Cerita Tentang Ibu

Cover Lagu Ibu Oleh Jasmine Elektrik (Dokumentasi Jasmine Elektrik)

Cover Lagu Ibu Oleh Jasmine Elektrik (Dokumentasi Jasmine Elektrik)

“Kau ajariku berjalan. Membimbingku perlahan hingga tercapai segala yang ku cita-citakan”.

Deg!”.

Penggalan lagu di atas mengingatkan saya pada sosok pekerja keras yang terampil memasak sekaligus begitu perhatian dengan anak. Sosok itu adalah ibu. Wanita yang tak lelah merawat dan membimbingku sedari kecil.

Ibu (Dokumentasi Pribadi)

Ibu (Dokumentasi Pribadi)

Sejak kecil aku terbilang dekat dengan sosok ibu. Maklum saja, sebagai anak tentara yang kerap ditinggal tugas ke luar kota, ibu menjadi teman baik sekaligus tempat mengadu dengan solusi yang paling jitu. Saat malas makan langsung gercep diajak jalan muterin komplek asrama. Saat malas main di rumah langsung aja gitu dianterin main ke rumah tetangga. Bahkan nemenin kebiasaan mantengin lagu Garuda Pancasila yang tayang setiap malam di tv tetangga TVRI juga tetap dilakukan tanpa keluhan sedikit pun. Semua dilakukan tanpa syarat. Karena itulah isyarat cinta yang diperlihatkan ibu biasanya tetap terjaga di ingatan hingga kita dewasa. Konon berbagai kenangan manis itu bahkan tidak terlupa sampai kita tua.

Cerita dari Sepeda

Sepeda Lawas Ibu (Dokumentasi Pribadi)

Sepeda Lawas Ibu (Dokumentasi Pribadi)

“Kukayuh perahu, menuju pulau citaku. Diiringi doa nasehat bijakmu ibu”. Ah, penggalan lagu Ibu dari Jasmine Elektrik ini mengingatkan saya pada sepeda lawas ibu. Sepeda yang puluhan digunakan untuk mengantarku ke sekolah saat masih berseragam putih merah. Sepeda ini pula lah yang mengantarkan kebingungan ibu ke ruang guru.

“Sekolah sudah lama, kok anak ini belum kenal huruf juga ya?”, cerita ibu di suatu siang. Saya masih diam sembari mulai nggayemi camilan.

Setelah bertemu Guru Bahasa Indonesia saya, barulah ibu tahu kalau cara membaca yang diajarkan di sekolah memang berbeda.

Di sekolah saya semua konsonan dibaca dengan tambahan bunyi eh. Jadi kalau di sekolah pada umumnya i-be-u dibaca ibu, di sekolah saya lain ceritanya. Kata ibu akan dieja dengan bunyi i-beh-u-bu, ibu. Persis seperti kata ini yang dibaca i-neh-i-ni, ini.

Cara eja yang berbeda inilah yang membuat ibu selalu kesusahan saat mengajari saya membaca. Sontak cerita ini membuat saya tertawa dan bahagia dalam sekali waktu. Tertawa karena ceritanya memang lucu, bahagia karena merasa spesial dengan segala perhatian ibu.

Dari sepeda lawas inilah sosok ibu menjadi tenar di sekolah. Konon wali murid yang bertanya sedetail itu cuma ibu. Duh, kalau mengingat hal ini saya jadi auto meluk ibu. Meski hanya lulusan SMA, tapi ia selalu berusaha memberikan perhatian, juga pendidikan terbaik untuk anak-anaknya. Hingga lulus kuliah pun, ibu tidak pernah lelah untuk mengingatkan agar saya melakukan tindakan yang baik sehingga tidak merugikan orang lain.

Ibu (Dokumentasi Pribadi)

Ibu (Dokumentasi Pribadi)

Setidaknya ada tiga pesan ibu yang tetap saya jalankan hingga kini. Pertama terkait gaya hidup. “Jangan sampai lebih besar pasak daripada tiang”, begitu katanya di suatu ketika. Kebiasaan ini memang sudah dicontohkan ibu dengan cara-cara sederhana yang dapat saya terima sejak saya kecil, seperti diajari berbagai trik agar saya bisa mrantasi keperluan pribadi seperti ganti baju sendiri atau pakai sepatu sendiri, diajak ke dapur agar tahu cara memasak sekaligus familiar dengan masakan rumah hingga belanja sesuai kebutuhan, bukan sesuai keinginan. Maklum, kami berasal dari keluarga sederhana dnegan kondisi ekonomi terbatas. Jadi harus banyak akal kalau sudah bicara tentang keperluan berbasis uang.

Selain dapat memilah mana yang menjadi prioritas, hal-hal sederhana di atas bermuara pada perkenalan konsep menabung sejak dini. Masih ingat buku tabungan berwarna hijau atau merah pucat yang hits di era 90-an? Ternyata saya sudah punya sejak TK lho! Kalau sedang “panen” uang saku dari saudara, ibu pasti bilang “Wah, sebagian bisa nambah tabungan Mbak nih!”. Saya pun mengangguk tanda setuju. Tentu tidak semuanya ditabung. Ada sebagian yang boleh digunakan untuk jajan. Namanya juga anak kecil, diajarinya harus dengan sabar, juga pelan-pelan.

Setelah beranjak dewasa, kalau geliat jajan saya dinilai berlebihan, ibu mulai mengingatkan dengan sanepo seperti, “Yen nuruti weteng, donya kolu”, yang kira-kira berarti kalau mau nurutin nafsu pribadi, seisi bumi juga bakal masuk. Kalau sudah diingatkan begini, biasanya sih saya auto nyatet semua pengeluaran, tentu diselingi setor emoticon meledek ke ibu. Maklum saja, ibu sudah seperti sahabat sendiri sehingga hubungan kami  tidak kaku lagi.

Ibu (Dokumentasi Pribadi)

Ibu (Dokumentasi Pribadi)

Pesan ibu lainnya yang masih saya jalankan hingga kini berkaitan erat dengan cara menyelesaikan sebuah masalah. Sejak kecil saya diajari untuk terbuka. Untuk berani bicara. Kalau sedang tidak sepakat dengan suatu hal, ya diomongin aja biar ketemu win-win solution yang tidak merugikan satu sama lain. Pun kalau sedang ada cek-cok dengan teman, ya wajib diobrolin aja biar masalahnya cepat kelar.

Meski di rumah ibu menjadi sosok yang paling galak, tapi kalau menyelesaikan masalah tidak boleh ada yang namanya marah-marahan, main tangan apalagi sampai gontok-gontokan. Duh, makin love saja kalau ingat berbagai hal yang diajarkan ibu.

Semakin ke sini, saat saya memasuki masa lulus kuliah sekaligus mencari pekerjaan, ibu kembali memberi wejangan dalam perspektif yang lebih luas. Kali ini tak melulu soal gaya hidup hingga cara-cara jitu menyelesaikan masalah yang datang menghampiri, namun sudah merambah ke berbagai hal prinsipil seperti “berjalanlah” di koridor yang benar. Kerja yang benar. Cari rejeki yang halal. Jadilah orang yang bermanfaat untuk sekitar. Dan satu lagi, jangan sampai mengambil hak orang. Kalau bisa usahakan sebaliknya. Memberi tanpa pamrih.

Hingga sat ini, ibu kerap menceritakan kebaikan seseorang yang pernah dilakukan untuk saya. Agar saya tidak lupa, untuk berbagi pada mereka. Kadang secuil perhatian kita bisa sapat mendatangkan bahagia yang mungkin tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

“Ku arungi hidup berbekal ilmu darimu.  Kasih sayangmu ibu, tak terbantahkan waktuuuuuuu”. Wah, terima kasih Jasmine Elektrik untuk single ciamik berjudul Ibu yang diluncurkan pada peringatan Hari Ibu tahun lalu. Habis dengerin lagu ini, langsung auto kirim ke ibu.

Benar adanya, kasih sayang ibu tak terbantahkan waktu.

Salam hangat dari Jogja,

-Retno-

Artikel ini diikutsertakan dalam #JasmineElektrikCeritaIbu Blog Competition yang diselenggarakan oleh Jasmie Elektrik.

Retno Septyorini

Perkenalkan, nama saya Retno Septyorini, biasa dipanggil Retno. Saya seorang content creator dari Jogja. Suka cerita, makan & jalan-jalan. Kalau ke Jogja bisa kabar-kabar ya..

YOU MIGHT ALSO LIKE

No Comment

Leaver your comment

About Me

Wiloke

Retno Septyorini

Welcome to my creative blog │ Content creator @halomasin │Talk about figure, wastra, travel &culinary│ Happy living in Jogja

About Me