Cerita Bahagia Dari Rumah Pertama

Sigit merasa begitu lega. Rona bahagia terpancar jelas dari wajahnya. Cita-citanya sedari muda akhirnya tercapai juga. Dengan perencanaan keuangan yang matang, rumah idaman yang diimpikan kini berhasil diwujudkan. Terbayar sudah kerja kerasnya sejak lepas dari bangku Sekolah Menengah Atas (SMA).

***

Kalau dulu kepemilikan rumah pribadi begitu identik dengan kaum borjuis yang bergaji tinggi, kini fenomena ini mengalami pergeseran yang cukup berarti. Dengan kerja keras dan literasi keuangan yang cerdas, siapa saja memiliki kesempatan yang setara dalam mewujudkan hunian idaman. Tidak terkecuali generasi milenial yang usianya tergolong masih muda. Sigit contohnya. Suami sahabat saya ini membuktikan bahwa niat dan usaha yang kuat tak kan pernah mengelabuhi hasil.

Cerita impian rumah pertama Sigit dimulai sejak satu dekade silam. Saat teman seusianya memilih langsung kuliah selepas Sekolah Menengah Atas (SMA), ia dihadapkan pada keinginan yang berbeda. Waktu itu pemuda dari yang lahir di Majenang ini malah lebih bersemangat untuk mengambil jeda agar bisa bekerja sekaligus mengasah keterampilan memasaknya. Tak heran jika setamat kuliah, pengalamannya jauh di atas rata-rata teman seangkatan. Karena itulah juru masak dengan mengambil spesialisasi di bidang pastry ini terbilang mudah dalam mencari pekerjaan. Kesempatan baik ini tentu tidak ia sia-siakan begitu saja.

Saat mulai berpenghasilan tetap, Sigit tidak lupa akan mimpi lamanya. Apalagi kalau bukan memiliki rumah pribadi atas nama sendiri. Karena itulah menyisihkan sebagian gaji menjadi gaya hidup yang rutin dijalani. Hingga di awal tahun 2015 lalu, porsi tabungannya telah mencukupi syarat uang muka untuk mengajukan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) di salah satu Bank Plat Merah. Berbekal tabungan sebesar 16 juta rupiah, mimpi punya rumah sebelum menikah akhirnya terwujud juga.

Lima tahun lalu rumah tipe 36/70 pilihan Sigit dibanderol dengan harga 160 juta rupiah. Menariknya, hunian di Perum Bukit Hade, kawasan Gebang, Purworejo ini menawarkan angsuran yang sangat terjangkau. Hanya 900 ribu dengan tenggat waktu cicilan selama 15 tahun. Dengan kata lain, uang muka yang dipersyaratan terbilang cukup ringan. Hanya 10% dari total harga yang ditawarkan. Nominal yang tidak memberatkan untuk ukuran banyak kalangan, tidak terkecuali untuk milenial bergaji di bawah 8 juta seperti Sigit.

Bagian Dalam Rumah Keluarga Sigit

Benar kiranya, ungkapan yang menyatakan bahwa kian hari, mimpi mereka yang bergaji standar untuk memiliki rumah kian dipermudah saja. Satu diantaranya melalui program Sejuta Rumah yang dicanangkan Presiden Joko Widodo sejak tahun 2015 lalu. Sinergi pemerintah dalam menyediakan rumah murah melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dengan berbagai pihak terkait seperti pengembang dan lembaga keuangan tentu semakin mempermudah jutaan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dalam menggapai mimpi untuk memiliki rumah pribadi.

Berkat sinergi baik ini, dalam tempo lima tahun terakhir pemerintah berhasil menyelesaikan pembangunan perumahan pro dengan jumlah yang cukup fantastis, mencapai 4.800.170 unit. Terkait hal ini, Kementerian PUPR mencatat capaian pembangunan rumah di tahun 2019 mencapai 1.257.852 unit dengan target 945.161 unit rumah untuk kalangan MBR. Sisanya, yakni 312.691 unit rumah diperuntukkan bagi kalangan non MBR.

Detail Foto Rumah Keluarga Sigit Dari Sisi Samping

Kembali ke rumah Sigit. Sejujurnya saya agak kaget saat pertama kali melihat kiriman foto rumah pertama kawan saya ini. Dengan tawaran uang muka dan besaran angsuran yang menarik, rumah dengan luas tanah sebesar 70 meter ini menawarkan desain yang cukup ciamik. Cocok untuk dihuni oleh pasangan muda seperti keluarga kecil Sigit dan Iya (nama sahabat saya).

Sejak pertama kali survei lokasi, Sigit sudah merasa sreg dengan desain rumah yang kelak akan ia tinggali itu. Benar saja, saat rumahnya tegak berdiri, ia hanya kepikiran untuk menambah kanopi. Voila, rumah impiannya sedari SMA akhirnya terwujud juga.

***

Menilik keseriusan pemerintah dalam menyediakan rumah, tidak terkecuali bagi masyarakat berpenghasilan rendah, juga cerita Sigit yang cukup menginspirasi ini membuat saya tergerak untuk melunasi mimpi memiliki hunian pribadi dengan akta atas nama sendiri.

Salam hangat dari Jogja,

-Retno-

Tags:

Retno Septyorini

Perkenalkan, nama saya Retno Septyorini, biasa dipanggil Retno. Saya seorang content creator dari Jogja. Suka cerita, makan & jalan-jalan. Kalau ke Jogja bisa kabar-kabar ya..

YOU MIGHT ALSO LIKE

No Comment

Leaver your comment