Investasi Melalui Amartha: Dukung Pemberdayaan Ekonomi Perempuan di Pelosok Indonesia

Koleksi Tenun Pribadi

Tiga puluh dua tahun yang lalu, tenun ini dibeli bapak dengan harga lima ribu rupiah. Dengan nilai rupiah yang sama, lima ribu di tahun ini hanya dapat sepuluh pentol lima ratusan yang acap kali saya beli di pinggiran jalan. Terbayang bukan tergerusnya nilai tabungan yang kita punya jika hanya “didiamkan” selama berpuluh tahun lamanya?

Cerita ini pelak mengingatkan saya akan kisah hidup mantan narapidana Park Sae Ro Yi di serial drama Korea “Itaewon Class” yang memilih untuk menginvestasikan uang asuransi kematian mendiang ayahnya pada perusahaan makanan ternama bernama Perusahaan Jangga Food. Berkat bantuan analisa kawan baiknya (David Lee), beberapa tahun setelah bebas dari penjara, Park Sae Ro Yi berhasil menjadi salah satu pemegang saham terbesar di Jangga Food.

Disadari ataupun tidak, bekal pengetahuan dan pemahaman akan produk dan layanan keuangan yang mumpuni tentu akan mempermudah seseorang dalam mengelola keuangan, tidak terkecuali dalam memilih investasi sesuai dengan profil resiko masing-masing.

Ngomong-ngomong soal pengelolaan keuangan, saya jadi ingat beberapa pedagang langganan saya sedari kecil yang tidak menunjukkan perkembangan usaha yang begitu berarti meski beberapa dekade telah terlewati. Bahkan ada satu penjual jenang yang masih berjualan dengan sepeda yang sama. Dagangannya pun tidak banyak berubah. Hanya sepanci jenang gempol dengan kuah santan.

Pendek kata, ternyata pelaku usaha mikro tanpa perkembangan yang signifikan meski sudah tiga dekade beroperasi itu nyata adanya. Persis seperti sebagian pemahaman dari masyarakat kita yang hanya mengenal hidup hemat dan menabung sebagai bekal masa depan yang mumpuni. Padahal tanpa investasi, nilai uang kita dapat tergerus inflasi.

Geliat Usaha Mikro di Tengah Pandemi

Mie Pentil
Mie Pentil

Akhir pekan kemarin menu sarapan saya terbilang berbeda. Alih-alih menyantap nasi, saya lebih memilih berkendara sampai ke Imogiri untuk sarapan mie. Setelah turun dari area parkir, saya langsung menuju ke lapak Bu Jiem. Salah satu penjual mie pentil di Pasar Imogiri.

Mie pentil merupakan salah satu mie tradisional khas Bantul yang dibuat dari tepung tapioka alias tepung singkong. Kalau dihitung-hitung, 35 tahun sudah beliau berjualan di kawasan ini. Seporsi kecil mie gurih bertopping sambal kukus ini dijual dengan harga mulai dari seribu rupiah saja. Sayangnya cerita mie legendaris ini tak seindah biasanya.

Pagi itu geliat jual beli di Pasar Imogiri terbilang sepi. Selain banyak lapak yang terlihat minim pembeli, tidak sedikit pula pemilik kios di berbagai los yang memilih buka di lain hari. Deretan lapak mie pentil yang diisi oleh Bu Jiem dan tiga rekannya pun terlihat lenggang karena tidak ramai pembeli.

Pandemi memang menurunkan target capaian negeri di berbagai lini. Selain menyebabkan krisis kesehatan, Pandemi Covid-19 juga menyebabkan penurunan perekomian nasional hingga minus 5,32% pada kuartal II-2020 kemarin. Tak ayal kondisi ini menjadi pukulan yang berat bagi banyak pelaku usaha, tidak terkecuali bagi mereka yang termasuk kelompok usaha mikro seperti Bu Jiem ataupun pedagang keliling yang jamak kita temui sehari-hari.

Sebelum pandemi datang saja pedagang kecil-kecilan yang menggantungkan hidup dari keuntungan harian sudah merasa kebingungan jika ada stok dagangannya ada yang tidak laku. Terlebih lagi jika barang dagangan termasuk komoditi yang umurnya hanya sehari seperti dagangan Bu Jiem dan penjual jajanan pasar lainnya.

Tidak jarang sisa dagangan yang ada hanya berujung sebagai pakan hewan peliharaan. Selain mengganggu perolehan keuntungan harian, kendala penjualan semacam ini tentu akan mengganggu persiapan modal dagang di hari berikutnya. Apalagi jika mereka tidak masuk dalam kriteria peminjam (debitur) yang layak di mata bank (unbankable). Jangankan mau pinjam modal di bank. Rekening pribadi saja terkadang tidak punya.

Di tengah pandemi, kondisi demikian tentu berpotensi menurunkan pendapatan sehari-hari. Ditambah lagi literasi keuangan para pengusaha kecil terbilang minim. Bisa dibayangkan bukan bagaimana sulitnya akses permodalan yang dialami oleh pelaku usaha mikro yang masuk dalam golongan  unbankable tadi?

Inklusi Keuangan untuk UMKM

Tidak dapat dipungkiri bahwasanya akses permodalan masih menjadi masalah utama yang dialami oleh pelaku usaha di Indonesia. Meski Studi PricewaterhouseCooper menyebut bahwa Indonesia berpotensi menjadi negara dengan perekonomian terbesar ke-4 pada tahun 2050 mendatang, di sisi lain hasil Survei Nasional Literasi Keuangan (SNLIK) ketiga yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tahun 2019 baru menunjukkan indeks literasi keuangan dengan capaian sebesar 38,03% saja.

Padahal literasi keuangan (pengetahuan masyarakat untuk mengelola keuangan pribadi) erat kaitannya dengan pemahaman masyarakat akan manfaat mengakses produk ataupun layanan dari lembaga keuangan, yang kini dikenal luas dengan sebutan inklusi keuangan.

Guna meningkatkan literasi keuangan masyarakat luas sekaligus untuk mempercepat pemulihan ekonomi nasional paska pandemi, pemerintah melalui OJK, Kementerian/Lembaga Negara serta berbagai lembaga daerah terkait menggalakkan Bulan Inklusi Keuangan yang diperingati setiap bulan Oktober. Di tengah pandemi tahun ini peringatan Bulan Inklusi Keuangan dilakukan secara virtual dengan mengambil tema besar bertajuk “Satukan Aksi Keuangan Inklusif untuk Indonesia Maju (AKSESSKU).

Kabar baiknya, dukungan untuk meningkatkan literasi keuangan sekaligus pemulihan ekonomi nasional juga dilakukan oleh pihak swasta. Satu diantaranya dilakukan oleh PT. Amartha Mikro Fintek yang tidak lain merupakan pionir fintech Peer to Peer (P2P) Lending di Indonesia yang telah terdaftar dan memiliki izin usaha resmi di OJK. Fintech Peer to Peer Lending merupakan investasi berbasis layanan pinjam meminjam berbasis teknologi informasi yang berisi kesepakatan perdata antara Pemberi Pinjaman dengan Penerima Pinjaman sehingga segala risiko yang timbul dari kesepakatan tersebut ditanggung sepenuhnya oleh masing-masing pihak.

Layanan Peer to Peer Lending yang dilakukan Amartha ini fokus dalam mengembangkan usaha mikro yang digawangi perempuan-perempuan desa di pelosok nusantara. Selain dapat membantu geliat ekonomi perempuan Indonesia di berbagai penjuru negeri, berinvestasi di Amartha merupakan wujud nyata kita dalam meningkatkan inklusi ekonomi di Indonesia.

Dengan basis teknologi yang mudah dipahami, investasi di Amartha dapat menjadi alternatif investasi yang menarik bagi para milenial. Lebih jauh lagi teman-teman dapat memilih lokasi, jenis usaha, jumlah pinjaman lengkap dengan skor kredit yang jelas pada para peminjam dana, mulai dari A, A-, B, C dan E. Hingga saat ini Amartha telah menjangkau 1000 desa dengan total pendanaan mencapai 2,7 triliun ke lebih dari 500 ribu pengusaha wanita yang tersebar hingga ke 1000 desa yang terletak di Pulau Jawa maupun di luar Pulau Jawa.

Selain soal kemudahan dan kecepatan dalam mengakses informasi, investasi di Amartha dapat menghasilkan keuntungan tahunan hingga 15%. Untuk meminimalisir terjadinya gagal bayar, pihak Amartha juga melakukan pendampingan pada pelaku usaha sekaligus memberlakukan manajemen pinjaman dengan sistem tanggung renteng.

Pinjaman dengan sistem ini akan diberikan secara berkelompok. Jika nantinya ada anggota kelompok yang belum bisa membayar pinjaman, maka akan dibantu dulu oleh anggota kelompok lain. Selain itu pengembalian pokok pinjaman dan bagi hasil kepada para investor dilakukan setiap minggu.

Kabar baiknya, investasi di Amartha dapat dilakukan dengan nominal mulai dari tiga juta rupiah saja. Menarik, bukan?

Retno Septyorini

Perkenalkan, nama saya Retno Septyorini, biasa dipanggil Retno. Saya seorang content creator dari Jogja. Suka cerita, makan & jalan-jalan. Kalau ke Jogja bisa kabar-kabar ya..

YOU MIGHT ALSO LIKE

No Comment

Leaver your comment