#IniUntukKita – Mewujudkan Ethical Benefit Sharing Melalui Creative Financing

Kain cantik ini namanya sasirangan. Meski sekilas tampak serupa dengan kain jumputan, namun proses pembuatan keduanya sangatlah berbeda. Motif yang menghias helaian jumputan diperoleh dari ikatan-ikatan pada kain, sedangkan untaian motif pada sasirangan muncul dari bekas jelujur benang.

Dalam Bahasa Banjar, nama sasirangan berasal dari kata “sirang” yang berarti dijelujur. Karena itulah jika ditelisik lebih lanjut dipastikan teman-teman akan menemui bekas tisikan jarum di sepanjang motif kain. Bekas jelujuran inilah yang menjadi pembeda antara sasirangan, jumputan Palembang ataupun shibori khas Jepang.

Berbagai Contoh Motif Sasirangan (Dokpri)
Proses Pengikatan Hasil Jelujuran Pada Pembuatan Kain Sasirangan (Dokpri)

Saat berkesempatan berkunjung ke Rumah Anno, sebutan untuk pusat kerajinan daerah yang dikelola oleh Dekranasda Kota Banjarmasin, pandangan saya tertuju pada helaian sasirangan dengan warna pastel yang tampak lebih menawan jika dibandingkan dengan “kawan sepantarannya”. Benar saja, ternyata ada label “Warna Alam Assalam” di ujung kain cantik ini.

Mumpung berada di Banjarmasin, tentu saya tidak melewatkan kesempatan untuk bersilaturahmi ke rumah produksi kain-kain cantik yang digawangi oleh Bapak Muhammad Redho ini. Usut punya usut Pak Redho merupakan pelopor pembuatan sasirangan ramah lingkungan di kawasan berjuluk Kota Seribu Sungai ini.

Dibilang ramah lingkungan karena beliau memilih menggunakan pewarna alam untuk mewarnai semua sasirangan yang dibuatnya. Ada yang diwarna menggunakan biji rambutan hutan, bubuk kuyit, fermentasi tanaman indigo hingga berbagai limbah kayu yang mudah ditemui di Banjarmasin.

Contoh Pewarna Alam yang Digunakan Oleh Pak Redho (Dokpri)

Meski tidak memiliki hutan, kayu ibarat supporting system yang menemani berlangsungnya peradaban sungai di Banjarmasin. Selain banyak digunakan sebagai bahan jukung ataupun klotok, sebutan untuk perahu kayu khas Pulau Kalimantan, kayu juga digunakan sebagai bahan baku untuk membuat pondasi, jembatan hingga dinding bangunan seperti rumah, masjid hingga museum.

Tak ayal Ibu Kota Propinsi Kalimantan Selatan ini pun memiliki limbah kayu yang tersebar di berbagai titik. Lewat kepiawaiannya, Pak Redho mampu memanfaatkan limbah kayu sebagai salah satu warna khas sasirangan buatannya. Berkat inovasinya ini, Pak Redho mampu mempopulerkan sasirangan warna alam hingga ke luar Pulau Kalimantan.

***

Perjalanan Menuju Banjarmasin (Dokpri)

Dulu saya kira perjalanan dari Jogja menuju Banjarmasin membutuhkan waktu yang cukup lama. Nyatanya, empat kali bolak balik Jogja Banjarmasin dapat ditempuh dalam waktu yang terbilang singkat. Kalaupun harus transit ke Jakarta, perjalanan Jogja – Banjarmasin bisa ditempuh sekitar empat atau lima jam saja. Ini sudah termasuk perjalanan dari Bandar Udara Internasional Syamsudin Noor di Banjarbaru menuju Banjarmasin.

Pembangunan berkelanjutan yang digalakkan pemerintah dari tahun ke tahun memang menuai banyak manfaat. Satu diantaranya begitu memudahkan perjalanan, baik untuk para pejalan, pekerja kantoran hingga menjadi saksi perjalanan aneka rupa kain tradisional khas nusantara ke berbagai penjuru dunia.

Hal ini pun berlaku bagi para pengagum indahnya wastra nusantara yang belum memiliki dana untuk berkunjung ke tempat asalnya. Seperti mereka yang ingin memiliki eloknya kain sarita tapi belum memiliki dana untuk berkunjung ke Tana Toraja.

Dengan kemajuan teknologi, ditambah gencarnya pembangunan infrastruktur yang dilakukan oleh pemerintah bersama semua koleganya, impian-impian manis untuk memiliki kain-kain etnik dari berbagai penjuru negeri dapat terwujud dalam hitungan hari.

“Semua koleganya, Ret?”.

“Iya, semua koleganya, kawan.

Guna menekan laju ketertinggalan pembangunan sekaligus untuk menaikkan kesejahteraan masayarat luas, kini ada skema pembiayaan pembangunan infrastruktur baru yang tidak bertumpu pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Namanya creative financing.

Bagian Dalam Yogyakarta International Airport (Dokpri)

Pembangunan proyek infrastuktur negara melalui skema creative financing ini dilakukan melalui Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha yang dikenal luas dengan singkatan KPBU. Selain pembangungan Yogyakarta International Airport (YIA) di Kulon Progo, contoh lain skema pembiayaan KPBU adalah penandatanganan Proyek Jalan Lintas Timur di Sumatera Selatan antara Kementerian Keuangan dengan Kementerian PUPR.

Selain diharapkan dapat meningkatkan kapasitas infrastruktur transportasi di kawasan di Lintas Timur Sumatera, proyek preservasi jalan non tol (jalan nasional) dengan nilai investasi mencapai 916,4 Milliar Rupiah ini tentu akan sangat bermanfaat dalam mendukung kelancaran logistik di tengah pandemi Covid-19.

Koleksi Sasirangan Warna Alam “Assalam” (Dokpri)

Berbicara soal skema creative financing, ternyata model pembiayaan ini juga dikenal dalam ranah pengembangan UMKM di daerah. Dalam hal ini, creative financing merupakan skema kolaborasi yang dilakukan antara pelaku usaha dengan investor dengan tujuan untuk mewujudkan ethical benefit sharing yang berkelanjutan antar pihak terkait. Bentuk kolaborasinya pun bermacam-macam, mulai dari penyediaan modal untuk keperluan operasional, sharing ide dan inovasi untuk ekspansi bisnis hingga pembagian tugas dalam menjalankan proses produksi hingga distribusi.

Menariknya, creative financing dalam pengembangan UMKM dapat dilakukan oleh berbagai pihak, mulai dari pemerintah, lembaga negara, pihak swasta hingga sesama pelaku usaha. Skema kolaborasi ini pun terbilang fleksibel, satu diantaranya dapat dilakukan dengan menyediakan tempat berjualan bagi pelaku UMKM seperti yang dilakukan di Rumah Anno yang sempat saya singgung di awal cerita.

Di satu sisi Dekranasda Kota Banjarmasin menyediakan tempat penjualan bagi para pelaku usaha. Di sisi lain, pihak Dekranasda dapat menaikkan harga produk yang dititipkan di Rumah Anno. Keuntungan yang diperoleh dari selisih harga tersebut nantinya dapat diputar kembali sebagai tambahan modal untuk kegiatan yang berkaitan dengan pengembangan produk UMKM setempat.

***

Sinergi Dalam Mengembangkan UMKM (Dokpri)

Menariknya skema creative financing juga banyak diminati oleh para pelaku usaha di Indonesia. Satu diantaranya saya ketahui saat mengikuti edukasi “Menjaga Stabilitas Sistem Keuangan” yang dihelat Bank Indonesia di Yogyakarta. Dalam acara ini, desainer ternama pemilik Brand Ikat Indonesia, Didiet Maulana ternyata pernah menjadi praktisi creative financing dengan melakukan pembinaan pada pelaku UMKM yang berkecimpung dalam produksi kain tradisional.

Selain membuka kerjasama untuk memenuhi bahan dasar kain tradisional yang diperlukan oleh Brand Ikat, Mas Didiet juga melakukan Program Pendampingan UMKM bertajuk Bapak Angkat – Anak Angkat. Di samping sebagai upaya untuk melestarikan keberadaan ragam kain tradisional khas nusantara, hal ini dilakukan agar pelaku UMKM terkait dapat mempertahankan kualitas produk di tengah persaingan dunia fashion yang begitu dinamis.

Proses Pewarnaan Sasirangan Warna Alam (Dokpri)

Kabar baiknya, skema creative financing juga dapat dilakukan oleh lembaga negara, seperti Bank Indonesia. Selain untuk membantu mengembangkan potensi ekonomi kreatif lokal, skema kolaborasi betajuk creative financing ini diharapkan dapat mendorong UMKM agar mendapat akses untuk menjajaki pasar internasional.

Masih ingat tentang Brand Assalam yang saya ceritakan tadi? Ternyata brand sasirangan warna alam yang digawangi oleh Pak Redho ini terpilih menjadi salah satu UMKM binaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Cabang Kalimantan Selatan. Berkat program ini, Tim Assalam berhak mengikuti “Pelatihan Akses Pasar Global dan Kurasi Produk UMKM Unggulan”.

Koleksi Sasirangan Warna Alam “Assalam” (Dokpri)

Pelatihan yang mendatangkan narasumber kurator berskala internasional ini diisi berbagai materi terkait desain, kualitas hingga penentuan harga produk yang sesuai dengan selera pasar global. Skema creative financing memang tidak melulu soal kerjasama untuk memperoleh suntikan modal semata. Apalagi di era kolaborasi seperti saat ini, dimana sinergi antara inovasi dan proses kreasi dapat menjelma sebagai “kunci” dalam memenangkan persaingan di kancah global.

Bahkan perilaku sesederhana bangga mengonsumsi made in Indonesia atau sekedar menceritakan produk lokal kesayangan di sosial media nyatanya dapat menjadi jalan ninja kita dalam berkontribusi menciptakan creative financing bagi pelaku UMKM agar tetap berdikari.

Ngomong-ngomong, ada berapa brand lokal favorit teman-teman semua?

Salam hangat dari Jogja,

-Retno-

Retno Septyorini

Perkenalkan, nama saya Retno Septyorini, biasa dipanggil Retno. Saya seorang content creator dari Jogja. Suka cerita, makan & jalan-jalan. Kalau ke Jogja bisa kabar-kabar ya..

YOU MIGHT ALSO LIKE

No Comment

Leaver your comment