Catatan dari Trowulan

Catatan dari Trowulan

Catatan dari Trowulan

Cerita bermula dari Minggu malam tanggal 29 April 2018 lalu saat Komunitas Malam Museum membagikan poster bergambar situs sejarah di Trowulan bertajuk “Ekspedisi Majapahit”. Dengan donasi Rp 125.000 rupiah sebagai pengganti uang transport, peserta ekspedisi dapat menikmati perjalanan berupa jelajah situs dan melakukan kegiatan konservasi di bawah arahan pihak Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur.

“Kalau masih kebagian seat berarti rejeki”,ucap saya dalam hati.

Benar saja, Minggu malam kirim pesan sesuai format pendaftaran, keesokan harinya berbalas menyenangkan. Saya dapat kursi untuk ekspedisi ini. Alhamdulillah.

***

Mengunjungi Trowulan adalah impian yang terpenuhi dari jalan yang tidak disangka-sangka. Dengan modal tidak lebih dari dua ratus ribu rupiah, saya berkesempatan menyusuri peninggalan Kerajaan Majapahit bersama teman-teman baru, lengkap dengan guide berpengalaman dari BPCB Jawa Timur.

Catatan dari Trowulan

Catatan dari Trowulan

Sebagian kawan baru saya kala itu datang dari Komunitas Malam Museum yang merangkap sebagai panitia acara, sedangkan sebagian lainnya merupakan mereka-mereka yang terlanjur cinta untuk menggali cerita tentang jayanya peradaban nenek moyang kita yang tersebar di berbagai pelosok nusantara. Mida salah satunya. Teman baru yang ternyata dia itu temennya temenku. Adakah yang suka kejadian begini juga? Kenal teman baru yang lingkarannya dia lagi atau temennya dia lagi^^

Usai dikenalkan teman dan bertukar nomor telepon, kami terbilang langsung akrab. Karena perjalanan ke timur dimulai tengah malam, kami janjian dulu di kafe yang letaknya tidak jauh dari meeting point. Pada akhirnya perjalanan PP Jogja-Mojokerto saya habiskan bersama Mida.

Bagi saya konsep rejeki tak melulu soal nominal yang tertera pada slip gaji. Mendapatkan paket liburan murah meriah sekaligus bertemu teman perjalanan yang mengasyikkan termasuk rejeki yang sangat patut untuk disyukuri. Apalagi di usia saya sekarang yang kebanyakan sudah berkeluarga atau bahkan beranak dua, mau jalan bareng teman lama itu susahnya bukan main.

***

Minimnya biaya perjalanan yang dikeluarkan tentu memiliki konsekuensi tersendiri, mulai dari pemilihan bus mini dengan fasilitas seadanya, berangkat dini hari agar sewa bus tidak lebih dari satu hari hingga ketatnya jadwal perjalanan yang dibuat panitia.

Sesuai jadwal, rombongan kami bertolak dari Jogja pada Kamis, 03 Mei 2018 sekitar pukul 01.00 WIB. Setelah melewati Solo saya bisa tidur cukup lama hingga sebagian besar penumpang berteriak karena bis kami sempat ngerem mendadak. Untungnya cuma ngerem mendadak saja. Tidak terjadi apa-apa dengan rombongan kami, pun kendaraan lain yang seperjalanan dengan kami.

Sekitar pukul setengah lima pagi kami berhenti sebentar untuk sholat, istirahat dan sarapan. Pagi itu kami sarapan di Waroeng Mojopahit. Saya memilih degan manis dan soto tanpa nasi yang ternyata disebut dengan kuah soto. Penyebutan soto Jawa Timuran yang demikian sebelas dua belas dengan sebutan soto di Banjarmasin. Inget banget waktu di Banjarmasin itu kalau pesannya pakai lontong namanya soto. Lucunya kalau makan sotonya pakai nasi namanya berubah jadi nasi sop, hoho.

Ternyata kuah soto Jawa Timuran di Waoreng Mojopahit itu porsinya lumayan besar. Nggak pakai nasi saja sudah kenyang. Ayamnya juga banyak euy. Sayangnya waktu itu memori handphone saya penuh jadi nggak sempet difoto pakai HP. Coba kalau saya punya smartphone yang storage sampai 128 GB, pasti moment wisata kuliner seperti ini bisa terdokumentasi dengan mudah. Walhasil di sepanjang perjalanan menuju Trowulan saya harus memilih mana foto yang akhirnya harus dihapus dari kenangan. Biar bisa pepotoan gitu kalau sudah sampai tujuan.

Catatan dari Trowulan

Catatan dari Trowulan

Sayangnya belum sempet cekrek-cekrek upload, eh HP saya ngehang saudara-saudara sekalian, huhuhuhu. Jadinya babar blas saya nggak ada foto manis-manis manja di handphone pribadi saat berada di Trowulan. Untungnya ada Mida yang kerap kali ada di samping saya. Dengan dalih “Selfie yuk, Da?”, pada akhirnya ada beberapa foto diri yang terekam di beberapa sudut kawasan yang ditengarai sebagai ibu kota Kerajaan Majapahit ini, mulai dari museum, lokasi yang ditengarai sebagai rumah warga jaman dahulu kala hingga sisa-sisa candi yang masih terpelihara hingga kini.

***

Salah satu keajaiban museum di sini adalah lokasinya yang terletak tepat di tengah kawasan yang ditengarai sebagai ibu kota kerajaan. Jadi tidak semua koleksi museumnya disimpan di dalam ruangan. Bahkan beberapa diantara disimpan di ruangan tanpa tembok. Selain bisa belajar sejarah, bisa sekalian jadi tempat istirahat walau hanya duduk-duduk sembari mendengarkan sejarah majapahit lengkap dengan berbagai peninggalan bersejarah yang ada mulai dari arca, keramik, sumur hingga bangunan rumah warga yang dikonservasi di sebuah tanah lapang berpayung raksasa.

Menariknya lagi, di sana itu masih terdapat beberapa Pohon Maja . Jenis pohon yang konon katanya menjadi cikal bakal nama kerajaan Majapahit. Pas ke sana eh pas lagi berbuah pula. Jadilah terik siang di Trowulan awal Mei lalu itu pun disemarakkan dengan tawa lepas sepasang bule yang tengah asyik mengambil gambar di bawah Pohon Maja. Senang rasanya melihat antusias wisatawan asing yang tengah berwisata sejarah di kompleks peninggalan Kerajaan Majapahit yang agung. Meski agak tertinggal oleh rombongan, saya dan beberapa kawan akhirnya memutuskan untuk mengabadikan gambar si buah kenamaan.

Gandeng HP saya mati, saya nggak bisa foto pakai handphone, huhu. Coba saja saya punya smarfphone yang dilengkapi dengan 4 kamera yang diperkuat dengan AI alias artificial intelligence, dimana kamera depannya masing-masing dibekali resolusi 24MP + 2MP, ditambah dengan kamera belakangnya yang masing-masing memiliki resolusi sebesar 16MP + 2MP. Pasti hasilnya nggak akan mengecewakan. Apalagi kalau ada yang warna ungu favorit aku, lengkap dengan desain stylish tapi harganya terjangkau. Wah, bisa dipertimbangkan buat diperjuangkan nih^^

Kamera Mumpuni di Huawei Nova 3i

Kamera Mumpuni di Huawei Nova 3i

Saya pikir potret Buah Maja di kompleks peninggalan Kerajaan Majapahit tentu punya nilai lebih bagi wisatawan mancanegara yang saya temui waktu itu. Jebul, setelah bertatap muka dengan si buah Maja kami disuguhi pemandangan buah yang semuanya bernama alias diberi sayatan seperti Bantal love Guling. Kan kesel ya?

Mungkin begini kali ya rasanya terjebak dalam rasa memiliki yang sungguh njelei? Bahkan pada apa-apa yg sesungguhnya bukan miliknya sendiri? Jadi ya bule-bule tadi itu so pasti ngetawain orang-orang menyebalkan yang kerap meninggalkan “sampah” dimanapun mereka singgah. Kalau teman-teman semua nggak gitu juga kan kalau dikasih kesempatan buat jalan-jalan?

***

Setiap akhir September saya selalu menulis catatan perjalanan yang saya lalui setahun terakhir. Tahun ini pun saya kembali melakukannya. Alasannya sederhana saja. Saya ingin melewati pergantian umur dengan kebersyukuran atas berbagai kebaikan Tuhan. Catatan dari Trowulan ini menjadi salah satu cerita terbaik saya tahun ini. Selain dapat teman baru, semoga bisa dapat smartphone baru juga. Biar kalo kemana-mana, nggak nggantungin lagi sama foto kiriman teman, ehehe.

Disain stylish Huawei Nova 3i

Disain stylish Huawei Nova 3i

Kalau ngomong-ngomong soal smartphone idaman, ternyata beberapa whistlist yang aku ceritain tadi ada di Huawei Nova 3i. Mana selain kamera yang apik, juga desain dan storage yang ciamik, eh Huawei Nova 3i ini juga dilengkapi dengan GPU Turbo untuk kemampuan gaming yang mumpuni. Dear Huawei Nova 3i, aku sungguh padamu. Semoga Mbak Pungky ngabulin keinginanku buat segera ketemu kamu ya.

Salam kenal dari Jogja,

-Retno-

“Tulisan ini diikutsertakan dalam giveaway blognya Jiwo”

Retno Septyorini

Perkenalkan, nama saya Retno Septyorini, biasa dipanggil Retno. Saya seorang content creator dari Jogja. Suka cerita, makan & jalan-jalan. Kalau ke Jogja bisa kabar-kabar ya..

YOU MIGHT ALSO LIKE

2 Comments

Leaver your comment

About Me

Wiloke

Retno Septyorini

Welcome to my creative blog │ Content creator @halomasin │Talk about figure, wastra, travel &culinary│ Happy living in Jogja

About Me