Gerakan Kerelawanan: Aksi Baik Kita untuk Kebaikan Sesama

“Meski hujan deras beberapa jam sebelumnya sukses membuat genangan air setinggi setengah kaki, sore itu aku tetap memaksakan diri untuk pulang ke rumah, Ret. Takutnya semakin malam hujan malah semakin deras. Untung saja motorku masih bisa diajak kompromi. Setelah melewati perjalanan pulang yang you know lah gimana macetnya jalanan usai hujan badai, pada akhirnya aku sampai rumah juga”. Begitu kira-kira cerita Mawa, salah satu sahabat saya yang kebetulan tengah mampir ke rumah untuk mengambil pesanan alpukat mentega kesukaannya.

“Untung kamu ga kenapa-kenapa ya, Wa”, ujar saya menimpali cerita menegangkan yang ia alami dua tahun silam.

He’em. Alhamdulillah aku nggak kenapa-kenapa. Tapi sepupuku hampir saja keseret angin ke arah sungai gede yang ada jembatannya itu lho, Ret!”.

Eh, gimana-gimana?”, jawab saya dengan raut muka agak melongo usai mendengar prolog yang cukup mencengangkan ini.

Saking kencangnya hujan angin waktu itu, pas lewat jembatan tiba-tiba motor sepupuku keseret sampai masuk ke sungai. Untung saja sewaktu dia jatuh ke jalan ada yang sigap buat nolongin”.

Deg!”.

“Kebayang nggak sih bagaimana kondisi sepupu sahabat saya kala itu semisal tidak ada relawan yang cekatan menawarkan aksi baiknya pada sesama? Dari aksi baik semacam inilah peran kerelawanan digadang-gadang sebagai garda terdepan dalam memberikan pertolongan bagi mereka yang tengah membutuhkan”.

Entah mengapa cerita ini mengingatkan saya pada kejadian gempa hebat yang terjadi di Jogja belasan tahun silam. Masih terekam jelas dalam ingatan saya bahwa pagi itu saya berniat menuju rental komputer andalan untuk mengerjakan salah satu tugas kuliah yang harus dikumpulkan beberapa hari kemudian.

Sarapan dulu, sepedaan kemudian. Begitu kira-kira agenda saya pada pagi yang tak kan pernah terlupakan itu. Sayangnya, sesaat setelah keluar kamar untuk mengambil sarapan datanglah sebuah peristiwa yang tak pernah saya duga sebelumnya. Baru sampai di meja makan, tiba-tiba ada suara gemuruh yang berlanjut dengan goyangnya tembok dan lantai secara bergantian.

Karena seumur-umur belum pernah mengalami hal mengagetkan semacam ini, saya sempat bingung harus berbuat apa. Setelah sadar bahwasanya kejadian barusan adalah gempa, barulah saya bergegas keluar rumah sembari berteriak memanggil semua orang rumah untuk segera keluar menuju halaman.

Pagi itu hanya bapak yang sempat sarapan. Selebihnya, yakni Ibu, saya dan adik hanya kedapatan aromanya saja. Karena itulah saat gempa datang, hanya bapak yang sudah berada di luar rumah. Waktu itu bapak tengah bersiap-siap menuju tempat kerja. Sedangkan kami masih berkutat mengerjakan beberapa hal di dalam rumah.

Saat berlari sampai ke pintu depan, saya menyadari ada satu hal krusial yang tidak tampak dalam pandangan. Saya tidak melihat ibu. Hanya ada bapak dan adik yang raut mukanya tampak begitu kaget. Karena tidak melihat ibu, saya memutuskan untuk kembali masuk ke rumah. Tak lama kemudian saya melihat ibu berlari arah dapur. Tanpa perlu diaba, kami langsung bergegas untuk keluar rumah.

Sesampainya kembali di depan rumah, saya mendapati sebagian besar rumah tetangga di sekeliling saya rata dengan tanah. Saat gempa mulai reda, seketika itu pula saya dan puluhan tetangga lainnya bergegas mengungsi ke area persawahan yang lebih lapang.

Di luar dugaan, saya melihat berbagai aksi baik yang dilakukan warga sekitar. Salah satunya adalah kebaikan tetangga yang berprofesi sebagai penjual bubur. Pagi itu ia merelakan dagangannya untuk disantap warga secara cuma-cuma.

Berbagai hal baik yang saya dapati usai gempa hebat yang melanda Jogja belasan tahun silam membuat saya sadar akan besarnya manfaat aksi kerelawanan pada mereka yang tengah membutuhkan. Mereka yang ada tanpa diaba ini rupa-rupanya menawarkan kebaikan tanpa sepeser pun paksaan dari luar.

Kabar baiknya, berbagai aksi kerelawanan ini mulai menular pada generasi muda kita tanpa pandang status sosial, ras bahkan agama sekalipun. Istilahnya mereka bahu-membahu membantu sesama atas atas dasar kemanusiaan.

Menariknya, aksi relawan ini tidak hanya mencuat saat terjadi bencana saja. Berbagai aksi kerelawanan digalang untuk membantu menyelesaikan persoalan bangsa dalam berbagai bidang, mulai dari relawan pendidikan yang rela ditempatkan di berbagai pelosok negeri dengan biaya sendiri, relawan untuk memajukan usaha mikro, kecil dan menengah agar bisa naik kelas dan bersaing di ranah global hingga relawan yang membantu dalam ranah keluarga seperti relawan yang khusus menangangi korban kekerasan dalam rumah tangga.

Saking baiknya masyarakat di sekitar kita, kini tumbuh berbagai komunitas ataupun organisasi berbadan hukum yang khusus berkecimpung dalam bidang kerelawanan. Satu diantaranya bernama Sekolah Relawan. Sesuai dengan namanya, sekolah relawan merupakan sekolah yang secara khusus diperuntukkan bagi siapa saja yang tertarik dalam dunia kerelawanan.

Sekolah yang didirikan pada tahun 2013 ini fokus dalam membekali membekali para relawan dengan keterampilan teknis maupun wawasan yang memadai saat melakukan aksi kebaikan di manapun mereka berada. Berbekal puluhan tahun pengalaman di dunia kemanusiaan membawa Sekolah Relawan menjadi sebuah lembaga kemanusiaan yang fokus terhadap terhadap edukasi kerelawanan dan pemberdayaan masyarakat.

Kini Sekolah Relawan menawarkan berbagai program menarik yang terbagi dalam empat sektor utama meliputi program edukasi kerelawanan (1) seperti orientasi relawan, volunteer fun camp, comdev fasilitator training, program sosial kemanusiaan (2) seperti social disaster rescue, program pemberdayaan masyarakat (3) dengan mendirikan Tatar Nusantara, Yatim Bright dan Naik Pangkat hingga program advokasi (4) yang berbentuk sedekah untuk melawan rentenir.

Jika teman-teman ingin bergabung atau berdonasi untuk berbagai program kebaikan dalam bidang kerelawanan, kawan-kawan dapat langsung meluncur di website resmi Sekolah Relawan di https://www.sekolahrelawan.com/. Apapun alasannya kita tidak akan pernah tahu sejauh mana kebaikan kita akan berujung. Selain untuk kebaikan sesama, sejatinya gerakan kerelawanan aksi kebaikan kita untuk kebaikan bersama. Bukankah sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang bermanfaat bagi orang lain?

Salam hangat dari Jogja,

-Retno-

Retno Septyorini

Perkenalkan, nama saya Retno Septyorini, biasa dipanggil Retno. Saya seorang content creator dari Jogja. Suka cerita, makan & jalan-jalan. Kalau ke Jogja bisa kabar-kabar ya..

YOU MIGHT ALSO LIKE

No Comment

Leaver your comment