Gotong Royong Menyelamatkan Negeri dari Bahaya Pandemi COVID – 19

Berkali-kali sudah saya melihat dengan mata dan kepala sendiri bahwasanya gotong royong merupakan salah satu kekuatan yang mendarah daging di negeri ini. Saat gempa hebat yang melanda Jogja 2006 silam misalnya. Tanpa perlu diaba, berbagai pihak segera bahu-membahu untuk membantu mengatasi dampak bencana.

Tetangga saya yang jualan bubur langsung diangkut ke tengah sawah untuk dibagi pada warga sekitar. Tetangga lain yang punya bahan makanan langsung diangkut ke tenda pengungsian untuk dimasak dan dinikmati bersama-sama. Juga berbagai hal baik lainnya yang tidak dapat saya ceritakan satu per satu. Saya merasa cukup tahu karena sempat merasakan tinggal di tenda pengungsian hingga berbulan-bulan lamanya.

Tidak disangka-sangka, 14 tahun kemudian bencana kembali menerpa. Bedanya, kali ini berwujud pandemi yang meluluh lantahkan dunia, termasuk Indonesia. Dilansir dari KOMPAS.com, Menteri Keungan Sri Mulyani mengatakan bahwa kerugian ekonomi tahun 2020 akibat pandemi COVID-19 mencapai Rp 1.356 triliun atau setara 8,8% dari PDB Indonesia. Selain memporak-porandakan berbagai sektor ekonomi, pandemi juga menginfeksi 1,9 juta penduduk Indonesia.

Per Rabu, 16 Juni lalu, data Kementerian Kesehatan juga menyebut ada 1,7 juta penyintas Covid yang sembuh. Sayangnya pandemi ini sudah memakan korban sebanyak 53 ribu orang. Menghadapi situasi ini, lagi-lagi, gotong royong ditengarai sebagai solusi terbaik dalam bangkit melawan pandemi. Satu diantaranya terlihat dari munculnya inisisasi warga dalam membentuk posko pangan dadakan yang diperuntukan bagi siapa saja yang tengah membutuhkan.

Tidak heran saat beberapa toko kelontong kehabisan dagangan, posko pangan ini menjadi tambatan bagi mereka yang kehabisan uang untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Dengan slogan “Bantu Semampunya, Ambil Secukupnya”, sejatinya posko pangan tersebut telah menyelamatkan mereka yang tengah membutuhkan. Sesederhana tujuan “Jangan Ada Kelaparan Diantara Kita”.

Begitu pula saat ada tetangga yang terpapar Virus Corona. Tanpa perlu diaba, berbagai bantuan datang dari lingkup RT setempat. Ada yang mengirimkan sembako sehingga para penyintas tersebut tidak perlu keluar untuk berbelanja. Ada yang mengirim sayur dan lauk pauk agar bisa beristirahat lebih lama. Ada pula yang mengirimkan aneka suplemen untuk menjaga daya tahan tubuh yang tengah sakit. Di sisi lain, berkali-kali sudah dusun saya saling bahu-membahu mengadakan penyemprotan massal sebagai upaya pencegahan terhadap wabah COVID-19 ini.

Dengan berbagai alasan inilah saya percaya bahwa gotong royong dapat “menyelamatkan” Indonesia dari bahaya Pandemi COVID-19. Saya sendiri memulainya dengan hal-hal mudah seperti menerapkan protokol kesehatan (prokes) setiap hari dan mendukung program vaksinasi. Ya, selain menerapkan protokol kesehatan, mengikuti program imunisasi merupakan semudah-mudahnya bentuk gotong-royong untuk menyelamatkan negeri dari bahaya pandemi Covid-19.

Selain melindungi diri sendiri, vaksinasi juga dapat orang-orang di sekitar kita, utamanya mereka yang tidak dapat vaksin karena kondisi kesehatan tertentu. Pejuang autoimun misalnya, yang sebagian diantaranya memang tidak mengantongi ijin dokter untuk mendapatkan vaksin. Tidak heran jika mereka begitu berterima kasih pada masyarakat luas yang berhak dan bersedia untuk divaksin.

Trenyuh rasanya membaca ucapan terima kasih itu di Instagram story teman saya. Kebetulan ada seorang kawan yang tengah berjuang dengan penyakit lupus. Karena itulah saat mendapatkan kesempatan untuk divaksin di klinik yang menjadi rujukan faskes pertama pilihan ibu dan bapak, saya langsung mendaftar. Karena semakin banyak orang yang divaksin, semakin besar pula perlindungan kesehatan bagi banyak pihak.

Kebetulan saya mendapat vaksin jenis Astrazeneca. Salah satu jenis vaksin yang banyak hoaxnya di media sosial. Padahal sebelum divaksin, kita harus memenuhi berbagai parameter kesehatan yang telah ditetapkan, mulai dari suhu tubuh, kadar oksigen dan tensi. Untuk orang dengan penyakit penyerta diwajibkan membawa rekomendasi dokter pribadi yang mengetahui riwayat kesehatan masing-masing.

Dokter juga akan menanyakan apakah ada riwayat alergi yang selama ini dialami. Alhamdulillah, saya, ibu dan bapak tidak mengalami kejadian paska vaksinasi. Kami pun jadi lebih mantap untuk menunggu fase kedua vaksin yang rencananya akan dilakukan pada Bulan Agustus nanti. Semoga review ini semakin menambah semangat teman-teman untuk divaksin ya! Apapun alasannya, kerja sama menyelamatkan Indonesia terasa lebih ringan jika dilakukan dalam kondisi prima, bukan?

Meski sudah divaksin, saya dan keluarga tetap menerapkan protokol kesehatan dimanapun kami berada. Selain memakai masker, menghindari kerumunan dan menjaga jarak minimal satu meter saat bertemu orang lain, kami juga selalu mencuci tangan dan kaki usai bepergian. Ini yang kami lakukan untuk bertahan dari sisi kesehatan dengan harapan dapat selamat dari pandemi COVID-19.

Dalam hal ini, pemerintah pun melakukan upaya yang sama. Saat harus bepergian ke luar kota menggunakan kereta api pada bulan Februari lalu, ternyata kursi penumpang hanya diisi sebanyak 70% saja. Sisa kursi yang ada sengaja dikosongkan agar penumpang dapat menjaga jarak satu sama lain. Sinergi yang baik semacam ini tentu wajib kita dukung dengan tetap melakukan protokol kesehatan di setiap kesempatan.

Dengan alasan menjaga kesehatan orang tua, dua lebaran ini adik saya memutuskan tidak mudik ke Jogja. Apalagi ibu dan bapak memiliki riwayat penyakit penyerta yang dapat memperparah kondisi kesehatan jika sampai terpapar Virus Corona. Apalagi grafik selalu menunjukkan adanya peningkatan infeksi COVID-19 usai peringatan hari raya keagamaan maupun hari libur nasional. Di Jogja saja, per Rabu, 16 Juni kemarin mencatat tambahan sebesar 534 kasus COVID-19.

Demi menjaga kesehatan bersama, kami memilih berkomunikasi via gawai. Selain bertukar kabar, kami saling menambatkan rindu dengan saling mengirim paket makanan. Salah satunya adalah mie lethek khas Bantul. Salah satu jenis mie berbahan singkong yang jaman ditemui di sekitar tempat tinggal kami di Bantul. Selain menjaga kesehatan, konsumsi produk pangan karya local champion tentu berdampak baik bagi perekonomian nasional kita.

Di sisi lain, kami juga mulai berikhtiar menjaga kesehatan selama pandemi dengan mengonsumsi minuman berbasis rempah. Kebetulan setahun yang lalu, ada kawan yang banting stir berjualan wedang rempah. Namanya Wedang Rempah Warung Sae. Selain harga dan racikannya yang enak kantong maupun lidah, ternyata minuman tradisional ini dapat membantu menjaga stamina tubuh. Sebagai teman minum wedang rempah, saya memilih brownies dari Dapur Kinca. Lagi-lagi brand ini merupakan kreasi dari salah satu sahabat saya. Wening namanya.

Bagi saya pribadi, pilihan belanja dengan nglarisin produk kreasi teman merupakan wujud nyata dalam membantu UMKM agar tetap bertahan di masa sulit macam pandemi COVID-19 ini. Kalau ditelisik lebih lanjut, 90% konsumsi saya merupakan buatan Indonesia. Apalagi kini sudah banyak brand lokal yang berkualitas baik. Untuk bahan baju saya sering membeli tenun lurik di kawasan Sewon. Untuk tas kulit pilihan saya jatuh pada brand Abekani. Dan masih banyak lagi.

Semoga dengan bangga menggunakan made in Indonesia dapat membantu menyelamatkan ekonomi negeri menuju titik yang lebih baik lagi. Saling jaga kesehatan untuk mengurangi penambahan kasus harian COVID-19 , saling support produk negeri sendiri agar perekonomian nasional kita semakin berdikari. Apapun alasannya, bukankah gotong royong melawan pandemi terasa lebih ringan jika dilakukan bersama-sama?

Salam hangat dari Jogja,

-Retno-

Tulisan ini diikutsertakan kompetisi dalam rangka memperingati Bulan Pancasila dengan tema Keistimewaan Pancasila: Toleransi, Berbagi, Gotong Royong yang diselenggarakan oleh Dinas Komunikasi dan Informatika DIY.

Retno Septyorini

Perkenalkan, nama saya Retno Septyorini, biasa dipanggil Retno. Saya seorang content creator dari Jogja. Suka cerita, makan & jalan-jalan. Kalau ke Jogja bisa kabar-kabar ya..

YOU MIGHT ALSO LIKE

No Comment

Leaver your comment