Belajar dari Pasar Kaki Langit, Destinasi Digital Bertabur Kearifan Lokal

Tempat Penukaran Koin di Pasar Kaki Langit

Tempat Penukaran Koin di Pasar Kaki Langit

Pukul setengah lima pagi gerimis sempat bertamu di Jogja. Tidak disangka, satu jam kemudian cuaca kembali cerah. Ya, pagi itu Jogja tidak jadi hujan. Mendung perlahan beranjak seolah tahu kalau saya sudah jauh-jauh hari berencana mengajak ibu dan bapak untuk menikmati keunikan satu destinasi wisata baru yang tengah booming di Jogja. Pasar Kaki Langit namanya. Sebuah destinasi digital bertabur kearifan lokal yang kini menjelma menjadi salah satu primadona wisata di Jogja.

Kali ini kami berangkat berempat. Selain bersama ibu dan bapak, saya juga mengajak Mida, kawan seperjalan saya sewaktu menjelajah Trowulan. Karena skill berkendara saya di jalan perbukitan tidak terlalu mumpuni, kami sepakat untuk memesan jasa transportasi online. Wah, tidak sabar rasanya untuk menikmati alunan gejog lesung sembari bereuni dengan beragam kuliner tempo dulu yang tersedia di Pasar Kaki Langit.

Bukan rahasia lagi rasanya jika kini wisata apa adanya yang berhasil dikemas dan dinarasikan dengan tepat berpeluang memunculkan daya tarik yang kuat untuk memikat kedatangan para wisatawan. Inovasi dari sektor ekonomi kreatif yang dibalut dengan kearifan lokal semacam ini memang telah lama digadang-gadang sebagai salah satu sektor pendukung perekonomian nasional, sekaligus sebagai kekuatan baru Indonesia menuju 2025.

***

Perjalanan kami dimulai dari sisi terluar sentra produksi gerabah yang terletak di Dusun Kasongan. Setelah menyusuri berbagai jalan dengan pemandangan asri khas pedesaan, sampailah kami di Pasar Imogiri Lama yang kini beralih fungsi menjadi tanah lapang. Dari sinilah mobil yang membawa kami mulai memasuki perbatasan antara Kecamatan Imogiri dan Kecamatan Dlingo. Di sepanjang jalan perbukitan ini, tak henti-hentinya kami disuguhi indahnya pemandangan Jogja yang tersaji dari atas bukit.

Selain terlihat teduh, Dlingo memang dikenal sebagai kawasan perbukitan dengan pemandangan alam yang cukup menawan. Dengan fasilitas jalan yang kini sudah mulus dan lebar, juga pilihan tempat wisata yang beragam, daerah perbukitan sisi barat Jogja ini bak tuan rumah yang selalu siap menyambut kedatangan kawan-kawan semua. Beberapa menit kemudian sampailah kami di Pasar Kaki Langit. Sebuah pasar unik yang konon dijuluki sebagai surga barunya Jogja.

Menapak “Kaki Langit”

Tiba di Pasar Kaki Langit

Tiba di Pasar Kaki Langit

Sesampainya di area pasar, kami mendapati senyum ramah dari seorang laki-laki paruh baya berkostum tradisional, lengkap dengan balutan blangkon hitam di kepala.

“Selamat datang di Pasar Kaki Langit Bu, Pak, Mbak”, ucapnya masih sembari tersenyum.

Tak perlu diaba, kami pun mengangguk sembari tersenyum tanda bahagia sudah disambut dengan begitu ramah. Terbayang rasanya bagaimana sumringahnya para wisatawan yang datang untuk menukar rupiah dengan mata uang lokal di gubug kecil berdinding kayu itu.

Dulu saya mengira nama kaki langit diambil dari posisi geografis area sekitar pasar yang terletak di atas bukit. Karena jika diteropong dari arah kota, pasar yang terletak di Jalan Mangunan, Cempuk, Mangunan, Dlingo, Bantul, Yogyakarta ini seolah berada di “kaki langitnya” Jogja. Usut punya usut ternyata penamaan kaki langit jauh dari pemikiran dangkal saya.

“Destinasi wisata kenamaan yang berada di area perbukitan tersebut dinamakan kaki langit dengan harapan agar warga diberi kemampuan untuk senantiasa berjalan pada koridor yang benar. Koridor yang sesuai ajaran kebaikan dari sang pemilik langit”, begitu kira-kira penjelasan Pak Tumidjan. Lurah Pasar Kaki Langit yang baru saja menyambut saya di tempat penukaran koin. Lurah merupakan jabatan pengelola yang bertanggung jawab dalam mengelola operasional pasar.

Bertransaksi dengan Koin Kayu

Mata Uang yang Berlaku di Pasar Kaki Langit

Mata Uang yang Berlaku di Pasar Kaki Langit

“Saya tukar Rp 50.000 dulu, Pak”, ucap saya antusias.

Agar mudah dibagi dengan ibu dan bapak, saya menukarnya dengan pecahan koin sepuluh, lima dan dua ribuan. Saya sengaja hanya menukar 50 ribu saja di awal karena takut sisa.

Toh kalau nanti kekurangan koin kayu bisa balik lagi ke sini”, batin saya dalam hati.

Namanya juga wanita. Terbiasa matang jika menyoal tentang pengelolaan uang. Maklum saja, di beberapa event lain saya sering menjumpai peraturan yang berat sebelah. Selain masa berlaku mata uang lokal (voucher) yang terbilang pendek yakni satu hari saja, jika ada uang yang tersisa biasanya tidak bisa ditukar dengan rupiah.

***

Tak berapa lama kemudian, kantong berisi kepingan koin kayu sudah berada dalam genggaman. Belum sempat mengucap terima kasih, Pak Tumidjan kembali membuka obrolan.

“Nanti kalau ada koin yang tersisa dapat ditukar kembali dengan nominal rupiah yang sama, Mbak”, terangnya.

Wah, ternyata di sini beda ya, Pak”, jawab saya spontan sembari membelalakkan mata diiringi tawa lega yang keluar begitu saja.

“Kami ingin pasar ini langgeng sampai nanti-nanti, Mbak. Sebisa mungkin kami berusaha membuat peraturan yang tidak merugikan konsumen”, terangnya dengan nada bicara yang begitu hangat.

Adem betul hati saya mendengar kearifan yang didengungkan Pak Tumidjan. Memang betul, memfasilitasi citarasa dan kearifan lokal agar senantiasa digemari khalayak ramai tentu tidak mudah. Meski demikian, pengelola Pasar Kaki Langit sudah memulainya dengan awalan yang sangat baik. Setelah berpamitan, kami pun mulai menjelajah berbagai sudut menarik di pasar yang buka setiap Sabtu dan Minggu ini. Seperti pasar pada umumnya, Pasar Kaki Langit buka sedari pagi, mulai pukul 06.00 hingga pukul 12.00 WIB, atau hingga selarisnya dagangan di sana.

Surga Kuliner Tempo Dulu

Mbak Nur Hidayati Penjual Kicak dan Jadah Ketan di Pasar Kaki Langit

Mbak Nur Hidayati Penjual Kicak dan Jadah Ketan di Pasar Kaki Langit

Ternyata tidak hanya pengelola saja yang berpakaian serba tradisional. Sebagian besar penjual makanan di pasar pun berkostum serupa. Mengenakan jarik dan kebaya. Selain menambah kesan ndeso yang tidak dibuat-buat, hal ini tentu akan menambah wawawan terkait pakaian tradisional khas nusantara. Yang belum tahu jadi tahu. Yang sudah tahu, siapa tahu ada yang tertarik untuk memilikinya juga.

Setelah diamati betul, ternyata semua pedagang kuliner di Pasar Kaki Langit itu semuanya perempuan. Kata Pak Lurah, kedua belas pedagang kuliner yang berjualan di Pasar Kaki Langit sudah diseleksi dengan baik. Semua yang berjualan di sana adalah warga Desa Kaki Langit yang belum memiliki usaha.

“Jadi yang sudah punya usaha ataupun homestay tidak diperkenankan untuk berjualan di sini. Bukan bermaksud untuk pilih kasih, Mbak. Biar pertumbuhan ekonomi dari sektor paiwisata di kawasan ini bisa merata dan dapat dinikmati oleh semua pihak tanpa terkecuali”.

“Pada dasarnya ada dua hal yang menjadi harapan kami dalam mengelola Pasar Kaki Langit ini. Selain menjadi upaya untuk melestarikan kuliner tradisional, pasar ini diharapkan mampu menciptakan lapangan pekerjaan bagi ibu-ibu warga Desa Kaki Langit. Harapannya mereka yang “tidak punya” memiliki kesempatan yang sama untuk kembali berdaya”, begitu kira-kira keterangan yang saya peroleh dari Pak Tumidjan.

Selain bermanfaat untuk membantu perekonomian keluarga, sepertinya Pasar Kaki Langit juga dapat menjadi ajang aktualisasi diri ibu rumah tangga untuk maju dan berkembang bersama. Selain harus pandai mengelola lapak, mereka pasti akan belajar bagaimana cara berkomunikasi yang baik dengan pelanggan. Entah mengapa hal ini mengingatkan saya pada acil-acil (sebutan untuk bibi) yang berjualan makanan di Pasar Terapung Lok Baintan. Di sana baik pedagang sayur, ikan, buah ataupun makanan, semuanya perempuan. Ah, jadi rindu juga dengan Banjarmasin.

Spot Foto Instagramable yang Tersedia di Pasar Kaki Langit

Spot Foto Instagramable yang Tersedia di Pasar Kaki Langit

Meski saya tidak berkebaya, pagi itu saya memakai baju lurik bermotif udan liris. Dalam Bahasa Jawa kata udan liris berarti hujan gerimis. Karena alasan inilah konon motif udan liris dikenal sebagai perlambang kesuburan. Meski terkesan sepele, namun mengenakan produk kreatif lokal saat piknik seperti ini membuat saya merasa tidak berjarak dengan warga lokal, dalam hal ini pengelola maupun pedagang yang berjualan di pasar. Begitu pula saat berkesempatan menjelajah ke tempat lainnya. Selain menjadi wujud nyata untuk mensupport local champion, saya merasa lebih “diterima” jika mengenakan apa-apa yang menjadi hasil kerajinan warga setempat. Tak perlu khawatir soal kualitasnya. Kini banyak kok produk lokal yang sudah go internasional. Aneka tenun nusantara pun sudah wira-wiri di ajang fashion dunia, termasuk tenun Jogjaan seperti ini.

***

Setelah membagi koin kayu dengan ibu dan bapak, kami langsung melihat-lihat menu yang tersedia di Pasar Kaki Langit. Ternyata pilihan menunya banyak sekali. Ada gudeg manggar, mie lethek, pecel, soto, juga nasi rames dengan lauk khas pedesaan seperti buntil, sayur lombok ijo, gorengan dan sate ayam. Ada pula aneka jenis bubur seperti bubur beras sayur krecek, bubur sumsum, bubur kacang hijau dan bubur ketan hitam. Cukup bingung jadinya mau nyicip yang mana saja.

Wedang Uwuh di Pasar Kaki Langit

Wedang Uwuh di Pasar Kaki Langit

Soal minuman, selain ada kopi, teh dan jeruk, lapak di Pasar Kaki Langit juga menyediakan minuman tradisional seperti wedang uwuh dan dawet. Menariknya lagi, tempat ini juga menawarkan aneka rupa jajanan ndeso, mulai dari jadah tempe, getuk kimpul, kacang godog, jagung godog, kicak hingga aneka rupa olahan tiwul. Selain banyak pilihan, perlahan namun pasti, aneka kudapan yang tersedia di sini ternyata mampu mempercepat kelenjar saliva saya dalam memproduksi air liur. Semacam ingin langsung mencicipi satu-satu. Untungnya sebelum berangkat saya tidak sarapan dulu sehingga bisa icip-icip sepuas hati.

Sarapan Istimewa di Tempat Istimewa

Ibu dan Bapak Icip-Icip Mie Lethek

Ibu dan Bapak Icip-Icip Mie Lethek

Saat masih kecil, saya selalu senang saat diajak piknik bapak. Meski kemana-mana hanya naik sepeda motor, pun dengan pilihan destinasi waisata yang itu-itu saja, namun perjalanan bersama mereka selalu menjadi hal yang saya nanti-nantikan. Seiring bergulirnya waktu, kini gantian bapak ibu yang pinginan. Tahu ada tempat bagus, biasanya langsung bertanya, “Tempat ini ada dimana ya, Nduk?”. Pun jika melihat teman yang pajang foto bagus di status. Sayangnya rasa penasaran mereka kebanyakan hanya berujung pada tanya yang sama, “Dimana lokasinya?”.

Ah, kebanyakan orang tua memang begitu. Seringkali malu meminta, padahal hati ingin segera sampai di sana. Untungnya Jogja menawarkan beragam pilihan destinasi digital yang bagus sehingga banyak yang viral dunia maya. Selain Pasar Kaki Langit, ada Pasar Bambu Munthuk, Pasar Laguna Depok, Pasar Ngringrong, Pasar Telaga Jonge, dan Watu Tapak yang berada di Kawasan Tebing Breksi. Jadi kalau ada teman ibu atau bapak itu update status usai berkunjung ke sana, lalu mereka tanya tempat tersebut ada dimana, bisa lah untuk dilaju dengan berbekal dua atau tiga ratus ribu saja.

Tenang dulu, jajan di tempat yang saya sebutkan itu tidak semahal itu kok. Di Pasar Kaki Langit misalnya. Jajanan di pasar yang baru diresmikan pada tanggal 23 Desember 2017 ini dibanderol dari harga dua ribu rupiah saja. Kemarin pos dana terbanyak bukan untuk jajan, melainkan untuk biaya transportasi karena kaki bapak sedang sakit, ditambah saya tidak berani membawa sepeda motor sendiri.

Jadi tak perlu merasa kebingungan mau liburan kemana saat weekend tiba. Tinggal datang saja ke Jogja. Selain menawarkan keramah-tamahan khas kota gudeg, kota cantik ini juga menawarkan enam destinasi digital yang layak dijadikan pilihan untuk berakhir pekan bersama para kesayangan. Persis seperti pagi ini saat saya mengajak dua orang yang paling saya sayangi untuk berkunjung ke Pasar Kaki Langit. Senang rasanya melihat antusiasme mereka saat  berkeliling untuk menjumpai kudapan tempo dulu, yang mungkin satu atau dua diantaranya pernah menjadi favorit mereka sewaktu kecil dulu.

Mie Lethek di Pasar Kaki Langit

Mie Lethek di Pasar Kaki Langit

Saat saya masih bingung mau makan apa, ibu, bapak dan Mida ternyata sudah action duluan. Tanpa sengaja ternyata mereka membawa piring dengan isi yang sama yakni mie lethek. Mie lethek merupakan salah satu mie unik dari Bantul yang kerap membuat penasaran wisatawan. Bagaimana tidak, selain dibuat dari campuran gaplek dan tapioka sehingga membuat tekstur mie menjadi kenyal secara alami, proses pembuatannya mie yang satu ini masih menggunakan tenaga sapi!

Nama mie lethek sendiri diambil dari kata lethek, dimana dalam Bahasa Jawa berarti terlihat kurang bersih. Meski diberi nama demikian teman-teman tidak perlu khawatir karena penamaan tersebut tidak sedikitpun berkaitan dengan higienitas dalam proses pembuatan mie, melainkan merujuk pada warna kecoklatan mie karena dibuat dari campuran gaplek alias potongan singkong yang telah dikeringkan.

Warna yang terlihat kurang bersih inilah yang menjadikan mie bertekstur kenyal ini dikenal luas dengan sebutan mie lethek. Jika dibandingkan dengan jenis mie lain yang beredar di pasaran, mie lethek terbilang lebih mudah menyerap air. Jadi bukan rahasia umum lagi kalau memasak mie lethek itu gampang-gampang susah. Kalau digoreng takaran airnya harus pas supaya tidak menjendal. Begitu pula saat direbus. Selain wajib diberi bumbu dan air dengan takaran yang pas, mie lethek rebus harus segera disantap selagi panas.

Mie Lethek dan Wedang Uwuh, Paduan Sarapan yang Istimewa 

Mie Lethek dan Wedang Uwuh, Paduan Sarapan yang Istimewa

Nah, di Pasar Kaki Langit kemarin saya menemui sajian mie lethek goreng yang lain dari biasanya karena diberi tambahan bumbu kacang. Awalnya saya hanya mencicipi mie dari piring ibu. Paduan gurihnya mie dengan pedas manisnya bumbu kacang ternyata menawarkan citarasa yang unik tapi enak. Rasa penasaran yang sempat menggelayut di benak pun akhirnya berganti menjadi keinginan untuk kembali mencicipi mie lethek versi Dlingo-an ini.

Pada akhirnya pada kudapan istimewa seharga lima ribu rupiah inilah pilihan saya berlabuh. Semacam merasa sarapan istimewa di tempat yang istimewa. Maklum saja, kebanyakan kedai mie lethek di Jogja umumnya buka di malam hari. Tidak disangka-sangka ternyata Pasar Kaki Langit juga menyediakan mie lethek goreng yang nylekamin (enak banget). Asyiknya lagi, saya bisa menyantapnya bersama dengan wedang uwuh racikan warga Desa Kaki Langit.

Bagi kawan-kawan yang belum mengenal wedang uwuh, saya sarankan untuk mencicinya saat berkesempatan berkunjung ke Jogja. Selain hangat, minuman berwarna merah hasil seduhan secang, tangkai dan daun cengkeh, daun manis jangan, daun pala, jahe dan gula batu ini akan menambah kekayaan citarasa nusantara yang berhasil didaratkan di lidah. Sarapan kali ini memang istimewa. Dengan sembilan ribu rupiah saja, saya berkesempatan menikmati kudapan  lezat yang diracik sepenuh hati.

Menakar Kekuatan Ekonomi Kreatif Lokal

Sate Ayamnya Pasar Kaki Langit

Sate Ayamnya Pasar Kaki Langit

Usai menyelesaikan sarapan saya dan Mida kembali berjalan-jalan untuk mencari camilan. Harap maklum karena saya datang dengan perut kosong. Setelah berkeliling, akhirnya saya memutuskan untuk mencicipi sate ayam dan kicak thiwul yang konon merupakan makanan asli warga sini. Sate di Pasar Kaki Langit itu potongan daging ayam besar-besar. Bumbu manisnya juga meresap sampai ke bagian dalam daging. Mantap pokoknya! Begitu pun dengan kicaknya. Manis gurihnya pas! Enak tapi tidak enek.

Kicak dari Pasar Kaki Langit

Kicak Thiwul Khas Dlingo

Kicak yang pagi itu dijual oleh Mbak Nur Hidayati ternyata merupakan salah satu jajanan ndeso khas Dlingo. Ini pelajaran baru untuk saya karena saya kira kicak hanya ada di Kauman saja. Usut punya usut ternyata kicak Dlingo itu berbeda dengan kicak dari Kauman yang hanya “keluar” saat Bulan Ramadhan itu. Kicak Kauman terbuat dari ketan yang ditumbuk dengan bumbu parutan kelapa, gula dan vanili, sedangkan kicak Dlingo merupakan inovasi olahan berbahan dasar tepung singkong, yang notabene merupakan bahan dasar pembuatan thiwul.

Di Dlingo kicak dibuat dari tepung thiwul yang dibuat ketan. Selanjutnya ketan tersebut dibumbui dengan parutan kelapa, gula jawa dan daun pandan. Kicak Thiwul khas Dlingo tidak hanya menonjolkan rasa manis yang bertubi-tubi, melainkan ada citarasa gurih yang dari keluar tambahan parutan kelapa yang melimpah, juga aroma khas daun pandan yang menggugah selera. Pertama dicoba, kok bisa langsung jatuh jatuh cinta begitu, ya? Saking enaknya, saya membawa pulang beberapa porsi kicak yang dibanderol dengan harga dua ribu rupiah/porsi.

Kicak dan Jadah Tempe Pasar Kaki Langit

Kicak dan Jadah Tempe Pasar Kaki Langit

Getuk Kimpul di Pasar Kaki Langit

Getuk Kimpul di Pasar Kaki Langit

Lain saya, lain pula dengan pilihan bapak. Menjelang siang bapak tertarik untuk membawa pulang jadah tempe, thiwul ayu dan getuk kimpul. Di luaran sana, jadah tempe dikenal luas sebagai burgernya orang Jogja. Disebut demikian karena menu ini disajikan dengan cara ditumpuk seperti penyajian burger. Keunikan jadah tempe di Dlingo terletak pada rasa gurih jadahnya yang enak, lengkap dengan tekstur jadah yang empuk tapi tidak begitu lengket saat dipegang. Lain sekali dengan jadah yang biasanya saya konsumsi. Citarasa tempenya juga pas untuk disandingkan dengan jadah. Seolah keduanya dibuat untuk saling melengkapi.

Rahasia mengapa tekstur jadah ketan di sini bisa sedemikian gurih dan empuk namun tidak lengket ternyata ada pada penambahan santan dan parutan kelapa yang melimpah. Sama halnya dengan penggunaan parutan kelapa pada proses pembuatan thiwul ayu. Hal inilah pula lah yang membuat citarasa manis kicak dan thiwul ayu terasa enak namun tidak enek.

Tiwul Manis dan Tiwul Tawar yang Dijual di Pasar Kaki Langit

Tiwul Manis (kecil) dan Tiwul Tawar (besar) yang Dijual di Pasar Kaki Langit

Kabar baiknya, baik makanan maupun minuman bercitarasa manis yang saya icipi di sini tidak membuat batuk. Maklum saja, dikaruniai tenggorokan yang sensitif membuat saya menjadi was-was saat berwisata kuliner. Yakinlah  saya kalau makanan ataupun minuman di tempat ini hanya dibuat dengan bahan-bahan alami, termasuk pada pilihan pemanis yang digunakan.

Oiya, jika teman-teman kurang menyukai rasa manis, lapak thiwul di Pasar Kaki Langit juga menyediakan thiwul bercitarasa tawar yang disajikan dengan sambal terong. Tenang, kalau mau nyoba tidak harus beli semua kok. Tiga ribu saja sudah dapat, kenyang pula!

Thiwul Panggang Aneka Rasa yang Dijual di Pasar Kaki Langit

Thiwul Panggang Aneka Rasa yang Dijual di Pasar Kaki Langit

Seiring berjalannya waktu, kini masyarakat Dlingo mampu berinovasi dengan membuat olahan thiwul panggang aneka rasa. Selain rasa original, mereka memperkenalkan thiwul panggang bercitarasa pedas hingga thiwul panggang bertopping keju. Tidak menyangka masyarakat di pucuk perbukitan Jogja yang notabene cukup jauh dari kota itu kini mampu mendobrak pakem dengan melakukan berbagai inovasi bermodalkan bahan pangan lokal dengan sedemikian baiknya.

Surprisenya lagi, saya juga menemukan getuk manis yang dibuat dari kimpul, sebutan untuk umbi tanaman lompong. Sebuah tanaman yang sering dianggap liar, namun menawarkan citarasa unik baik pada tangkai maupun umbi yang ternanam di dalam tanah. Haru rasanya setiap kali melihat desa yang kembali berdaya, pun mampu menarik perhatian orang kota untuk kembali menengok kekayaan kuliner kita yang dibuat dari bahan-bahan lokal semacam ini.

Membeli Bledak di Lapak Ibu Suparmi

Membeli Bledak di Lapak Ibu Suparmi

Oiya, ada satu makanan lagi yang seumur hidup baru saya temui. Namanya bledak, sebutan untuk nasi jagung bercitarasa gurih yang sudah enak dinikmati meski tanpa lauk. Pengganti karbohidrat bercitarasa gurih ini ternyata dapat dibawa pulang dengan merogoh kocek sebesar Rp 2.500 saja. Jejajah di gerai lokal memang begitu, selalu memberi suntikan pengetahuan selaligus memberi kesempatan mencicipi kekayaan kuliner dari negeri sendiri.

Senang rasanya melihat bahan pangan lokal kembali eksis, bahkan dicari hingga ke pelosok negeri. Contoh riilnya ya di Pasar Kaki Langit ini. Meski menawarkan kuliner ndeso, antusiasme wisatawan begitu luar biasa. Dalam sehari, omset di Pasar Kaki Langit bisa mencapai 4 hingga 6 juta rupiah lho! Kabar yang cukup menggembirakan untuk memacu geliat pendapatan dari sektor pariwisata lokal di tengah ketatnya persaingan industri pariwisata dunia.

Puluhan tahun lalu, Dlingo hanya dikenal lewat Kebun Buah Mangunan saja. Tidak disangka, kini kawasan di pucuk bukit ini mulai bangkit dengan menawarkan alternatif wisata yang bertumpu pada kearifan lokal, yang begitu layak diperkenalkan di kancah global. Selain menyediakan berbagai spot foto yang instagramable, Pasar Kaki Langit juga dilengkapi mushola dan kamar mandi yang memadai. Jalan menuju ke sana pun sudah mulus.

Spot Foto Instagramable yang Tersedia di Pasar Kaki Langit

Spot Foto Instagramable yang Tersedia di Pasar Kaki Langit

Pasar yang sempat dikunjungi Menteri Pariwisata pada 31 Juli ini juga menampilkan kesenian lokal seperti tarian tradisional, gejog lesung, cekokan hingga karawitan. Diantara empat kesenian tradisional tersebut, gejog lesung menjadi penampilan yang paling banyak dinanti. Maklum saja, seiring ditemukannya mesin penggiling padi, lesung dan alu tidak lagi digunakan untuk menumbuk padi. Jadi sangat susah untuk ditemui. Agar tidak menghilang dari peradaban, kini alat tradisional untuk menumbuk padi tersebut dialih fungsikan sebagai alat musik tradisional untuk mengiringi langgam Jawa.

Menariknya, semua penampil merupakan warga Desa Kaki Langit. Kalau mereka sudah bekerja keras untuk melestarikan, bukankah kita wajib untuk memberi dukungan? Jika teman-teman setuju, ditunggu kedatangannya di Pasar Kaki Langit ya! Sayangnya saat saya ke sini, penampilan gejog lesung sedang libur. Beberapa ibu-ibu pemain gejog lesung sedang membantu hajatan salah satu warga Desa Kaki Langit. Biasanya gejog lesung dimainkan untuk bersamaan dengan cokek’an (nyanyian berbahasa Jawa) perjuangan. Selain melestarikan budaya, lagu perjuangan diharapkan mampu menyuntikkan semangat bagi siapa saja yang mendengarkannya. Bisa dibayangkan bukan keasyikan saat berkunjung di sini?

Rekomendasi Oleh-Oleh dari Pasar Kaki Langit

Pilihan Oleh-Oleh di Pasar Kaki Langit

Pilihan Oleh-Oleh dari Pasar Kaki Langit

Wedang Uwuh Gula Krista di Pasar Kaki Langit

Wedang Uwuh Gula Krista di Pasar Kaki Langit

Tiwul Panggang Satuan di Pasar Kaki Langit

Tiwul Panggang Satuan di Pasar Kaki Langit

Tiwul Panggang di Pasar Kaki Langit

Tiwul Panggang di Pasar Kaki Langit

Selain makanan siap saji, Pasar Kaki Langit juga menyediakan aneka buah tangan yang menarik, seperti thiwul panggang, wedang uwuh dan jamu instan. Kini tak sulit lagi jika ingin menebus rindu dengan aneka kudapan lezat tempo dulu. Kudapan yang tak hanya enak di lidah, namun juga mengusung kearifan lokal yang wajib kita lestarikan. Jika ke sini lagi, semoga saya kebagian tumis daging jambu mete yang konon rasanya tak kalah enak dengan aneka tumisan lainnya, termasuk tumis daging sekalipun.

Bahan Tumis Daging Jambu Mete

Bahan Tumis Daging Jambu Mete

Akhir kata, selamat menikmati destinasi digital di sebuah pasar sederhana yang niscaya akan membawa teman-teman pada kayanya citarasa kuliner khas Jogja warisan nenek moyang kebanggaan kita semua.

Salam hangat dari Jogja,

-Retno-

Jam Operasional Pasar Kaki Langit

Jam Operasional Pasar Kaki Langit

Retno Septyorini

Perkenalkan, nama saya Retno Septyorini, biasa dipanggil Retno. Saya seorang content creator dari Jogja. Suka cerita, makan & jalan-jalan. Kalau ke Jogja bisa kabar-kabar ya..

YOU MIGHT ALSO LIKE

No Comment

Leaver your comment

About Me

Wiloke

Retno Septyorini

Welcome to my creative blog │ Content creator @halomasin │Talk about figure, wastra, travel &culinary│ Happy living in Jogja

About Me