Garut Dalam Dekapan Kuliner

Apa yang pertama kali terpikirkan oleh Anda ketika mendengar kata Garut? Sebagai penikmat kuliner “lintas genre”, saya akan langsung ingat dengan dorokdoknya. Olahan kerupuk kulit sapi yang rasanya cukup berbeda dengan kerupuk kulit sapi kebanyakan.

Sebagai salah satu sentra kerajinan kulit di Jawa Barat, tidak heran jika kulit sapi menjadi komoditi yang banyak diolah di kawasan berjuluk Swiss Van Javanya Indonesia ini. Selain dikenal sebagai sentra batik dan dodol, kini Garut juga dikenal sebagai salah satu produsen produk fashion berbahan kulit yang cukup disegani. Pasalnya dengan kualitas yang terbilang mumpuni, harga produk kulit dari kawasan ini terbilang ramah di kantong pembeli.

Kalau ada pertanyaan mengapa kerupuk kulit sapi dengan paduan manis gurih yang pas ini menjadi cemilan yang cukup melekat di ingatan saya, maka jawabannya sungguhlah sederhana. Karena citarasa otentik Garut yang pernah sampai di lidah saya ya baru si dorokdok ini. Yang lainnya masih dalam angan yang masuk antrian untuk segera dituntaskan.

Sayangnya saya lupa mengabadikan penampakan kerupuk enak ini. Kalau dilihat sekilas sih bisa dibilang saudara dekat rambak. Sebutan untuk olahan kerupuk kulit sapi yang dibumbui dengan penyedap rasa. Beda keduanya hanya terletak pada warna dan tambahan bumbunya saja.

Kalau rambak umumnya berwarna terang dengan citarasa gurih yang cukup nagih, lain halnya dengan dorokdok yang penampakan luarnya terlihat sedikit kumal. Meski demikian, jika dibandingkan dengan rambak biasa, rasa dorokdok tak kalah juara. Paduan manis dan gurih dalam sekali gigit membuat kerupuk khas Garut yang satu ini tidak meninggalkan after taste yang kurang enak di lidah.

Sambal Cibiuk (Sumber: Milari)

Sambal Cibiuk (Sumber: Milari)

Tidak heran jika kini dorokdok menjadi alternatif buah tangan yang kerap dibawa teman usai mudik dari Garut. Tidak terkecuali dengan Milari. Kawan yang menjadi perantara perkenalan saya dengan olahan kerupuk kulit sapi bercitarasa enak ini.

Sebagai sesama penggemar kuliner tradisional, saya dan Milar terbilang cukup antusias dalam berburu citarasa lokal. Meski jarang direncana, jalan dan jajan dadakan seolah menjadi agenda rutin yang sering kami lakukan. Kebetulan selera makan kami juga senada. Dalam hal kulineran, hanya terdapat dua genre saja. Enak dan enak banget!

Warung bakso, sate kambing, angkringan dan kedai mie ayam menjadi tempat makan yang sering kami kunjungi. Di sela-sela makan inilah kami kerap bertukar cerita terkait pengalaman makan di kota orang. Kota yang kebetulan kami kunjungi dalam rangka menuntaskan berbagai kewajiban atas nama pekerjaan.

Gapura Makam Syekh Jafar Shiddiq Sunan Haruman (Dokumentasi: Milari)

Gapura Makam Syekh Jafar Shiddiq Sunan Haruman (Dokumentasi: Milari)

Menariknya, dari berbagai kudapan yang ada di Garut sana, pada sambal cibiuk lah kawan saya ini tak bosan untuk mengulang cerita yang sama. Terakhir malah sampai dikirimi foto gapura menuju menuju kawasan ziarah yang begitu terkenal di kampungnya.

“Pokoknya kalau ke Garut harus nyobain sambal cibiuk, Mbak”, ujar si Milar. Kawan seperjalanan saya dua tahun ke belakang. Kebetulan, selain satu selera soal kulineran, kami berdua sama-sama menyukai wisata sejarah. Jadi selain sering janjian untuk mengikuti jelejah heritage, frekuensi pertemuan kami seringkali berakhir dengan daftar tempat makan yang enak buat dicicipi sambil menyelesaikan pekerjaan.

Menurut cerita yang berkembang, gapura bernuansa hitam putih dengan papan biru bertuliskan “Makam Syekh Jafar Shiddiq Sunan Haruman” ini erat kaitannya dengan asal muasal sambal cibiuk. Selain merupakan tokoh agama yang membawa ajaran Islam di Garut, Syekh Jafar disebut-sebut sebagai pencipta sambal yang kini menjelma sebagai ikon wisata kuliner kenamaan dari kawasan berjuluk Swiss Van Javanya Indonesia ini.

Sambal Cibiuk dan "Kawan-Kawannya" (Dokumentasi Milari)

Sambal Cibiuk dan “Kawan-Kawannya” (Dokumentasi Milari)

Saking penasarannya, saya jadi auto kepo dengan sambal yang berasal dari kawasan Cibiuk, Garut ini. Usut punya usut, sambal cibiuk merupakan jenis  sambal mentah yang terbilang unik. Selain dibuat dari cabai, bawang merah dan irisan tomat, sambal ini menggunakan beberapa jenis bumbu yang berbeda dengan sambal pada umumnya, mulai dari kencur, terasi bakar, garam dan daun kemangi. Iya, daun kemangi. Bisa dibayangkan bukan kesegaran sambal khas Garut yang satu ini? Buat teman makan ikan enak, buat disantap bersama aneka tumisan juga tak kalah enak.

Menariknya lagi, jika dibandingkan dengan proses pembuatan sambal pada umumnya, proses pembuatan sambal cibiuk terbilang lebih mudah, juga lebih cepat. Kalau sambal lain perlu diuleg sampai halus, karakter sambel cibiuk  malah sebaliknya. Ia merupakan sambal dengan tekstur yang kasar. Ibarat kata diuleg sebentar saja sudah jadi. Cocok sekali bagi generasi dapur masa kini yang anti ribet-ribet club.

Selain sambal cibiuk dan kawan-kawannya, saya juga penasaran dengan citarasa bakso khas Garut yang sambalnya ada tumbukan kacangnya. “Kuah bakso Garut itu bumbunya kerasa banget, Mbak. Wajib cobain kalau berkesempatan jalan-jalan di Garut”, ujar Milari berulang-kali.

Saking enaknya, aku makan bakso setiap hari! Selain rasa daging baksonya yang oke punya, paduan sambal kacang dan tauge di bikin citarasa bakso Garut itu nggak ada duanya”, tambahnya kemudian.

Iya-iya, jawab saya sekenanya karena auto terngiang-ngiang sama cerita si Milar. Pantas saja kalau lagi makan yamie dia suka nambah porsi topping tauge rebus. Rupa-rupanya tauge merupakan sayuran tambahan yang selalu ada pada makanan favoritnya.

Sentra Olahan Kulit Sukaregang (Dokumentasi: Milari)

Sentra Olahan Kulit Sukaregang (Dokumentasi: Milari)

“Oiya, kalau ada kesempatan jalan ke Garut, enaknya kemana saja ya?”.

“Karena kamu suka olahan kulit, wajib mampir ke Sukaregang, Mbak”, jawabnya segera.

Saya mengangguk sembari mendengarkan.

“Di sini kamu bisa dapat aneka olahan kulit mulai dari kerupuk-kerupukan, tas, sepatu, dompet sampai jaket. Model-modelnya pun tak kalah ciamik dengan berbagai brand yang wara-wiri di online shop”, tambahnya sesaat kemudian.

Sebagai orang yang pernah bertugas di daerah, saya meyakini ada banyak inovasi yang banyak dilakukan oleh local champion di daerah, tidak terkecuali dengan aneka produk fashion kulit khas Garut. Tidak heran jika sub sektor fashion menjadi produk ekspor ekraf (ekonomi kreatif) terbesar dari Indonesia dengan persentase mencapai 54,54%.

Saking bagusnya kualitas produk fashion kulit di Garut, ada yang sampai beli grosiran untuk dijual kembali dengan label sendiri. Salah satu kawan Facebook saya yang seringkali menawarkan jasa titip belanja saat berada di luar negeri pun mengakui bahwa kualitas produk fashion kulit dari Garut itu bukan “kaleng-kaleng”.

“Ini tas kulit dari Garut”, kata Dahlia (bukan naman sebenarnya) pada suatu siang. Waktu itu ia unggahan foto diri bersama tas barunya terpampang nyata di salah satu linimasa salah satu media sosial.

“Meski harganya ramah di kantong, namun kualitasnya bukan sekedar omong kosong. Jadi kalau teman-teman ada yang ingin mencari tas kulit dengan harga terjangkau dengan kualitas yang lumayan wow, produk Garut bisa jadi salah satu solusi yang menarik untuk dieksekusi”, begitu kira-kira review apa adanya dari kawan saya yang diunggahnya beberapa tahun yang lalu.

Pantai Pamengpeuk (Dokumentasi: Milari)

Pantai Pamengpeuk (Dokumentasi: Milari)

Nanti kalau masih ada waktu buat jalan, bisa mampir juga ke Pantai Pamengpeuk juga, Mbak. Pantainya bagus! Cocok untuk bikin stok foto”, kata Milar sembari tersenyum. Sebagai kawan dekat, ia tahu betul kalau saya sedang getol-getolnya belajar fotografi. Selain untuk koleksi pribadi, ia tentu tahu kalau saya gemar bercerita di sosial media, meski terkadang hanya numpang lewat di instastory.

Sebagai seorang bloger, menceritakan pesona Indonesia pada dunia menjadi wujud kecil saya dalam mencintai mencintai ibu pertiwi. Apalagi di tengah revolusi industri 4.0 seperti yang tengah terjadi saat ini. Berbagai review digital yang disebar di media sosial semoga dapat menambah citra positif Indonesia di mata dunia. Kalau banyak wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia, berbagai produk lokal unggulan di daerah berpotensi besar untuk dilirik oleh mereka.

Saya percaya, pariwisata merupakan gerbang utama yang mampu membukakan berbagai pintu bertajuk pesona Indonesia lainnya. Dari jalan-jalan biasa, bisa menjalar sampai meja makan hingga ke berbagai pusat perbelanjaan. Bisa dibayangkan bukan besarnya impact baik dari review sederhana yang dilakukan oleh jari-jemari.

Melihat hasil foto yang dikirimnya ke gawai, saya bisa membayangkan betapa cantiknya pesona Pantai Pamengpeuk ini. Pantai bertabur karang-karang raksasa berwarna hitam seperti yang tampak dalam gambar di atas tentu menjadi properti alami yang semakin menambah ciamik hasil jelajah fotografi di sisi selatan kawasan berjuluk Swiss Van Javanya Indonesia ini .

“Kalau sedang malas untuk menjelajah, tiduran di tengah kubangan karang menarik juga ya, Mil. Aku sering begitu kalau “dapat” pantai yang semodel dengan Pamengpeuk”, ujar saya saat pertama kali melihat keseruan foto keluarga saat berwisata di sana.

Tak perlu menunggu lama, ia pun mengangguk tanda mengiyakan. “Kebetulan tanggal 04 November nanti aku balik ke Garut lagi untuk 40 hariannya Apa. Sok kalau mau ikut ke Garut”, terangnya pada saya di sebuah warung bakso favorit kami. Apa merupakan sebutan untuk bapak.

Pasar Ceplak, Pusat Kuliner Malam di Garut (Dokumentasi: Milari)

Pasar Ceplak, Pusat Kuliner Malam di Garut (Dokumentasi: Milari)

“Oiya, satu lagi, Mbak! Kalau mau cari sentra kuliner di Garut, sempetin buat nengok ke Pasar Ceplak. Dari semua destinasi wisata di Garut, kayaknya ini yang paling cocok sama kamu deh, Mbak!”, ujarnya sembari tertawa.

“Garut itu surganya makanan enak. Kabar baiknya, sebagian besar kuliner khas Garut itu “kumpul” jadi satu di situ. Istilahnya mau makan apa saja, semua nongol di sana. Karena baru buka di sore hari, pasar ini cocok dikunjungi usai berkeliling berbagai destinasi di Garut”

“Kosongin dulu perutnya kalau mau cicip banyak menu”, tambahnya sembari terkekeh karena tahu saya hobi cicip ini dan itu.

“Aamiin ya, Mil. Moga-moga aja tahun ini bisa main ke Garut!”, jawab saya secepat kilat.

Bagi saya, Garut dalam dekapan kuliner merupakan angan untuk jelajah rasa di kawasan berjuluk Swiss Van Javanya Indonesia ini. Kabupaten cantik ini menawarkan segarnya sambal cibiuk yang cocok menjadi teman makan di berbagai restoran, lezatnya bakso kuah kacang yang dijajakan hampir di berbagai sudut jalan, asyiknya nyemil dorokdok sembari jalan ke berbagai destinasi wisata impian hingga segala keinginan untuk mencicipi kudapan yang mengisi hiruk pikuknya Pasar Ceplak. Tak sabar rasanya untuk mengiyakan ajakan Milar untuk ikut pulang ke Garut. Semoga saja segera kesampaian sampai di sana.

Salam hangat dari Jogja,

-Retno-

“Artikel ini diikut sertakan dalam Writington Jelajah Garut 2019 yang diselenggarakan oleh Bitread, Garut Creative Hub dan GoodNews From Indonesia”

Semua foto yang digunakan dalam artikel ini sudah diijinkan oleh pemilik foto.

Retno Septyorini

Perkenalkan, nama saya Retno Septyorini, biasa dipanggil Retno. Saya seorang content creator dari Jogja. Suka cerita, makan & jalan-jalan. Kalau ke Jogja bisa kabar-kabar ya..

YOU MIGHT ALSO LIKE

No Comment

Leaver your comment

About Me

Wiloke

Retno Septyorini

Welcome to my creative blog │ Content creator @halomasin │Talk about figure, wastra, travel &culinary│ Happy living in Jogja

About Me