Jaga Hutan untuk Masa Depan, Sayangi Bumi Agar Tetap Asri

Dear hutan, apa kabar? Sungguh, 50 tahun terasa begitu cepat. Sebelum jauh bertanya, juga bercerita, perkenalkan aku Retno. Salah satu orang yang di masa muda pernah mengenyam pendidikan di samping sebuah kebun yang dikira hutan. Namanya Kebun Biologi. Sebuah kebun seluas setengah hektar yang berfungsi sebagai kebun percobaan untuk penelitian.

Awal 2005 silam, kebun di samping kampusku itu dipenuhi dengan koleksi pepohonan dari berbagai daerah. Ada randu alas bunga kuning (Salamalia malabarica), sterkulia (Sterculia feotida), meranti (Shorea zeylanica, S. japonica) hingga nagasari (Messua ferrea). Bahkan pohon durian pun ada di sini. Senang rasanya bisa menikmati kuliah dengan sedikit nuansa belantara. Selain sejuk udara menerpa, kicau burung juga kerap menyapa. Bisa dibayangkan bukan bagaimana menyenangkannya suasana perkuliahan di pertengahan tahun 2000-an?

Jaga Hutan untuk Masa Depan, Sayangi Bumi Agar Tetap Asri
Jaga Hutan untuk Masa Depan, Sayangi Bumi Agar Tetap Asri

Dari sini lah aku mulai berkenalan denganmu. Dulu, menyelesaikan beberapa praktikum sewaktu kuliah menjadi perantara kita untuk saling bertegur sapa. Seiring berjalannya waktu ternyata jadwal pertemuan kita semakin bertambah, utamanya saat aku bergabung dalam beberapa mata kuliah dan kelompok studi pilihan. Saat itu Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) menjadi saksi petulangan pertamaku di rumahmu. Sayangnya tak ada satu pun foto yang tersisa. Semoga saja jika saat surat ini kembali dibaca, hutan-hutan itu tidak hilang ditelan keserakahan manusia.

Aku ingat betul saat pertama menyusur TNGM. Sejak melewati perbatasan dengan rumah warga sekitar, semua heran tatkala melihat berumpun anggrek yang tumbuh liar di tepi jalan. Beranjak masuk di area taman, ada spesies anggrek yang membuatku tercengang karena baru pertama memandang. Sesekali aku dan teman-teman juga berpapasan dengan rombongan ibu-ibu yang menggendong rumput untuk pakan ternak. Terima kasih ya sudah menjadi sumber energi sekaligus rumah bagi keanekaragaman hayati bagi yang bermanfaat bagi kami.

Bertandang ke Cagar Alam Krakatau
Bertandang ke Cagar Alam Krakatau

Tak disangka-sangka, selepas kuliah kita dipertemukan kembali. Bedanya pertemuan 2016 silam melewati jalur Sumatera. Berkat sebuah kompetisi menulis akhirnya kita berpapasan via Cagar Alam Kratatau. Sebuah Cagar Alam di Kepulauan Krakatau yang berisi ratusan jenis fungi dan spermatophyta. Berkat kemajuan teknologi, jalur keberangkatan dari Pantai Sari Ringgung menjadi lebih mudah, juga lebih singkat. Semoga dengan bantuan teknologi pula, campaign jaga hutan kian mudah untuk disebarluaskan.

Siapa sangka lima tahun sejak perjalanan menyenangkan itu, bumi dilanda pandemi. Di tahun yang sama, terjadi berbagai bencana alam yang salah satunya disebabkan karena abai pada kesehatan hutan. Tapi aku tak mau menggerutu. Aku yakin dengan bersinergi, berbagai kelalaian itu masih bisa diperbaiki. Sungguh, sinergi yang baik ini terlihat dari antusias masyarakat yang mulai peduli pada kesehatan lingkungan sekitar. Ada yang getol berkebun hingga memperbaiki saluran irigasi sejak awal pandemi. Ada yang mulai menggalakkan pilah sampah dari rumah hampir setiap hari. Ada pula yang kini menerapkan konsep mindfull eating hingga mindfull shopping untuk mengurangi volume sampah dari rumah masing-masing. Semua ini adalah wujud nyata menyayangi bumi agar tetap asri hingga nanti.

Adopsi Bibit (Sumber: Website ASRI)
Adopsi Bibit (Sumber: Website ASRI)

Di sisi lain, ada pula teman-teman yang mulai mengenalkan adopsi pepohonan untuk menjaga masa depan hutan. Selah satu contohnya terlihat teman-teman yang tergabung dalam Yayasan Alam Sehat Lestari (ASRI). Dengan kesadaran penuh, mereka siap memfasilitasi kegiatan Adopsi Bibit Pohon dan Adopsi Pohon untuk ditanam di hutan. Kabar baiknya, teman-teman bisa memilih jenis pohon yang akan diadopsi. Apakah jenis pohon kayu keras atau pohon buah. Menariknya, adopsi pohon di ASRI dibanderol dengan harga yang sangat terjangkau. Mulai 75 ribu rupiah saja. Semoga saja langkah-langkah kecil semacam ini dapat lestari hingga anak cucu nanti.

Sungguh aku tak tahu bagaimana keadaanmu 50 tahun mendatang. Tapi melihat geliat orang-orang yang mulai menggalakkan kegiatan peduli lingkungan, aku meyakini akan ada banyak perbaikan untuk menjaga masa depan hutan sehingga bumi tetap asri dan kian lestari.

Salam hangat dari Jogja,

-Retno-

Retno Septyorini

Perkenalkan, nama saya Retno Septyorini, biasa dipanggil Retno. Saya seorang content creator dari Jogja. Suka cerita, makan & jalan-jalan. Kalau ke Jogja bisa kabar-kabar ya..

YOU MIGHT ALSO LIKE

No Comment

Leaver your comment