Eloknya Peradaban Sungai di Tanah Banua

Jukung di Banjarmasin

Jukung di Banjarmasin (Dokumentasi Retno Septyorini)

Menjejakkan kaki di pelosok nusantara seringkali menyuguhkan pesona diluar ekspektasi. Satu diantaranya saya rasakan saat berkesempatan menjelajah Tanah Banua, sebutan untuk ibu kota Propinsi Kalimantan Selatan, Banjarmasin. Sebagai manusia darat, menjejakkan kaki di kota yang kehidupannya bertumpu pada sungai jelas membuat decak kagum tersendiri. Selain berada di bawah permukaan air laut, pengaruh hidrodinamika Sungai Barito yang panjangnya sekitar 900 km membuat ritme pasang surut sungai terjadi di sepanjang hari.

Sebagai kota sungai, jukung masih menjadi pilihan transportasi harian warga, tidak terkecuali sebagian pelajar dan pengajar di sebuah sekolah dasar di sana. Karena sungai akan pasang di pagi hari, tetapi surut di siang hari mau tak mau membuat Urang Banua, sebutan untuk warga Banjarmasin harus fasih membaca pertanda alam, mulai dari kapan harus mulai memulai perjalanan, berdagang, berangkat sekolah hingga waktu yang tepat untuk pulang ke rumah.

Semangat Adik-Adik di Basirih

Semangat Adik-Adik di Basirih (Dokumentasi retno Septyorini)

Pada suatu pagi di Bulan Juli, kami bertemu rombongan pelajar di salah satu sekolah dasar di tepian Sungai Jelai. Menariknya, jam belajar mengajar di sana terbilang berbeda dari sekolah lain karena akan dimulai dan diakhiri berdasarkan pasang surutnya sungai. Kegiatan belajar mengajar di kelas pun baru mulai setelah semua murid masuk dan akan diakhiri sebelum air sungai surut. Bisa dibayangkan betapa kerennya cara mereka berdamai dengan keunikan alam pemberian Tuhan, bukan?

Dari sekolah ini saya belajar banyak hal. Bahwa toleransi itu pada kenyatannya bisa dipupuk sedini mungkin. Baik guru ataupun siswa di SDN Basirih 10 yang datang terlebih dahulu tidak ada yang protes saat harus menunggu semua penumpang lainnya tiba di dermaga. Kalau datang kepagian menunggu, kalau datanngnya telat maka ia akan ditunggu. Begitu pula yang sampai di sekolah terlebih dahulu. Mereka setia menunggu hingga semua kawan-kawan tiba di ruang kelas. Tujuannya hanya satu. Belajar bersama sampai bisa.

Selain mendecak kagum, mengabarkan keelokan peradaban sungai di Tanah Banua, juga potensi wisata kanalnya yang pantas mendunia ibarat satu kontribusi kecil yang dapat saya lakukan untuk kota yang kini terasa bak rumah kedua ini. Karena eloknya alam dan budaya nusantara layak tampil dalam gegap gempita pesona wisata dunia.

Tiba di Banjarmasin

Juli tahun lalu merupakan perkenalan awal saya dengan Banjarmasin. Sebuah kota yang secara geografi berada di posisi yang begitu strategis karena nyaris berada di tengah Indonesia. Tidak mengherankan jika di masa lalu Banjarmasin menjadi salah satu kota yang berpengaruh di Indonesia. Hikayat Banjar menyebut bahwasanya sebelum abad ke-16, kota yang diapit tiga sungai besar dunia, yakni Barito, Alalak dan Martapura ini pernah menjadi lokasi persinggahan pedagang lintas benua, mulai dari pedagang Jawa, Bali, Bugis, Melayu hingga pedagang dari negeri tirai bambu. Jika suatu hari nanti kawan-kawan ingin merayakan keberagaman di salah satu sudut nusantara, jelajahilah Banjarmasin. Kota cantik ini siap menyuguhkan aneka rupa sajian yang mungkin belum pernah terbayangkan sebelumnya.

Pemandangan dari Balik Jendela Garuda Indonesia

Pemandangan dari Balik Jendela Garuda Indonesia (Dokumentasi Retno Septyorini)

Ketiadaan bandara di Banjarmasin tidak menyurutkan minat wisatawan untuk berkunjung sana. Hal ini saya ketahui usai berbincang dengan beberapa kawan yang sudah berpuluh tahun bekerja sebagai pramuwisata di sana. Setiap tahunnya, ada saja wisatawan yang khusus datang untuk menikmati keelokan alam yang dimiliki Banjarmasin. Sebagian merupakan wisatawan lokal, namun banyak pula tamu yang berasal luar negeri seperti Malaysia, Singapura, Taiwan, Jepang, Belanda hingga Spanyol.

Perjalanan terdekat via udara menuju Tanah Banua akan berlabuh di Bandara Syamsudin Noor yang terletak di Banjarbaru, tetangga dekat Banjarmasin. Meski demikian, kawan-kawan tidak perlu khawatir karena perjalanan darat dari Banjarbaru menuju Banjarmasin hanya memerlukan waktu sekitar satu jam saja.

Sesampainya di Banjarmasin, ada baiknya jika kawan-kawan meletakkan barang bawaan sekaligus rebahan sebentar di hotel pilihan. Bagaimanapun juga, stamina harus tetap dijaga selama perjalanan, bukan? Sebagai ibu kota propinsi, Banjarmasin menawarkan insfrastruktur terbaik di Kalimantan Selatan, termasuk pilihan hotel dengan berbagai fasillitas yang mumpuni.

Contoh Pemesanan Tiket di Skyscanner

Contoh Pemesanan Tiket di Skyscanner

Jika membutuhkan penginapan nyaman dengan penawaran harga yang teraman, kawan-kawan bisa mendapatkannya melalui search engine pintar bernama Skyscanner. Fitur price alert di aplikasi ini bisa dimanfaatkan untuk mendapatkan Tiket Pesawat (termasuk Tiket Pesawat Garuda), hotel maupun sewa mobil dengan harga terbaik, kapan pun, dimana pun, dari manapun. Jadi, kalau sudah set tanggal, naik turunnya harga yang ditawarkan oleh online travel agent akan dilaporkan secara otomatis via email. Pintar ya?

Contoh Pemesanan Tiket di Skyscanner

Contoh Pemesanan Tiket di Skyscanner

Menariknya lagi, saat mau kasih surprise berupa seluk beluk akomodasi jalan-jalan pada mereka yang tersayang, website Skyscanner juga menyediakan penawaran harga terbaik menuju berbagai destinasi wisata di seantero nusantara. Caranya pun terbilang begitu mudah. Tinggal ketik lokasi awal kita di website, lalu klik tujuan kemana saja di Indonesia. Dalam hitungan detik search engine pintar ini akan menyediakan perbandingan harga penerbangan dari harga termurah selama 15 hari terakhir. Terbaik!

Perkenalan Pertama Menjelajah Tanah Banua

Sebagai kota sungai, Banjarmasin tidak memiliki alun-alun layaknya puluhan kota lain di Indonesia. Alun-alunnya Banjarmasin itu ya Siring. Sebuah kawasan pedestrian di tepian Sungai Martapura yang menyajikan beberapa landmark khas Tanah Banua mulai dari patung bekantan raksasa, Menara Pandang Siring Tendean hingga Kampung Sasirangan. Sebuah kampung penghasil kain tradisional kebanggaan warga Banjarmasin yang dikenal luas dengan sebutan sasirangan.

Kalau sampai Banjarmasin di hari Sabtu, kawan-kawan dapat menemukan pasar terapung dadakan di sepanjang tepian Siring. Pasar terapung buatan ini mulai beroperasi sejak Sabtu malam hingga Minggu siang. Di sini kawan-kawan dapat mencicipi aneka kuliner khas Banjarmasin seperti Soto Banjar, Mie Habang, aneka wadai hingga memborong buah-buahan ataupun tanaman segar. Uniknya, pedagang di pasar dadakan tersebut didatangkan langsung dari Pasar Terapung Lok Baintan. Jadi kalau kawan-kawan sempat menjelajah Sungai Martapura di Sabtu siang, kemungkinan besar akan bertemu dengan migrasi acil-acil dari Lok Baintan ke Siring. Oiya, selain menjadi tempat kongkownya warga Banjarmasin, Siring merupakan dermaga pusat sekaligus dermaga terbesar di Banjarmasin.

Pasar Terapung Lok Baintan

Pasar Terapung Lok Baintan (Dokumentasi Retno Septyorini)

Sebenarnya Banjarmasin sendiri juga memiliki pasar apung yang tak kalah ciamiknya. Namanya Pasar Terapung Kuin. Sayangnya, popularitas Pasar Terapung Kuin masih jauh di bawah Lok Baintan. Hingga kini pun Banjarmasin masih begitu identik dengan Pasar Terapung Lok Baintan, juga Pulau Kembang. Padahal secara geografi keduanya berada di luar Banjarmasin. Lok Baintan masuk di wilayah Kabupaten Banjar, sedangkan Pulau Kembang yang dikenal sebagai pulau monyet berada di Kabupaten Barito Kuala.

Pulau Kembang di Kabupaten Barito Kuala

Pulau Kembang di Kabupaten Barito Kuala (Dokumentasi Retno Septyorini)

Inilah yang disebut dengan simbiosis mutualisme. Lok Baintan dan Pulau Kembang menjelma jadi primadonanya Banjarmasin, sebaliknya, Banjarmasin menjadi gerbang utama menuju dua destinasi kenamaan tersebut. Saya dan rombongan pun tidak lupa memasukkan Lok Baintan dalam daftar panjang destinasi wisata yang harus dinikmati saat berada di Banjarmasin. Barulah di lain hari kami benar-benar mengeksplore surga tersembunyinya Banjarmasin.

Eloknya Peradaban Sungai Khas Tanah Banua

Pada suatu siang di Juli 2017, kami menyewa klotok, sebutan untuk perahu kayu bertenaga mesin yang banyak terdapat di Pulau Kalimantan untuk melakukan survei potensi wisata yang dimiliki Banjarmasin. Waktu itu kami menjelajah peta wisata yang nyaris tak pernah dikunjungi wisatawan. Selain ketiadaan tiket masuk, ada beberapa jalur sungai yang nyaris dipenuhi dengan eceng gondok. Mamang supir klotok yang mengantarkan kami pagi itu pun menyebut bahwa kami adalah rombongan pertama yang minta diantarkan susur sungai dengan tujuan di luar Lok Baintan dan Pulau Kembang. Maklum saja, kami tergabung dalam tim kepo tingkat dewa, hehe.

Pelabuhan Trisakti

Pelabuhan Trisakti (Dokumentasi Retno Septyorini)

Sebagai kota pelabuhan yang menjadi persinggahan pedagang, Banjarmasin memiliki pelabuhan besar bernama Pelabuhan Trisakti. Pelabuhan yang berada di Kecamatan Banjarmasin Barat ini menawarkan panorama khas negeri maritim yang begitu kental. Selain dapat melihat bongkar pasang muatan dari, pemandangan puluhan kapal tua di tepian sungai menjadi salah satu spot foto yang menarik. Tentu saja motretnya dari dalam klotok ya.

Selang beberapa saat kemudian, kami menjumpai lanting, sebutan rumah apung yang menjadi bukti kuat bagaimana peradaban sungai yang pernah jaya di masanya. Kalau dulu lanting menjadi tempat tinggal warga, kini beberapa lanting yang kami temui beralih fungsi menjadi warung, yang dikemudian hari kami sebut dengan nama Lanting Mart. Tidak seperti warung pada umumnya, Lanting Mart berada di tengah sungai besar yang membelah Banjarmasin.

Lanting Mart

Lanting Mart (Dokumentasi Retno Septyorini)

Aneka Produk yang Dijual di Lanting Mart

Aneka Produk yang Dijual di Lanting Mart (Dokumentasi Retno Septyorini)

Usai menjelajah Banjarmasin menggunakan klotok, saya dan rombongan melanjutkannya via jalur darat. Siang itu saya mendapat cerita dari seorang warga yang rumahnya dibangun dengan kayu ulin, jenis kayu yang akan semakin kuat jika terkena air sehingga dikenal luas dengan sebutan kayu besi. Selain dibuat rumah, dahulu kayu ulin dijadikan bahan jukung, klotok maupun jembatan. Jadi jangan heran mengapa ada puluhan jembatan besar yang kuat meski dilewati kendaraan berat. Lawong (baca orang) bikinnya aja dari kayu terkuat di dunia. Saking kagumnya, saya suka motret jembatan-jembatan kayu di berbagai sudut Banjarmasin.

Seiring bergulirnya waktu, kini ada regulasi khusus untuk yang dibuat untuk melindungi hutan sekaligus untuk melindungi flora khas Pulau Kalimantan ini. Karena itulah kini penggunaan kayu ulin harus mengantongi ijin dari Pemda setempat terlebih dahulu, mulai dari lokasi penebangan, jumlah kayu hingga detail pemanfaatannya akan dibangun apa. Karena tidak memiliki hutan, kayu di Banjarmasin didapat dari tetangga dekat di seantero Pulau Kalimantan yang biasa dikirim melalui sungai.

Di luar rumah adat, secara garis besar ada tiga jenis rumah warga yang bisa ditemui di Banjarmasin. Ada rumah panggung yang dibuat di tanah rawa ataupun di tepian sungai, ada rumah darat dan yang terakhir ada rumah lanting. Khusus yang terakhir umumnya merupakan rumah warisan keluarga. Mahalnya biaya pembuatan dan perawatan, ditambah resiko tenggelam membuat warga beralih membuat rumah panggung ataupun rumah di darat.

Membuat Pondasi Rumah Papan dari Kayu Galam

Membuat Pondasi Rumah Papan dari Kayu Galam (Dokumentasi Retno Septyorini)

Siang itu saya bertemu warga yang tengah membangun pondasi rumah panggung menggunakan kayu yang diameternya terbilang kecil, sekitar 7 hingga 10 cm saja. Usut punya usut ternyata kayu tersebut bernama kayu galam. Jenis kayu yang konon katanya juga dapat bertahan hingga beberapa tahun lamanya. Selain memiliki tata cara pembangunan rumah yang begitu unik, keberadaan 102 sungai yang membelah dan melintas di sepanjang Banjarmasin tambah menarik dengan kehadiran ratusan kanal buatan nenek moyang Urang Banua. Hal ini pula  yang membuat Banjarmasin dijuluki dengan sebutan kota seribu sungai. Jadi jangan salah ya, wisata kanal di dunia itu tidak hanya tersedia di luar negeri karena di Indonesia pun ada. Banjarmasin contohnya. Uniknya, wisatawan mancanegara lebih mengenal Banjarmasin sebagai spot Canal Torismnya Indonesia, bukan sekedar wisata susur sungai seperti yang selama ini kita dengar.

Sayangnya, tidak semua generasi muda mengetahui hal ini. Ada pula yang tidak tahu menahu bahwasanya ada warisan kanal di Banjarmasin yang jumlahnya mencapai ratusan buah. Padahal selain dikenal di mancanegara, warisan kanal khas Banjarmasin ini telah tercatat dalam sejarah dunia lho! Gimana enggak coba, kanal-kanal di Banjarmasin itu panjangnya bisa mencapai puluhan kilometer! Hebatnya lagi, mereka membuatnya secara manual dengan cara digali menggunakan bantuan alat khusus dari kayu ulin yang bernama sundak. Bisa dibayangkan etos kerja keras dan gotong-royong yang dilakukan nenek moyang Urang Banua bukan?

Kanal Khas Banjarmasin

Kanal Khas Banjarmasin (Dokumentasi Retno Septyorini)

Terkait hal ini, sejarah mencatat ada tiga jenis kanal khas Banjarmasin, meliputi anjir, handil dan saka. Ketiga tipe kanal ini dimanfaatkan sebagai sistem irigasi dan sarana transportasi. Anjir merupakan saluran primer penghubung dua sungai, handil merupakan saluran kanal sekunder yang akan bermuara menuju sungai ataupun anjir, sedangkan saka merupakan saluran tersier yang biasanya merupakan milik pribadi.

Jadi kalau kawan-kawan melihat aliran air yang mirip sungai tapi polanya lurus (tidak berkelok layaknya sungai pada umumnya) bisa jadi itu merupakan anjir, handil ataupun saka. Sewaktu berkesempatan melihat kanal dengan lebar puluhan meter dan panjang mencapai puluhan kilometer itu bikin merinding lho! Terasa sekali perjuangan Urang Banua untuk  bertahan sekaligus meningkatkan taraf hidup keluarga di atas tanah rawa yang tersebar di bergagai pelosok Banjarmasin. Meski di beberapa pusat kota banyak kanal yang beralih fungsi menjadi jalan, namun banyak pula kanal yang masih berfungsi hingga saat ini. Salah satunya terdokumentasi pada foto di atas. Sangat menarique, bukan?

Mungkin karena manfaat ratusan kanal warisan nenek moyang inilah yang menjadikan sebagian wilayah diolah sebagai lahan pertanian hingga mampu melahirkan komoditi unggulan bernama beras gambut. Kini olahan dari beras gambut menjadi bahan pelengkap yang tersaji di setiap kuliner khas Banjarmasin seperti soto banjar, kupat kandangan hingga lontong orari. Bahkan  pemilik lontong orari paling terkenal di Banjarmasin pernah bercerita pada saya, bahwasanya beras yang digunakan untuk membuat lontong di kedai lontong orari miliknya harus beras gambut, bukan jenis beras lainnya.

Jika ingin mencicipi tekstur asli beras gambut, cobalah nasi goreng yang banyak dijual di berbagai kedai di Banjarmasin. Tipikal beras gambut yang kepyar memang sangat cocok diolah menjadi nasi goreng. Karena itulah bagi penikmat kuliner nusantara, mencicipi nasi goreng Banjarmasin ibarat kewajiban yang pantang untuk dilewatkan saat berkunjung di kota cantik ini. Yakin nih nggak penasaran buat nyobain?

Jelajah Rasa di Tanah Banua

Di sepanjang perjalanan menyenangkan di Banjarmasin, saya sempat mencicipi aneka kuliner khas Banjar, salah satunya adalah soto banjar. Soto banjar merupakan soto kuah bening yang diberi topping potongan telur bebek rebus. Bedanya, soto banjar itu biasa disajikan dengan sate ayam. Oiya, disebut soto itu kalau kawan-kawan pesannya pakai lontong. Soalnya meski lauk dan kuahnya sama, kalau pesen soto pakai nasi namanya ganti jadi nasi sop.

Delapan minggu di Banjarmasin tercatat ada tiga kedai soto yang pernah saya cicipi. Ada Soto Bang Amat, Soto Yana Yani maupun Soto Rina. Menurut saya, dari ketiga soto andalan Banjarmasin ini perbedaan mencoloknya hanya terletak pada lokasi warungnya saja sih. Kalau Soto Bang Amat dan Soto Yana Yani berlokasi di tepian sungai, kalau Soto Rina di darat. Kalau favorit saja sih Soto Rina. Tapi kalau yang paling terkenal di Banjarmasin itu Soto Bang Amat.

“Belum ke Banjar kalau belum nyicip Soto Bang Amat”, begitu kira-kira ungkapan yang kerap dilontarkan kawan atau saudara saya saat mengetahui saya akan menghabiskan beberapa waktu di Banjarmasin. Umumnya pengunjung Soto Bang Amat merasa lebih nyaman berwisata kuliner di sana karena kedainya yang terbilang cukup luas, ditambah ada kelompok orkestra yang siap mendendangkan puluhan lagu daerah secara live.

Lontong Orari

Lontong Orari (Dokumentasi Retno Septyorini)

Selain itu saya juga sempat icip-icip Lontong Orari. Itu lho olahan lontong yang disajikan dengan kuah kuning plus ikan gabus, ayam atau telur masak habang alias masak merah. Kalau porsi makannya kecil, ada baiknya memesan setengah porsi saja ya. Soalnya kalau pesan seporsi penuh, lauk yang dipilih akan disajikan bersama dua lontong berukuran besar. Uniknya, nama orari itu ternyata merupakan singkatan dari Organisasi Radio Amatir Indonesia yang dikenal luas dengan sebutan Orari. Konon di awal kemunculannya kuliner ini merupakan makanan anggota Organisasi Radio Amatir Indonesia tadi. Break-break, lontong orari dulu^^

Oiya, dimanapun penginapan kawan-kawan di Banjarmasin, kemanapun kawan-kawan menjalaja Banjarmasin niscaya kawan-kawan akan dipertemukan dengan pentol. Pentol merupakan camilan sejuta warga di sana. Sekilas lihat camilan ini mirip dengan bakso kuah. Disebut camilan karena sebagian besar penikmat pentol tidak menikmatinya bersama kuah layaknya bakso kuah, melainkan diambil menggunakan lidi, lalu langsung dicelupkan ke saos merah. Kalau saya pribadi sih tetep menyantapnya dengan kuah. Biar kenyang, hehe.

Tidak perlu merogoh kocek terlalu dalam untuk menikmati kuliner ini, pasalnya pentol biasa dijual dengan harga seribu rupiah/biji. Dari sekian uji coba selama delapan minggu di sana, pentol Bu Tini yang dijual di depan Mess Kayutangi merupakan pentol terenak versi saya. Meski demikian, kemanapun kaki ini melangkah, pentol tetap menjadi camilan andalan yang begitu sayang jika dilewatkan. Jadi kemana aja perginya niscaya jajan bentol juga^^

Rahasia Perjalanan yang Menyenangkan

Perjalanan di Banjarmasin kali ini semakin menyenangkan karena saya dapat menikmati penerbangan pulang tanpa delay dengan harga terbaik bersama maskapai penerbangan terbaik kebanggaan Indonesia, Garuda Indonesia. Ada banyak alasan mengapa ketika Tiket Pesawat Garuda Indonesia berada di genggaman, kemanapun perjalanan terasa semakin menyenangkan.

Sajian Menu di Maskapai Garuda

Sajian Menu di Maskapai Garuda (Dokumentasi Retno Septyorini)

Selain jarang sekali delay karena alasan operasional, terbang dengan Garuda Indonesia itu pelayanannya bikin happy hati maupun tummy. Penerbangan jarak dekat disediakan paket snack yang lumayan mengenyangkan, seperti roti, camilan dan air mineral yang dikemas dengan standar Garuda yang you know lah gimananya ya? Jika dapat rute dengan waktu perjalanan yang panjang, penumpang akan disuguhi menu makan yang enak (versi lidah saya) lengkap dengan dessert dan pilihan minuman yang beragam seperti aneka jus, teh ataupun kopi. Kalau favorit saya sih jus apel tanpa es.

In the end, selamat menikmati jelajah nusantara kengkawan semua.

Jika ingin menikmati perjalanan epik dengan harga terbaik, segera ceki-ceki saja Tiket Pesawat Garuda melalui search engine kesayangan kita semua, Skyscanner.

Semoga ulasan ini dapat menambah minat kawan-kawan untuk mengenal lebih dalam peradaban sungai khas Banjarmasin.

Salam hangat dari Jogja

-Retno-

 

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh ID Corners dan Skyscanner.

Retno Septyorini

Perkenalkan, nama saya Retno Septyorini, biasa dipanggil Retno. Saya seorang content creator dari Jogja. Suka cerita, makan & jalan-jalan. Kalau ke Jogja bisa kabar-kabar ya..

YOU MIGHT ALSO LIKE

3 Comments

  • Donna Imelda
    April 20, 2018

    Baru sekali ke Banua dan langsung jatuh cinta, gak akan menolak bila ada kesempatan untuk datang kembali

  • Agustina Purwantini
    May 27, 2018

    Hambok aku diajak pesiar ke kota seribu sungai too

Leaver your comment

About Me

Wiloke

Retno Septyorini

Welcome to my creative blog │ Content creator @halomasin │Talk about figure, wastra, travel &culinary│ Happy living in Jogja

About Me