tertua karena memiliki gaya India yang cukup kental. Gaya arsitektur India Selatan ini salah satunya terlihat pada atap Candi Arjuna yang disebut Wimana, yakni bentuk atap candi yang bertingkat, dimana semakin ke atas bentuknya akan semakin mengecil. Candi Arjuna merupakan kompleks candi terluas yang ada di sekitar kawasan Dieng. Kompleks candi ini berada tidak jauh dari area Museum Kailasa.

Kompleks Candi Arjuna merupakan area candi terluas yang ada di kawasan Dieng. Selain Candi Arjuna, terdapat pula beberapa peninggalan bersejarah seperti Candi Setyaki dan area yang dikenal luas dengan sebutan Dharmasala, yakni bangunan tanpa dinding yang sengaja dibuat untuk tempat upacara, pertemuan keagamaan ataupun tempat beristirahat bagi pengunjung yang usai beribadah.

Sore harinya kami mengunjungi Candi Dwarawati. Sebuah candi kecil yang terletak agak jauh dari Kompleks Candi Arjuna. Dari sekian banyak candi yang dijelajahi seharian ini, Candi Dwarawati lah yang paling lekat di hati. Pertama karena letaknya yang berada di atas ketinggian sehingga menawarkan panorama yang tak biasa. Meski tengah mendung, namun candi yang ini cukup ciamik untuk berburu foto atau sekedar bersantai sembari berdiskusi ringan dengan kawan-kawan.

Saat tengah mendengar penjelasan dari Kang Rendra yang tidak lain merupakan salah satu pemateri dari Komunitas Sraddha, tiba-tiba saja lengan saya kebagian satu tendangan gol yang cukup bikin kaget plus keki. Maklum saja, saat peserta lapangan tengah asyik berdiskusi, adik-adik di sana juga sedang asyik-asyiknya main bola. Senang rasanya melihat kompleks candi yang tidak berjarak dengan anak-anak. Karena mengenal sejarah dapat dimulai dari kebiasaan-kebiasaan kecil semacam ini.

Menuju Situs Liyangan, Mengenal Peradaban Nenek Moyang

Menyapa Situs Liyangan (Dokumentasi Komunitas Sraddha)

Menyapa Situs Liyangan (Dokumentasi Komunitas Sraddha)

Sesuai jadwal, hari kedua Kelas Lapangan kami diajak untuk menyapa Liyangan. Sebuah area tambang pasir yang  cukup luas yang konon menyimpan jejak peradaban di jaman Mataram Kuno. Di tempat ini banyak ditemukan berbagai peninggalan langka mulai seperti yoni pipih bundar yang dikenal sebagai simbol kesuburan sekaligus pusat ritual suatu daerah hingga beragam material berupa atap ijuk, beras juga papan tidur yang bentuknya masih utuh meski ditemukan dalam kondisi hitam legam karena hangus terbakar.

Seperti halnya saat di Museum Kailasa, yoni menjadi salah satu artefak yang paling menarik perhatian di Situs Liyangan. Bedanya yoni yang ditemukan di Liyangan merupakan jenis yoni pipih bundar. Benda ini menjadi penting karena diibaratkan sebagai jantung pertanian di masa lampau. Sebagai pusat ritual, yoni akan diletakkan di posisi paling tinggi.

Seperti halnya gunung, posisi tertinggi ini merupakan simbolisasi posisi yang suci, yang kerap digunakan untuk ritual. Saat raat ritual ini tengah dilakukan, yoni akan dialiri dengan air suci. Selanjutnya, lubang yang terdapat pada yoni akan menjadi jalan bagi air suci sehingga dapat mengalir sekaligus menjadi sumber air untuk wilayah yang posisinya berada di bawah yoni. Karena hal inilah penemuan yoni menjadi salah satu titik krusial sebuah situs bersejarah.

Berdasarkan keterangan Mas Yudi, salah satu petugas lapangan di sana, selain memiliki sistem pertanian yang baik, diduga area di sekitar Situs Liyangan juga memiliki sistem perikanan dan peternakan tak kalah menarik. Hal ini terlihat dari jejak sejarah yang tertinggal seperti tulang kuda hingga saluran air yang mirip dengan sistem pengairan pada kolam. Wah, keren juga ya dugaan peradaban ribuan tahun lalu yang disematkan di kawasan ini!

Tembok Dua Jaman di Situs Liyangan (Dokumentasi Pribadi)

Tembok Dua Jaman di Situs Liyangan (Dokumentasi Pribadi)

Selain itu ada pula jalan setapak yang bebatuannya masih asli dan bisa dilewati oleh pengunjung. Di situs ini juga terdapat  tembok besar di sana yang konon dibuat dari dua jaman yang berbeda. Menariknya lagi, di bekas lahan yang tertimbun material vulkanik Gunung Sindoro ninitidak ditemukan tulang belulang manusia. Hanya ada tulang kuda yang menjadi petunjuk adanya peternakan di kawasan yang diduga menjadi area pemukiman di Jaman Mataram Kuno ini.

Dari sini kok saya mulai berandai-andai, jangan-jangan membaca pertanda alam sudah biasa dilakukan sejak jaman nenek moyang kita. Karena itulah saat terjadi letusan gunung, mereka sudah mengungsi di tempat yang aman. Bagi saya, hal semacam ini merupakan pelajaran yang begitu berharga. Apalagi kita hidup di negeri yang konon menyimpan berbagai potensi bencana.

Kalau bisa membaca tanda alam, tentu hal ini dapat mengurangi potensi kerugian saat terjadi bencana. Ah, mereka itu lho! Sudah keren karena bisa membaca tanda-tanda alam, eh kreatif pula dalam mendesain bangunan. Buktinya ada banyak candi yang dibuat begitu kokoh sehingga tidak mudah hilang tertelan jaman.

Liburan di Situs Liyangan Sambil Nenteng Laptop Asus Kesayangan (Dokumentasi Pribadi)

Liburan di Situs Liyangan Sambil Nenteng Laptop Asus Kesayangan (Dokumentasi Pribadi)

Baru melamun sebentar, eh tiba-tiba ada yang tanya, “Mbak, kok bawa dua tas sih? Emang apa isinya?”.

“Laptop, hehehe”, jawab saya sembari tersenyum.

Bukan tidak percaya pada awak bus, hanya saja saya merasa lebih aman kalau laptop berada dalam dekapan. Maklum saja, sebagai tukang nulis, laptop ibarat rekan kerja sehari-hari. Kalau sampai hilang, waduh, kerjan pasti jadi berantakan.

Selain untuk pindah-pindah data dari kamera, kebetulan saya ada deadline artikel salah satu acara yang harus dikumpul di hari kedua kelas lapangan. Jadi ujung-ujungnya ya kemana liburannya, gembolannya tetap laptop juga. Dua tahun belakangan membawa laptop setiap kali jalan memang sudah menjadi kebiasaan. Karena inspirasi menulis seringkali datang dan pergi tanpa permisi. Kalau mood sedang drop sih masih bisa diakali dengan melakukan hobi yang paling disenangi. Lha kalau sampai datang ide cemerlang, eh, tetiba lupa dan menguap begitu saja, kan sayang.

ASUS Zenbook UX391UA (Sumber: https://channel.asus.com)

ASUS Zenbook S UX391UA (Sumber: https://channel.asus.com)

Laptop yang saya tenteng di pundak itu adalah salah Asus P2430UA-WO0815D. Seri laptop Asus Pro dengan harga termurah yang mampu saya beli saat akan bertugas di Banjarmasin pada Agustus dua tahun silam. Meski sering diajak lembur, namun teman kerja berbobot 1,9 kg ini tetap tangguh dan tidak pernah “mengeluh”. Masalahnya cuma agak berat dan kurang mumpuni untuk bikin video.

Rencananya sih tahun ini mau nyoba ngevlog. Siapa tahu ada hoki. Toh koleksi video juga cukup banyak. Sayang saja kalau sampai terbuang sia-sia. Termasuk pada liburan kali ini. Apa-apa yang dijelaskan pembicara ujung-ujungnya saya rekam juga. Gambarnya dapat, informasi yang didapat pun lengkap. Hal ini sangat mempermudah saya untuk meracik tulisan usai liburan.

Selain menjadi hobi, menulis menjadi wujud cinta saya pada budaya Indonesia. Agar cerita tentang gemilangnya nenek moyang kita tidak tergerus hingar-bingar trending topik di berbagai linimasa sosial media. Jujur saja, jarang sekali rasanya saya menemui budaya Indonesia menjadi trending topik yang digembar-gemborkan generasi muda. Ya kecuali kalau sudah diklaim “tetangga”.

Sembari menikmati liburan akhir tahun, setidaknya saya memiliki dua resolusi khusus di tahun ini. Selain ngevlog, inginnya sih bisa #2019PakaiZenbook alias bisa nenteng ASUS Zenbook S UX391UA di perjalanan saya berikutnya. Gimana bisa berpaling coba kalau ada laptop berukuran 13,3 inch dengan ketebalan 12,9 mm yang beratnya hanya satu kilogram saja. Wah, kalau ini sih bisa masuk ke sling bag favorit saya. Jadi nggak perlu repot bawa dua tas kalau sedang liburan di lapangan macam ke Liyangan ini.

ASUS Zenbook UX391UA (Sumber: https://channel.asus.com)ASUS Zenbook UX391UA (Sumber: https://channel.asus.com)

Kelebihan lain pada Asus Zenbook S terletak pada ketajaman layar Full HD 1920×1080 dengan screenbody to ratio hingga 85% sehingga nyaman saat “bertatapan” hingga berjam-jam lamanya. Sulit rasanya seorang bloger itu hanya menatap layar barang sejam dua jam setiap harinya. Maklum saja, bagi seorang narablog, laptop itu ibarat kantor. Apalagi jika sedang banyak deadline, bisa lebih dari delapan jam sehari tuh nongkrong di depan layarnya, mulai dari cari-cari referensi, pilah-pilih foto, nyetel video liputan hingga bikin narasi.

Kalau sudah begini, punya laptop yang ringan dan berlayar tajam kan bisa mengurangi beban di pundak, sekaligus “beban” yang seringkali bikin lelah mata. Ditambah dengan “ergolift design“, laptop kece besutan asus ini juga menawarkan kenyamanan mengetik yang begitu baik karena kemiringan posisi keyboard saat digunakan dapat diatur sesuai kebutuhan.

Selain itu  desain keyboard berbentuk chiclet pada Asus Zenbook S membuat jarak antar huruf tidak terlalu mepet. Bisa dibayangkan bukan bagaimana nyamannya bekerja dengan laptop sekelas ini? Sudah ringan dan nyaman, eh, dilengkapi pula dengan desain body khusus full metal yang sudah tersertifikasi Military Grade MIL-STD 810G.

Jadi meski begitu ringan, namun ASUS Zenbook S UX391UA ternyata sudah lolos serangkaian uji ekstrem mulai dari pengujian goncangan, dijatuhkan, digunakan pada ketinggian hingga tes di suhu tinggi maupun rendah. Cocok sekali untuk pekerja lapangan yang jarang menghabiskan waktu di dalam ruangan? Kalaupun sampai jatuh saat liputan, hal ini tidak akan mengurangi performa laptop mumpuni yang satu ini.

Performa laptop yang demikian ternyata masih ditambah dengan daya baterai hingga 50Whrs yang mampu bertahan hingga 13,5 jam. Pas sekali digunakan oleh para pelaku ekonomi kreatif yang banyak bekerja di depan layar. Menariknya lagi, Asus Zenbook S ini juga dilengkapi dengan teknologi fast charging yang mampu mengisi hingga 60% dalam waktu kurang dari 49 menit.

Dengan baterai super awet, tentu pengguna tidak perlu khawatir harus nyari-nyari colokan saat Asus Zenbook S ini diajak “jalan”. Menariknya lagi, Zenbook idaman kita semua ini juga dipasangi sistem pendingin yang super canggih. Jadi kita tinggal fokus saja ke kerjaan tanpa harus mengalami laptop jadi kepanasan saat tengah digunakan.

Pemberian audio terbaik besutan Harman Kardon juga menambah daya tarik pada ASUS Zenbook S UX391UA. Kalau jenuh sedang melanda, layar tajam dengan audio terbaik bak bioskop yang tersemat dalam laptop ini ibarat pasukan yang siap siaga untuk mengibur kita semua. Mau live music bisa. Mau nonton film hadir dengan kualitas layar dan suaranya juga oke punya. Eh, mau buat teman buat nemenin senam juga tak kalah asyiknya.

ASUS Zenbook UX391UA (Sumber: https://channel.asus.com)

ASUS Zenbook UX391UA (Sumber: https://channel.asus.com)

Menariknya lagi, performa ASUS Zenbook S UX391UA ini disempurnakan dengan komponen kelas atas seperti prosesor Intel Core i7 8550U dengan konfigurasi 4 core 8 thread yang memiliki kecepatan pemrosesan hingga 4.0GHz. Ibarat mobil, performa cepatnya tidak sedikitpun menyisakan ruang untuk kata terlambat. Di era yang begini cepat, kita memang dituntut untuk tidak pernah telat, bukan? APalagi bagi bloger, telat sedikit dapat menjadi penghambat rejeki.

Untuk mendukung konektivitas super cepat yang banyak diperlukan anak media macam saya ini, laptop dengan RAM 16 GB idaman saya ini juga dibekali 3 port USB C Thunderbolt. Sudah ringan dan tahan banting, eh performanya sempurna pula! Fix, laptop besutan Asus dengan pilihan warna Deep Dive Blue dan Burgundy Red ini pasti akan menjadi idola baru creative people.

Sepertinya Asus juga tahu betapa berartinya hak kekayan intelektual suatu produk bagi para pelaku kreatif. Untuk meminimalisir pencurian data yang tersimpan di laptop, ASUS Zenbook S UX391UA membekali diri dengan  sensor sidik jari.  Bahkan asisten pribadi pun disematkan Asus melalui teknologi Windows Hello. Lengkap sudah performa laptop yang dibanderol dengan harga 26 jutaan ini. Semoga saja resolusi saya tahun ini dapat diamini.

Catatan Perjalanan di Akhir Tahun

Di penghujung tahun lalu, saya kembali membuka memori jalan setahun belakangan. Setelah diingat-ingat, ternyata perjalanan 2018 terbilang cukup menyenangkan. Setelah jelajah candi di sekitar Magelang pada awal Januari, kemudian dilanjut menuju Trowulan di bulan Juli. Tak disangka, dua bulan usai mengitari beberapa peninggalan sejarah di kawasan yang dipercaya sebagai ibu kota Kerajaan Majapahit itu, saya kebagian kursi untuk mengikuti Kelas Heritage bertajuk “Menguak Sejarah Keraton Yogyakarta” yang diadakan oleh Komunitas Kompasianer Jogja.

Sebulan kemudian ada lagi kesempatan baik mengikuti diskusi bertema “Mengenal Peradaban Melalui Manuskrip” yang diinisiasi oleh Kementerian Agama. Sebagai penutup, Liyangan menjadi penutup wisata sejarah yang saya kunjungi di akhir tahun. Semoga saja 2019 bisa cerita lebih banyak lagi tentang warisan budaya negeri sendiri ditemani si keren ASUS ZenBook S UX391UA ini. Ah, Asus memang paling mengerti apa yang dibutuhkan produsen konten agar tetap produktif dan selalu kreatif di sepanjang perjalanan.

Salam hangat dari Jogja,

-Retno-.

Artikel ini diikutkan dalam Lomba Blog #LiburanAsikDenganLaptopASUS #AsusxMiraSahid

Retno Septyorini

Perkenalkan, nama saya Retno Septyorini, biasa dipanggil Retno. Saya seorang content creator dari Jogja. Suka cerita, makan & jalan-jalan. Kalau ke Jogja bisa kabar-kabar ya..

YOU MIGHT ALSO LIKE

10 Comments

  • Wening
    January 22, 2019

    Review laptopnya bikin mupeng hehehe

    • Retno Septyorini
      January 22, 2019

      Iya ini, aku pun mupeng banget. Semoga ada rejeki buat nenteng ini ya Mb Wen, aamiin..

  • Dina
    January 22, 2019

    Uda 3x ke dieng tapi cuma menikmati pemandangan dan hawa sejuk saja. Baca tulisan ini jadi nambah ilmu ttg sejarah. Haha jadi malu, ke dieng cuma piknik tanpa blajar sejarah. Makasih mba e… Karnamu aq jadi tau sejarah

    • Retno Septyorini
      January 22, 2019

      Wah, asyiknya udah 3 kali wira-wiri ke Dieng. Next time museum ama candinya jangan sampai lepas say^^

  • Indrapio
    January 22, 2019

    Wah, keren cerita dibalik wisata sejarah di Dieng.. Sempat ke Dieng tapi blom sempat mengunjungi candi2nya.. Lumayan lah baca ceritanya dulu baru kesana lagi 😅
    Btw lebih salut lagi jalan2 gitu sambil bawa laptop.. juara deh.. kalo aku mah gak akan kepikiran 🙈

    • Retno Septyorini
      January 22, 2019

      Kita juga banyak yang sampe terbengong-bengok kok denger cerita pematerinya. Besok kalau ke sini jangan lupa mampir ke meseum sama candinya yes..

  • Peggy
    January 22, 2019

    Sebagai netizen yang cupu dgn perblog an tulisannya bagus banget mbak retno..ohohohoho..jadi pgn travelling bersama komunitas gitu…semoga itu si laptop asus selalu setia menemani perjalanan tulisan mu yaw..sukses

    • Retno Septyorini
      January 22, 2019

      Nanti kalau ada lagi dikabarin deh. Kalau laptopnya jelas bikin mupeng sih ya, hoho..

  • Ria Riezky
    January 24, 2019

    Semakin hari semakin terasah, good joob say @retno septyorini. Karyamu smkn menarik. Menarik susunan katanya maupun ceritanya, ini efek selalu ditemani asus po yooo ^,^
    Selamat bereksplorasi dan ditunggu karya terbarunya bersama asus

Leaver your comment

About Me

Wiloke

Retno Septyorini

Welcome to my creative blog │ Content creator @halomasin │Talk about figure, wastra, travel &culinary│ Happy living in Jogja

About Me