Inspirasi Membanggakan Dari Gelar Produk Craft dan Fashion Istimewa 2019

Melihat pertumbuhan sektor ekonomi kreatif (ekraf) Indonesia yang meningkat secara signifikan dari tahun ke tahun, tidak heran jika sektor ini dinilai sangat potensial dalam menggerakkan roda perekonomian Indonesia di masa yang akan datang. Sektor ekonomi yang bertumpu pada inovasi dan kreativitas sumber daya manusia ini terbukti mampu memberi nilai tambah baik secara fungsi maupun nilai ekonomi pada berbagai produk ataupun layanan jasa karya anak bangsa.

“Ekonomi kreatif adalah masa depan Indonesia”, begitu kira-kira ungkapan yang banyak digaungkan oleh banyak pelaku ekonomi kenamaan baik dari dalam maupun luar negeri.Menariknya lagi, dua dari enam belas sub sektor ekonomi kreatif yang ada yakni sub sektor fashion dan kriya berhasil menduduki peringkat dua besar ekspor produk ekraf dari Indonesia dengan persentase mencapai 54,54% untuk fashion dan 39,01% untuk kriya.

Gelar Produk Craft & Fashion Istimewa

Gelar Produk Craft & Fashion Istimewa

Jadi jangan heran jika pemerintah bekerja begitu keras dalam menaikkan “kelas” pelaku usaha yang berkecimpung pada kedua sektor usaha di atas, seperti menginisiasi program desainer masuk desa, memberikan kemudahan akses perijinan bagi pelaku usaha hingga pendampingan UMKM yang dilakukan oleh Dinas Koperasi UKM DI Yogyakarta melalui PLUT-KUMKM DI Yogyakarta. Pemerintah tahu betul, bahwa mengembangkan potensi ekonomi kreatif lokal akan memperkuat pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa yang akan datang.

Sinergi yang baik antara pemerintah dengan berbagai pihak terkait berhasil membuat inovasi produk fashion dan kriya karya local champion semakin banyak diketahui sekaligus diminati “pasar”. Beberapa diantaranya saya temui di acara bertajuk “Gelar Produk Craft dan Fashion Istimewa 2019”. Sebuah event khusus yang diinisiasi Dinas Koperasi UMK DI Yogyakarta untuk memperkenalkan puluhan produk kerajinan dan fashion unggulan daerah. Pameran ini akan berlangsung selama dua hari berturut-turut, mulai tanggal 22 Maret 2019 pukul 09.00 hingga 16.00 di Halaman Pyramid yang beralamatkan di Jalan Parangtritis km 5,5, Tarudan, Bangunharjo, Sewon, Bantul.

Produk Eco Print Mulva Collection yang Dipamerkan di Acara Gelar Produk Craft & Fashion Istimewa

Produk Eco Print Mulva Collection yang Dipamerkan di Acara Gelar Produk Craft & Fashion Istimewa

Kabar baiknya, sebagian diantaranya bahkan membersitkan rasa bangga karena banyak sudah produk lokal yang berhasil menampilkan citarasa global. Ada yang mulai dipesan desainer kenamaan, ada yang diminati banyak wisatawan, ada yang lolos kurasi pameran berskala nasional hingga ada pula yang berhasil diekspor langsung oleh pengrajin. Iya, diekspor sendiri oleh pengrajin tanpa perantara eksportir.

Inovasi Produk Craft dan Fashion Istimewa Made In Jogja

Setelah berkeliling sejenak, pandangan saya terhenti pada lembaran kain berwarna natural dengan aneka corak unik karya Ibu Ira. Produk yang bernaung di bawah brand bernama Tizania Natural Tie Dye’s ini menawarkan produk kain jumputan dalam berbagai ukuran. Ada yang dijual dalam bentuk lembaran kain berukuran 2 meter, ada pula yang dibuat sebagai scarf, pashmina hingga hijab segi empat. Tidak perlu khawatir soal harga. Pasalnya produk Tizania dibanderol dengan harga mulai dari 150 ribu saja. Dalam hal ini harga ditentukan oleh motif dan teknik pewarnaan kain. Semakin rumit warna dan motif pada kain, tentu akan semakin mahal pula harga yang ditawarkan.

Produk Tizania Natural Tie Dye's yang Dipamerkan Pada Gelar Produk Craft & Fashion Istimewa

Produk Tizania Natural Tie Dye’s yang Dipamerkan Pada Gelar Produk Craft & Fashion Istimewa

Sesuai dengan namanya, semua jumputan Tizania yang dipamerkan pada event “Gelar Produk Craft dan Fashion Istimewa 2019” ini dibuat dengan pewarna alam seperti kayu tingi, tegeran, jolawe, secang dan indigo. Uniknya, meski dibuat dengan pewarna alam, namun jenis pewarna yang lebih bersahabat dengan lingkungan ini tetap bisa menghasilkan warna pekat yang begitu memikat. Pashmina jumputan yang saya pegang ini misalnya. Meski diwarna dengan hasil fermentasi tanaman indigofera, namun hasil birunya tetap oke punya.

Dilihat sekilas, motif jumputan Tizania hampir mirip dengan motif sasirangan yang merupakan kain tradisional khas Banjarmasin. Padahal jika ditelisik lebih lanjut, proses pembuatan keduanya terbilang sangat berbeda. Motif pada jumputan diperoleh dari ikatan-ikatan kain, sedangkan motif pada sasirangan dibuat dengan cara disirang alias dijelujur dan diikat sehingga akan menampakkan bekas tusukan jarum di sepanjang motifkain. Meski demikian, bagi orang awam, keduanya tampak serupa.

"Kemasan Naik Kelas" Produk Tizania Natural Tie Dye's yang Dipamerkan di Acara Gelar Produk Craft & Fashion Istimewa

“Kemasan Naik Kelas” Produk Tizania Natural Tie Dye’s yang Dipamerkan di Acara Gelar Produk Craft & Fashion Istimewa

Pouchnya lucu ini, Bu. Sayangnya masih menggunakan bahan rits “kelas dua” sehingga hasil akhirnya terlihat biasa saja”, ucap saya usai membolak-balik aneka rupa pouch yang ada di meja pameran.

“Selain digunakan untuk pouch, ini adalah kemasan produk kami, Mbak”, jawab Bu Ira sembari melempar senyum.

“Oh, iya?”, ucap saya kali ini dengan gabungan senyum antara senang dan cukup kaget karena tidak pernah mengira kalau pengrajin lokal seperti Bu Ira sudah memperhatikan kemasan produk dengan sebegitu baiknya.

“Nanti kalau semuanya menggunakan bahan premium saya takut harganya jadi membengkak, Mbak”, tambah Bu Ira sejenak kemudian.

Selain menggunakan pewarna alami, produk Tizania memang tidak dikemas dengan plastik, melainkan dikemas secara eksklusif dengan pouch khusus yang dibuat dari bahan jumputan warna alam.

“Alhamdulillah, saya juga menerima pesanan kain dari beberapa desainer muda, Mbak”, ucap Bu Ira dengan raut muka agak malu-malu.

“Ini yang dinamakan UKM naik kelas”, batin saya dalam hati.

Bu Ira, Owner Tizania Natural Tie Dye's yang Dipamerkan di Acara Gelar Produk Craft & Fashion Istimewa

Bu Ira, Owner Tizania Natural Tie Dye’s yang Dipamerkan di Acara Gelar Produk Craft & Fashion Istimewa

Hanya ada satu cacatan penting yang sempat saya diskusikan dengan Ibu Ira, yakni soal motif dan warna yang belum memiliki ciri khas tersendiri. Ciri yang membedakan jumputan warna alam milik Bu Ira dengan jumputan warna alam lainnya.

Siang itu saya sempat menunjukkan beberapa contoh brand kain serupa yang saat ini sudah bisa tembus ke beberapa pameran besar di Jakarta, dimana satu diantaranya tengah dipamerkan dalam gelaran bergengsi Adiwastra  2019.

“Selain diwarna dengan bahan natural, brand kami menawarkan pembeda dengan mengusung motif yang cukup rapat, yang diulang hampir di sepanjang motif kain”, ujar Bu Ira.

Meski dibuat dengan skill yang mumpuni, namun motif yang begitu rapat terkadang sulit untuk dijadikan padu padan busana yang menarik. Kalau menurut beberapa desainer tekstil dan fashion yang pernah saya temui saat bertugas sebagai awak media dalam program “tim desainer masuk desa”, semakin sederhana desain yang menempel pada kain cenderung menimbulkan kesan yang lebih elegan saat “disulap” menjadi produk fashion.

Hal dasar inilah yang masih menjadi pekerjaan rumah kita. Yakin deh, kalau pengrajin mampu mengkonsep motif yang sesuai dengan jenis produk fashion yang akan dibuat, tentu kualitas produk kain handmade kita bisa lebih bersaing di skala global. Apalagi keanekaragaman hayati Indonesia itu menempati posisi ke-2 terbesar di dunia. Kalau di atas kertas, negeri gemah ripah loh jinawi ini tentu menawarkan pilihan pewarna alam yang begitu melimpah. Kesempatan untuk eksplore pewarna alam pun terbilang semakin mudah, bukan? Tinggal bagaimana kita berusaha untuk mengenal, mengolah dan memanfaatkannya secara bijak.

Permasalahan dasar ini rupanya juga dialami oleh Ibu Ira. Meski sudah berulang kali memodifikasi motif jumputan miliknya, namun motif jumputan karya Bu Ira masih terlihat cukup mirip dengan sasirangan. Lagi-lagi, padatnya motif kadang tidak “masuk” saat akan diolah menjadi produk fashion seperti gaun, baju, kemeja, sepatu, sandal hingga cluth.

Produk Eco Print Mulva Collection yang Dipamerkan di Acara Gelar Produk Craft & Fashion Istimewa

Produk Eco Print Mulva Collection yang Dipamerkan di Acara Gelar Produk Craft & Fashion Istimewa

Masalah serupa saya lihat juga pada koleksi Mulva Eco Print. Sebuah brand yang mengusung pewarnaan alami dari aneka rupa dedaunan khas nusantara. Dengan motif daun yang kebanyakan berukuran cukup besar, saat ini produk eco print milik Ibu Ulva baru cocok untuk dibuat rok, tas dan outware saja. Akan lebih menarik jika produk eco print semacam ini mulai dibuat dengan motif yang lebih kecil sehingga motif terlihat lebih jelas saat dibuat pernik seperti alas kaki, tas pesta hingga dompet.

Inovasi Cluth Kulit Kayu Mulva Collection yang Dipamerkan di Acara Gelar Produk Craft & Fashion Istimewa

Inovasi Cluth Kulit Kayu Mulva Collection yang Dipamerkan di Acara Gelar Produk Craft & Fashion Istimewa

Kabar baiknya, produk yang baru mulai dibuat pada bulan Juli tahun lalu ini kini mulai dikenal oleh khalayak ramai. Meski belum laku keras, setiap bulannya ada puluhan produk Mulva Eco Print meluncur ke tangan konsumen. Selain menawarkan dalam bentuk lembaran kain, scarf dan pashmina, Mulva Eco Print mulai melahirkan produk baru. Salah satunya adalah tas eco print yang terbuat dari kulit kayu. Cantik banget, kan? Jangan kaget ya, harganya cuma Rp 120.000 saja!

Bu Ulva juga mulai mengembangkan teknik eco print yang dipadukan dengan teknik lukis pada kain. Hasilnya memang tidak menghianati proses. Kain eco print yang dilukis memang terlihat lebih unik. Tentu saja dengan konsekuensi harga yang sedikit lebih tinggi dari kain eco print biasa.Untuk harga, Bu Ulva membadrol mulai sari Rp 100.000 hingga Rp 1.500.000, tergantung jenis dan teknik pengerjaan motif eco print pada kain.

Inovasi Batik Kayu Khas Desa Wisata Krebet yang Dipamerkan di Acara Gelar Produk Craft & Fashion Istimewa

Inovasi Batik Kayu Khas Desa Wisata Krebet yang Dipamerkan di Acara Gelar Produk Craft & Fashion Istimewa

Di depan stand Mulva Collection saya bertemu Ibu Mila. Pengrajin batik kayu khas Desa Wisata Krebet. Menarik bukan ada batik yang dilukiskan di atas kayu-kayu berbentuk gelang, piring, tempat perhiasan, kotak tissue dan masih banyak lagi.

“Selain melayani konsumen dalam negeri, kami juga mengeskpor produk Mila Batik Lukis ke Kuala Lumpur dan Hongkong, Mbak”, ucapnya sembari tersenyum.

Saat ditanya lebih lanjut, Mbak Mila juga menjelaskan bahwasanya Desa Wisata Krebet juga menawarkan beragam paket wisata menarik, lengkap dengan konsumsi dan pilihan atraksi tradisional seperti tarian tradisional, jathilan, karawitan, gejog lesung hingga kelas belajar gamelan. Kalau butuh penginapan, kita juga bisa menyediakannya. Palugada istilahnya. Mau loe apa, gue ada, hehehe.

Inovasi Limbah Batok Kelapa Gelar Produk Craft & Fashion Istimewa di Acara

Inovasi Limbah Batok Kelapa Gelar Produk Craft & Fashion Istimewa di Acara

Belum hilang rasa kagum saya pada aneka inovasi local champion yang ada di pameran ini, kok ya saya ketemu dengan pengrajin limbah bathok yang mampu mengubah bathok menjadi aneka rupa produk kerajinan yang tak terpikirkan sebelumnya, mulai dari mangkok, gelas, dompet hingga tas. Iya, tas berukuran besar yang dibuat dari kepingan mungil limbah bathok. Ada pula aneka rupa tokoh pewayangan yang dihadirkan melalui kerajinan wayang kulit yang dibuat dalam berbagai ukuran. Benar rasanya kalau semua produk kerajinan dan fashion yang dipamerkan dalam acara ini memang istimewa.

Belajar Bareng Kak Rose (Pengrajin Batik Tulis dari Imogiri) di Acara Gelar Produk Craft & Fashion Istimewa

Belajar Bareng Kak Rose (Pengrajin Batik Tulis dari Imogiri) di Acara Gelar Produk Craft & Fashion Istimewa

Sebelum pulang, saya kembali dipertemukan dengan Kak Ros. Pemilik salah satu stand batik klasik khas Imogiri ada di pameran ini. Wanita paruh baya ini terbilang pengrajin yang begitu baik pada pengunjung. Beliau tidak ragu untuk membagi ilmu terkait warisan budaya Indonesia yang dinobatkan UNESCO sebagai Masterpieces of Oral and Intangible Cultural Heritage of Humanity ini.

“Kalau batik di tempat kami itu nyantingnya bolak-balik, Mbak. Biar warna yang dihasilkan sesuai dengan harapan. Kalau nyanting gini kuncinya hanya dua. Pertama memakai malam yang kualitasnya bagus. Kedua cantinglah dengan halus. Kain batik tulis seperti ini kami banderol dengan harga 1,5 juta rupiah. Harga tergantung jenis kain dan kerumitan motif. Oiya, untuk pewarna, kami sudah menggunakan pewarna alami, seperti mahoni, jolawe dan indigo”, papar ibu paruh baya yang begitu ramah ini.

Selain memamerkan karya para pengrajin “istimewa”, pameran yang digelar bersamaan dengan event “Pesta Kuliner Rakyat” ini juga menampilkan inovasi ragam kuliner berbasis kearifan lokal hingga talkshow terkait teknik pengemasan produk yang menarik. Ibarat pepatah sekali menyelam, dua tiga pulau terlampaui. Mau jajan biar tampil gaya bisa. Mau manjain perut dengan kuliner enak khas pedesaan bisa. Mau tambah pengetahuan terkait info kewirausaan pun bisa.

Icip-Icip Kuliner Lokal Khas Bantul

Icip-Icip Kuliner Lokal Khas Bantul

Selain tambah ilmu dan jejaring, saya juga berkesempatan mencicipi inovasi kuliner lokal khas Bantul mulai dari mides khas Pundong, dawet daun pisang hingga bakpia pisang. Saya juga kebagian untuk membawa satu kilogram tepung pisang non gluten dengan harga Rp35.000 saja. Mantap, bukan? Ketemu di sana yuk? ^^

Salam hangat dari Jogja,

-Retno-

Sumber referensi:

  1. Wawancara langsung dengan peserta Gelar Produk Craft dan Fashion Istimewa pada Hari Jum’at, 22 Maret 2019
  2. Buku OPUS Creative Economy Outlook 2019 yang dikeluarkan Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF)

Note: 16 sub sektor ekonomi kreatif meliputi sub sektor arsitektur (1), desain interior (2), desain produk (3),desain komunikasi visual (4), fashion (5), kriya (6), kuliner (7), fotografi (8), musik (9), penerbitan (10) periklanan (11), seni pertunjukan (12), seni rupa (13), aplikasi dan pengembang permainan (14), televisi dan radio (15), film, animasi dan video (16).

Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Blog “Gelar Produk Craft dan Fashion Istimewa” yang Diselenggarakan Oleh Dinas Koperasi UKM DI Yogyakarta.

Banner Lomba Blog "Gelar Produk Craft dan Fashion Istimewa" yang Diselenggarakan Oleh Dinas Koperasi UKM DI Yogyakarta

Banner Lomba Blog “Gelar Produk Craft dan Fashion Istimewa” yang Diselenggarakan Oleh Dinas Koperasi UKM DI Yogyakarta

Retno Septyorini

Perkenalkan, nama saya Retno Septyorini, biasa dipanggil Retno. Saya seorang content creator dari Jogja. Suka cerita, makan & jalan-jalan. Kalau ke Jogja bisa kabar-kabar ya..

YOU MIGHT ALSO LIKE

No Comment

Leaver your comment

About Me

Wiloke

Retno Septyorini

Welcome to my creative blog │ Content creator @halomasin │Talk about figure, wastra, travel &culinary│ Happy living in Jogja

About Me