Tahun 2017 harus ngrasain hidup di luar Pulau Jawa. Kalau bisa nggak cuma jalan-jalan aja, tapi lebih ke ikut program pemberdayaan. Apapun itu. Doa yang kemudian dijabah dengan cara cukup luar biasa.

Retno Septyorini

IKKON BEKRAF 2017 (Sebuah Prolog)

Poster Recruitmen IKKON 2017

Poster Recruitmen IKKON 2017 (Dokumentasi Bekraf)

Setahun yang lalu, aku tertarik untuk mendaftar sebuah program live in di daerah. Namanya IKKON, kependekan dari Inovatif dan Kreatif melalui Kolaborasi Nusantara. IKKON merupakan program besutan Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) Republik Indonesia yang bertujuan untuk mengembangkan potensi ekonomi kreatif lokal. Mudahnya, program ini semacam program desainer masuk desa gitu. Eh, tapi nggak cuman desainer ding, ada 6 profesi lain diluar desainer yang ikut, termasuk aku yang masuk tim media. Jadi istilahnya lebih ke program live in pelaku kreatif.

Tahun 2017 proporsi profesi desainer dan non desainer-nya sama. Ada 6 profesi desainer, meliputi arsitek, desainer tekstil, desainer fashion, desainer produk, desainer interior dan desainer komunikasi visual dan 6 profesi non desainer meliputi manager area, spesialis media, fotografer, videografer, antropolog dan business advisor. Di program ini aku masuk di tim media.

Tahun 2018 ini IKKON memasuki usia 3 tahun. Dan seperti IKKON sebelumnya (2017 dan 2016), IKKON batch 3 digadang-gadang akan lebih baik dari dua “kakak”-nya terdahulu. Karena itulah ada beberapa lini profesi baru yang masuk dalam program live in ini seperti  koreografer tari, komposer musik etno dan ahli kuliner. Kabar buruknya, profesi media dan manager area hilang dari komposisi Tim IKKON. Jadi bisa dibilang profesi area manager dan spesialis media adalah profesi pertama dan terakhir di Program IKKON, hiks. Sebagai anak media, tentu aku pribadi cukup sedih melihat realita ini. Nggak usah tanya kenapa lah ya? Jadilah nanti satu tim akan beranggotakan 14 orang, termasuk mentor.

PENDAFTARAN IKKON 2017

Lupa kapan tepatnya, pokoknya aku daftar IKKON di jam-jam terakhir. Waktu itu daftarnya bareng ama temen sekantor juga. Kepikiran buat daftar soalnya dulu banget pernah pengen daftar program ngajar di pelosok gitu, tapi waktu itu nggak dapet ijin dari ibuk. Walaupun kalau daftar belum tentu masuk juga, tapi kalau nggak ngantongin ijin ortu, apalagi ibuk akunya jadi gimana gitu. Dan pada akhirnya emang gak jadi daftar.

Lain halnya dengan tes yang satu ini, yang ternyata dibolehin ikut sama ibuk. Karena butuh pengalaman kerja yang agak lumayan, batasan umur buat ikutan IKKON pun terbilang agak longgar, yakni 35 tahun. Beda sama yang mau aku daftar dulu yang mematok usia maksimal peserta  di angka 25. Jadi tambah mantep aja gitu buat daftar.

Meski proses pendaftaran sempat diperpanjang (kalau nggak salah seminggu), suatu hari di bulan Mei akhirnya muncul juga nama-nama peserta yang lolos seleksi administrasi, satu diantaranya ada nama aku. Di pengumuman tertera jam dan lokasi tes. Sayangnya, rangkaian tes IKKON berlangsung di Jakarta. Jadi kalau mau lanjut ya wajib dateng ke ibu kota. Waktu itu tes-nya di San Pacific Hotel.

Buat ngehemat budget plus numpang tidur di perjalanan, aku mutusin buat naik kereta aja. Tes kaya gini kan untung-untungan yes, meski harus optimis, tapi kan harus tetep mikirin soal budget kalau-kalau nanti nggak lanjut ke tes berikutnya. Istilahnya biar nggak tekor-tekor amat, di samping pengumumannya peserta lolos administrasi memang agak mepet sama tes pertama. Ntar kalau lolos, kalau nggak kemaleman rencana mau numpang temen di Bekasi. Kalau pulangnya malem rencananya mau nginep di hotel budget aja. Waktu itu sempet dapet beberapa pilihan hotel budget dengan rate 300an/malem.

MENYAPA IBU KOTA

Jakarta, 7 Mei 2017

Jakarta, 7 Mei 2017 (Dokumentasi Retno Septyorini)

Aku sampai Jakarta pagi-pagi banget, jadi subuhan-nya di stasiun. Meski musholanya kecil, tapi antrian yang sholat cukup banyak itu bikin cukup haru. Entah apa alasannya, bisa sholat bareng-bareng gini tuh macem dapet suntikan energy tersendiri. Habis subuhan aku nyari cemilan di indomaret, duduk-duduk bentar terus pesen ojek online ke San Pasific.

Sampe di sana jalan ditutup karena car free day, jadi turunnya di samping belakang hotel. Nyampe di sana sekitar jam 08.00 pagi, langsung naik ke atas cari toilet buat cuci muka sama ganti baju. Di sini aku ketemu beberapa temen baru. Ada antropolog dari Jogja, yang sayangnya aku lupa namanya. Selain itu aku ketemu juga ama Kiki, yang ternyata daftar juga sebagai spesalis media. Si Kiki ini cerita kalau dia merupakan bagian Tim Media-nya Dompet Dhuafa. Habis haha hihi sebentar, trus dia pamit duluan ke ruang tes.

TES, TES, 1, 2, 3..

Mbak Kumo

Mbak Kumo (Dokumentasi Vebrio Kusti Alamsyah)

Jam 09.00-nan aku udah duduk manis di ruang tes. Waktu itu sebelahan sama mbak-mbak berbaju merah yang logat ngomongnya njawani banget. Namanya Mbak Kumo. Dia daftar sebagai business advisor. Dari pertama ngobrol aja udah katahuan banget kalo Mbak Kum ini udah expert banget as business advisor. Umur dan pengalaman emang nggak pernah bohong sih ya, wkwk.. #laludikeplak

Seperti tes pada umumnya, pagi itu di sekitar ruangan terasa ruwet karena cukup banyak peserta tes yang syarat buat presentasinya bikin mumet karena ga bisa dibuka. Udah gitu, ternyata wawancaranya nggak pake acara presentasi pake slide-slide gitu. Cuma tanya jawab kaya biasa kita omong-omong ama recruiter pada umumnya aja.

IKKON 2017

IKKON 2017 (Dokumentasi Vebrio Kusti Alamsyah)

Pagi itu kayae aku peserta media pertama yang diwawancara ama Pak Iwan Esjepe (Note Pak Iwan yang pakai kacamata). Pertanyaannya pun standar-standar aja, yang diakhiri dengan pertanyaan:

“Kamu dari mana?” >>Jogja.

“Ke sini naik apa?” >> Kereta.

“Sampai di Jakartanya kapan?” >>Barusan Pak, pagi ini.

Terus lupa apa lagi. Pokoknya wawancaranya cuman 10 menitan aja.

-Yap, tes pertama dinyatakan selesai-

SABAR MENUNGGU KABAR

Kata Pak Amin, salah satu panitia tes yang ternyata pejabat Bekraf sih bilang kalau pengumuman tes lanjutan akan dikasih tahu kira-kira habis ashar. Jadi habis tes aku leyeh-leyeh dulu sambal nyemil snack yang tersedia di luar ruangan. Lumayan lah buat ngeganjel perut.

Pas lagi duduk-duduk nyemil, aku ketemu lagi ama Kiki, anak antropolog yang aku lupa namanya tadi sama Tami. Usut punya usut, si anak antropolog sama Tami itu tinggal di Jogja. Yeay! Jadilah siang itu kita berempat sepakat buat jalan-jalan dulu. Eh, gak tahunya habis keluar hujan deres, wkwk. Awalnya mau kemana, jadinya nge-mall aja. LYFE.

Sejam kemudian,

Dua jam kemudiaan…

Tiga jam kemudiaaan…..

Sampai makan dua kali & lan-jalan sampai pegel magrib pun pengumuman tak kunjung datang, akhirnya kami sepakat untuk pulang. Kiki ke Tangerang, sisanya ke stasiun. Sayangnya karena malam itu ujan plus lagi banyak pembangunan jalan, pesen taksi online jadi nggak selancar biasanya. Musti nunggu lumayan lama buat sampai ke stasiun.

Waktu itu dapat sopirnya ibu-ibu paruh baya yang cantik banged (versi aku). Meski habis hujan, jalan nggak macet-macet amat sih, jadinya bisa sampai stasiun sekitar pukul 19.45 WIB. Di luar dugaan ternyata kami bertiga lolos tes pertama. Tapi karena temen antrolopog masih kuliah, plus disaranin ibu-ibu yang ngetes buat nyelesein kuliahnya dulu, toh ntar tahun depan (2018) masih ada lagi, in the end of that day, dia mutusin buat gak lanjut tes berikutnya. Jadinya dia beli tiket pulang malem itu juga, aku sama Tami pulang di malam berikutnya.

(Bersambung yah, udah kepanjangan nih) ^^

Salam hangat dari Jogja,

-Retno-

Retno Septyorini

Perkenalkan, nama saya Retno Septyorini, biasa dipanggil Retno. Saya seorang content creator dari Jogja. Suka cerita, makan & jalan-jalan. Kalau ke Jogja bisa kabar-kabar ya..

YOU MIGHT ALSO LIKE

No Comment

Leaver your comment

About Me

Wiloke

Retno Septyorini

Welcome to my creative blog │ Content creator @halomasin │Talk about figure, wastra, travel &culinary│ Happy living in Jogja

About Me