Imunisasi Selamatkan Generasi

Bermutasi adalah tugas harian yang harus ia jalani. Saat mendapat inang yang memadai, ia dapat langsung menempel lalu nebeng hidup tanpa perlu mengucap permisi. Apalagi kalau imunitas calon inangnya sedang tidak baik-baik saja. Ibarat kata “tinggal pepet langsung beres”. Sekalinya berhasil menginfeksi, dalam jangka waktu tertentu tubuh inang akan langsung bereaksi.

Sebaliknya, jika ia belum bertemu inang yang sesuai dengan kebutuhan, makhluk unik ini bisa melakukan hibernasi sampai batas waktu tertentu. Dalam proses “tidurnya” itu, ia dibekali dengan tameng khusus serupa kapsul pelindung diri yang mampu meminimalisir kerusakan materi genetik penyusun tubuhnya.

Begitulah kira-kira gambaran virus. Jenis makhluk hidup tak kasat mata yang satu diantaranya sempat membuat heboh dunia. Apalagi kalau bukan varian virus bernama Virus SARS-Cov-2. Jenis virus yang menjadi dalang penyakit Covid-19.

Potret Fasilitas Kesehatan di Puskesmas Terdekat (Dokumentasi Pribadi)
Potret Fasilitas Kesehatan di Puskesmas Terdekat (Dokumentasi Pribadi)

Kalau virus punya tugas untuk bermutasi, guna melindungi melindungi diri maupun generasi penerus negeri, maka tugas kita adalah mencari solusi. Di tengah endemi #Covid-19 yang masih kita perangi, rasa-rasanya imunisasi menjadi salah satu upaya perlindungan diri yang wajib untuk dijalani. Apalagi jika masih diberi kondisi kesehatan yang memadai.

Saya beragumentasi demikian karena pengalaman pribadi saat melihat perjuangan ibu dan bapak saya saat terinfeksi Covid gelombang 2 dan 3. Berkat imunisasi, meski tergolong lansia dengan kormobid, mereka berhasil selamat dari ganasnya serangan Virus Covid.

Saya tidak akan pernah lupa bagaimana beratnya upaya saat berjuang melawan infeksi Virus Covid-19 pada pertengahan Mei tahun 2021 silam. Saat kondisi gelombang ke-2 Covid di Jogja sedang “parah-parahnya” akibat lonjakan jumlah pasien yang diluar perkiraan, ternyata saya mengalami anosmia. Sebutan yang merujuk kondisi hilangnya indera penciuman karena satu atau lain hal.

Berawal dari gejala batuk kering yang sepekan tak kunjung ada perbaikan meski sudah minum obat sesuai anjuran tenaga kesehatan. Lambat laun badan saya mulai menunjukkan gejala lain yang mengarah pada infeksi Virus Covid-19. Selain mengalami demam dan rasa linu yang menjalar hampir di sekujur badan, saya juga merasakan sesak di dada yang membuat tarikan nafas saya menjadi jauh lebih pendek dari biasanya.

Layanan Swab Gratis dari Puskesmas (Dokumentasi Pribadi)
Layanan Swab Gratis dari Puskesmas (Dokumentasi Pribadi)

Puncak rasa tidak karuan tersebut terjadi pada Minggu pagi. Selesai mandi kok saya tidak dapat mencium aroma sabun dan sampo yang saya pakai. Padahal waktu itu saya tidak mengalami kondisi pilek maupun hidung mampet. Karena tidak dapat mencium aroma apapun, perlahan nafsu makan saya akhirnya menurun cukup tajam.

Anehnya, meski tidak doyan makan, tapi saya mengalami  diare selama beberapa hari. Saya sampai mbatin, “Tidak doyan makan kok bisa diare ya? Seperti sedang terkena virus saja”. “Deg”. Dada saya mulai berdebar lebih kencang usai menyadari rentetan kondisi yang belakangan ini saya alami.

“Jangan-jangan saya terinfeksi virus sialan itu?”, batin saya kemudian. Pasalnya gejala serupa juga sempat dialami oleh kerabat maupun kawan dekat yang terpapar Virus Covid. Tidak ingin berandai-andai lebih lama, saya langsung mencari kontak layanan Covid di Puskesmas terdekat. Kebetulan kakak ipar saya merupakan salah satu tenaga kesehatan yang bertugas di sana.

Perangkat Swab PCR yang Dibagikan Oleh Petugas Puskesmas (Dokumentasi Pribadi)
Perangkat Swab PCR yang Dibagikan Oleh Petugas Puskesmas (Dokumentasi Pribadi)

Setelah mendapatkan kontaknya, saya langsung menghubungi petugas layanan Covid sembari menceritakan kronologi yang sepekan ini saya rasakan. Selang beberapa menit kemudian, pesan WA dibalas dengan jadwal tes Covid gratis di Puskesmas serta anjuran untuk langsung melakukan isolasi mandiri (isoman) di rumah, lengkap dengan tata cara isoman yang dianjurkan secara medis.

Saya sangat bersyukur mendapatkan layanan yang memadai dari pemerintah mulai dari tes Covid, telemedicine hingga pemberian obat gratis melalui Puskesmas terdekat. Dalam hal ini adalahPuskesmas Kasihan II. Pasalnya saat gelombang kedua Covid, baik harga tes PCR maupun antigen terbilang masih tinggi. Karena lonjakan permintaan yang begitu banyak, obat yang disarankan untuk pasien Covid pun menjadi langka dan mahal.

***

Sejujurnya saya tidak kaget saat mendapati hasil tes Covid saya menunjukkan reaksi positif karena gejala yang saya alami memang mengarah ke infeksi Covid. Untungnya sepekan sebelumnya saya sudah menjalani imunisasi Covid pertama. Waktu itu saya mendapatkan kesempatan vaksin di Klinik Kartika, yang tidak lain merupakan faskes pertama pilihan kedua orang tua saya. Hanya berbekal membawa data diri, kami sekeluarga mendapatkan kesempatan imuniasi Covid secara cuma-cuma.

Bekal ini pula lah yang membuat saya dapat bertahan menghadapi gelaja covid yang terbilang cukup menyakitkan itu. Setelah diperiksa dengan sesama oleh dokter Puskesmas, selain diberi obat, saya juga disarankan untuk melanjutkan isolasi mandiri selama 14 hari. Di luar dugaan, seminggu kemudian ibu saya juga mengalami anosmia dengan gejala penyerta khas covid yang lebih parah dari saya.

Potret Ibu Sesaat Sebelum Swab PCR di Puskesmas Dokumentasi Pribadi)
Potret Ibu Sesaat Sebelum Swab PCR di Puskesmas Dokumentasi Pribadi)

Benar saja, hasil tes ibu juga menunjukkan reaksi positif covid. Karena itulah selama menjalani pemulihan saya memilih untuk sekamar dengan ibu. Jujur, ini merupakan fase terberat dalam kehidupan saya. Pasalnya ibu memiliki penyakit penyerta yang dapat memperparah gejala covid yang tengah dialami. Saya ingat betul, setiap sore tiba, kepala saya rasanya sudah tidak karuan.

Selain kondisi badan yang belum vit karena masih dalam masa pemulihan, saya harus gigih mendampingi dan membesarkan hati ibu yang kala itu tarikan nafasnya saja terlihat pendek dan berat. Ditambah lagi dengan gejala demam yang selalu muncul saat sore hingga dini hari. Kala itu nafsu makan ibu juga menurun drastis dengan rata-rata saturasi berada di angka 85 saja.

Biasanya saya memotivasi ibu dengan menunjukkan betapa beliau disayangi oleh banyak orang, mulai dari saudara, tetangga oleh kawan-kawan saya yang mengirimkan perhatian melalui pesan maupun hantaran makanan yang diletakkan di depan rumah. “Semua ingin ibu sembuh, makan ya bu”, bujuk saya pada ibu.

“Saat dijawab dengan anggukan, hati saya pun terasa hangat”. Dengan semangat sembuh yang tinggi, ditambah #imunisasi Covid-19 pertama yang sempat dijalani, perlahan kondisi kami mulai membaik. Setelah isolasi mandiri selama dua pekan terhitung sejak ibu dinyatakan positif covid, akhirnya kami berdua dinyatakan sembuh.

***

Potret Bapak Saat Menjalani Swab di Klinik Kartika
Potret Bapak Saat Menjalani Swab di Klinik Kartika

Sepenggal kisah lansia dengan kormobid yang berhasil selamat dari serangan virus covid di keluarga saya ternyata masih ada kelanjutannya. Maret lalu bapak mengalami gejala yang serupa dengan saya. Dimulai dari batuk-batuk yang dipicu rasa gatal di bagian tenggorokan yang berlanjut dengan kondisi anosmia. Hasil swab juga menunjukkan reaksi yang sama yakni positif Covid.

Usia yang tak lagi muda, ditambah dengan adanya penyakit penyerta menjadi teguran keras yang semakin meningkatkan kewaspadaan saya. Selain mengusahakan untuk menerapkan gaya hidup sehat melalui konsumsi makanan yang seimbang dan olahraga sesuai kemampuan, kami tetap menjalani protokol kesehatan sesuai dengan anjuran pemerintah.

Ada anggota keluarga yang terkena covid kembali membuat saya dan ibu harus menjalani isolasi mandiri. Mengikuti Kebijakan pemerintah, kami melalukan isoman selama 10 hari. Mungkin karena sudah menjalani booster, gejala covid bapak terbilang ringan. Hanya anosmia saja. Nafsu makan tetap baik. Badan tidak linu. Juga tidak mengalami diare.

Imunisasi Selamatkan Generasi (Dokumentasi Nuril)
Imunisasi Selamatkan Generasi (Dokumentasi Nuril)

Inilah yang mau saya sampaikan pada kawan-kawan semua. Bahwasanya dampak imunisasi (pemberian vaksin) bagi kesehatan itu sangatlah berharga. Memang benar, tubuh kita sudah dilengkapi dengan lapisan pertahanan pertama seperti kulit dan mukosa yang melapisi berbagai  bagian tubuh seperti hidung, mulut hingga lambung. Jika berfungsi secara optimal, mereka dapat mengusir mikroorganisme penyebab penyakit (kuman) yang menyerang tubuh kita.

Namun apabila lapisan perlindungan pertama tersebut sudah berhasil ditembus oleh kuman, maka tubuh akan mengeluarkan lapisan pertahanan kedua yang kita kenal dengan sel imunitas alami. Dalam tubuh normal, sel imunitas alami (innate atau natural immunity) terdiri dari sel makrofag, sel neutrophil dan sel pembunuh alami.

Perlu diketahui bahwasanya imunitas alami tubuh bersifat tidak spesifik. Karena itulah seiring dengan perkembangan teknologi, dihasilkanlah produk penunjang kesehatan bernama vaksin. Dalam hal ini, setelah berinteraksi dengan kuman, peran sentral sel imunitas alami akan mengaktifkan sel-sel yang termasuk dalam acquaried (adaptive) immunity (imunitas didapat) untuk merespon secara spesifik terhadap kuman tersebut.

Potret Antusias Warga Saat Mengantri Imunisasi di Puskesmas tret Antusias Warga Saat Mengantri Imunisasi di Puskesmas
Potret Antusias Warga Saat Mengantri Imunisasi di Puskesmas tret Antusias Warga Saat Mengantri Imunisasi di Puskesmas

Sel-sel yang termasuk dalam acquaried (adaptive) immunity meliputi sel B dan sel T. Sel B bertugas menghasilkan antibody (sel plasma) spesifik untuk melawan kuman tertentu. Sedangkan sel T bekerja dengan cara membunuh sel-sel yang terinfeksi (sel T sitotoksik) oleh kuman dengan harapan dapat menghentikan penyebaran kuman di dalam tubuh. Setelah berhasil melakukan tugasnya, kedua sel ini akan mengalami apoptosis (kematian).

Meski demikian, sejumlah kecil  sel plasma dan sel T sitotoksik ini dapat hidup dalam jangka panjang di tubuh dengan bentuk sel B dan sel T memori. Apabila kuman tersebut kembali menyerang, sel B dan sel T memori ini akan mengenali dan berkembang biak lebih cepat dan massif untuk melawan serangan kuman tersebut. Teknologi inilah yang digunakan sebagai dasar pengembangan vaksin.

Proses Skrinning Kesehatan Sebelum Imuniasasi (Dokumentasi Pribadi)
Proses Skrinning Kesehatan Sebelum Imuniasasi (Dokumentasi Pribadi)

Mudahnya, imunisasi adalah upaya untuk menimbulkan atau meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit. Sehingga bila suatu saat seseorang berhadapan dengan penyakit tersebut tidak akan sakit atau hanya mengalami sakit ringan (Plt. Dir. Pengelolaan Imunisasi, Kementerian Kesehatan dr. Prima Yosephine)

Dengan dasar ilmiah yang sedemikian kuat, ditambah lengkap dengan standardisasi proses pembuatan vaksin yang ketat, saya sangat mengapresiasi program Pekan Imunisasi Nasional yang dilakukan pemerintah sejak puluhan tahun silam. Alasannya sederhana saja. Karena #imunisasi (pemberian vaksin) terbukti dapat menyelamatkan generasi dari berbagai wabah penyakit yang merugikan dan mematikan.

Saya, ibu dan bapak adalah contohnya kecilnya. Kami selamat dari infeksi covid karena sudah pernah divaksin. Jadi tubuh kami dapat mengenali dan sekaligus menggandakan pasukan imunitas untuk menyerang lawan, yang dalam hal ini adalah Virus SARS-Cov-2. Jenis virus yang menjadi dalang penyakit Covid-19.

Update Vaksinasi Covid-19 di Indonesia (Data Diambil dari Instagram Kementerian Kesehatan)
Update Vaksinasi Covid-19 di Indonesia (Data Diambil dari Instagram Kementerian Kesehatan)

Dengan sinergi dari berbagai pihak, kabar baik akhirnya menghampiri negeri ini. Dilansir dari laman Instagram Kementerian Kesehatan, per 16 April pukul 18.00 kemarin, cakupan vaksinasi Covid1-19 tahap 1, 2 dan 3 di Indonesia sudah mencapai dari 94,08%, 80,48% dan 30,53% dari total sasaran vaksin sebesar lebih dari 208 juta sasaran.

Selain diharapkan dapat mendorong tercapainya herd immunity (kekebalan kelompok), capaian vaksin yang menggembirakan ini diharapkan dapat membantu pemulihan taraf kesehatan dan perekonomian nasional pasca hantaman gelombang covid yang terjadi dua tahun terakhir.

Sebab itulah selain sikap pro pada imunisasi serta tetap menjaga protokol kesehatan sesuai anjuran pemerintah, jangan lupa untuk menerapkan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas). Apapun alasannya, bukankah kerja sama “membesarkan” Indonesia jauh terasa lebih ringan jika dilakukan dalam kondisi prima?

Salam hangat dari Jogja,

-Retno-

Sumber referensi:

Hakim, Saifudin. 2014. Imunisasi: Lumpuhkan Generasi. Pustaka Muslim. Yogyakarta

Laman Instagram Resmi Kementerian Kesehatan

Website resmi Kementerian Kesehatan diakses melalui kemkes.go.id

Retno Septyorini

Perkenalkan, nama saya Retno Septyorini, biasa dipanggil Retno. Saya seorang content creator dari Jogja. Suka cerita, makan & jalan-jalan. Kalau ke Jogja bisa kabar-kabar ya..

YOU MIGHT ALSO LIKE

No Comment

Leaver your comment