Generasi Bebas Buku Bajakan, Mungkinkah?

Sebulan lalu ada status seorang kawan yang auto membuat geram hati saya. Bagaimana tidak, editor kawakan yang saya kenal pada sebuah projek pekerjaan dua tahun silam itu memposting kerisauannya atas sebuah akun media sosial yang dengan gamblang menulis “Menerima pemesanan buku grosir & eceran non ori dan ori ” dalam profile dirinya.

Dengan alasan masyarakat Indonesia butuh akses buku yang murah, penjual buku bajakan ini berpendapat bahwa aktivitas menjual buku kw yang dilakukannya merupakan hal yang benar. Fakta bahwasanya ada banyak pihak yang dirugikan akan hal ini ia sepelekan begitu saja. Dengan mengikuti sekitar 7.000an akun, bulan lalu akun media sosial penjual buku palsu ini diikuti lebih dari 9.000 akun. Sebuah indikasi bahwa di negeri ini buku bajakan masih memiliki potensi pembeli.

Dari sekian alasan yang dikemukakan dari sisi pembeli, rasa-rasanya pada keterbatasan dana lah hal ini bermuara. Alasannya bukan lagi “Kalau ada yang kw, kenapa harus beli yang asli”, melainkan “Kalau ada akses yang murah, kenapa harus beli yang mahal”. Di sisi lain, saya rasa masih ada pembeli yang tidak begitu mengetahui ciri buku palsu. Apalagi kalau dijual secara online dengan harga yang hampir sama dengan buru ori. Saat buku incaran datang, barulah si pembeli tahu bahwa buku yang telah dibeli adalah buku bajakan.

Sebagai seorang narablog, rasa-rasanya kalau ada artikel saya yang ketahuan dicuri saja pasti auto bikin dongkol hati. Apa jadinya kalau sebuah karya yang diwujudkan dalam sebuah buku dijiplak begitu saja dengan dalih turut memberi kesempatan pada mereka yang ingin mengakses buku murah? Bisa dibayangkan bukan kerugian materiil maupun non materiiil bagi pihak penulis maupun penerbit terkait?

Menelisik Suburnya Akses Buku Bajakan di Indonesia

Seingat saya, buku pertama yang saya sukai adalah majalah anak-anak yang dulu acapkali dibelikan oleh ibu. Majalah dengan desain warna-warni yang begitu menggembirakan hati para pembaca setianya. Saya salah satunya. Sebelas dua belas dengan adik, ia juga memiliki hobi baca yang cukup tinggi. Kala itu, pada dengan komik kepahlawanan yang dicetak hitam putih lah uang jajannya kerap bermuara.

Buku Bunga dan Cenderawasih, Salah Satu Seri Dongeng Dunia Binatang Manusia Terbitan Mizan (Dokpri)

Buku Bunga dan Cenderawasih, Salah Satu Seri Dongeng Dunia Binatang Manusia Terbitan Mizan (Dokpri)

Sewaktu duduk di bangku sekolah, rasa-rasanya tak ada buku bajakan diantara kita (baca: saya dan adik). Barulah saat kuliah, saya melihat buku repro cukup banyak beredar. Meski sempat beberapa kali membeli, rasa-rasanya tidak pernah sedikit pun terbersit bahwa yang saya lakukan ini sudah melanggar aturan. Lebih tepatnya menciderai hak-hak penulis maupun kawan-kawan yang bekerja di penerbitan. Semua terasa biasa saja karena banyak yang melakukan hal serupa.

Setelah bekerja dan mampu membeli buku idaman non bajakan, barulah saya menyadari bahwasanya buku fotokopian yang dulu saya akses bersama teman-teman merupakan bagian dari buku bajakan yang dikenal luas dengan sebutan buku repro, non ori, ataupun kw. Di sini lah letak kesalahan yang berpotensi dilakukan di lain tempat. Satu teman membeli buku ori, tetiba rusak karena difotokopi puluhan kali. Sebuah dilema membeli buku ori di jaman saya kuliah.

Kabar buruknya, saat ini seri buku bajakan tidak hanya berkutat pada materi perkuliahan saja, tapi merambah pula pada berbagai buku bacaan kenamaan yang tengah booming di pasaran. Seperti yang saya singgung di awal, berbagai oknum yang tidak bertanggung jawab memanfaatan kesempatan ini untuk memproduksi maupun mendistribusikan buku bajakan.

Akses jualnya pun tak tanggung-tanggung karena dilakukan secara terang-terangan melalui media sosial maupun marketplace kenamaan. Saat dilakukan konfrontasi, minat baca tinggi yang belum diimbangi kemampuan untuk membeli buku ori menjadi jawaban klasik mengapa masih banyak oknum tidak bertanggungjawab yang melakukan hal ini. Kalau kena razia langsung tutup lapak, tapi kalau tak ada razia otomatis buka dagangan non ori lagi.

Mengkahiri Era Bajakan di Sekitar Kita

Tidak dapat dipungkiri kalau menjamurnya akses penjualan buku bajakan di negeri ini menjadi salah satu indikasi adanya potensi pembeli yang membutuhkan akses buku dengan harga yang lebih terjangkau. Dari sisi pembeli, hal-hal semacam ini sebenarnya dapat diminimalisir dengan berbagai cara. Salah satu diantaranya dapat dilakukan dengan memanfaatkan akses pinjam di berbagai perpustakan daerah yang tersedia di berbagai kota di Indonesia.

Jangan salah lho ya, kini banyak perpustakaan daerah yang menyediakan akses buku populer kekinian di luar buku pelajaran. Kalau sedang butuh buku bacaan tapi budget sedang tidak memungkinkan, pada perpustakaan lah saya mencari solusi. Persis seperti beberapa bulan belakangan dimana saya sedang getol-getolnya ingin membaca buku bertema investasi. Tidak disangka, di Perpustakaan Kota Jogja (Puskota) ada berbagai buku baru yang menarik untuk dipelajari.

Kabar baiknya, tidak jarang saya melihat orang tua yang sengaja mengenalkan perpustakaan pada buah hati mereka. Selain menawarkan buku bacaan anak yang melimpah, ada ruangan di lantai dua Puskota yang sengaja didesain khusus untuk anak-anak. Disadari ataupun tidak, selain mengnelkan buah hati pada literasi baca, hal-hal sederhana semacam ini dapat menjadi salah satu solusi memberantas akses penjualan buku non ori di lingkungan sekitar kita.

Buku Second Hand Berjudul Everyone Can Lead Karya Husnul Suhaimi (Dokpri)

Buku Second Hand Berjudul Everyone Can Lead Karya Husnul Suhaimi (Dokpri)

Selain mengakses buku dari perpustakaan ke perpustakaan, salah satu cara menjauhi buku bajakan saya lakukan dengan membeli buku-buku bekas yang dijual di sekitar circle saya. Kebetulan ada adik angkatan dan beberapa kawan bloger yang kerap membuka lapak buku bekas via media sosial. Si penjual dapat tambahan pemasukan, pembeli dapat mengakses buku impian dengan harga yang sesuai dengan budget yang telah ditentukan. Semacam win-win solution tanpa sedikitpun melanggar aturan.

Buku second hand berjudul Everyone Can Lead karya Husnul Suhaimi ini misalnya. Salah satu buku yang didistribusikan oleh PT Mizan Media Utama ini merupakan satu dari sekian buku bekas yang berjajar rapi di kamar saya. Setelah punya penghasilan sendiri, pantang rasanya beli buku bajakan. Semacam lebih tertarik beli buku bekas dibandingkan buku bertitel “kw”. Apalagi kini berbagai penerbit juga sering menggelar bazar buku baik secara offline maupun online dengan harga lebih terjangkau.

Jangan salah sangka ya, buku yang dijual lebih murah bukan berarti kualitasnya jelek. Ini merupakan bagian dari strategi promosi yang dilakukan masing-masing penerbit. Seperti yang dilakukan Mizan misalnya. Belum lama ini saya melihat promo salah satu buku yang tengah saya cari, yakni “Finansial Check Up For Ladies” karya salah satu financial planner idola saya, yakni Mbak Farah Dini Novita. Meski akhirnya saya tidak kebagian juga, saya ingin menunjukkan bahwa ada banyak cara untuk dapat mengakses buku idaman yang sesuai dengan anggaran. Salah satunya tidak lain dengan mengaktifkan notifikasi media sosial para penerbit yang sewaktu-waktu sering menawarkan dispensasi harga yang cukup menarik.

Membacakan Buku Berjudul Bunga dan Cenderawasih, Salah Satu Seri Dongeng Dunia Binatang Manusia Terbitan Mizan (Dokpri)

Membacakan Buku Berjudul Bunga dan Cenderawasih, Salah Satu Seri Dongeng Dunia Binatang Manusia Terbitan Mizan (Dokpri)

Melihat tingginya minat baca di Indonesia, kini berbagai event jual buku murah banyak dilakukan di berbagai daerah. Saya sendiri termasuk salah satu konsumen yang memanfaatkan moment baik ini. Pada salah satu event jual buku murah di Jogja misalnya, saya dan adik sepakat untuk membeli beberapa buku cerita untuk diberikan pada beberapa keponakan. Senang rasanya mendapat puluhan buku berkualitas dengan harga yang pas.

Buku berjudul Bunga dan Cenderawasih karya Ana P Dewiyana ini misalnya. Salah satu seri dongeng dunia binatang manusia terbitan Mizan ini berhasil membuat keponakan saya girang bukan kepalang. Setelah dibuka, buku cerita itu langsung dibawanya ke kamar. Perlahan ia mulai mengeja berbagai huruf yang tercetak dalam buku cerita. Malam itu adik saya sempat mendongengkan isi cerita yang terdapat pada buku bersampul biru itu.

Kini dibanding sekedar memberi mereka uang jajan ataupun mainan, kami lebih suka membelikan mereka buku bacaan. Pengenalan sederhana semacam ini diharapkan dapat memupuk minat baca sekaligus mengenalkan mereka pada kualitas buku original yang oke punya. Jika suatu saat nanti saya ditanya “Munginkah generasi selanjutnya bisa buku bebas bajakan?” Maka saya akan balik bertanya, “Kenapa tidak?”.

Mari bersinergi untuk mempersempit kesempatan pelaku pembajakan buku dimanapun mereka berada. Kalau tak ada pembelinya, mereka bisa apa?

Salam hangat dari Jogja,

-Retno-

Retno Septyorini

Perkenalkan, nama saya Retno Septyorini, biasa dipanggil Retno. Saya seorang content creator dari Jogja. Suka cerita, makan & jalan-jalan. Kalau ke Jogja bisa kabar-kabar ya..

YOU MIGHT ALSO LIKE

No Comment

Leaver your comment

About Me

Wiloke

Retno Septyorini

Welcome to my creative blog │ Content creator @halomasin │Talk about figure, wastra, travel &culinary│ Happy living in Jogja

About Me