Belajar dari Hutan

Selamat Datang di Pulau Kembang

Selamat Datang di Pulau Kembang (retnoseptyorini.com)

Selamat Datang di Hutan Wisata Alam Pulau Kembang Kabupaten Barito Kuala Kalimantan Selatan.

Begitu kira-kira ucapan selamat datang yang tertulis di pintu masuk Pulau Kembang. Salah satu spot wisata alam yang banyak direkomendasikan teman-teman saat saya bertugas di Banjarmasin. Saya tidak ingat betul berapa harga pasti tiket masuk untuk wisatawan lokal, ditambah tiket masuk yang entah sekarang tersimpan dimana. Seingat saya harganya tidak lebih dari 10.000/orang. Melihat pulau yang dikelilingi dengan pepohonan rindang, mau tak mau mengantarkan saya pada berbagai moment indah yang pernah saya lalui di beberapa hutan di Jogja.

Perkenalan Pertama

Perkenalan pertama saya dengan hutan dimulai di tahun 2005, tepatnya ketika saya diterima di Fakultas Biologi sebuah universitas negeri di Jogja. Kala itu, terdapat dua hutan di sekitar area kampus. Satu di tempat saya belajar dan satu lagi di Fakultas Kehutanan. Senang rasanya mendapati tempat belajar yang bersebelahan langsung dengan sebuah hutan kecil yang masih lestari hingga kini. Saat sedang beruntung, kegiatan belajar kami akan ditemani merdunya kicauan burung. Asyik sekali! Namun jika apes melanda, ada saja cerita tentang kejatuhan “ranjau putih” alias pup si tukang kicau yang mendarat tepat di atas kepala, hehe^^

Salah satu keuntungan yang saya rasakan sebagai anak biologi tidak lain dan tidak bukan adalah lokasi praktikum yang berbeda-beda. Kadang di laboratorium sendiri, kadang nebeng di Fakultas Kedokteran, pernah suatu ketika berkesempatan nyicip praktikum di laboratorium anak teknik hingga yang paling asyik nih, ada beberapa mata kuliah dasar maupun pilihan yang lokasi praktikumnya dilakukan di langsung di alam bebas, termasuk di area hutan. Satu diantaranya adalah mata kuliah Ekologi Dasar. Dari mata kuliah Ekologi Dasarlah saya mengenal hutan secara lebih spesifik. Selain melahap pengetahuan dari berbagai referensi, mata kuliah berbobot 4 SKS (satuan kredit semester) ini dilengkapi dengan berbagai praktikum langsung di alam bebas, dimana beberapa diantaranya dilakukan di hutan.

Saya ingat betul ada sebuah praktikum yang mengulik cara penghitungan vegetasi dari hal yang paling mendasar, yakni menghitung jumlah seedling, sapling dan tree (pohon dewasa) di suatu area sampling yang telah ditentukan. Praktikum yang satu ini menjadi kegiatan yang tidak akan terlupa. Penyebabnya terbilang cukup menggelikan. Karena salah ambil data. Konsekuensinya sore itu juga saya harus putar balik di hutan fakultas tetangga untuk mengulang pengambilan data vegetasi. Haeudeu.

Beberapa semester setelahnya, sewaktu saya telah mengambil mata kuliah Herpetologi (cabang ilmu yang mempelajari seluk beluk dunia reptil dan amfibi) dan mengambil minat ekstrakulikuler di Kelompok Studi Herpetology (KSH), pernah pula saya mencicipi sampling super seru karena dilakukan malam-malam di hutan saat malam hari. Kebayang dong gimana hebohnya orang yang nggak pernah jalan malam di hutan, eh tetiba dapat kesempatan buat belajar rame-rame di hutan. Amazing banget!

Ternyata keseruan di hutan tidak berhenti sampai di situ saja. Saat acara penerimaan anggota baru KSH, saya pernah nongkrong seharian di sebuah pos di Wanagama yang terletak di Kabupaten Gunungkidul. Di lain waktu, beberapa kali pula saya berkesempatan menjelajah Taman Nasional Gunung Merapi saat bergabung di Biology Orchid Study Club (BIOSC), sebuah komunitas baru di kampus yang berkecimpung di dunia anggrek. Inget banget waktu seneng-senengnya sama anggrek, dulu sempat mborong anggrek dari uang tabungan. Sayangnya saat anggrek teman berbunga semua, anggrek di rumah saya sudah tidak bersisa, huhu.

Benar rasanya peribahasa yang menyebut bahwa pengalaman merupakan hal termahal dan terbaik untuk belajar sesuatu. Meski sayang, merawat makhluk hidup itu perlu ilmu. Semenjak saat itu, setiap kali mau membeli tumbuhan saya pikirkan lagi ada waktu nggak untuk merawat dengan baik. Sayang jika sudah dibeli tapi tidak ada yang sempat merawati. Pun ketika jalan kemana saja. Selain hanya mengambil gambar dan pengalaman semata, saya pastikan hanya meninggalkan jejak dan cerita untuk semua. Paling banter hanya mengambil daun yang berjatuhan untuk dibuat herbarium sebagai kenang-kenangan.

***

Lamunan saya terhentak saat mendengar suara, “Dibeli dong neng, kak! Untuk monyet-monyet di sana. Apa pian kada kasihan melihat mereka kelaparan?”, begitu kira-kira kalimat yang diungkapkan para penjaja makanan ringan yang sengaja mengikuti kami sejak kami berhasil menjejakkan kaki di Dermaga Pulau Kembang.

Dalam Bahasa Banjar, pian berarti kamu untuk tunggal atau kalian untuk sebutan jamak, sedangkan kada berarti tidak. Jadilah iklan di atas itu artinya kira-kira demikian: “Dibeli dong, neng, kak! Untuk monyet-moyet di sana. Apa kalian tidak kasihan melihat mereka (monyet-monyet) kelaparan?

Tanpa perlu dikode kami sepakat membalas sebatas senyuman. Cara kami menyayangi memang berbeda dan rasanya tidak penting untuk diperdebatkan. Kalau yang dijual buah mungkin ceritanya akan lain. Tapi kalau makanan sachet yang dibungkus plastik namun isinya tak seberapa itu rasa-rasanya hanya akan menambah beban hidup si monyet di kemudian hari. Hal ini terbukti saat kami mulai memasuki area Pulau Kembang yang volume plastiknya terbilang cukup banyak.

“Untung nggak beli”, batin saya dalam hati sesaat setelah melihat betapa banyak sampah plastik di pulau kenamaan di Kabupaten Barito Kuala ini.

Sebagai salah satu destinasi wisata terpopuler kedua setelah Pasar Terapung Lok Baintan, Pulau Kembang cukup menarik perhatian banyak wisatawan yang datang ke Banjarmasin. Fakta yang cukup unik mengingat keduanya, baik Lok Baintan maupun Pulau Kembang sama-sama terletak di luar Banjarmasin.  Lok Baintan di Kabupaten Banjar, sedangkan Pulau Kembang berada di Barito Kuala.

Jenis Hutan Menurut Undang-Undang

Pulau Kembang bukanlah pulau yang dipenuhi dengan bunga-bunga, melainkan pulau yang menjadi habitat sekelompok kera berekor panjang. Disepanjang hutan wisata ini sudah dibangun jalur khusus bagi wisatawan untuk berkeliling di sekitar pulau. Jika ditilik dari Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999, sesuai dengan status dan fungsi hutan, Pulau Kembang masuk ke dalam kelompok Hutan Konservasi, tepatnya Taman Wisata Alam.

Jalur Khusus Wisatawan di Pulau Kembang

Jalur Khusus Wisatawan di Pulau Kembang (retnoseptyorini.com)

Hutan Konservasi sendiri merupakan hutan dengan ciri khas tertentu, yang mempunyai fungsi pengawetan keanegaragaman tumbuhan, satwa serta ekosistemnya. Selain Taman Wisata Alam, Hutan Konservasi terdisi dari Taman Nasional, Taman Hutan Raya, Taman Buru, Cagar Alam dan Suaka Margasatwa. Oiya, selain Pulau Kembang, saya pernah berkesempatan menjelajah salah satu Cagar Alam terkemuka di Indonesia, yakni Cagar Alam Krakatau.

Sebagai bagian dari Cagar Alam (sekaligus Cagar Laut) Indonesia, kawasan Cagar Alam Krakatau tidak dibuka untuk umum. Hanya orang yang telah mendapat ijin Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) setempat (dalam hal ini adalah BKSDA Lampung) sajalah yang diperbolehkan berkunjung ke sini. Selain untuk melindungi keanegaragaman hayati di sepanjang area cagar alam (mulai dari Pulau Rakata, Pulau Panjang, Pulau Sertung dan area Gunung Anak Krakatau), pemberlakuan ijin masuk juga dilakukan demi keselamatan pengunjung. Karena selain harus menempuh jarak yang cukup jauh dari Kota Lampung, hingga kini Gunung Anak Krakatau masih aktif.

Jenis hutan yang kedua adalah Hutan Lindung, yakni hutan yang berfungsi sebagai perlindungan sistem kehidupan karena erat kaitannya dengan seluk-beluk pengaturan air hingga difungsikan pula sebagai pemelihara kesuburan tanah. Saya ingat betul salah satu materi yang disampaikan saat masih duduk di bangku perkuliahan. “Jangan sampai salah memilih pohon yang akan ditanam di hutan yang dekat dengan mata air. Sekali salah pilih, apalagi memilih bibit yang memerlukan (menyerap) banyak air, bisa dibayangkan nasib orang banyak yang ada di bawah sana?”, begitu kira-kira pesan, pernyataan sekaligus pertanyaan yang dilontarkan salah seorang dosen favorit saya di kampus. Terkait dengan perlindungan hutan alam, pengetahuan dasar semacam ini tentu sangat diperlukan.

Berdasarkan fungsinya pula, ada hutan yang difungsikan sebagai Hutan Produksi, yang terdiri dari Hutan Produkasi tetap, Hutan Produksi Terbatas dan Hutan Produksi Dapat Dikonversi. Sesuai dengan namanya, hutan produksi dimanfaatkan sebagai kawasan hutan yang menghasilkan hasil berupa komoditi hutan seperti bahan kertas, aneka furniture, karet hingga hutan kelapa sawit. Lantas, apa sajakah fungsi hutan selain sebagai dapur aneka rupa pemenuh kebutuhan manusia?

Manfaat Hutan

Jaga Hutan Kita

Jaga Hutan Kita (retnoseptyorini.com)

Selain sebagai gudang oksigen alias paru-paru dunia, pada dasarnya hutan adalah rumah bagi flora dan fauna setempat. Tidak tega rasanya merusak hutan demi kepentingan pribadi semata. Masih ingat cerita tentang hutan di kampus yang saya singgung di awal? Dibalik anggunnya hutan, baik di fakultas tempat saya belajar maupun di fakultas tetangga, sejatinya ada cerita sedih yang entah kapan dapat pulih seperti sedia kala.

Di awal jumpa saya cukup terkagum-kagum dengan keberadaan hutan di area kampus. Namun tak lama kemudian, serbuan burung cangak merubah suasana. Area di samping hutan yang dulunya menjadi area favorit untuk olahraga ataupun bersantai untuk menyelesaikan laporan tiba-tiba menjadi kawasan yang dihindari secara massal karena bau kotoran yang cukup menyengat. Mungkin ada banyak pihak di luar sana yang menyalahkan populasi burung cangak yang pindah rumah secara mendadak. Karena selain membuat bau sekitar kawasan kampus, bau kotoran cangak tercium di sepanjang jalan sekitar fakultas terkait. Dibalik itu semua, adakah yang berfikir sebaliknya bahwa kepindahan mereka secara tiba-tiba ini terkait erat dengan rusak parahnya atau bahkan mungkin hilangnya rumah yang selama ini mereka tinggali? Bagi saya pribadi, hingga saat ini hal tersebut masih menjadi tanda tanya besar. Yang jelas tidak pernah sedetik pun saya menyalahkan burung-burung cantik yang bersliweran di sekitar area kampus biru itu.

Dari cerita sedih ini, saya cukup mantap untuk mengurangi beberapa porsi kebutuhan yang memang dibuat dari hasil olah hutan seperti kertas, tissue hingga minyak kelapa sawit. Kalau mau ngelap tubuh ya pakai lap kain yang bisa digunakan berulang kali. Kalau mau print untuk keperluan pribadi mulai menggunakan kertas secara bolak-balik. Dan yang terakhir, demi ganti berat badan di tahun depan, saya mulai mengurangi penggunaan minyak kelapa sawit. Yang awalnya gemar menyantap gorengan, kini pelan-pelan beralih makan mentahan ataupun godokan. Toh bisa dibikin enak dan kenyang juga.

Selain itu kini keluarga saya punya kebiasaan baru. Mulai memanfaatkan terbatasnya lahan menjadi area yang bermanfaat. Area belakang rumah dimanfaatkan untuk pelihara ayam, dimana tumpukan kotorannya dipindah di halaman depan sebagai pupuk tanaman pangan. Hasilnya, selain punya sederet tanaman bayam dan umbi-umbian, kini tersedia pula lidah buaya, pare, lombok, delima hingga jambu. Dari hal-hal kecil semacam ini, kami ingin memberi contoh bahwa menanam itu pasti ada hasilnya. Selain udara jadi lebih sejuk, tanah semakin gembur, jalan air tanah juga tidak tergusur, buah yang terlihat oleh mata diharapkan dapat menambah semangat kerabat untuk mulai menanam kebaikan bagi alam.

Salam hangat dari Jogja,

-Retno-

Retno Septyorini

Perkenalkan, nama saya Retno Septyorini, biasa dipanggil Retno. Saya seorang content creator dari Jogja. Suka cerita, makan & jalan-jalan. Kalau ke Jogja bisa kabar-kabar ya..

YOU MIGHT ALSO LIKE

4 Comments

  • Antung apriana
    July 14, 2018

    Wah dinas ke Banjarmasin ya, mbak? Jadi ingat waktu ke pulau kembang beberapa tahun yang lalu saya jadinya

    • Retno Septyorini
      July 17, 2018

      Iya Mbak, tahun lalu pernah nginep 2 bulan di Banjarmasin.. Pas survei pernah mampir ke pulau unik ini, sayangnya belum pernah ke Pulau Bakut, yang jadi habitat bekantan itu. Jadi pol mentok cuma lihat dari bawah Jembatan Barito, huhu…

  • Lusi
    July 16, 2018

    Menjaga alam sama juga dengan memperbaiki kesejahteraan kita sendiri karena pengeluaran bisa ditekan dan kesehatan kita lebih baik.

    • Retno Septyorini
      July 17, 2018

      Betul banget Mbak Lusi, cuma ya itu, konsisten itu susahnyaaaa minta ampun…

Leaver your comment

About Me

Wiloke

Retno Septyorini

Welcome to my creative blog │ Content creator @halomasin │Talk about figure, wastra, travel &culinary│ Happy living in Jogja

About Me